01/02/2026

MDINEWS INDRAMAYU

MEDIA ASPIRASI BUDAYA BANGSA

Refleksi Milad Ke 26 Al-Zaytun: Transformasi Revolusioner Pendidikan Indonesia

Oleh Ali Aminulloh

Rabu, 27 Agustus 2025. Al-Zaytun memasuki usia ke-26. Momentum milad ini diisi dengan refleksi perjalanan pendidikan Al-Zaytun dan perjalanan bangsa Indonesia dalam membangun pendidikan. Acara yang digelar di Kampus Al-Zaytun, Indramayu, ini dihadiri Kabiro Kesra Pemprov Jawa Barat mewakili Gubernur, para cendekia sahabat Syaykh dari IPB dan UIN Jakarta, tokoh lintas agama termasuk pendeta, wali santri, serta seluruh civitas akademika Al-Zaytun. Peringatan ini diawali dengan khataman Al-Qur’an sebanyak 26 kali, dibacakan oleh para pelajar, guru, dan segenap civitas kampus—sebuah simbol syukur atas 26 tahun perjalanan penuh perjuangan.

Ketahanan Pangan Sebagai Fondasi Pendidikan
Syaykh Al-Zaytun, AS Panji Gumilang, membuka refleksinya dengan menekankan pentingnya ketahanan pangan sebagai fondasi berdirinya Ma’had Al-Zaytun. Sejak awal, sebelum institusi pendidikan ini hadir dalam bentuk formal, ia bersama sekelompok ilmuwan pertanian—dikenal dengan sebutan Tim Sebelas dari Institut Pertanian Bogor—merancang strategi agar pendidikan tidak goyah oleh kekurangan pangan. “Kami sepakat bahwa sebuah lembaga pendidikan berasrama harus mandiri dalam urusan pangan, agar tidak mudah diguncang oleh krisis,” ujarnya.
Gagasan ini diwujudkan dalam Program Pendidikan Pertanian Terpadu (P3T). Meski bersifat nonformal, program ini mempersiapkan kemandirian pangan Al-Zaytun jauh sebelum mahasiswanya hadir. Hingga kini, sekitar 7.500 hingga 10.000 guru, pelajar, dan karyawan yang hidup di lingkungan Al-Zaytun tidak pernah kekurangan. Setiap 18 bulan, stok pangan tersedia dengan cadangan 6 bulan yang bahkan bisa dijual ke pasar induk. “Selama 26 tahun, Al-Zaytun tidak pernah goyah, karena pangan yang kokoh adalah kunci kestabilan,” tegasnya.
Syaykh menegaskan, kekuatan pangan bukan sekadar strategi teknis, melainkan prinsip ilahi. Allah memberi makan agar manusia hidup tenteram, sebagaimana firman-Nya wa amana hum min khauf—memberi rasa aman dari rasa takut. Itulah mengapa, meski Al-Zaytun pernah dikriminalisasi, dana disita, bahkan pemimpinnya dikurung, lembaga ini tetap tegak. Sebab, orang yang cukup makan tidak bisa diguncang isu apa pun.

Politik Etis dan Pendidikan Modern sebagai Penopang Bangsa
Mengulas sejarah, Syaykh menyinggung kebangkitan pendidikan di Indonesia awal abad ke-20. Tahun 1900, dari 70 juta penduduk Jawa, hanya 75 ribu yang berpendidikan. Namun, melalui kebijakan Politik Etis 1905 yang mengutamakan pendidikan, irigasi, dan transmigrasi, jumlah penduduk terdidik meningkat pesat menjadi 1,5 juta hanya dalam 25 tahun. Pendidikan politeknik menjadi model saat itu—ilmu yang langsung terhubung dengan praktik.
Buahnya tampak nyata. Lahir generasi terdidik seperti Bung Karno, Bung Hatta, dan Bung Syahrir yang kemudian merumuskan Indonesia sebagai bangsa, bahasa, dan negara. Syaykh menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia bukan sekadar hasil perjuangan pesantren atau organisasi tertentu, melainkan buah pendidikan modern yang terencana.
Ia lalu mengkritik kondisi hari ini: politik etis berubah menjadi politik “ber-apa” dan “berapa”. Pendidikan masih terkotak dalam sekat keagamaan dan sektoral. Karena itu, Syaykh mencanangkan Novum Gradum—lompatan baru untuk mendirikan pendidikan berbasis politeknik di bawah naungan Departemen Pendidikan Nasional. “Politeknik adalah transformasi ilmu menjadi praktik. Lulusan kita nanti bukan hanya sarjana teori, tapi dokter ladang, dokter laut, dokter hutan, dokter perkebunan—insan akademik yang sekaligus praktisi,” jelasnya.

Mimpi Besar: Politeknik AIR dan Transformasi Pendidikan Berasrama


Syaykh kemudian mencanangkan berdirinya Politeknik Al-Zaytun Indonesia Raya (AIR), sebuah visi jangka panjang yang dimulai dari Indramayu dengan lahan 200 hektare. Program studi utamanya mencakup agronomi, peternakan, perikanan, kelautan, perkebunan, mekanisasi pertanian, tata boga, hingga perawat dan hukum. Targetnya, setiap mahasiswa diberi lahan praktik 1.500 m² agar langsung siap terjun ke dunia nyata.
Visi ini akan diperluas ke Garut (450 hektare) untuk peternakan dan perikanan tangkap, lalu Tasikmalaya (1.000 hektare) untuk perkebunan dan kehutanan. Dalam 15 tahun, politeknik ini diharapkan menjadi pusat vokasi nasional yang melahirkan tenaga terampil lintas bidang. Syaykh menekankan bahwa pendidikan berasrama harus menjadi model nasional, sebagaimana praktik pendidikan era 1905 yang menghasilkan pemuda-pemuda tangguh pencetus Sumpah Pemuda.
Lebih jauh, ia menawarkan solusi revolusioner: pembangunan 500 titik pendidikan berasrama di seluruh Indonesia, masing-masing dengan lahan minimal 3.000 hektare. Dengan konsentrasi 60 juta jiwa—pelajar, guru, dan tenaga pendidik—pendidikan Indonesia bisa ditata kembali. “Kalau sistem ini dijalankan, hanya dalam 15 tahun Indonesia akan sejajar dengan bangsa maju. Tak ada lagi anak bangsa yang tercecer,” serunya.
Syaykh mengakhiri dengan kritik tajam terhadap kapitalisme pendidikan. Ia menegaskan bahwa Pancasila adalah dasar sosialis yang menuntut keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Karenanya, biaya pendidikan harus ditanggung negara, sebagaimana Belanda dulu menanggung biaya siswa pribumi hingga 26 gulden per tahun. “Kalau penjajah bisa, mengapa bangsa merdeka tidak bisa?” ujarnya penuh retorik.

Khatimah: Pendidikan Mandiri, Bangsa Berdaulat
Refleksi panjang Syaykh Al-Zaytun bermuara pada satu pesan mendasar: pendidikan adalah kunci kemandirian bangsa. Pangan yang kokoh, politik yang beretika, dan sistem pendidikan revolusioner adalah tiga tiang yang akan menopang Indonesia menuju kejayaan. Ia mengajak bangsa ini berani mengambil langkah besar, meninggalkan politik transaksional, dan kembali pada cita-cita keadilan sosial sebagaimana tertulis dalam Pancasila.
“Transformasi revolusioner pendidikan bukan utopia. Ia nyata, bisa dicapai dalam 15 tahun, asal ada tekad, etika, dan keberanian. Pendidikan berasrama dan vokasi bukan sekadar model, tetapi jalan menuju Indonesia Raya yang sesungguhnya,” tutup Syaykh, dengan nada penuh keyakinan.