17/04/2026

MDINEWS INDRAMAYU

MEDIA ASPIRASI BUDAYA BANGSA

Obor Terang Indonesia Emas, Pesan Strategis Sang Jenderal Polisi untuk Wisudawan IAI Al-Azis

Oleh: Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I., M.E.

Di Aula Mini Zeteso Al-Zaytun, sebuah pesan kebangsaan yang kuat bergema. Brigadir Jenderal Polisi Prof. Dr. Sofyan Nugroho, S.H., M.Si., M.H. seorang pendidik utama di Akademi Kepolisian (AKPOL), hadir memberikan perspektif keamanan dan nasionalisme dalam wisuda ke-6 Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia (IAI Al-Azis), Senin (15/12/25).

Bagi sang Jenderal, Al-Zaytun bukan sekadar kampus, melainkan laboratorium intelektual yang sedang merajut mimpi besar untuk Indonesia Emas 2045.

Toleransi yang Bergerak: Harmoni Budaya di Kampus Peradaban

Langkah awal sang Jenderal di Al-Zaytun disambut dengan kekaguman pada kedalaman apresiasi budaya lokal. Ia menyoroti bagaimana gending Kebo Giro, pencak silat, hingga tarian lintas daerah seperti tarian Bali dengan pakaian Dayak, menjadi simbol nyata dari pengembangan toleransi budaya.

Bagi Brigjen Sofyan, penguatan nilai-nilai kebangsaan bukan sekadar slogan. Ia memuji tradisi menyanyikan lagu Indonesia Raya tiga stanza di Al-Zaytun, sebuah praktik yang juga ia terapkan di lingkungan AKPOL untuk menanamkan jiwa patriotisme sejak dini.

Transformasi Menuju Universitas: Dari Mimpi Menjadi Aksi

Sebagai praktisi pendidikan kepolisian yang mengawal transformasi Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) menjadi universitas, Brigjen Sofyan melihat potensi besar pada IAI Al-Azis.

Ia mengidentifikasi dua mimpi besar Rektor IAI Al-Azis: menjadi universitas yang berbasis ajaran ilahi dan membangun ekosistem pendidikan yang inklusif. “Jangan terlalu banyak mimpi, tapi segera action,” tegasnya mengutip rekan sejawatnya.

Ia mendukung penuh terobosan cepat seperti simposium dan workshop yang sedang disiapkan untuk mempercepat transformasi institusi ini.

Mahkota, Kehormatan, dan Kehidupan: Makna di Balik Toga

Kepada para wisudawan, sang Jenderal memberikan metafora yang mendalam tentang perjalanan akademik:
1. Sarjana (S1): Menggunakan toga sebagai Mahkota, sebuah kebanggaan bagi diri dan orang tua.
2. Magister (S2): Mengenakan pakaian sebagai simbol Kehormatan.
3. Doktor (S3): Memperoleh Nyawa, yang berarti kehidupan bagi ekosistem ilmu pengetahuan.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa gelar tersebut bukanlah simbol status, melainkan beban amanah dan mandat keilmuan.

Para lulusan diharapkan tidak berhenti belajar dan siap menjadi garda terdepan dalam mewujudkan Asta Cita, delapan misi besar menuju Indonesia yang berakhlak, unggul, dan sejahtera.

Pesan dari Lapangan: Menghadapi Dunia Nyata

Peraih Doktor pada Program Studi Hukum Program Doktor (PSHPD) Fakultas Hukum Untag Semarang dengan predikat cumlaude ini
mengakhiri orasinya dengan pengingat realistis bahwa kampus adalah dunia mimpi, sedangkan masyarakat adalah dunia nyata.

Ia mengajak para lulusan untuk menjadikan ilmu sebagai obor penerang, bukan sekadar untuk dibanggakan.
“Ilmu bukan untuk disimpan, tetapi untuk diterangi. Gelar bukan untuk dibanggakan, tetapi untuk dipertanggungjawabkan,” pungkasnya.***