11/09/2026

MDINEWS INDRAMAYU

MEDIA ASPIRASI BUDAYA BANGSA

Merah Putih yang Mendarah Daging: Refleksi Ilham Aidit atas 27 Tahun Al-Zaytun

Oleh : Ali Aminulloh

Kamis, 27 Agustus 2026, Al-Zaytun memperingati hari jadinya yang ke-27 dengan menghadirkan sejumlah tokoh, akademisi, guru besar, pemuka agama, dan sahabat dari berbagai latar belakang. Di hadapan sekitar seribu santri yang turut menyemarakkan acara, Ir. Ilham Aidit menyampaikan sebuah kesaksian tentang Al-Zaytun: di tempat ini, kecintaan kepada Indonesia tidak berhenti sebagai slogan, tetapi dijalani sebagai kebiasaan hidup.

Pendiri Forum Silaturahmi Anak Bangsa itu mengaku mulai mengenal Al-Zaytun sekitar enam hingga delapan tahun lalu. Namun, dalam dua tahun terakhir, kedekatannya dengan lembaga pendidikan tersebut semakin intensif. Ia datang bukan sekadar sebagai tamu, melainkan sebagai sahabat yang ingin memahami Al-Zaytun dari dekat.

Kedekatan itu ternyata mengundang banyak pertanyaan. Puluhan kawannya dari lingkungan sekolah dan perguruan tinggi menghubunginya melalui pesan singkat. Mereka mempertanyakan alasan Ilham sering datang dan menjalin persahabatan dengan Syaykh Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang.

“Ham, apa yang menarik di Al-Zaytun?” demikian pertanyaan yang kerap diterimanya.

Sebagian pertanyaan bahkan disertai berbagai prasangka dan tuduhan yang berkembang di tengah masyarakat. Pada awalnya, Ilham berusaha menjawab satu per satu melalui telepon. Namun, banyaknya pertanyaan membuatnya memilih cara berbeda.

Dalam sebuah reuni sekolah, ketika mendapat kesempatan berbicara di hadapan ratusan alumni, Ilham tidak memberikan jawaban panjang. Ia justru mengajukan pertanyaan kembali kepada mereka.

Pertanyaan pertama adalah apakah mereka pernah mengenal sebuah pesantren yang mampu membangun kemandirian ekonominya sendiri. Pesantren yang tidak hanya menyelenggarakan kegiatan belajar, tetapi juga mengembangkan pertanian, perkebunan, persawahan, peternakan, perikanan, dan berbagai kegiatan produktif lainnya.

Bagi Ilham, kemandirian tersebut merupakan salah satu kekhasan Al-Zaytun. Pendidikan tidak dipisahkan dari kemampuan memenuhi kebutuhan hidup. Ilmu pengetahuan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi diterjemahkan menjadi kerja, keterampilan, produksi, dan kemandirian.

Pertanyaan berikutnya menyentuh hal yang lebih mendalam.

“Apakah kalian pernah mengetahui sebuah pesantren yang sangat lekat dengan warna Merah Putih?” tanyanya.

Ilham melihat kecintaan kepada Indonesia hadir dalam kehidupan sehari-hari di Al-Zaytun. Warna Merah Putih menjadi bagian dari lingkungan pendidikan. Pancasila dibicarakan, toleransi dipraktikkan, dan persatuan terus ditanamkan.

Para santri juga terbiasa menyanyikan lagu Indonesia Raya dalam tiga stanza. Mereka menyanyikannya dengan lantang, ceria, dan penuh keyakinan. Tidak tampak sebagai kewajiban yang dipaksakan, tetapi sebagai sesuatu yang telah tumbuh secara alami.

“Indonesia Raya tiga stanza itu sudah mendarah daging bagi mereka,” ungkap Ilham.

Hal itulah yang membuatnya terkesan. Al-Zaytun memberikan pendidikan keagamaan kepada para santrinya, tetapi pada saat yang sama menanamkan kecintaan yang kuat kepada tanah air. Keimanan dan kebangsaan tidak dipertentangkan. Keduanya justru dirawat agar tumbuh bersama.

Bagi Ilham, nasionalisme sering kali hanya disampaikan sebagai narasi, pidato, atau retorika. Banyak orang mudah berbicara tentang cinta tanah air, tetapi tidak semuanya bersedia menjalankannya secara konsisten.

Di Al-Zaytun, menurutnya, kecintaan tersebut telah dilakoni dengan teliti, tekun, dan setia selama 27 tahun.

“Ini bukan sekadar omon-omon. Ini dilakoni dengan sangat hati-hati, sangat tekun, dan sangat setia,” katanya.

Kesetiaan itu terlihat dalam perjalanan membangun Al-Zaytun sejak awal. Ilham mendengar bagaimana Syaykh Al-Zaytun bersama para sahabat dan keluarganya mencari lokasi, mengukur tanah, melakukan pembelian, mengikuti batas lahan, berinteraksi dengan masyarakat, merancang bangunan, dan menyusun sistem pendidikan.

Semua proses tersebut dijalani setahap demi setahap. Tanah yang semula tandus, gersang, dan sulit memperoleh air perlahan berubah menjadi pusat pendidikan yang luas dan produktif.

Menurut Ilham, Syaykh tidak hanya menitipkan pembangunan kepada orang lain. Ia mengikuti setiap proses, memahami setiap jengkal tanah, mengenali persoalan, dan terus memperbaiki kekurangan yang ditemui.

“Setiap jengkal tanah diikuti dengan cintanya,” ujar Ilham.

Ungkapan itu menggambarkan bahwa lembaga besar tidak lahir hanya dari kecerdasan merancang. Ia tumbuh dari kesetiaan merawat sesuatu yang diyakini, bahkan ketika hasilnya belum terlihat.

Dua puluh tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat. Bagi kehidupan manusia, usia tersebut merupakan masa ketika seseorang mulai memikirkan keturunan dan melanjutkan kehidupan kepada generasi berikutnya.

Ilham menggunakan perumpamaan itu untuk membaca masa depan Al-Zaytun. Setelah tumbuh dan memperoleh pengalaman selama 27 tahun, Al-Zaytun dinilainya telah memasuki usia untuk “bereproduksi”, memperluas manfaat, dan melahirkan pusat-pusat pendidikan baru.

Gagasan pembangunan 500 titik pendidikan menjadi bagian dari harapan tersebut. Pengalaman membangun Al-Zaytun dari nol dapat menjadi modal untuk menghadirkan model pendidikan berkualitas di berbagai wilayah Indonesia.

Mungkin titik-titik baru itu akan dimulai dalam ukuran kecil. Namun, setiap perubahan besar memang selalu berawal dari keberanian mengambil langkah pertama.

“Tidak apa-apa semuanya dimulai kecil-kecil. Kita mulai untuk membuat sesuatu yang lebih besar,” katanya.

Ilham bahkan menyebut Al-Zaytun dapat menjadi salah satu benteng kecintaan bangsa Indonesia kepada negaranya. Harapan itu bukan tanpa alasan. Selama 27 tahun, lembaga tersebut telah menanamkan pendidikan, kemandirian, toleransi, keterbukaan, persatuan, dan kebanggaan terhadap Merah Putih.

Ia kemudian mengajak hadirin untuk bermimpi lebih panjang. Kerajaan Sriwijaya pernah bertahan selama ratusan tahun. Indonesia sendiri baru berusia 81 tahun. Karena itu, tidak mustahil Al-Zaytun dapat terus hidup hingga ratusan bahkan seribu tahun, selama nilai dan cita-citanya diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

“Al-Zaytun sekarang berusia 27 tahun, tetapi telah membuat tapak yang dalam dalam kehidupan bangsa ini,” ujarnya.

Peringatan ulang tahun ke-27 Al-Zaytun akhirnya menjadi ruang untuk menengok perjalanan sekaligus memandang masa depan. Dalam menyongsong 100 tahun Indonesia Merdeka, investasi pendidikan berkualitas harus terus diperbesar agar semakin banyak generasi yang berilmu, terampil, mandiri, toleran, dan mencintai tanah airnya.

Nasionalisme sejati tidak hanya terdengar dalam pidato. Ia hadir ketika manusia bersedia belajar, bekerja, memproduksi, menghormati perbedaan, menjaga persatuan, dan mempersembahkan kemampuannya bagi bangsa.

Ilham menutup sambutannya dengan seruan yang membangkitkan semangat seluruh hadirin.

“Al-Zaytun!”

“Merdeka!”

“Al-Zaytun!”

“Merdeka!”

“Al-Zaytun!”

“Jaya!”

Seruan itu menjadi penegasan bahwa Merah Putih bukan sekadar warna yang terlihat. Ia adalah semangat yang harus ditanamkan melalui pendidikan hingga benar-benar mendarah daging dalam diri setiap anak bangsa.