03/04/2026

MDINEWS INDRAMAYU

MEDIA ASPIRASI BUDAYA BANGSA

Saat Dunia Memilih Perang, Siapa Membela Pendidikan?

Oleh: M.Adhie Pamungkas

Di berbagai belahan dunia, dentuman senjata masih terdengar. Konflik bersenjata terjadi di sejumlah kawasan, menelan korban jiwa, menghancurkan rumah, dan memutus masa depan anak-anak. Dunia memperingati perdamaian, namun ironi justru mengemuka: anggaran perang terus membengkak.

Padahal, jika saja biaya perang dialihkan untuk membangun sekolah, memperbaiki ruang kelas, menyediakan beasiswa, dan meningkatkan kesejahteraan guru, wajah peradaban mungkin berbeda. Satu unit pesawat tempur bisa setara dengan ribuan ruang kelas baru. Satu rudal jarak jauh bisa membiayai pendidikan generasi di satu kabupaten selama bertahun-tahun.

Islam memandang pendidikan sebagai jalan utama membangun peradaban. Wahyu pertama yang turun adalah perintah membaca. Allah SWT berfirman, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1). Ayat ini menegaskan bahwa fondasi kemajuan adalah ilmu, bukan senjata.

Rasulullah SAW juga bersabda, “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah). Kewajiban ini menunjukkan bahwa investasi terbesar umat sejatinya ada pada penguatan akal, akhlak, dan kapasitas generasi muda.

Sejarah Islam mencatat, ketika ilmu dimuliakan, lahirlah peradaban gemilang. Kota-kota seperti Baghdad dan Andalusia menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia. Para ilmuwan Muslim memberi sumbangsih besar bagi kedokteran, matematika, astronomi, dan filsafat. Semua itu tumbuh dari tradisi pendidikan, bukan tradisi peperangan yang berkepanjangan.

Tentu, Islam tidak menafikan pembelaan diri ketika diserang. Namun perang dalam Islam bukan tujuan, melainkan pilihan terakhir demi menjaga keadilan. Allah SWT berfirman, “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya.” (QS. Al-Anfal: 61).

Bayangkan jika miliaran dolar anggaran militer global setiap tahun dialihkan untuk membangun sekolah di wilayah miskin, memperkuat literasi, menyediakan akses digital, dan memperluas riset. Bukan mustahil kemiskinan, ketimpangan, dan radikalisme dapat ditekan secara signifikan.

Perang melahirkan dendam. Pendidikan melahirkan harapan. Perang meruntuhkan gedung. Pendidikan membangun peradaban.

Di tengah dunia yang bergejolak, umat manusia perlu kembali merenung: masa depan apa yang ingin diwariskan? Puing-puing kebencian, atau generasi cerdas yang mampu merawat perdamaian?

Semoga pilihan kita berpihak pada ilmu, bukan peluru.***