01/09/2026

MDINEWS INDRAMAYU

MEDIA ASPIRASI BUDAYA BANGSA

Baru Menginjak Hari Ini, Hatinya Telah Hadir Sejak 1999: Refleksi Asep Syarifudin di Al-Zaytun

Oleh : Ali Aminulloh 

Mdinews, Kamis, 27 Agustus 2026, Al-Zaytun memperingati hari jadinya yang ke-27 dengan menghadirkan sejumlah tokoh, akademisi, guru besar, pemuka agama, dan tamu dari berbagai daerah. Di antara mereka hadir Brigadir Jenderal TNI Purnawirawan Asep Syarifudin, seorang tamu yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Al-Zaytun, tetapi mengaku telah menyimpan lembaga pendidikan itu di dalam hati dan pikirannya sejak 1999.

“Baru hari ini saya ke Al-Zaytun. Tetapi hati dan pikiran saya sejak 1999,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut menjadi pembuka sebuah refleksi tentang cinta, keberanian, pendidikan, dan investasi untuk masa depan bangsa. Bagi Asep, kedatangannya ke Al-Zaytun bukan sekadar memenuhi undangan, melainkan menuntaskan kerinduan yang telah tersimpan selama lebih dari dua dasawarsa.

Mantan Kasdam III Siliwangi tahun 2022 dan Pembina Paguyuban Asep Dunia itu mengaku harus membatalkan perjalanan ke Batam agar dapat hadir dalam peringatan tersebut. Keputusannya semakin kuat setelah menerima kunjungan Husnul Mutakin, alumni Al-Zaytun, serta undangan langsung untuk datang ke pusat pendidikan yang selama ini hanya dikenalnya dari kejauhan.

Saat tiba pada malam hari, bahkan ketika suasana masih gelap, Asep mengaku telah merasakan sesuatu yang berbeda. Ia menangkap suasana yang menurutnya tidak mungkin lahir tanpa visi besar, keteguhan, dan kekuatan untuk menatap jauh ke depan.

“Tidak mungkin berdiri kalau Tuhan Yang Maha Kuasa tidak memberikan kekuatan kepada orang yang dipilih-Nya, yang memiliki pandangan visioner sangat jauh ke depan, sehingga terwujud seperti ini,” ujarnya.

Kehadiran Asep di Al-Zaytun juga mempertemukannya kembali dengan para senior, termasuk Letnan Jenderal TNI Purnawirawan Kivlan Zen. Ketika diminta memberikan sambutan secara mendadak, ia mengenang salah satu pelajaran dalam kehidupan militer: seorang tentara tidak boleh mudah terkejut dan tidak boleh takut.

Namun, di balik ketegasan seorang prajurit, Asep tampil dengan kerendahan hati. Ia beberapa kali memohon maaf apabila kehadiran dan perkataannya belum memberikan manfaat. Sikap tersebut memperlihatkan bahwa pangkat dan pengalaman tidak membuat seseorang kehilangan kesediaan untuk merendahkan hati di hadapan orang lain.

Asep kemudian memperkenalkan dirinya sebagai putra Gunung Haruman, Garut. Ia menyebut dirinya sebagai “orang hutan” yang terbiasa hidup di bawah pohon beringin. Dari tempat sederhana itulah mimpi-mimpinya tumbuh.

Ia mengenang masa mudanya ketika meninggalkan Pesantren Kersik pada 1983. Saat teman-temannya memilih menjadi kiai, Asep muda pernah berseloroh bahwa dirinya ingin menjadi “Menteri Agama Angkatan Darat”. Puluhan tahun kemudian, harapan tersebut menemukan jalannya ketika pada 2019 ia dipercaya menjadi Kepala Dinas Pembinaan Mental Angkatan Darat.

Kisah itu memberikan pelajaran bahwa ucapan yang disertai keyakinan, keberanian, dan kerja keras dapat menjelma menjadi arah perjalanan hidup. Mimpi mungkin tidak terwujud dengan bentuk yang persis sama, tetapi ketekunan dapat membawanya menuju kenyataan.

Pengalaman memimpin pembinaan mental juga membuat Asep terbiasa bersilaturahmi dengan para pemuka berbagai agama. Karena itu, ketika menyaksikan keragaman tokoh yang hadir di Al-Zaytun, ia merasakan suasana yang tidak asing. Di tempat itu, pendidikan, kebangsaan, dan perjumpaan lintas keyakinan hadir dalam satu ruang yang sama.

Refleksinya kemudian mengarah pada tema ulang tahun ke-27 Al-Zaytun, yakni menyongsong 100 tahun Indonesia Merdeka dengan memperbesar investasi pendidikan yang berkualitas.

Asep memaknai undangan yang diterimanya secara berbeda. Ia berkata kepada dirinya sendiri bahwa kehadirannya di Al-Zaytun berarti dirinya telah menjadi seorang investor.

“Kalau dihubungkan dengan tema ini, saya tanamkan kepada diri saya: Asep, kamu diundang ke Al-Zaytun, berarti kamu investor. Jadilah investor yang benar,” katanya.

Investasi yang dimaksud tidak selalu berbentuk uang atau benda. Setiap orang memiliki pengetahuan, tenaga, pikiran, pengalaman, jejaring, dan keteladanan yang dapat disumbangkan bagi pendidikan.

Karena itu, menurut Asep, semua orang yang hadir pada peringatan tersebut adalah investor bagi masa depan Al-Zaytun. Pertanyaannya bukan lagi siapa yang memiliki modal paling besar, melainkan apa yang dapat diberikan oleh setiap orang sesuai dengan kemampuannya.

Sebagai orang yang baru pertama kali datang, investasi awal yang dipilih Asep adalah menanamkan kebanggaan di dalam dirinya.

“Al-Zaytun itu hebat dan bagus. Al-Zaytun adalah rumah kita yang harus kita bangun bersama. Al-Zaytun harus melahirkan orang-orang yang berkualitas,” tegasnya.

Kebanggaan tersebut tidak berhenti sebagai pujian. Ia harus berubah menjadi tanggung jawab untuk menjaga, membangun, dan memperkuat pendidikan. Sebab, lembaga pendidikan tidak hanya membutuhkan gedung dan fasilitas, tetapi juga manusia yang percaya pada cita-citanya.

Asep lalu menceritakan salah satu pengalaman pahitnya. Menurut penuturannya, pada 1982, ketika masih duduk di kelas dua SMA, ia pernah ditahan karena menyuarakan penolakannya terhadap perlakuan kasar kepada anak bangsa. Pengalaman itu menguatkan keyakinannya bahwa setiap manusia harus diperlakukan dengan bermartabat dan dipersiapkan menjadi sumber daya manusia berkualitas.

“Jangan berperilaku kasar terhadap sesama anak bangsa. Bangun semua anak bangsa supaya menjadi manusia yang berkualitas,” pesannya.

Bagi Asep, pembangunan bangsa harus menyentuh jiwa sekaligus raga. Kemerdekaan tidak cukup dirayakan melalui pekik “Merdeka”, tetapi harus dihidupkan dalam keberanian berpikir, mencari ilmu, berkarya, dan melakukan yang terbaik.

“Apakah jiwa dan pikiran kita masih takut dan tidak merdeka? Bangkit. Jangan sempit dada kita karena terhimpit oleh situasi apa pun. Isi kemerdekaan ini dengan sebaik-baiknya,” serunya.

Ia juga menaruh perhatian pada peta Indonesia yang terpampang di lingkungan peribadatan Al-Zaytun. Peta itu dimaknainya sebagai pengingat tentang tanah air yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Di tengah kegiatan keagamaan, kecintaan kepada Tuhan berjalan beriringan dengan kecintaan kepada bangsa dan negara.

Menjelang akhir sambutannya, Asep kembali menyebut kampung halamannya, Gunung Haruman. Kata “Haruman” kemudian dimaknainya sebagai ajakan untuk mengharumkan manusia.

Dari sana, ia menyampaikan tiga nilai kehidupan dalam kearifan Sunda: silih asah, silih asih, dan silih wawangi. Manusia hendaknya saling mencerdaskan, saling mengasihi, dan saling mengharumkan nama baik melalui karya serta perilaku yang bermanfaat.

Peringatan 27 tahun Al-Zaytun akhirnya menjadi titik pertemuan antara kerinduan dan kenyataan bagi Asep Syarifudin. Setelah lebih dari dua dasawarsa menyimpan Al-Zaytun dalam hati dan pikirannya, ia datang membawa satu kesadaran: setiap orang dapat menjadi investor pendidikan.

Investasi itu dapat berupa harta, gagasan, tenaga, keberanian, keteladanan, ataupun kebanggaan. Ketika semuanya dihimpun untuk mendidik manusia, investasi tersebut akan menjadi bekal penting dalam menyongsong 100 tahun Indonesia Merdeka.

Pesan Asep pun mengalir sederhana tetapi kuat: merdekakan jiwa dan pikiran, bangun pendidikan bersama, lalu jadilah manusia yang saling mencerdaskan, saling mengasihi, dan saling mengharumkan.