01/02/2026

MDINEWS INDRAMAYU

MEDIA ASPIRASI BUDAYA BANGSA

Ketika Ekoteologi Baru Dirumuskan, AL-Zaytun Sudah Menumbuhkan Hutan

(Refleksi Peringatan Hari Menanam Satu Juta Pohon, 10 Januari)

Oleh: Ali Aminuloh

Dari 10 Januari hingga Trilogi Kesadaran Al-Zaytun: Ekoteologi yang Dijalankan Jauh Sebelum Diresmikan

Sejarah sering kita baca sebagai deretan tanggal. Padahal, sejarah sejatinya adalah jejak kesadaran. Pada 10 Januari, negara memperingati Gerakan Satu Juta Pohon, sebuah seruan ekologis yang lahir dari kegelisahan atas bumi yang kian botak. Namun, jauh sebelum tanggal itu dilembagakan sebagai peringatan nasional, di sebuah hamparan tanah gersang di Indramayu, gagasan serupa telah dijalankan tanpa seremoni, tanpa baliho, tanpa tagar, tanpa bendera, tanpa suara: menanam pohon sebagai cara berpikir tentang masa depan.

Tanggal 10 Januari memang memuat banyak lapis sejarah. Ia menandai Tritura 1966: teriakan sosial politik yang mengguncang rezim. Ia juga mengingatkan dunia pada kelahiran tata global pasca perang melalui Liga Bangsa-Bangsa dan Sidang Umum PBB pertama. Namun dalam konteks hari ini, 10 Januari menemukan relevansi baru pada satu isu yang paling menentukan nasib umat manusia: relasi manusia dengan alam.

Gerakan Satu Juta Pohon, yang diresmikan negara pada awal 1990-an, pada dasarnya adalah pengakuan: pembangunan yang mengabaikan ekologi adalah jalan buntu. Pohon tidak lagi sekadar simbol hijau, melainkan penyangga kehidupan. Ia menahan air, menyimpan karbon, memelihara udara, dan lebih dari itu, ia menyimpan etika.

Di titik inilah pengalaman Ma’had Al-Zaytun menjadi penting dibaca sebagai teks sejarah hidup. Ketika pesantren ini didirikan, lanskapnya nyaris tanpa pohon peneduh. Tanah keras, kering, dan jauh dari image “pesantren hijau”. Namun hari ini, siapa pun yang datang akan menyaksikan paradoks yang menggetarkan: kawasan pendidikan yang menyerupai hutan terkelola. Hijau, rapi, dan bernapas.

Transformasi itu bukan kebetulan. Ia lahir dari sebuah cara pandang yang oleh pendirinya, Syaykh AS Panji Gumilang, dirumuskan sebagai Trilogi Kesadaran: kesadaran filosofis, ekologis, dan sosial.

Kesadaran filosofis berarti memandang manusia bukan sebagai penguasa alam, melainkan bagian darinya. Pohon, tanah, air, dan udara bukan objek eksploitasi, melainkan subjek kehidupan yang harus dihormati. Dalam perspektif ini, menanam pohon bukan sekadar program lingkungan, tetapi laku berpikir bahwa masa depan harus disiapkan hari ini, meski hasilnya baru dinikmati generasi berikutnya.

Kesadaran ekologis kemudian menjadi praksis. Al-Zaytun tidak menunggu istilah “ekoteologi” populer di ruang kebijakan. Ia menjalankannya sejak awal berdiri. Penanaman pohon, pengelolaan air, tata ruang hijau, dan kedisiplinan merawat lingkungan dijadikan bagian dari kurikulum hidup. Alam bukan latar belakang pendidikan, melainkan guru yang diam-diam mendidik.

Sementara kesadaran sosial menjadikan ekologi sebagai urusan bersama. Pohon bukan milik lembaga, melainkan amanah publik. Lingkungan yang lestari dipahami sebagai prasyarat keadilan sosial, sebab kerusakan alam selalu lebih dulu menghantam mereka yang paling lemah.

Ketika hari ini Kementerian Agama mendorong konsep ekoteologi yakni integrasi nilai keagamaan dengan tanggung jawab ekologis, sesungguhnya Al-Zaytun telah mempraktikkannya jauh sebelum istilah itu dirumuskan secara formal. Di sini, agama tidak berhenti pada mimbar, tetapi menjelma kebijakan ruang, kebiasaan hidup, dan disiplin institusional.

Polanya konsisten: Al-Zaytun kerap selangkah lebih awal. Sistem pembelajaran semester diterapkan ketika dunia pendidikan nasional masih bertumpu pada pola lama. Kewajiban hafalan Juz Amma digalakkan saat tahfidz Al-Qur’an belum menjadi arus utama pesantren. Lagu Indonesia Raya tiga stanza dinyanyikan sejak 2016, jauh sebelum wacana itu ramai di ruang publik. Tahun 2017, sosialisasi kebangsaan dilakukan melalui tur Anyer–Panarukan sejauh 2.727 kilometer selama 23 hari, menjadikan nasionalisme sebagai pengalaman, bukan slogan.

Bahkan dalam hal pemenuhan gizi, yang kini dikenal sebagai program Makan Bergizi Gratis (MBG), Al-Zaytun telah melakukannya sejak 1999, tiga kali sehari. Sunyi, konsisten, dan tanpa gegap gempita.

Maka, membaca peringatan 10 Januari hanya sebagai seremoni penanaman pohon akan terasa miskin makna. Ia seharusnya menjadi momen refleksi: bahwa krisis ekologis tidak bisa diselesaikan dengan program tahunan, melainkan dengan perubahan cara pandang. Dari eksploitasi ke perawatan. Dari pertumbuhan ke keberlanjutan. Dari wacana ke tindakan.

Satu juta pohon, pada akhirnya, bukan soal angka. Ia adalah simbol kesadaran kolektif. Dan Al-Zaytun, dengan hutan kecil yang tumbuh dari tanah gersang, memberi pelajaran sunyi bahwa kesadaran sejati tidak menunggu peringatan nasional. Ia bekerja lebih dulu, menanam lebih awal, dan membiarkan sejarah yang mencatatnya pelan-pelan.

Di situlah 10 Januari menemukan maknanya yang paling hijau.