Oleh : Ali Aminulloh
Indonesia tidak dibangun di atas keseragaman.
Bangsa ini lahir dari keberagaman.
Dari ribuan pulau yang terbentang di antara dua samudra, dari ratusan suku bangsa yang memiliki bahasa dan budaya berbeda, dari berbagai agama dan keyakinan yang hidup berdampingan selama berabad-abad.
Keberagaman itulah yang menjadi kekuatan Indonesia.
Namun pada saat yang sama, keberagaman juga memerlukan kesadaran bersama untuk terus dirawat agar tetap menjadi sumber kekuatan, bukan sumber perpecahan.
Pesan itulah yang disampaikan Pdt. Dr. Amir Aritonang, M.Th., Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Peduli Misi Desa, saat menjadi salah satu narasumber dalam Peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah di Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin, Ma’had Al Zaytun, Selasa (16/6/2026).
Di hadapan ribuan peserta yang berasal dari berbagai latar belakang agama, profesi, dan daerah, Amir Aritonang menyampaikan pandangan tentang pentingnya menjaga persatuan sebagai fondasi utama kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pancasila Adalah Titik Temu Bangsa
Menurut Amir Aritonang, para pendiri bangsa telah mewariskan sebuah fondasi yang luar biasa bagi Indonesia, yakni Pancasila.
Pancasila bukan sekadar dasar negara yang tertulis dalam konstitusi, melainkan titik temu yang mempersatukan seluruh anak bangsa.
Di dalam Pancasila terdapat ruang yang cukup luas bagi seluruh warga negara untuk hidup bersama, saling menghormati, dan bekerja sama membangun masa depan.
Karena itu, menjaga persatuan sejatinya adalah mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, bangsa Indonesia harus terus memperkuat komitmen terhadap nilai-nilai kebangsaan yang selama ini menjadi perekat kehidupan nasional.
Ketika nilai-nilai tersebut dijaga, keberagaman akan menjadi kekuatan.
Sebaliknya, ketika nilai-nilai tersebut diabaikan, perbedaan dapat berubah menjadi sumber konflik yang merugikan semua pihak.
Persatuan Tidak Cukup Menjadi Slogan
Dalam paparannya, Amir Aritonang mengingatkan bahwa persatuan tidak boleh berhenti sebagai slogan yang hanya diucapkan dalam pidato atau seremoni.
Persatuan harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Persatuan harus terlihat dalam cara masyarakat saling menghormati.
Persatuan harus tampak dalam kesediaan untuk berdialog.
Persatuan harus hadir dalam kerja sama membangun bangsa.
Menurutnya, tantangan terbesar yang sering dihadapi masyarakat bukanlah perbedaan itu sendiri, melainkan ketidakmampuan menerima perbedaan.
Padahal, keberagaman merupakan kenyataan yang tidak dapat dihapuskan.
Yang dapat dilakukan adalah mengelolanya dengan bijaksana sehingga menjadi kekuatan bersama.
Karena itu, setiap warga negara memiliki tanggung jawab untuk membangun budaya saling menghargai dan saling memahami.
Al Zaytun sebagai Ruang Kebersamaan
Amir Aritonang mengaku terkesan dengan suasana yang ia rasakan selama berada di Al Zaytun.
Baginya, Al Zaytun menghadirkan ruang perjumpaan yang memungkinkan berbagai kelompok masyarakat untuk saling mengenal dan berdialog.
Di tengah berbagai isu yang kerap memecah belah masyarakat, ia melihat adanya upaya untuk membangun komunikasi dan kerja sama yang lebih luas.
Menurutnya, bangsa yang besar memerlukan semakin banyak ruang seperti itu.
Ruang yang mempertemukan perbedaan.
Ruang yang membuka dialog.
Dan ruang yang memungkinkan lahirnya kepercayaan antarsesama anak bangsa.
Karena pada akhirnya, persatuan tidak lahir dari keterpaksaan.
Persatuan tumbuh dari rasa saling percaya dan saling menghormati.
Kerukunan sebagai Modal Pembangunan
Dalam pandangan Amir Aritonang, pembangunan nasional tidak mungkin berjalan dengan baik tanpa kerukunan sosial.
Investasi, pendidikan, pembangunan ekonomi, hingga kemajuan teknologi membutuhkan stabilitas dan suasana masyarakat yang harmonis.
Karena itu, menjaga kerukunan bukan hanya tugas tokoh agama atau pemerintah.
Menjaga kerukunan merupakan tanggung jawab seluruh warga negara.
Setiap individu memiliki peran untuk menciptakan lingkungan yang damai, toleran, dan penuh penghormatan terhadap sesama.
Menurutnya, bangsa yang mampu menjaga kerukunannya akan memiliki kekuatan sosial yang sangat besar untuk menghadapi berbagai tantangan global.
Menatap Masa Depan dengan Optimisme
Menjelang akhir paparannya, Amir Aritonang mengajak seluruh peserta untuk memandang masa depan Indonesia dengan optimisme.
Ia meyakini bahwa bangsa Indonesia memiliki modal sosial yang sangat kuat berupa budaya gotong royong, semangat kebersamaan, serta nilai-nilai kebangsaan yang telah diwariskan para pendiri bangsa.
Modal tersebut harus terus dirawat dan diwariskan kepada generasi muda.
Sebab masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh kemampuan generasi penerus dalam menjaga persatuan dan mengelola keberagaman secara bijaksana.
Dari podium Peringatan 1 Muharram 1448 Hijriah di Al Zaytun, Amir Aritonang menyampaikan sebuah pesan yang sederhana namun sangat mendalam.
Bahwa Indonesia tidak akan menjadi bangsa besar karena kesamaan yang dimiliki seluruh rakyatnya.
Indonesia akan menjadi bangsa besar karena kemampuannya merawat perbedaan dalam semangat persaudaraan.
Dan selama persatuan itu tetap terjaga, Indonesia akan terus berdiri kokoh menghadapi berbagai perubahan zaman.
Sebab keberagaman bukanlah kelemahan bangsa ini.
Keberagaman adalah kekuatan Indonesia.

More Stories
Persatuan di Tengah Badai Perubahan Dunia, Ilham Aidit dan Seruan Membangun Kemandirian Bangsa dari Al Zaytun
Persatuan Adalah Kekuatan Pertahanan Bangsa
Menanam Peradaban, Membangun Indonesia Raya