03/04/2026

MDINEWS INDRAMAYU

MEDIA ASPIRASI BUDAYA BANGSA

Nada-Nada Kesadaran


(Refleksi Hari Musik Nasional, 9 Maret)

Oleh: Ali Aminulloh

Tanggal 9 Maret diperingati sebagai Hari Musik Nasional, sebuah momentum untuk mengenang jasa Wage Rudolf Supratman, pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya. Namun lebih dari sekadar peringatan historis, hari ini sejatinya mengingatkan kita bahwa musik bukan hanya bunyi yang mengalun di telinga. Musik adalah bahasa jiwa, energi kebudayaan, bahkan alat perjuangan yang mampu menggerakkan kesadaran manusia.

Sejarah bangsa Indonesia telah membuktikan itu. Melalui lagu Indonesia Raya, W.R. Supratman menjadikan seni sebagai alat perjuangan. Nada dan liriknya tidak sekadar lagu, tetapi panggilan kebangkitan sebuah bangsa. Seni, dalam konteks ini, menjadi energi yang menyatukan rasa, menyalakan harapan, dan menumbuhkan keberanian.

Dalam sejarah dakwah Islam pun, seni memiliki tempat yang mulia. Para wali di Nusantara, seperti Sunan Kalijaga, menggunakan seni sebagai media dakwah. Wayang, tembang, dan budaya lokal menjadi jembatan yang lembut untuk menyampaikan pesan keimanan. Bahkan dalam sejarah Islam awal, ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, beliau disambut dengan lantunan syair “Thala’al Badru ‘Alaina”, sebuah bentuk ekspresi seni yang penuh cinta dan kegembiraan.

Di sinilah seni memperlihatkan hakikatnya: menghaluskan jiwa manusia.

Sebuah ungkapan lama mengatakan:
Dengan ilmu hidup menjadi mudah,
Dengan agama hidup menjadi terarah,
Dengan seni hidup menjadi indah.

Ketika tiga unsur ini berpadu, kehidupan manusia menjadi mudah, terarah, dan indah: sebuah harmoni yang menumbuhkan peradaban.

Gagasan ini sejalan dengan Trilogi Kesadaran yang digagas oleh Syaykh Al Zaytun, yakni kesadaran filosofis, ekologis, dan sosial.
Musik dan seni dapat menjadi pintu masuk bagi ketiga kesadaran tersebut.

Kesadaran filosofis lahir ketika manusia merenungi makna kehidupan melalui keindahan bunyi dan kata. Musik seringkali membuat manusia berhenti sejenak, merenung, dan memahami kedalaman makna hidup.

Kesadaran ekologis muncul ketika seni mengajarkan harmoni dengan alam. Banyak karya musik terinspirasi dari alam: suara angin, gemericik air, atau ritme kehidupan. Seni mengingatkan manusia bahwa alam bukan sekadar objek, tetapi ruang harmoni yang harus dijaga.

Sementara kesadaran sosial tumbuh ketika musik menyatukan manusia lintas suku, agama, dan budaya. Sebuah lagu mampu membuat ribuan orang bernyanyi bersama tanpa memandang perbedaan.

Kesadaran-kesadaran inilah yang kemudian dirumuskan dalam konsep pendidikan LSTEAMS yang digagas Syaykh Al Zaytun:
Law, Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics, dan Spiritual.

Dalam pendidikan kontemporer, seni tidak lagi dipandang sebagai pelengkap, tetapi sebagai unsur penting dalam membangun kecerdasan manusia secara utuh. Ilmu melatih logika, teknologi mengasah keterampilan, sementara seni membentuk kehalusan rasa dan kematangan emosi.

Ilmu tanpa seni bisa melahirkan manusia yang kering rasa.
Seni tanpa nilai bisa kehilangan arah.

Karena itu, seni perlu disiapkan dengan nilai-nilai kebaikan. Kata-kata dalam lagu tidak berhenti di telinga, tetapi dapat masuk ke alam bawah sadar manusia.

Dalam psikologi modern dikenal konsep calming effect, yaitu pengaruh musik terhadap ketenangan jiwa. Peneliti musik dan psikologi Daniel J. Levitin, dalam bukunya This Is Your Brain on Music, menjelaskan bahwa musik mampu memengaruhi sistem saraf, menurunkan tingkat stres, dan menenangkan emosi manusia. Musik bahkan digunakan dalam music therapy untuk membantu penyembuhan psikologis.

Artinya, musik bukan sekadar hiburan. Ia adalah terapi jiwa.

Al-Qur’an pun mengingatkan manusia untuk memperindah kehidupan dengan nilai yang baik. Allah berfirman:

“Dan di antara manusia ada yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan dari jalan Allah tanpa ilmu.”
(QS. Luqman: 6)

Ayat ini mengingatkan bahwa kata-kata, termasuk dalam lagu, memiliki pengaruh besar terhadap jiwa manusia. Karena itu, seni perlu diarahkan untuk membangun kesadaran, bukan menjerumuskan manusia dalam kehampaan makna.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW juga bersabda:
“Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan.”
(HR. Muslim)

Keindahan adalah bagian dari nilai spiritual kehidupan. Seni, ketika dipandu oleh nilai dan kesadaran, dapat menjadi jalan menuju keindahan itu.

Hari Musik Nasional pada akhirnya bukan hanya perayaan bagi para musisi. Ia adalah pengingat bahwa seni memiliki peran penting dalam membangun manusia yang utuh, yaitu manusia yang berpikir dengan ilmu, bertindak dengan kesadaran, dan merasakan kehidupan dengan kehalusan jiwa.

Karena pada akhirnya, peradaban besar tidak hanya dibangun oleh teknologi dan kekuatan ekonomi, tetapi juga oleh nada-nada yang menghaluskan hati manusia.