03/04/2026

MDINEWS INDRAMAYU

MEDIA ASPIRASI BUDAYA BANGSA

Etos, Motivasi, Disiplin, Tantangan Lulusan IAI Al-Azis di Dunia Profesional

Oleh: Dr. Ali Aminuloh

Dalam sambutan di acara wisuda, Senin (15/12/25), Prof. Drs. Amich Alhumami, M.A., M.Ed., Ph.D., memberikan apresiasi tinggi terhadap IAI Al-Zaytun Indonesia dan para lulusannya, sembari menanamkan tantangan profesional dan etos global.

Ia membuka pidato dengan menggarisbawahi pentingnya pandangan Prof. Dr. KH. Imam Suprayogo, seorang figur pendidikan yang pernah memimpin UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Validasi dari Profesor Pendidikan: Al-Zaytun Investasi Umat yang Membanggakan

Prof. Amich Alhumami menegaskan bahwa sambutan Prof. Imam Suprayogo adalah gambaran nyata seorang pendidik yang mengetahui persis betapa pentingnya sebuah lembaga pendidikan dalam menyiapkan generasi muslim Indonesia.

Ia membandingkan latar belakang pendanaan. Jika UIN Maulana Malik Ibrahim adalah investasi negara, Kampus Al-Zaytun adalah investasi yang sepenuhnya dibangun oleh masyarakat, atau investasi umat Islam.

Kampus IAI Al-Zaytun Indonesia, sebagai perguruan tinggi, juga mewakili aspirasi bangsa Indonesia yang multi-agama, multi-budaya, dan multi-etik.

Prof. Amich juga mengutip bahwa Al-Zaytun adalah mahakarya dan inspirasi dari perjuangan presiden pertama, Bung Karno, yang selalu dirujuk oleh Grand Chancellor IAI AL-AZIS, Syaykh Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang.

Melampaui Disiplin Ilmu: Menguasai Kecerdasan Jamak Syaykh Panji Gumilang

Syaykh Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang, dikenal sebagai sarjana fakultas Adab dan Sejarah Kebudayaan Islam. Namun, Prof. Amich menyoroti bagaimana Syaykh mewujudkan kampus yang megah ini dengan segala ilmu pengetahuan di dalamnya.

Mengutip kembali Prof. Imam Suprayogo, Syaykh Ma’had Al-Zaytun bukan hanya berpikir dan berkata-kata, tetapi juga bertindak. Beliau menekuni bidang pertanian, mencakup peternakan, dan riset-riset ilmiah.

Dalam bahasa psikologi kognitif, hal ini disebut sebagai “multiple intelligences,” atau kecerdasan jamak. Ini menjadi tantangan besar bagi para mahasiswa di Al-Zaytun.

Bagi para sarjana IAI AL-AZIS, kelulusan adalah pondasi keilmuan. Meskipun karier profesional sangat mungkin selaras dengan bidang ilmu yang ditekuni, seperti Sarjana Syariah Ekonomi Islam atau Dakwah, jalan lain juga terbuka lebar. Prof. Amich memberikan ilustrasi: banyak contoh sarjana teknik menjadi jurnalis terpandang, atau sarjana hukum menjadi wartawan kredibel alih-alih pengacara.

Oleh karena itu, kemampuan yang diperlukan di masa depan adalah “critical thinking, analytical skills, creativity”. Inilah yang akan menyumbang banyak pada karier profesional.

Kunci Kemajuan Bangsa: Etos, Motivasi, dan Disiplin

Tema wisuda kali ini, yaitu etos kerja, motivasi, dan disiplin, dinilai amat penting. Prof. Amich Alhumami mengilustrasikannya melalui ilmu antropologi dan psikologi.

Ia merujuk pada buku Asian Drama karya peraih Nobel, Gunnar Myrdal, yang membedakan prestasi gemilang antara bangsa-bangsa Asia Timur (Jepang, Korea Selatan, China) dengan Asia Selatan (India, Pakistan).

Myrdal menyimpulkan bahwa yang membedakan secara kontras adalah etos, motivasi, dan disiplin. Bangsa Asia Timur mencapai kemajuan tinggi dalam pembangunan ekonomi dan penguasaan teknologi, sementara Asia Selatan masih tertinggal.

Prof. Amich menutup dengan optimisme bahwa etos kerja keras, etos mengembangkan ilmu pengetahuan, etos disiplin, dan etos produktif terkumpul di kampus Al-Zaytun.

Ia berharap, hal ini akan menjadi energi penggerak bagi semua sarjana dan santri di Ma’had Al-Zaytun.

Kontribusi Nyata Sarjana: Ilmu, Inovasi, dan Teknologi untuk Martabat Bangsa

Pengabdian dan khidmat para lulusan kepada masyarakat dan bangsa akan sangat ditentukan oleh tantangan nyata yang dihadapi.
“Tidak ada bangsa manapun yang punya keunggulan, tidak ada bangsa manapun yang mampu menjaga martabat yang tinggi, kecuali punya ilmu pengetahuan, inovasi, teknologi, dan juga sebagai kekuatan pendorong untuk pembangunan secara keseluruhan,” Jelas Prof. Amich

Inilah inti dari kontribusi sarjana: upaya membangun bangsa yang berkualitas dan bermartabat, yang tidak akan mungkin ditunaikan kecuali dengan ilmu pengetahuan, inovasi, dan penguasaan teknologi.***