11/09/2026

MDINEWS INDRAMAYU

MEDIA ASPIRASI BUDAYA BANGSA

Tujuh Menit untuk Satu Abad Indonesia: Lima Gagasan Prof. Dinn Wahyudin dari Al-Zaytun

Oleh : Ali Aminulloh

Waktu yang diberikan panitia hanya tujuh menit. Namun, di tangan Prof. Dinn Wahyudin, waktu yang singkat itu menjelma menjadi ruang untuk menitipkan lima gagasan besar tentang masa depan pendidikan Indonesia. Gagasan tersebut berangkat dari satu keyakinan: bangsa yang berdaulat dan berwibawa hanya dapat dibangun melalui pendidikan yang melayani pertumbuhan manusia secara utuh.

Orasi ilmiah itu disampaikan dalam peringatan ulang tahun ke-27 Al-Zaytun, Kamis, 27 Agustus 2026. Sejumlah tokoh, akademisi, guru besar, pendidik, mitra kelembagaan, serta tamu dari dalam dan luar negeri hadir menyemarakkan acara.

Di tengah tema “Menyongsong 100 Tahun Indonesia Merdeka dengan Memperbesar Investasi Pendidikan Berkualitas”, Prof. Dinn tidak segera berbicara tentang bangunan, kurikulum, ataupun kebijakan. Perhatiannya pertama-tama diarahkan kepada subjek utama pendidikan: para santri, siswa, dan mahasiswa.

“Mana para santri dan siswa? Acungkan tangan!” serunya.

Tangan-tangan pun terangkat dari tengah hadirin.

“Hidup santri! Hidup siswa dan mahasiswa! Kalian adalah generasi muda andalan Indonesia,” lanjutnya.

Seruan tersebut menegaskan prinsip dasar pendidikan yang kerap terlupakan. Sekolah dan perguruan tinggi tidak didirikan untuk melayani kepentingan birokrasi atau mempertahankan nama besar lembaga. Seluruh sistem pendidikan seharusnya berpusat pada peserta didik dan masa depan mereka.

Melalui pendidikan, generasi muda dipersiapkan untuk mewujudkan cita-cita bangsa. Karena itu, Prof. Dinn mengajak para santri bersyukur atas kesempatan belajar yang mereka peroleh. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para orang tua yang telah mempercayakan pendidikan putra-putrinya kepada Al-Zaytun.

Setelah mengamati perjalanan Al-Zaytun selama lebih dari satu dasawarsa, Prof. Dinn menemukan lima karakter penting yang menurutnya layak menjadi bahan pembelajaran bagi Indonesia.

Gagasan pertama adalah sistem pendidikan terpadu atau integrated system. Dalam model ini, pembelajaran tidak dipahami sebagai kegiatan yang hanya berlangsung di dalam kelas. Seluruh lingkungan lembaga menjadi bagian dari proses pendidikan.

Integrasi tersebut mencakup sumber daya manusia, kurikulum, kegiatan berasrama, aktivitas sosial, dan hubungan dengan masyarakat sekitar. Santri, guru, dosen, tenaga kependidikan, petugas kebersihan, petani, serta para mitra kelembagaan menjadi bagian dari satu ekosistem.

Kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler tidak berjalan sendiri-sendiri. Ketiganya dipadukan untuk mengembangkan pengetahuan, karakter, keterampilan, dan kesadaran sosial peserta didik.

Kegiatan membuat kapal, misalnya, bukan hanya pembelajaran teknis. Aktivitas tersebut dapat menjadi media untuk membangun keterampilan sekaligus menanamkan kesadaran bahwa Indonesia merupakan negara maritim.

“Belajarlah Indonesia dari Al-Zaytun, dari model pendidikan yang mengintegrasikan semua komponen,” ujar Prof. Dinn.

Secara akademis, sistem terpadu berangkat dari pemahaman bahwa manusia merupakan kesatuan antara aspek intelektual, emosional, spiritual, sosial, dan fisik. Pendidikan akan kehilangan maknanya apabila hanya mengembangkan satu aspek dan mengabaikan aspek lainnya.

Gagasan kedua adalah kemandirian kelembagaan. Prof. Dinn melihat Al-Zaytun tumbuh melalui kemampuan mengelola sumber daya sendiri. Pembangunannya tidak bergantung sepenuhnya pada anggaran pemerintah pusat maupun daerah.

Kemandirian bukan berarti menolak kehadiran pemerintah atau menutup diri dari kerja sama. Kemandirian berarti memiliki kemampuan untuk bergerak, berinovasi, dan menyelesaikan persoalan tanpa terus-menerus menunggu bantuan dari luar.

Semangat tersebut menjadi modal penting bagi gagasan pembangunan 500 sekolah berasrama terpadu di berbagai kabupaten di Indonesia. Pengalaman Al-Zaytun selama 27 tahun dapat menjadi sumber pengetahuan untuk mengembangkan model pendidikan serupa.

Namun, pengembangan tersebut tidak cukup dilakukan dengan menyalin bentuk bangunan atau sistem secara mekanis. Setiap daerah memiliki kebutuhan, budaya, potensi ekonomi, dan keadaan sosial yang berbeda. Prinsip pendidikan terpadu dapat dipertahankan, sedangkan penerapannya perlu disesuaikan dengan konteks masyarakat.

Gagasan ketiga adalah kemampuan bangkit dari dalam. Prof. Dinn menyebut semangat itu sebagai remontada from within, yakni keberanian melakukan pembaruan dengan bertumpu pada kesadaran dan kekuatan internal.

Ia menyinggung perjalanan Syaykh Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang yang meninggalkan kenyamanan hidup di Sabah dan kembali ke Indonesia untuk mewujudkan gagasan pendidikan.

Keputusan tersebut menunjukkan bahwa infrastruktur besar tidak lahir dengan mudah. Di balik setiap bangunan terdapat visi, pengorbanan, keberanian mengambil risiko, dan ketekunan menghadapi berbagai keterbatasan.

“Jangan terus bersandar pada kekuatan orang lain. Jadilah diri sendiri dan lakukan yang terbaik,” pesannya.

Dalam teori perubahan sosial, transformasi yang berkelanjutan memang tidak dapat hanya digerakkan oleh tekanan eksternal. Perubahan memerlukan kesadaran dari dalam, kepemimpinan yang kuat, tujuan yang jelas, dan partisipasi seluruh anggota komunitas.

Semangat bangkit dari dalam juga relevan bagi peserta didik. Generasi muda tidak seharusnya menyerah ketika menghadapi keterbatasan. Mereka perlu mengenali potensi dirinya, mengembangkan kemampuan, dan berani mengubah tantangan menjadi jalan pertumbuhan.

Gagasan keempat adalah integrasi antara keilmuan dan karakter. Bagi Prof. Dinn, kompetensi yang tinggi tidak otomatis membuat seseorang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Seseorang dapat memiliki pengetahuan luas, keterampilan profesional, dan kedudukan penting. Namun, apabila tidak disertai integritas, kemampuan tersebut justru dapat digunakan untuk melakukan penyimpangan.

Ia menyinggung kasus pejabat yang berhadapan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi. Menurutnya, persoalan tersebut menunjukkan adanya jarak antara kecerdasan akademik dan pembentukan karakter.

“Keilmuan dan keterampilan tidak akan bermakna apabila karakternya tidak baik,” tegasnya.

Karakter tidak cukup diajarkan melalui definisi dan hafalan. Kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, kerja keras, penghormatan terhadap sesama, dan kepedulian sosial harus dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Proses itu bermula dari apa yang terjadi di dalam kelas. Prof. Dinn menggunakan ungkapan “what happens in the classroom” untuk menjelaskan besarnya pengaruh interaksi antara pendidik dan peserta didik.

Di ruang kelas, peserta didik tidak hanya mendengarkan penjelasan. Mereka juga mengamati sikap guru, belajar menghargai perbedaan, menyelesaikan tanggung jawab, mengakui kesalahan, dan berlatih mengambil keputusan.

Karena itu, guru dan dosen menempati posisi sentral dalam pendidikan karakter. Keteladanan mereka dapat meninggalkan jejak yang lebih panjang daripada materi yang tertulis di dalam buku.

Prof. Dinn pun memberikan penghormatan kepada para ustaz, guru, dan dosen Al-Zaytun yang telah mengabdi dengan sepenuh hati. Ia berharap pengabdian mereka menjadi amal saleh yang manfaatnya terus mengalir kepada generasi berikutnya.

Gagasan kelima adalah pendidikan kewargaan global. Pendidikan masa kini tidak cukup hanya membentuk seseorang menjadi warga daerah atau warga negara yang baik. Generasi muda juga harus dipersiapkan menjadi warga dunia yang baik.

Mereka membutuhkan wawasan internasional, kemampuan berkomunikasi lintas budaya, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kesadaran terhadap persoalan kemanusiaan global.

Namun, menjadi warga dunia tidak berarti kehilangan identitas nasional. Justru, akar kebangsaan yang kuat akan membuat seseorang mampu memasuki pergaulan global dengan percaya diri.

Menurut Prof. Dinn, Al-Zaytun telah merintis pendidikan kewargaan global melalui perjumpaan dengan ilmuwan dan tamu dari berbagai negara. Kehadiran peserta didik dari negeri tetangga juga menunjukkan tumbuhnya kepercayaan lintas batas terhadap lembaga tersebut.

“Al-Zaytun mendidik generasi muda bukan hanya menjadi warga negara yang baik, tetapi juga warga dunia yang baik,” katanya.

Orientasi global itu tidak semata-mata diarahkan untuk memenangkan kompetisi ekonomi. Pendidikan global seharusnya membentuk manusia yang mampu menciptakan dunia yang tenteram, damai, toleran, dan manusiawi.

Kelima gagasan tersebut membentuk satu kesatuan. Pendidikan berkualitas memerlukan sistem yang terpadu, kelembagaan yang mandiri, kekuatan untuk bangkit dari dalam, keseimbangan antara kompetensi dan karakter, serta wawasan kewargaan global.

Setelah 27 tahun, tantangan Al-Zaytun tidak hanya mempertahankan keberhasilan yang telah dicapai. Tantangan berikutnya adalah memperluas manfaat dan membagikan pengalaman tersebut kepada masyarakat Indonesia.

Gagasan pembangunan 500 sekolah berasrama terpadu menjadi salah satu jalan menuju Trans Indonesia Raya pada 2045. Cita-cita tersebut harus dimulai sejak sekarang melalui perencanaan yang matang, dukungan masyarakat, pengembangan sumber daya manusia, dan investasi yang berkelanjutan.

Prof. Dinn mengingatkan bahwa investasi pendidikan tidak hanya berbentuk uang. Pikiran, waktu, tenaga, pengalaman, jejaring, pengabdian, dan keteladanan juga merupakan modal pembangunan.

Seorang guru berinvestasi melalui pembelajaran yang dijalankan dengan sepenuh hati. Akademisi berinvestasi melalui penelitian dan pemikiran. Petani berinvestasi melalui kemitraan dalam mengolah lahan. Orang tua berinvestasi melalui kepercayaan dan pendampingan terhadap anak-anaknya.

Ketika setiap orang memberikan kemampuan terbaiknya, pembangunan pendidikan tidak lagi menjadi pekerjaan satu lembaga. Ia berubah menjadi gerakan sosial yang menghubungkan sekolah, keluarga, masyarakat, dan bangsa.

Prof. Dinn menutup orasinya dengan sebait pantun yang dipersiapkannya hampir satu jam:

“Pergi ke pasar membeli mentimun,
singgah sebentar di tepi taman.
Dua puluh tujuh tahun Al-Zaytun,
terus berkhidmat untuk bangsa sepanjang zaman.”

Tujuh menit mungkin terlalu singkat untuk membicarakan seluruh persoalan pendidikan Indonesia. Namun, lima gagasan yang disampaikan Prof. Dinn menyediakan kerangka penting untuk memulai perubahan.

Dalam menyongsong 100 tahun Indonesia Merdeka, bangsa ini tidak hanya membutuhkan lebih banyak sekolah. Indonesia membutuhkan pendidikan yang terpadu, mandiri, berkarakter, berwawasan global, dan mampu membangkitkan kekuatan dari dalam diri setiap peserta didik.

Dari peringatan 27 tahun Al-Zaytun, pesan itu bergema jelas: investasi terbesar bangsa bukanlah apa yang dibangun di atas tanah, melainkan manusia yang dipersiapkan untuk mengisi masa depan.