01/09/2026

MDINEWS INDRAMAYU

MEDIA ASPIRASI BUDAYA BANGSA

Dari Ekonomi Menuju Aktualisasi Diri: KSU Desa Kota Indonesia Membuat Hidup Penuh Warna

Oleh : ALI AMINULLOH

Kehidupan tidak menjadi utuh hanya karena kebutuhan ekonomi terpenuhi. Manusia juga ingin diterima, dihargai, diberi kesempatan berkembang, dan memperoleh ruang untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya. Pada titik inilah KSU Desa Kota Indonesia bergerak melampaui peran konvensional sebuah koperasi. KSU tidak hanya menggerakkan roda ekonomi, tetapi juga membangkitkan spirit para anggotanya untuk mencapai salah satu hajat tertinggi manusia: aktualisasi diri.

Dalam hierarki kebutuhan Abraham Maslow, kebutuhan manusia berkembang mulai dari kebutuhan dasar, rasa aman, rasa memiliki dan kasih sayang, penghargaan, hingga aktualisasi diri. Pada tingkat tertinggi tersebut, manusia membutuhkan ruang untuk mengembangkan potensi, menyalurkan kreativitas, meraih prestasi, dan menemukan makna dalam kehidupannya.

Peran KSU Desa Kota Indonesia menyentuh berbagai lapisan kebutuhan tersebut. Aktivitas ekonomi membantu memperkuat rasa aman, sedangkan kebersamaan dalam organisasi menumbuhkan rasa memiliki. Kesempatan berpartisipasi, berkarya, berolahraga, dan tampil di hadapan masyarakat menghadirkan penghargaan diri. Dari sanalah jalan menuju aktualisasi diri mulai terbuka.

Di bawah kepemimpinan Ketua Umum KSU Desa Kota Indonesia, Ibu Anis Khoirunnisa, S.Th.I., M.A.P., koperasi ini tumbuh menjadi mesin penggerak perubahan mentalitas para anggotanya. Dampaknya terutama dirasakan oleh ibu-ibu yang sebelumnya lebih banyak disibukkan oleh rutinitas harian. Melalui KSU, mereka memperoleh ruang baru untuk berinteraksi, belajar, berorganisasi, mengembangkan kemampuan, dan menunjukkan bahwa mereka tetap mampu berprestasi.

“Di bawah kepemimpinan Ibu Anis Khoirunnisa, KSU menjadi mesin penggerak perubahan mental para anggotanya, terlebih bagi ibu-ibu yang selama ini terjebak dalam rutinitas harian. Dengan KSU, hidup menjadi penuh warna,” ungkap representatif KSU Desa Kota Indonesia dari unsur Istri Civitas, Ibu Dewi Asih Nusantari.

Perubahan itu terlihat nyata dalam rangkaian perlombaan memperingati Hari Ulang Tahun Al-Zaytun. Sebanyak 10 cabang dipertandingkan, yakni sepak bola, bola voli, bola basket, bulu tangkis, tenis meja, tenis lapangan, hoki, seni tari, paduan suara, dan karya ilmiah. Srikandi Kodeko—sebutan bagi ibu-ibu anggota KSU Desa Kota Indonesia—turut mengambil bagian dalam cabang bola basket dan bola voli.

Keikutsertaan mereka bukan semata-mata untuk mengejar kemenangan. Lebih dari itu, lapangan pertandingan menjadi ruang untuk membangun kepercayaan diri, menguji kemampuan, memperkuat solidaritas, serta membuktikan bahwa usia tidak menghalangi seseorang untuk terus tumbuh dan berkarya.

Perjalanan tim bola basket memang harus terhenti pada babak awal. Namun, kekalahan itu tidak memadamkan semangat mereka. Para Srikandi Kodeko bangkit melalui cabang bola voli. Dengan kerja sama yang solid, mereka terus melaju hingga berhasil mencapai pertandingan final.

Pada Rabu, 26 Agustus 2026, Srikandi Kodeko berhadapan dengan Tim Pelajar Putri Al-Zaytun dalam final bola voli putri. Pertandingan tersebut mempertemukan dua generasi dengan rentang usia yang sangat kontras. Para pemain Srikandi Kodeko berusia antara 50 hingga 65 tahun, sedangkan lawan mereka merupakan pelajar berusia belasan tahun. Pertemuan itu seakan menggambarkan pertandingan antara ibu dan anak, bahkan nenek dan cucunya.

Namun, di atas lapangan, usia hanyalah angka. Semangat, pengalaman, ketenangan, dan kekompakan membuat Srikandi Kodeko mampu mengendalikan pertandingan sejak set pertama. Mereka membuka laga dengan kemenangan 25–14, kemudian semakin kukuh pada set kedua dengan skor 25–12.

Tim Pelajar Putri Al-Zaytun sempat bangkit pada set ketiga dan merebut kemenangan 25–21. Akan tetapi, Srikandi Kodeko tidak kehilangan ketenangan. Pada set keempat, mereka kembali merapatkan barisan, membangun komunikasi, dan memastikan kemenangan 25–20. Pertandingan pun berakhir dengan skor 3–1 untuk Srikandi Kodeko.

Catatan skor pertandingan tersebut menjadi saksi ketangguhan mereka:

Set I: Kodeko 25–14 Pelajar
Set II: Kodeko 25–12 Pelajar
Set III: Kodeko 21–25 Pelajar
Set IV: Kodeko 25–20 Pelajar

Kemenangan itu tidak hanya menghasilkan kebanggaan, tetapi juga memenuhi kebutuhan akan penghargaan diri. Para ibu yang dalam kehidupan sehari-hari mungkin lebih banyak bekerja di balik layar, kini berdiri sebagai atlet, pejuang tim, dan sumber inspirasi. Mereka melihat kembali dirinya sebagai pribadi yang kuat, mampu, dan bernilai.

Aktualisasi diri itu juga terpancar ketika 100 Srikandi Kodeko tampil membawakan Senam Kreasi DIGIDI-DIGIDI pada jeda pertandingan final sepak bola antara Tim Pelajar Al-Zaytun dan Tim Alumni di Palagan Agung Al-Zaytun. Mengenakan kostum biru putih, kerudung merah menyala, serta topi bernuansa merah putih, mereka tampil penuh energi, ceria, dan kompak.

Setiap gerakan memperlihatkan bahwa mereka tidak lagi sekadar menjadi penonton dalam kehidupan. Mereka tampil sebagai pelaku, pencipta kegembiraan, dan bagian penting dari sebuah peristiwa besar. Kekompakan gerak mereka menjadi gambaran keharmonisan, solidaritas, dan kuatnya ikatan persaudaraan yang tumbuh di lingkungan KSU Desa Kota Indonesia.

Gerakan para Srikandi Kodeko di lapangan didukung oleh representatif KSU Desa Kota Indonesia dari unsur Istri Civitas, yaitu Ibu Dewi Asih Nusantari dan Ibu Susianti. Keduanya menjadi penggerak lapangan yang membantu menjaga koordinasi, kekompakan, dan semangat para anggota dalam mengikuti berbagai kegiatan.

Di sinilah makna koperasi menemukan dimensinya yang lebih luas. KSU Desa Kota Indonesia bukan hanya lembaga yang menggerakkan kegiatan ekonomi, tetapi juga ruang sosial yang memanusiakan, memberdayakan, dan mengembangkan potensi anggotanya. Koperasi tidak berhenti pada peningkatan pendapatan, tetapi bergerak menuju peningkatan kualitas kehidupan.

Para Srikandi Kodeko telah membuktikan bahwa aktualisasi diri tidak mengenal batas usia. Perempuan yang sebelumnya bergulat dengan rutinitas harian kini dapat menjadi atlet, penampil, penggerak organisasi, dan inspirasi bagi generasi berikutnya. Mereka menemukan kembali kegembiraan, keberanian, dan rasa percaya diri yang mungkin selama ini tersembunyi.

Melalui kepemimpinan Ibu Anis Khoirunnisa, dukungan para penggerak lapangan, dan kebersamaan seluruh anggota, KSU Desa Kota Indonesia menghadirkan perubahan yang tidak selalu dapat dihitung melalui laporan keuangan. Perubahan itu tampak pada mata yang kembali berbinar, langkah yang semakin percaya diri, persaudaraan yang semakin erat, dan kehidupan yang kini terasa jauh lebih penuh warna.