Oleh : Ali Aminulloh
Menjelang Idul Fitri, notifikasi WhatsApp berdenting tanpa henti. Satu per satu pesan masuk: ucapan, doa, dan permohonan maaf yang berderet rapi. Kalimatnya indah, susunannya sopan, bahkan kadang puitis. Namun diam-diam, kita bertanya: apakah semua itu benar-benar sampai ke hati, atau sekadar lewat di layar lalu hilang tanpa jejak?
Di balik tradisi ini, tersimpan satu kenyataan yang tak selalu kita sadari: tidak semua ucapan memiliki ruh. Kata-kata yang diucapkan tanpa kesadaran seringkali terasa hampa. Ia hanya formalitas, tidak merasuk ke jiwa, tidak menggugah perubahan. Maaf yang seharusnya menjadi jembatan justru berubah menjadi rutinitas tahunan yang kehilangan makna.
Padahal, meminta maaf adalah tindakan yang dalam dan tidak mudah. Dalam perspektif psikologi humanistik, seperti dijelaskan oleh Carl Rogers, keberanian untuk jujur terhadap diri sendiri dan orang lain membutuhkan kerendahan hati yang tinggi. Mengakui kesalahan berarti meruntuhkan ego, dan itulah bagian tersulit dari menjadi manusia.
Lebih dari itu, tradisi bersalaman dalam Idul Fitri menyimpan makna yang sangat halus. Dalam ungkapan hikmah disebutkan: “Tashāfahū fa innahu yudzhibu al-ghilla min qulūbikum” (berjabat tanganlah, karena itu akan menghilangkan ganjalan dalam hati).
Kata tashāfahū berasal dari akar kata ṣafḥ, yang berarti “membuka lembaran baru” atau “melapangkan”. Maka, berjabat tangan bukan sekadar sentuhan fisik, tetapi simbol membersihkan hati, menghapus residu emosi, mengurai uneg-uneg yang selama ini terpendam. Dalam sentuhan itu, ada kehangatan yang tidak bisa digantikan oleh teks atau pesan digital.
Dalam Islam, puncak dari semua ini adalah takwa. Allah menegaskan dalam Al-Baqarah 183 bahwa tujuan puasa adalah agar manusia menjadi bertakwa.
Dan ciri takwa itu ditegaskan dalam Ali Imran 133-134: mereka yang mampu menahan amarah dan memaafkan orang lain.
Artinya, keberhasilan Ramadan tidak diukur dari seberapa lama kita menahan lapar, tetapi seberapa luas hati kita dalam memberi maaf.
Namun di sinilah titik pentingnya: maaf tidak cukup hanya diucapkan. Ia harus disadari.
Dalam kerangka trilogi kesadaran yang digagas Syaykh Al Zaytun, maaf yang hidup harus lahir dari tiga lapisan kesadaran:
Pertama, kesadaran filosofis.
Bahwa kita semua adalah manusia yang tidak luput dari salah. Kesadaran ini melahirkan kerendahan hati. Kita meminta maaf bukan karena tradisi, tetapi karena memahami hakikat diri yang rapuh, terbatas, dan saling membutuhkan.
Kedua, kesadaran ekologis.
Manusia hidup dalam “ekosistem relasi”. Luka yang kita sebabkan pada orang lain tidak berhenti pada satu individu, tetapi merambat ke lingkungan sosial. Dengan memaafkan, kita sedang membersihkan “polusi batin” yang bisa merusak harmoni kehidupan bersama.
Ketiga, kesadaran sosial.
Bahwa maaf adalah perekat peradaban. Emile Durkheim menekankan bahwa ritual bersama memiliki kekuatan membangun solidaritas. Tradisi saling memaafkan saat Idul Fitri bukan sekadar budaya, tetapi mekanisme sosial untuk merajut kembali hubungan yang retak.
Dari sisi psikologi, Everett Worthington juga menegaskan bahwa memaafkan membebaskan manusia dari beban emosi negatif. Ia menyembuhkan, bukan hanya secara mental, tetapi juga fisik.
Maka, ketika maaf diucapkan dengan kesadaran yang utuh, baik filosofis, ekologis, dan sosial, maka ia tidak lagi hampa. Ia menjadi energi. Energi yang menenangkan hati, memperbaiki hubungan, dan bahkan menyembuhkan luka yang lama terpendam.
Dunia hari ini sedang dilanda kegaduhan: konflik, perpecahan, dan ego yang saling bertabrakan. Barangkali, yang kurang bukan kecerdasan, tetapi kesadaran.
Kesadaran untuk benar-benar meminta maaf.
Kesadaran untuk sungguh-sungguh memaafkan.
Idul Fitri seharusnya bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi momentum kebangkitan jiwa. Saat kata “maaf” tidak lagi menjadi formalitas, melainkan menjadi jalan pulang bagi hati yang ingin damai, dan bagi dunia yang rindu harmoni.
Jadi, di antara ribuan pesan yang kita kirim dan terima hari ini,
masihkah maaf kita bernyawa?

More Stories
Lebaran di Era Tiktok
“Lebaran Tanpa Kepastian?”
Menjemput Lailatul Qadr: Sudahkah Al Qur’an Nuzul di Akal, Hati, dan Perilaku?