01/02/2026

MDINEWS INDRAMAYU

MEDIA ASPIRASI BUDAYA BANGSA

Refleksi 80 Tahun Indonesia Merdeka: Menyalakan Kembali Api Kemerdekaan dari Dalam Diri

Oleh Ali Aminulloh

Jejak Dramatis Menuju Proklamasi

MDINEWS Indramayu, Ahad, 17 Agustus 2025 – bendera Merah Putih akan kembali berkibar di seluruh penjuru negeri, menandai delapan dekade perjalanan Indonesia sebagai bangsa yang merdeka. Di tengah gegap gempita perayaan, ada baiknya kita menoleh sejenak ke belakang—menarik mesin waktu menuju detik-detik paling genting dalam sejarah. Di sanalah tersimpan hikmah abadi tentang hakikat kemerdekaan yang tidak sekadar dirayakan, tetapi harus terus diperjuangkan.

Kemerdekaan Indonesia tidak pernah hadir sebagai hadiah manis di atas nampan perak. Ia lahir dari drama menegangkan di persimpangan sejarah, saat Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak oleh bom atom Amerika. Jepang yang kalah sempat menjanjikan kemerdekaan melalui PPKI, namun janji itu goyah. Ketika Soekarno-Hatta menemui Mayor Jenderal Nishimura, jawaban yang diterima justru larangan keras. Jepang ingin mempertahankan status quo Indonesia sebagai alat tawar dengan Sekutu. Saat itulah, bangsa ini diuji: menunggu belas kasihan atau merebut nasibnya sendiri.

 

Sejarah mencatat, sekelompok pemuda radikal menolak tunduk pada ketidakpastian. Mereka “menculik” Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok, mendesak agar proklamasi segera dikumandangkan. Awalnya, dwitunggal itu tetap pada jalur konstitusional melalui PPKI. Namun desakan dan gelora pemuda yang melihat kekosongan kekuasaan akhirnya meluluhkan hati. Di malam Ramadhan yang hening, naskah proklamasi dirumuskan dengan semangat yang menyala. Keesokan paginya, 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB, suara proklamasi membelah angkasa: sebuah bangsa baru telah lahir.

Tiga Pusaka Kemerdekaan: Ruh, Fikir, dan Ilmu

Dari peristiwa itu, kita belajar bahwa kemerdekaan Indonesia bukan pemberian, melainkan hasil perjuangan murni. Para pendiri bangsa meninggalkan tiga pusaka abadi: Merdeka Ruh, Merdeka Fikir, dan Merdeka Ilmu.

Merdeka Ruh adalah keberanian bertindak sesuai nurani—meyakini bahwa setiap manusia setara di mata Tuhan, dan penjajahan adalah penghinaan terhadap kemanusiaan. Merdeka Fikir adalah kebebasan untuk berpikir kreatif, membaca momentum, dan berani mengambil keputusan di luar skenario penjajah. Merdeka Ilmu adalah kemampuan merancang masa depan, memobilisasi kekuatan bangsa sendiri, dan melahirkan inovasi tanpa harus diajari.

Hari ini, 80 tahun setelah proklamasi, ketiga pusaka itu tetap relevan. Merdeka Ruh berarti keberanian menolak korupsi, ketidakadilan, dan segala bentuk kompromi yang merusak karakter bangsa. Merdeka Fikir adalah daya cipta yang membuat generasi muda tidak hanya menjadi konsumen budaya asing, tetapi juga produsen solusi kreatif bagi bangsa. Merdeka Ilmu adalah tekad untuk terus belajar, berinovasi, dan menguasai pengetahuan agar Indonesia mampu bersaing di panggung global.

Ketiga pusaka ini bukan sekadar warisan, melainkan syarat mutlak untuk mewujudkan cita-cita luhur dalam Pembukaan UUD 1945: Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

Membumikan Kemerdekaan dalam Ekonomi Berkeadilan

Lalu, bagaimana ketiga kemerdekaan batiniah ini menjelma menjadi kesejahteraan lahiriah? Jawabannya ada pada cara kita membangun ekonomi bangsa.

Merdeka Ruh adalah fondasi integritas ekonomi. Kesejahteraan tidak boleh berdiri di atas korupsi, riba, atau suap. Pengusaha yang ruhnya merdeka akan menolak kecurangan, sementara pejabat yang ruhnya merdeka akan berani menolak sogokan, demi menjaga harga diri dan nasib rakyat. Semangat ini melahirkan budaya berbagi melalui zakat, infak, dan sedekah sebagai jalan pemerataan sejati.

Merdeka Fikir adalah mesin kreativitas ekonomi. Pemuda dengan pikiran merdeka tidak menunggu lowongan, mereka menciptakannya. Mereka melahirkan aplikasi digital yang memangkas rantai tengkulak, menghubungkan petani dengan konsumen secara langsung, sehingga kesejahteraan lebih merata.

Merdeka Ilmu menjadi bahan bakar inovasi. Kreativitas tanpa ilmu hanyalah mimpi. Dengan ilmu, bangsa ini mampu mengembangkan teknologi ramah lingkungan, menciptakan varietas benih unggul, dan membangun industri digital yang membuka jutaan lapangan kerja.

Ketiga pusaka itu, bila membumi dalam ekonomi, menjadi jalan menuju cita-cita besar: Indonesia yang adil dan makmur, bukan sekadar slogan, melainkan kenyataan yang bisa dirasakan rakyatnya.

Epilog: Menang Setiap Hari

Delapan puluh tahun merdeka bukan akhir perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab baru. Musuh terbesar kita kini bukan lagi tentara bersenjata, melainkan belenggu di dalam diri: ketakutan untuk jujur, kejumudan untuk berubah, dan kemalasan untuk belajar.

Makna kemerdekaan sejati adalah keberanian membebaskan ruh dari ketakutan, pikiran dari kemalasan, dan ilmu dari kebodohan. Ia bukanlah peristiwa sekali jadi, melainkan kemenangan kecil yang harus kita menangkan setiap hari.

Jika para pendiri bangsa telah merebut kunci kemerdekaan dan menyerahkan kompas kepada kita, maka tugas generasi hari ini adalah melanjutkan arah itu: menyalakan api kemerdekaan dalam hati, menyebarkannya ke masyarakat, dan menjadikannya suluh bagi dunia.

Merdeka bukan sekadar status, melainkan perjalanan abadi. Dan setiap kita, mulai dari diri sendiri, adalah pejuangnya.

Editor: M Fauzi