
MDI Indramayu – Di tengah perdebatan global mengenai energi nuklir, pengayaan uranium, dan ketegangan antarnegara superpower, sebuah pesantren di bagian utara Jawa Barat, khususnya di Indramayu, diam-diam menjalankan proses pengayaan yang lebih inovatif. Bukan uranium yang mereka olah—melainkan pengetahuan, moral, dan karakter anak bangsa. Sebuah proses yang mungkin tidak berisik seperti reaktor nuklir, namun energinya dapat menciptakan masa depan Indonesia yang lebih cerah: Indonesia Emas 2045.
Inilah yang sedang dilakukan oleh Ma’had Al Zaytun. Sejak 1 Juni 2025, lembaga pendidikan pesantren terbesar di Asia Tenggara ini secara rutin mengadakan simposium ilmiah setiap akhir pekan. Dengan mengundang pembicara yang merupakan profesor, ilmuwan, dan ahli dari berbagai kampus dan institusi terbaik di Indonesia. Tujuan simposium ini bukan sekadar memberikan kuliah umum—tetapi juga membentuk pola pikir dan pandangan baru bagi para pelaku pendidikan: santri, pengajar, dan seluruh komunitas Al Zaytun.
Transformasi Pendidikan Berasrama: Dari Konvensional Menuju Inovatif
Dalam Simposium bertajuk “Pelatihan Pelaku Didik Menuju Transformasi Revolusioner Pendidikan Berasrama Demi Terwujudnya Indonesia Modern di Abad XXI dan Usia 100 Tahun Kemerdekaan ”, Al Zaytun membuktikan bahwa pendidikan asrama tidak perlu selalu berkaitan dengan metode tradisional atau kuno. Pendidikan pesantren bisa menjadi pendorong utama bagi perubahan peradaban, asalkan didukung oleh visi yang jelas dan strategi jangka panjang yang tepat.
Simposium ini bukan hanya sekadar seremonial. Ini adalah bagian dari rencana besar Al Zaytun untuk mendirikan 500 kampus berasrama yang terintegrasi di 500 kabupaten/kota di Indonesia dalam dua dekade mendatang. Mimpi besar ini, yang diciptakan oleh Syaykh Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang, bukanlah hal yang mustahil. Ini adalah langkah konkret menuju Indonesia yang tidak hanya merdeka secara politik, tetapi juga dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi.
Bayangkan, jika setiap wilayah di Indonesia memiliki satu kampus L-STEAM: Hukum, Sains, Teknologi, Teknik, Seni, dan Matematika—yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan internasional, tetapi juga membentuk karakter berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas. Maka sangat mungkin, Indonesia akan bangkit sebagai kekuatan besar di dunia pada tahun 2045.
Dari Yohanes Surya Sampai Riyanarto Sarno: Transfer Pengetahuan dari Ahli ke Santri.
Nama-nama ternama telah hadir di simposium ini. Misalnya, Prof. Yohanes Surya, fisikawan ternama yang telah membantu anak-anak Indonesia meraih prestasi dalam berbagai Olimpiade Fisika Internasional. Ada juga Prof Dr Ki Supriyoko, Prof Dr Imron Arifin, Prof. Dr. Riyanarto Sarno, pakar sistem cerdas dan big data, yang membagikan kepada peserta tentang pentingnya memahami teknologi dalam menghadapi revolusi masyarakat 6. 0.
Kehadiran para profesor ini tidak hanya menunjukkan keterbukaan Al Zaytun terhadap dunia luar, tetapi juga menjadi bukti bahwa penguatan Sumber Daya Manusia tidak harus dilakukan di pusat kota. Bahkan di tengah sawah Indramayu, para pelaku pendidikan bisa memperoleh ilmu yang setara dengan standar internasional—dengan syarat ada kemauan dan komitmen.
Dalam semangat untuk memperkaya bangsa, Al Zaytun memilih jalur yang tenang: memperkaya manusia. Mereka tidak memerlukan uranium untuk menjadi “kuat”, karena mereka menyadari, kekuatan sejati suatu bangsa terletak pada Sumber Daya Manusianya.
Proses “pengayaan” di Al Zaytun dapat dianggap sebagai reaksi positif yang saling berhubungan. Pengetahuan yang diberikan oleh para pengajar membangkitkan semangat belajar di kalangan santri. Semangat ini kemudian menyebar kepada guru dan pembimbing. Lingkaran ini terus meluas, hingga pada akhirnya akan mewujud dalam bentuk inovasi, kreativitas, dan kontribusi nyata bagi bangsa.
Ini adalah jenis “pengayaan” yang tidak dilarang oleh IAEA, tidak juga diawasi oleh lembaga internasional, dan seharusnya mendapat dukungan penuh dari pemerintah.

Konsep Indonesia Emas 2045 sering kali hanya menjadi slogan politik. Namun, di Al Zaytun, hal itu bukan sekadar frasa, melainkan panduan dalam pendidikan. Mereka menyadari, tanpa sumber daya manusia yang berkualitas dan sistem pendidikan yang revolusioner, impian itu hanya akan menjadi ilusi.
Melalui simposium ini, Al Zaytun berusaha merubah cara berpikir. Mereka tidak menunggu perubahan dari pihak atas, melainkan menciptakannya dari bawah—dari ruang belajar, dari masjid, dan dari pesantren. Mereka menyadari bahwa masa depan Indonesia bukan hanya terkait dengan ekonomi, tetapi juga tentang bagaimana membentuk karakter generasi muda saat ini.
Apa yang dilakukan oleh Al Zaytun bukan hanya signifikan, tetapi juga strategis. Oleh karena itu, adalah tanggung jawab negara, terutama Presiden Prabowo Subianto dan tim kabinetnya, untuk tidak mengabaikan hal ini. Dukungan untuk inisiatif seperti ini bukan hanya menunjukkan komitmen terhadap pendidikan, tetapi juga merupakan investasi jangka panjang untuk masa depan negara.
Indonesia memiliki banyak sumber daya alam. Namun, kita tahu bahwa tanpa sumber daya manusia yang berkualitas, semua kekayaan ini dapat hilang dalam waktu singkat. Al Zaytun menunjukkan bahwa dengan komitmen dan visi yang jelas, kita dapat menghasilkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter dan siap bersaing di panggung global.
Di saat dunia bersaing dalam pengembangan nuklir, Al Zaytun membuktikan bahwa “reaktor” pengetahuan dan iman jauh lebih bermanfaat. Dari sebuah pesantren, mereka menyampaikan pesan kepada bangsa: bahwa perubahan besar dapat dimulai dari tempat yang sederhana.
Mereka tidak memerlukan laboratorium berteknologi tinggi atau anggaran miliaran rupiah. Yang mereka butuhkan hanyalah ruang untuk belajar, mentor yang tulus, dan sistem yang menghargai proses pendidikan yang berkelanjutan.
Dalam kesunyian, mereka sedang membangun reaktor untuk masa depan Indonesia—reaktor yang tidak akan pernah bocor, tidak akan membahayakan umat manusia, tetapi justru menerangi jalan panjang menuju kemajuan Indonesia.
Al Zaytun tidak memperkaya uranium, mereka memperkaya masa depan.

More Stories
Hari Pendidikan Internasional, Belajar dari Al-Zaytun tentang Kesadaran dan Kemanusiaan
Ketika Ekoteologi Baru Dirumuskan, AL-Zaytun Sudah Menumbuhkan Hutan
Obor Terang Indonesia Emas, Pesan Strategis Sang Jenderal Polisi untuk Wisudawan IAI Al-Azis