09/04/2026

MDINEWS INDRAMAYU

MEDIA ASPIRASI BUDAYA BANGSA

“TACO” dan Krisis Kesadaran Dunia

Oleh: Ali Aminulloh

Di zaman ketika satu kalimat di media sosial mampu mengguncang pasar global dan menggetarkan hubungan antarnegara, dunia justru dihadapkan pada ironi yang dalam: ancaman terdengar semakin keras, tetapi keteguhan justru semakin rapuh. Kita hidup di era di mana kekuatan dipertontonkan secara verbal, namun sering kali menguap ketika diuji oleh realitas. Dari sinilah istilah TACO lahir. TACO atau Trump Always Chickens Out, sebuah ungkapan sinis yang kini menjelma menjadi simbol krisis konsistensi dalam kepemimpinan global.

Secara sederhana, TACO adalah label yang diberikan oleh publik dan pengamat terhadap pola perilaku: melontarkan ancaman ekstrem, baik dalam bentuk kebijakan ekonomi, militer, maupun diplomasi. Lalu menariknya kembali ketika risiko nyata mulai muncul. Istilah ini menjadi viral di dunia maya karena memiliki tiga kekuatan sekaligus: singkat, satir, dan mudah dipahami lintas budaya. Di platform seperti TikTok dan X, TACO berkembang menjadi meme, jargon, bahkan alat kritik kolektif. Dalam hitungan waktu singkat, ia melampaui ruang digital dan masuk ke ranah serius: dipakai oleh analis pasar, media internasional, hingga pelaku ekonomi global sebagai istilah tidak resmi untuk membaca arah kebijakan Amerika.

Dampaknya pun tidak kecil. Di pasar keuangan, muncul fenomena yang dijuluki “TACO Trade”, yaitu para investor justru memanfaatkan pola ini dengan membeli aset saat harga jatuh akibat ancaman, karena mereka yakin kebijakan itu akan dilunakkan. Ini menunjukkan bagaimana sebuah istilah viral mampu membentuk perilaku ekonomi nyata. Dalam politik global, TACO mengikis wibawa kekuatan besar; ancaman yang terlalu sering dibatalkan membuat negara lain mulai meragukan keseriusan setiap pernyataan. Sementara di masyarakat luas, ia menciptakan kelelahan psikologis: dunia terus-menerus berada dalam ketegangan yang ternyata semu.

Fenomena TACO bukan sekadar satire politik atau bahan lelucon digital. Ia adalah potret dari pola perilaku yang berulang: ancaman ekstrem dilontarkan, ketegangan dibiarkan memuncak, lalu keputusan tiba-tiba dilunakkan atau dibatalkan. Dunia seperti dipaksa masuk ke dalam permainan psikologis berisiko tinggi, di mana ketakutan dijadikan alat tawar, namun keberanian untuk menanggung konsekuensi tidak pernah benar-benar hadir. Dari perang tarif hingga manuver militer, semuanya berujung pada satu kesan yang sama, yakni gertakan tanpa pijakan.

Dalam perspektif psikologi, fenomena ini dapat dibaca melalui teori loss aversion yang diperkenalkan oleh Daniel Kahneman. Teori ini menjelaskan bahwa manusia pada dasarnya lebih takut kehilangan daripada berani mengambil keuntungan. Dalam konteks TACO, ancaman besar digunakan sebagai alat negosiasi, namun ketika risiko nyata, seperti jatuhnya pasar atau konflik terbukamulai , maka terlihat dorongan untuk menghindari kerugian menjadi lebih dominan. Di sinilah muncul pola mundur di detik terakhir. Ditambah dengan kecenderungan strategic narcissism, yaitu kebutuhan untuk tetap terlihat kuat di hadapan publik, terciptalah paradoks: ingin tampak dominan, tetapi tidak siap menghadapi konsekuensi dari dominasi itu sendiri.

Namun, jika ditarik lebih dalam, fenomena ini tidak hanya berhenti pada analisis psikologi modern. Ia juga menemukan resonansinya dalam nilai-nilai yang telah lama diingatkan dalam Al-Qur’an. Salah satunya adalah gambaran tentang kesombongan semu (al-fakhr) yakni sikap membesar-besarkan diri tanpa fondasi yang kokoh. Dalam Al-Qur’an, Surah Ibrahim ayat 26 memberikan perumpamaan tentang kalimat yang buruk seperti pohon yang tercabut dari akarnya, tidak memiliki kekuatan untuk berdiri tegak. Ancaman yang tidak diikuti keteguhan adalah seperti itu: tampak besar, namun kosong.

Fenomena TACO juga menyerupai konsep ghutsa’ al-sail, yaitu buih di atas arus air. Ia terlihat banyak, bergelombang, bahkan menakutkan, tetapi tidak memiliki bobot. Ketika menyentuh realitas, ia lenyap tanpa bekas. Ini adalah gambaran tentang kekuasaan yang dibangun di atas persepsi, bukan pada kebenaran yang substansial (haq). Dalam konteks ini, dunia hari ini tidak sedang kekurangan suara, tetapi kekurangan makna.

Di titik inilah trilogi kesadaran yang digagas oleh Syaykh Al Zaytun menjadi sangat relevan. Pertama, kesadaran filosofis, yaitu kemampuan untuk memahami hakikat tindakan dan bertanggung jawab atas setiap ucapan. TACO menunjukkan runtuhnya kesadaran ini: kata-kata kehilangan integritas, dan keputusan tidak lagi berakar pada kebenaran.

Kedua, kesadaran ekologis, yaitu kesadaran akan dampak luas dari setiap tindakan terhadap sistem global. Setiap ancaman yang dilontarkan tanpa kepastian menciptakan gelombang instabilitas: pasar bergejolak, hubungan antarnegara retak, dan rasa aman dunia terganggu. Dunia menjadi seperti ekosistem yang terguncang, bukan karena bencana alam, tetapi karena ketidakpastian manusia.

Ketiga, kesadaran sosial, yaitu kesadaran akan dampak psikologis dan kemanusiaan dari setiap kebijakan. Fenomena TACO menciptakan kecemasan kolektif dan krisis kepercayaan. Ketika pemimpin kehilangan konsistensi, masyarakat global kehilangan arah. Kepercayaan, yang seharusnya menjadi fondasi hubungan antarbangsa, berubah menjadi sesuatu yang rapuh.

Pada akhirnya, TACO bukan hanya kritik terhadap satu figur atau satu negara. Ia adalah cermin bagi dunia, bahkan bagi diri kita sendiri. Bahwa tanpa kesadaran yang utuh, yaitu filosofis, ekologis, dan sosial, kita mudah terjebak dalam ilusi kekuatan. Kita mungkin terdengar lantang, terlihat meyakinkan, tetapi kosong di dalam.

Dan mungkin, inilah pelajaran terpentingnya: dunia tidak membutuhkan lebih banyak suara yang keras, tetapi lebih banyak keteguhan yang sunyi. Karena pada akhirnya, bukan mereka yang paling sering menggertak yang akan bertahan, melainkan mereka yang paling mampu memegang kata-katanya.