Oleh : Ali Aminulloh
Kamis, 27 Agustus 2026, Al-Zaytun memperingati hari jadinya yang ke-27 dengan menghadirkan sejumlah tokoh, akademisi, dan guru besar. Di tengah perhelatan tersebut, Dr. Ir. Johan Pasaribu, Ketua II IKAHAN Lemhannas Republik Indonesia, membuka sambutannya dengan pekik yang menggetarkan semangat kebangsaan.
“Merdeka! Merdeka! Merdeka!”
Bagi Johan, perjalanan 27 tahun Al-Zaytun bukanlah perjalanan yang mudah. Lembaga pendidikan tersebut telah melewati berbagai tantangan, mulai dari penghujatan, fitnah, diskriminasi, hingga pengucilan. Namun, di tengah berbagai tekanan itu, Ma’had Al-Zaytun tetap tegak berdiri.
Menurutnya, keteguhan tersebut tidak dapat dilepaskan dari kesabaran dan keyakinan Syaykh Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang. Melalui investasi pendidikan yang dibangun secara nyata, Syaykh Al-Zaytun menunjukkan keyakinannya terhadap masa depan Indonesia.
“Bukanlah hal yang mudah. Beliau mampu berdiri dan mendidik anak-anak Indonesia yang datang dari berbagai wilayah,” ungkap Johan.
Ia memandang Syaykh Al-Zaytun sebagai sosok visioner yang mampu melihat jauh ke depan, sebagaimana para pendiri bangsa memikirkan masa depan Indonesia. Johan bahkan menyandingkan keberanian visi tersebut dengan pemikiran Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno.
Visi itu tidak berhenti pada keberadaan Al-Zaytun. Dalam sebuah pertemuan pada peringatan Tahun Baru Hijriah, Johan mendengar langsung gagasan besar untuk mendirikan 500 boarding school di seluruh Indonesia. Gagasan tersebut menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam dirinya.
Ketika seorang wartawan mempertanyakan kemungkinan mewujudkan cita-cita tersebut, Johan menjawab dengan penuh keyakinan.
“Jangankan 500, seribu pun dapat kita wujudkan untuk Indonesia,” tegasnya.
Keyakinan tersebut mulai diterjemahkan ke dalam langkah nyata. Johan mempertemukan Syaykh Al-Zaytun dengan Sultan Paser XVIII dari Kalimantan. Pertemuan itu dipandang sebagai salah satu pintu awal untuk memperluas jaringan pendidikan berasrama ke berbagai daerah.
Indonesia memiliki 38 provinsi. Melalui jaringan organisasi yang tersebar di berbagai wilayah, Johan melihat peluang besar untuk membangun kerja sama pendidikan secara nasional. Sejumlah daerah, menurutnya, telah menyatakan kesiapan bekerja sama, termasuk menyiapkan basis data dan cadangan lahan untuk pembangunan boarding school.
“Ini baru awal, Pak Syaykh. Kita memiliki 38 provinsi dan jaringan di seluruh Indonesia,” katanya.
Namun, pembangunan sekolah tidak cukup hanya dengan menyediakan gedung dan lahan. Bagi Johan, investasi pendidikan harus disertai dengan peningkatan kesejahteraan guru dan dosen. Para pendidik merupakan unsur utama yang menentukan kualitas generasi masa depan.
Johan mengaku prihatin melihat kesejahteraan guru dan dosen di Indonesia yang masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara lain. Sebagai pengajar yang juga memiliki pengalaman akademik di Malaysia, ia menyaksikan bagaimana profesi guru memperoleh penghargaan dan dukungan yang lebih baik.
Menurut penuturannya, seorang guru pemula di Malaysia dapat menerima gaji sekitar 1.500 ringgit serta memperoleh akses pembiayaan untuk kendaraan dan rumah. Dukungan semacam itu memberikan rasa aman kepada para pendidik agar dapat menjalankan tugas secara profesional.
Johan kemudian mengingat kembali gagasan Syaykh Al-Zaytun bahwa seorang guru selayaknya memperoleh penghasilan minimal seribu dolar. Baginya, gagasan tersebut bukan sesuatu yang berlebihan, melainkan cita-cita yang harus diperjuangkan sebagai bagian dari investasi sumber daya manusia.
“Kita berbicara tentang 100 tahun pendidikan. Kalau guru dan dosen belum dihargai sepenuhnya, bagaimana kita membangun investasi pendidikan?” ujarnya.
Pendidikan berkualitas tidak mungkin berdiri di atas kesejahteraan pendidik yang diabaikan. Karena itu, Johan mengajak para tokoh, akademisi, dan kaum intelektual yang hadir untuk bergandengan tangan. Ia tidak ingin gagasan besar berhenti sebagai wacana atau teori.
“Kita bukan hanya omon-omon, bukan sekadar teori. Mari kita berjuang dan melakukan percepatan,” serunya.
Usia 27 tahun Al-Zaytun, menurut Johan, telah membuktikan bahwa sebuah cita-cita dapat diwujudkan melalui kerja keras, ketekunan, dan keberanian. Dalam kurun waktu tersebut, Al-Zaytun mampu membangun lembaga pendidikan yang besar sekaligus memperlihatkan model pengelolaan pendidikan yang berorientasi pada masa depan.
Johan juga menghubungkan perjuangan pendidikan dengan kemandirian ekonomi. Indonesia harus membangun kekuatan ekonomi agar kesejahteraan masyarakat dapat terwujud. Dalam sambutannya, ia menyinggung hasil penelitiannya mengenai perlunya merancang sistem pembiayaan sosial, kesehatan, dan pendidikan yang tidak membebani masyarakat.
Baginya, pendidikan merupakan investasi utama agar Indonesia dapat maju. Setiap anak Indonesia seharusnya memperoleh kesempatan belajar tanpa terhalang keadaan ekonomi keluarganya.
Pada akhir sambutannya, Johan kembali menyerukan pentingnya persatuan. Ia mengajak seluruh elemen bangsa memajukan Indonesia melalui investasi pendidikan sebagaimana amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Di Al-Zaytun, menurutnya, terdapat seorang tokoh visioner yang telah memberikan bukti. Karena itu, cita-cita mendirikan 500 boarding school tidak boleh berhenti sebagai mimpi.
“Kita harus memiliki keyakinan bahwa 500 boarding school itu harus terjadi,” tegasnya.
Ia kemudian bertanya kepada seluruh hadirin, “Bapak dan Ibu siap?”
“Siap!” jawab para hadirin.
“Merdeka! Merdeka! Merdeka!”
Peringatan ulang tahun ke-27 Al-Zaytun akhirnya bukan hanya menjadi momentum untuk mengenang perjalanan masa lalu. Peristiwa tersebut menjadi titik awal untuk memperluas gerakan pendidikan ke seluruh Indonesia.
Dalam menyongsong 100 tahun Indonesia Merdeka, pembangunan 500 boarding school dapat menjadi langkah strategis untuk memperluas akses pendidikan berkualitas, meningkatkan kesejahteraan guru, serta melahirkan generasi yang berilmu, berkarakter, terampil, dan mencintai bangsanya.
Pesan Johan Pasaribu jelas: cita-cita besar membutuhkan keberanian untuk memulai, jaringan untuk bergerak, serta keyakinan untuk menuntaskannya. Dari Al-Zaytun, semangat itu diarahkan untuk menjangkau seluruh Indonesia.

More Stories
27 Agustus 2026, Warga Pati Demo di DPR, Al Zaytun Gelar “Demonstrasi Pendidikan”
Dari Ekonomi Menuju Aktualisasi Diri: KSU Desa Kota Indonesia Membuat Hidup Penuh Warna
Perlawanan Filosofis Penurunan Bendera: Ketika Al-Zaytun Membuat Tradisi Baru Mensyukuri Kemerdekaan RI