27/06/2026

MDINEWS INDRAMAYU

MEDIA ASPIRASI BUDAYA BANGSA

Menanam Peradaban, Membangun Indonesia Raya

(Disarikan dari Pidato 1 Syuro Datuk Sir Imam Prawoto: Dari Persatuan Menuju Kemandirian Bangsa)

Oleh : Ali Aminulloh

Setiap pergantian tahun selalu menghadirkan pertanyaan yang sama.

Ke mana kita akan melangkah?

Apa yang telah kita wariskan kepada generasi berikutnya?

Dan peradaban seperti apa yang sedang kita bangun hari ini?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang mengemuka dalam Pidato 1 Syuro 1448 Hijriah yang disampaikan Datuk Sir Imam Prawoto, KRSS, MBA, CRBC, Ketua Yayasan Pesantren Indonesia, pada Peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah di Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin, Ma’had Al Zaytun, Selasa (16/6/2026).

Di hadapan ribuan peserta yang terdiri atas tokoh nasional, akademisi, guru besar, tokoh lintas agama, pejabat TNI dan Polri, mahasiswa, pelajar, petani, serta masyarakat dari berbagai daerah, Datuk Sir Imam Prawoto menyampaikan sebuah pidato yang tidak hanya berbicara tentang pergantian tahun, tetapi juga tentang arah masa depan bangsa Indonesia.

Sebuah pidato tentang pendidikan, persatuan, kemandirian, dan cita-cita besar membangun Indonesia Raya.

Hijrah sebagai Gerakan Peradaban

Menurut Datuk Sir Imam Prawoto, makna hijrah tidak boleh dipahami sebatas perpindahan ruang dan waktu.

Hijrah adalah perubahan.

Hijrah adalah keberanian meninggalkan keterbelakangan menuju kemajuan.

Hijrah adalah tekad untuk terus memperbaiki kualitas kehidupan, baik sebagai individu maupun sebagai bangsa.

Karena itu, peringatan 1 Muharram harus menjadi momentum refleksi nasional.

Momentum untuk mengevaluasi apa yang telah dilakukan dan apa yang harus dipersiapkan bagi masa depan Indonesia.

Dalam pandangannya, bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu belajar dari masa lalu, bekerja pada masa kini, dan mempersiapkan masa depan.

Pendidikan Adalah Jalan Perubahan

Salah satu pesan utama dalam pidatonya adalah pentingnya pendidikan sebagai fondasi pembangunan bangsa.

Menurut Datuk Sir Imam Prawoto, hampir seluruh bangsa maju di dunia memiliki satu kesamaan, yaitu menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama pembangunan.

Pendidikan tidak hanya melahirkan manusia cerdas.

Pendidikan melahirkan karakter.

Pendidikan melahirkan kepemimpinan.

Pendidikan melahirkan kemampuan untuk mengelola sumber daya dan menghadapi perubahan zaman.

Karena itu, investasi terbesar sebuah bangsa sesungguhnya bukan pada bangunan fisik, melainkan pada pembangunan manusianya.

Dalam konteks tersebut, Al Zaytun terus berupaya mengembangkan pendidikan yang terintegrasi antara ilmu pengetahuan, keterampilan, karakter, spiritualitas, dan kecintaan kepada bangsa.

Membangun 500 Pusat Pendidikan Nasional

Datuk Sir Imam Prawoto juga menyinggung gagasan besar yang selama ini diperjuangkan Syaykh Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang, yaitu pembangunan 500 pusat pendidikan nasional berasrama terintegrasi di seluruh Indonesia.

Menurutnya, Indonesia membutuhkan lebih banyak pusat pendidikan yang mampu menyiapkan generasi unggul secara akademik, kuat secara karakter, mandiri secara ekonomi, dan memiliki semangat kebangsaan yang kokoh.

Lembaga pendidikan tidak boleh hanya menjadi tempat belajar.

Lembaga pendidikan harus menjadi pusat pembentukan peradaban.

Tempat lahirnya pemimpin masa depan.

Tempat tumbuhnya inovasi.

Dan tempat disemainya nilai-nilai kebangsaan.

Menurutnya, apabila pendidikan menjadi prioritas nasional, maka Indonesia akan memiliki fondasi kuat untuk menyongsong masa depan.

Kedaulatan Pangan dan Kemandirian Bangsa

Selain pendidikan, Datuk Sir Imam Prawoto juga memberikan perhatian besar pada persoalan ketahanan dan kedaulatan pangan.

Menurutnya, bangsa yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri akan selalu berada dalam posisi rentan.

Karena itu, pembangunan sektor pertanian harus ditempatkan sebagai agenda strategis nasional.

Ia menjelaskan berbagai ikhtiar yang dilakukan Al Zaytun dalam mengembangkan pertanian modern, pengelolaan lahan produktif, pengembangan benih unggul, hingga inovasi budidaya tanaman yang bernilai ekonomi tinggi.

Baginya, pertanian bukan sekadar aktivitas ekonomi.

Pertanian adalah fondasi kehidupan.

Pertanian adalah bagian dari kedaulatan bangsa.

Dan pertanian adalah jalan menuju kemandirian.

Persatuan sebagai Energi Kebangsaan

Tema peringatan tahun ini adalah “Memperkokoh Persatuan Demi Mewujudkan Kemandirian Bangsa dalam Menghadapi Tantangan Global.”

Menurut Datuk Sir Imam Prawoto, tema tersebut sangat tepat untuk menjawab tantangan zaman.

Dunia sedang menghadapi berbagai perubahan besar.

Persaingan ekonomi semakin ketat.

Perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat.

Konflik geopolitik terus terjadi di berbagai belahan dunia.

Dalam situasi seperti itu, bangsa Indonesia memerlukan kekuatan yang mampu menyatukan seluruh energi nasional.

Kekuatan itu adalah persatuan.

Persatuan memungkinkan bangsa bekerja bersama.

Persatuan memungkinkan berbagai perbedaan menjadi kekayaan.

Dan persatuan memungkinkan Indonesia menghadapi tantangan global dengan lebih percaya diri.

Mengenang Pejuang Pendidikan

Pidato 1 Syuro tahun ini juga berlangsung dalam suasana haru.

Datuk Sir Imam Prawoto mengajak seluruh peserta mengenang Almarhum Ustadz Ahmad Fauzi Abdul Halim, salah satu tokoh yang selama ini menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikan Al Zaytun.

Menurutnya, Almarhum telah mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan, pengabdian, dan perjuangan membangun generasi masa depan.

Kepergian beliau meninggalkan duka yang mendalam.

Namun nilai-nilai perjuangan yang diwariskannya harus terus dilanjutkan oleh generasi berikutnya.

Karena perjuangan pendidikan tidak boleh berhenti pada satu generasi.

Doa untuk Syaykh dan Indonesia

Di penghujung pidatonya, Datuk Sir Imam Prawoto mengajak seluruh hadirin menundukkan kepala dan menengadahkan tangan.

Doa dipanjatkan untuk kesihatan Syaykh Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang.
Secara khusus, doa juga dipanjatkan bagi Almarhum Ustadz Ahmad Fauzi Abdul Halim agar mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT.

Dan yang tidak kalah penting, doa dipanjatkan untuk bangsa Indonesia.

Agar tetap bersatu. Agar tetap damai. Agar mampu menghadapi berbagai tantangan global.

Dan agar mampu mewujudkan cita-cita menjadi bangsa yang maju, mandiri, dan bermartabat.

Menanam Harapan untuk Masa Depan

Menutup pidatonya, Datuk Sir Imam Prawoto mengingatkan bahwa setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk mewariskan sesuatu yang lebih baik kepada generasi berikutnya.

Karena itu, pendidikan harus terus diperkuat.

Persatuan harus terus dijaga.

Kemandirian harus terus diperjuangkan.

Dan optimisme terhadap masa depan bangsa harus terus dipelihara.

Dari podium Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin pada Peringatan 1 Syuro 1448 Hijriah, Datuk Sir Imam Prawoto menyampaikan sebuah pesan yang menjadi inti seluruh rangkaian acara hari itu.

Bahwa Indonesia yang besar tidak lahir secara kebetulan.

Indonesia yang besar dibangun oleh manusia-manusia yang memiliki visi, kerja keras, persatuan, dan keberanian untuk mempersiapkan masa depan.

Sebab pada akhirnya, peradaban yang agung selalu dimulai dari gagasan besar yang diperjuangkan dengan kesungguhan.

Dan dari Al Zaytun, gagasan tentang Indonesia Raya yang mandiri, berdaulat, dan berkeadaban terus ditanamkan sebagai harapan bagi generasi mendatang.