Oleh : Ali Aminulloh
Kamis, 27 Agustus 2026, Al-Zaytun memperingati hari jadinya yang ke-27 dengan menghadirkan sejumlah tokoh, akademisi, guru besar, pemuka agama, dan purnawirawan TNI. Di antara para tamu itu hadir Mayor Jenderal TNI Purnawirawan Kivlan Zen, sosok yang telah mengenal denyut kehidupan Al-Zaytun sejak 2013.
Di hadapan keluarga besar Al-Zaytun, mantan Kepala Staf Kostrad periode 1996–1997 itu tidak hanya menyampaikan ucapan selamat. Ia membawa pesan yang lebih dalam: masa lalu yang dipenuhi prasangka perlu ditinggalkan, sementara masa depan harus dibangun di atas persaudaraan.
Kivlan membuka sambutannya dengan salam perdamaian.
“Salamun qaulan min Rabbir Rahim. Merdeka,” ucapnya.
Bagi Kivlan, salam bukan hanya rangkaian kata dalam pembukaan sebuah pidato. Salam merupakan doa keselamatan dan panggilan untuk menghadirkan kedamaian bagi sesama. Dari semangat itulah ia memandang Al-Zaytun sebagai bagian dari ikhtiar mewujudkan kehidupan yang aman, tenteram, dan membawa rahmat bagi lingkungan sekitarnya.
Ia kemudian mengajak hadirin menengok perjalanan panjang Al-Zaytun. Menurut penuturannya, pembangunan lembaga pendidikan tersebut telah dimulai sejak 1993, sedangkan peresmiannya dilakukan oleh Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie pada 1999.
Namun, perjalanan Al-Zaytun sesungguhnya berakar lebih jauh. Kivlan menyinggung perjuangan Syaykh Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang sejak berada di Kalimantan dan Sabah hingga kembali ke Indonesia untuk mewujudkan sebuah pusat pendidikan.
Perjalanan tersebut melewati pergantian zaman, dari masa Orde Baru menuju Reformasi. Situasi politik berubah, pemerintahan berganti, dan berbagai tantangan datang silih berganti. Akan tetapi, pembangunan Al-Zaytun terus bergerak.
“Perjuangannya cukup lama dan mendapat berbagai macam cobaan,” kata Kivlan.
Di tengah ujian itu, ia melihat Al-Zaytun tumbuh menjadi sebuah ekosistem pendidikan yang luas. Pendidikan diselenggarakan mulai dari tingkat dasar, menengah, hingga perguruan tinggi. Kegiatan pendidikan tersebut ditopang oleh pengembangan pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, serta berbagai keterampilan produktif lainnya.
Bagi Kivlan, perkembangan tersebut memperlihatkan besarnya daya juang yang dikerahkan untuk mengubah gagasan menjadi kenyataan.
“Kita melihat bagaimana Syaykh berjuang dengan segala dayanya,” ujarnya.
Kivlan tidak mengenal perjalanan itu hanya melalui cerita. Sejak 2013, ia telah menjadi bagian dari lingkungan akademik Al-Zaytun. Atas undangan Datuk Imam Prawoto, ia datang dan mendapat kesempatan mengajar ilmu politik. Istrinya turut mengajar ilmu sosial.
Dari ruang-ruang perkuliahan itulah Kivlan merasakan langsung kehidupan Al-Zaytun. Ia berinteraksi dengan para pendidik dan mahasiswa, mengikuti berbagai kegiatan, serta menyaksikan lembaga tersebut bertahan di tengah beragam penilaian masyarakat.
Pengalaman langsung membuatnya memiliki pandangan yang berbeda dari sebagian orang yang hanya mengenal Al-Zaytun melalui kabar dari kejauhan.
Menurut Kivlan, masih ada prasangka dan kesalahpahaman terhadap Al-Zaytun. Bahkan, sejumlah rekannya sesama perwira pernah mempertanyakan alasan dirinya datang dan mengajar di lembaga tersebut.
“Ada yang bertanya, ‘Ngapain Kivlan datang ke sini mengajar?’ Ada pula yang mengatakan saya sudah terkontaminasi,” tuturnya.
Kivlan menjawab pertanyaan tersebut berdasarkan apa yang dialaminya sendiri.
“Saya katakan, bukan. Saya tahu bagaimana Al-Zaytun karena saya berada di sini. Prasangka-prasangka itu saya tenangkan. Inilah keadaan Al-Zaytun yang sebenarnya,” katanya.
Pernyataan tersebut mengandung pesan penting pada era ketika penilaian sering lahir lebih cepat daripada proses memahami. Kivlan mengingatkan bahwa prasangka tidak selalu dapat diselesaikan dengan perdebatan. Ia dapat diluruskan melalui kehadiran, perjumpaan, dialog, dan pengalaman langsung.
Al-Zaytun juga menjadi ruang yang mempertemukan orang-orang dari latar belakang berbeda. Di tempat itu, Kivlan dapat berjumpa dengan Ilham Aidit dan berbagai tokoh lainnya. Perbedaan sejarah keluarga, pandangan politik, agama, maupun kebudayaan tidak menghalangi mereka untuk duduk dalam satu ruang persaudaraan.
Menurut Kivlan, kehidupan tidak seharusnya terus-menerus disandera oleh pertentangan masa lalu.
“Situasi lama sudah harus kita tinggalkan. Situasi baru adalah persaudaraan,” tegasnya.
Persaudaraan tidak mengharuskan setiap orang memiliki pemikiran yang sama. Persaudaraan justru diuji ketika manusia dapat tetap saling menghormati di tengah perbedaan. Ia tumbuh ketika orang bersedia mendengar, mengenal, dan memperlakukan sesamanya sebagai bagian dari keluarga kemanusiaan.
Kivlan sendiri mengaku telah merasakan penerimaan tersebut di Al-Zaytun. Ia diterima apa adanya, memperoleh kesempatan mengajar, dan dibantu dalam proses mendapatkan sertifikat pendidik meskipun ketika itu usianya telah mencapai sekitar 60 tahun.
Kesempatan tersebut menunjukkan bahwa usia tidak selalu menjadi batas untuk terus belajar, mengajar, dan memberikan pengabdian. Selama pengetahuan dan pengalaman masih dapat dibagikan, seseorang tetap memiliki ruang untuk mendidik generasi berikutnya.
“Saya merasa sebagai bagian dari keluarga Al-Zaytun,” ungkapnya.
Ucapan itu menjadi kesaksian seorang prajurit dan pendidik yang telah menjalani banyak pengalaman dalam kehidupan. Setelah mengenal Al-Zaytun dari dekat selama lebih dari satu dasawarsa, Kivlan memilih berdiri sebagai bagian dari keluarga yang merawat pendidikan dan persaudaraan.
Peringatan 27 tahun Al-Zaytun akhirnya bukan sekadar perayaan bertambahnya usia. Momentum itu menjadi ajakan untuk belajar dari perjalanan panjang, bertahan menghadapi ujian, dan mengubah prasangka menjadi pengertian.
Dalam menyongsong 100 tahun Indonesia Merdeka, investasi pendidikan berkualitas tidak cukup diwujudkan melalui pembangunan gedung dan penyediaan fasilitas. Bangsa ini juga membutuhkan investasi sosial berupa kepercayaan, keterbukaan, perdamaian, dan kesediaan menerima perbedaan.
Pesan Kivlan Zen pun tetap kuat: tinggalkan pertentangan yang membelenggu masa lalu, kenali kenyataan dengan pikiran terbuka, lalu bangun masa depan melalui pendidikan dan persaudaraan. Sebab, Indonesia yang besar tidak hanya dibentuk oleh orang-orang yang memiliki pengetahuan, tetapi juga oleh manusia yang mampu berdamai dengan perbedaan.

More Stories
Dari Al-Zaytun untuk Indonesia: Johan Pasaribu dan Mimpi 500 Boarding School
27 Agustus 2026, Warga Pati Demo di DPR, Al Zaytun Gelar “Demonstrasi Pendidikan”
Dari Ekonomi Menuju Aktualisasi Diri: KSU Desa Kota Indonesia Membuat Hidup Penuh Warna