03/04/2026

MDINEWS INDRAMAYU

MEDIA ASPIRASI BUDAYA BANGSA

Ekoteologi Kemenag dan Wajah Nyata di Tanah Hijau: Pelajaran dari Al-Zaytun, Ketika Iman Bersemi Menjadi Kampus Hijau

Oleh : Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I, M.E. (Dosen IAI Al-Zaytun)

MDI, Indramayu (12/12) – Kementerian Agama (Kemenag) RI baru-baru ini meluncurkan sebuah gagasan monumental yang menyentuh akar spiritual bangsa: Ekoteologi.

Konsep ini, yang dirangkum dalam buku panduan, menegaskan bahwa tanggung jawab pelestarian lingkungan bukanlah isu teknis semata, melainkan inti dari ajaran agama, sebuah panggilan suci untuk mengamalkan iman.

Di tengah desakan krisis iklim global, Ekoteologi Kemenag menjadi kompas moral—sebuah peta jalan dari teologi menuju aksi nyata (iman, ilmu, dan amal).

Namun, jauh sebelum cetak biru kebijakan ini dirumuskan, terdapat sebuah institusi pendidikan pesantren yang telah mengubah konsep ideal ini menjadi kenyataan hidup sehari-hari: Ma’had Al-Zaytun, Indramayu.

Kompleks pendidikan yang membentang hijau ini bukan sekadar kampus, melainkan sebuah laboratorium hidup yang membuktikan bahwa Ekoteologi—yaitu menyatukan kesalehan ritual dan kesalehan ekologis—bukanlah utopia, melainkan sebuah model yang sudah berjalan selama puluhan tahun.

Mengamalkan Iman melalui Kayu Jati

jika gagasan Ekoteologi Kemenag menyerukan amal (aksi) sebagai penutup dari iman dan ilmu, Al-Zaytun telah mewujudkannya dalam sebuah regulasi institusional yang menginspirasi: Para pendidik di Al-Zaytun, sebelum menunaikan tugas mengajar, diwajibkan menanam pohon kayu jati dan memastikan ia tumbuh subur.

Aturan ini bukan sekadar kegiatan penghijauan, melainkan penanaman kesadaran bahwa tugas mendidik tidak terhenti di ruang kelas, tetapi juga mencakup pemeliharaan kehidupan di alam raya.

Setiap guru adalah elemen bangsa yang tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menumbuhkan ekosistem.

Hasilnya luar biasa. Jutaan pohon telah tumbuh subur, mengubah lahan tandus menjadi hutan pendidikan yang lebat.

Keberadaan hutan ini menciptakan ekosistem mini yang kaya, tempat ratusan aneka satwa liar hidup bebas, bersahabat dengan ribuan santri. Di Al-Zaytun, burung, biawak, dan rusa bukan hanya objek observasi, melainkan bagian dari komunitas pembelajaran.

Siklus Kehidupan Nol Sampah (Zero Waste)

Prinsip Ekoteologi menekankan pentingnya menjaga keseimbangan dan siklus alam. Al-Zaytun merealisasikan ini melalui penerapan konsep zero-waste dan manajemen air yang cerdas.

Pertama, air limbah sisa kegiatan harian tidak dibuang percuma ke sungai, tetapi diolah kembali melalui instalasi water treatment.

Air limbah yang tadinya kotor diubah menjadi air berdaya guna yang dimanfaatkan kembali untuk menyiram tanaman dan lahan pertanian.

Ini adalah contoh konkret bagaimana kotoran dapat diubah menjadi keberkahan, selaras dengan prinsip daur ulang ilahiah dalam alam.

Kedua, dalam kegiatan pembangunan fisik, Al-Zaytun menerapkan filosofi “membangun tanpa merusak”.

Pohon-pohon yang berdiri di lokasi pembangunan tidak ditebang, melainkan dipindahkan dengan teknik khusus.

Tindakan ini menunjukkan penghormatan tertinggi terhadap makhluk hidup dan mempraktikkan etika pembangunan yang benar-benar berkelanjutan, yaitu pembangunan yang tidak mengorbankan masa depan ekologi demi keuntungan sesaat.

Harmoni dalam Gerak dan Transportasi

Komitmen ekoteologi juga terasa dalam detail terkecil kehidupan sehari-hari.
Untuk mobilitas di lingkungan kampus yang luas, Al-Zaytun secara masif menggalakkan penggunaan sepeda.
Kebijakan ini adalah manifestasi dari kesadaran untuk meminimalkan jejak karbon.

Kampus ini menjadi model di mana kendaraan pribadi bermotor tidak mendominasi, digantikan oleh transportasi ramah lingkungan yang secara otomatis juga menyehatkan penggunanya.

Refleksi Iman Kamil dalam Ekoteologi

Al-Zaytun telah menjadi bukti nyata bahwa gagasan Ekoteologi Kemenag RI—yang bertujuan untuk menjadikan umat beragama sebagai garda terdepan pelestarian lingkungan—adalah visi yang dapat direalisasikan.

Apa yang baru saja digagas Kemenag sebagai kebijakan untuk tahun-tahun mendatang, telah dilaksanakan oleh Al-Zaytun sejak awal pendiriannya.

Ma’had Al-Zaytun tidak hanya mengajarkan Al-Qur’an sebagai ayat suci, tetapi juga mengajarkan bumi sebagai ayat kauniyah (ayat-ayat Tuhan yang terhampar di alam).

Kisah Al-Zaytun adalah inspirasi kuat: Ketika iman kita diwujudkan dalam pelestarian hutan, pengelolaan air limbah, dan etika membangun, saat itulah kita benar-benar mengamalkan ajaran agama secara sempurna.

Ini adalah model yang layak dicontoh oleh setiap institusi keagamaan di Indonesia, mengubah ruang pendidikan menjadi sumber penghidupan dan ketahanan ekologi bangsa.