
Oleh: Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I., M.E.
MDI Indramayu – Suasana wisuda di Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia (IAI Al-Azis), Senin (15/12/25) terasa sangat istimewa. Acara sakral ini dihadiri tamu istimewa dari Arab Saudi, Prof. Dr. Fahd Al-Ahmadi, Guru Besar Universitas Madinah.
Dalam orasinya yang penuh haru, ia memotret Al-Zaytun bukan sekadar sebagai lembaga pendidikan, melainkan sebagai sebuah “Sarih” atau bangunan peradaban yang agung, yang keindahannya tidak pernah beliau bayangkan sebelumnya.
Jembatan Ilmu: Menuju Hubungan Erat Madinah dan Al-Zaytun
Prof. Fahd mengungkapkan rasa syukurnya atas apa yang ia saksikan langsung di kampus ini. Ia melihat Al-Zaytun sebagai tempat di mana semua orang bergelut dan berkecimpung dalam ilmu pengetahuan.

Baginya, atmosfer belajar seperti ini adalah manifestasi nyata dari jalan menuju surga. “Siapapun yang berjalan untuk menuntut ilmu, maka berarti dia sedang berada di jalan Allah dan menuju surganya Allah,” tegas Prof. Fahd mengutip pesan Rasulullah SAW.
Lebih jauh, ia membawa misi persaudaraan akademik dengan berharap adanya hubungan kekeluargaan yang sangat erat antara IAI Al-Azis dengan Universitas Islam Madinah di masa depan.
Simbol Kemandirian: Membangun Peradaban Tanpa Bergantung
Dalam sesi wawancara mendalam, kekaguman Prof. Fahd semakin mengerucut pada aspek kemandirian yang dibangun oleh Syaykh Al-Zaytun. Ia melihat Syaykh sebagai figur pemimpin yang mampu membangun kemandirian finansial dan operasional yang luar biasa.
Al-Zaytun di mata Prof. Fahd adalah model peradaban yang “selesai dengan dirinya sendiri”:
1. Kedaulatan Pangan: Ketika butuh beras, mereka menanam sendiri tanpa perlu membeli. Begitu pula dengan sayur-mayur dan buah-buahan.
2. Ketahanan Protein: Kebutuhan daging dipenuhi melalui peternakan unggas, kambing, hingga sapi yang dikelola secara mandiri di dalam ma’had.

Kemandirian ini, menurutnya, adalah bukti nyata dari Islam yang memuat etos kerja, motivasi, disiplin, dan perjuangan untuk menjadi manusia produktif.
Tanggung Jawab Alumni: Membela Hak dan Mencerdaskan Umat
Kepada para wisudawan, Prof. Fahd menitipkan beban sejarah yang besar. Ia menegaskan bahwa urusan umat kini berada di tangan para lulusan, dan itu adalah tanggung jawab besar di hadapan Allah SWT.
Tugas utama alumni Al-Zaytun, sebagaimana dipahami dari pesannya, mencakup:
1. Mencerdaskan Umat: Menjadi obor bagi masyarakat di luar sana.
2. Melawan Khurafat: Menghindarkan umat dari kepercayaan yang menyimpang.
3. Menegakkan Kebenaran: Membedakan antara yang hak dan yang batil, serta mempertahankannya demi kejayaan bangsa di masa depan.
Prof. Fahd menutup dengan pengakuan tulus bahwa apa yang telah dibangun di Al-Zaytun adalah sebuah peradaban “Akbar” yang layak menjadi kebanggaan, tidak hanya bagi Indonesia, tapi juga bagi mata dunia internasional.***

More Stories
Bersemi, Berjumpa, dan Berbagi: Ponpes Husnul Khotimah Kunjungi Yayasan Rindang Indonesia
Perbasi Cup Indramayu 2026: Saat Basket Menjadi Madrasah Kehidupan
Dari Lahan Basah ke Ingatan Budaya: Merawat Tradisi, Menjaga Masa Depan