(Disarikan dari paparan Prof. Dr. Hj. Aan Hasanah, M.Ed pada Seminar Internasional IAI Al-Azis)
Oleh: Ali Aminulloh
Indramayu, 10 Juni 2026. Di tengah derasnya arus informasi digital yang membentuk cara berpikir manusia modern, Al-Zaytun kembali menegaskan perannya sebagai ruang dialog peradaban melalui penyelenggaraan Seminar Internasional yang menghadirkan tiga akademisi terkemuka dari dua negara. Forum ilmiah tersebut menghadirkan Prof. Dr. Hj. Aan Hasanah, M.Ed. dan Prof. Dr. H. Idzam Fautanu dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. Joshua David dari Amerika Serikat. Selain itu, Narasumber dari IAI Al Azis Dr Irvan Iswandi SE, MT.
Seminar yang mengangkat isu hubungan antara teologi, budaya populer, dan transformasi peradaban itu tidak hanya menjadi ajang pertukaran gagasan akademik, tetapi juga ruang refleksi tentang masa depan pendidikan Islam dalam menghadapi perubahan sosial yang berlangsung sangat cepat. Salah satu paparan yang menarik perhatian peserta disampaikan oleh Prof. Dr. Hj. Aan Hasanah, M.Ed., Guru Besar Pendidikan Islam yang mengulas secara kritis tantangan dan peluang pendidikan Islam di era digital.
Dalam suasana yang hangat dan komunikatif, Prof. Aan membuka paparannya dengan sebuah pengamatan sederhana namun menggelitik. Jika dahulu manusia aktif mencari informasi melalui mesin pencari seperti Google, kini justru informasi yang datang mencari manusia. Melalui algoritma media sosial, berbagai informasi membanjiri ruang hidup manusia setiap detik tanpa diminta. Fenomena ini telah mengubah cara masyarakat memperoleh pengetahuan, membentuk opini, bahkan menentukan cara memandang dunia.
Menurutnya, masyarakat saat ini hidup dalam apa yang dapat disebut sebagai “era algoritma”, sebuah zaman ketika informasi hadir dengan sangat cepat, murah, dan melimpah. Di satu sisi, kondisi ini menghadirkan kemudahan yang belum pernah dinikmati generasi sebelumnya. Namun di sisi lain, banjir informasi tersebut juga melahirkan persoalan serius berupa kaburnya batas antara pengetahuan yang sahih dan opini yang sekadar viral.
Ketika Semua Orang Merasa Menjadi Ahli
Dalam penjelasannya, Prof. Aan mengutip fenomena yang dikenal dalam psikologi sebagai Dunning-Kruger Effect, yakni kecenderungan seseorang dengan kemampuan terbatas justru merasa dirinya sangat memahami suatu persoalan. Fenomena ini, menurutnya, semakin mudah ditemukan di ruang digital.
Media sosial memungkinkan setiap orang menjadi komentator berbagai isu, mulai dari sepak bola, agama, politik, hingga konflik internasional. Ironisnya, suara para ahli yang memiliki kompetensi akademik sering kali tenggelam oleh mereka yang lebih ramai, lebih kontroversial, atau lebih viral.
Kondisi tersebut merupakan salah satu residu budaya populer yang berkembang dalam masyarakat digital. Popularitas sering kali mengalahkan otoritas keilmuan. Akibatnya, masyarakat lebih mudah terpengaruh oleh opini yang emosional dibandingkan argumentasi yang berbasis pengetahuan.
Namun Prof. Aan menegaskan bahwa situasi ini bukan alasan untuk memusuhi teknologi ataupun menarik diri dari ruang digital. Sebaliknya, ruang tersebut harus diisi oleh mereka yang memiliki komitmen terhadap nilai-nilai moral, religiusitas, dan keilmuan. Jika kalangan akademik dan lembaga pendidikan meninggalkan ruang digital, maka ruang itu akan diisi oleh pihak lain yang belum tentu membawa nilai-nilai yang konstruktif.
Tantangan Besar Pendidikan Islam
Dalam perspektif pendidikan Islam, tantangan yang muncul bukan sekadar persoalan teknologi, melainkan perubahan orientasi hidup generasi muda. Prof. Aan menyoroti fenomena menurunnya minat melanjutkan pendidikan tinggi yang kini mulai dirasakan banyak perguruan tinggi.
Melalui pengalaman mengajarnya, ia menemukan kenyataan menarik sekaligus mengkhawatirkan. Dari puluhan mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam yang ditanya mengenai cita-cita setelah lulus, hanya sebagian kecil yang ingin menjadi guru. Sebagian besar justru bercita-cita menjadi influencer, content creator, youtuber, gamer, atau profesi digital lainnya. Alasannya sederhana: dunia digital dianggap menawarkan jalan yang lebih cepat untuk memperoleh penghasilan.
Fenomena tersebut menunjukkan terjadinya perubahan paradigma generasi muda dalam memandang pekerjaan, kesuksesan, dan masa depan. Pendidikan tidak lagi dipandang sebagai satu-satunya jalur mobilitas sosial. Di sinilah pendidikan Islam dituntut untuk melakukan transformasi agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman tanpa kehilangan identitas nilai yang menjadi fondasinya.
Bonus Demografi dan Peluang Peradaban
Di balik berbagai tantangan tersebut, Prof. Aan melihat peluang yang sangat besar. Indonesia saat ini memiliki sekitar 75 juta Generasi Z, atau hampir 28 persen dari total populasi nasional. Jumlah ini merupakan modal demografis yang luar biasa bagi pembangunan bangsa.
Generasi inilah yang akan menentukan arah peradaban Indonesia beberapa dekade ke depan. Persoalannya bukan lagi pada jumlah, melainkan bagaimana mereka memperoleh informasi, membangun cara berpikir, dan membentuk karakter.
Sebagian besar proses tersebut kini berlangsung melalui dunia digital. Dengan rata-rata penggunaan internet yang mencapai lebih dari enam jam setiap hari, bahkan melampaui rata-rata global, internet telah menjadi ruang belajar, ruang bermain, sekaligus ruang pembentukan identitas bagi generasi muda Indonesia.
Karena itu, lembaga pendidikan tidak dapat lagi bertahan dengan paradigma lama. Dunia pendidikan harus beradaptasi dengan realitas digital sambil memastikan bahwa perkembangan teknologi tetap berada dalam koridor nilai-nilai kemanusiaan dan religiusitas.
Tiga Pilar Transformasi Pendidikan Islam
Menurut Prof. Aan Hasanah, pendidikan Islam masa depan harus dibangun di atas tiga pilar utama: karakter, literasi, dan kompetensi.
Pilar pertama adalah karakter. Pendidikan Islam harus menjadi ruang pembentukan akhlakul karimah dan nilai-nilai religius yang berfungsi sebagai kompas moral bagi generasi muda. Peradaban yang besar tidak akan lahir hanya dari kecanggihan teknologi, melainkan dari manusia yang memiliki integritas dan tanggung jawab moral.
Pilar kedua adalah literasi. Dalam konteks kekinian, literasi tidak lagi cukup dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis. Literasi juga mencakup kemampuan memahami informasi, membaca media secara kritis, serta menggunakan teknologi secara bijaksana. Kemampuan ini menjadi benteng penting untuk menghadapi hoaks, disinformasi, dan manipulasi opini yang begitu mudah menyebar di ruang digital.
Prof. Aan bahkan mengingatkan tentang ancaman brain rot, yakni menurunnya kemampuan berpikir kritis akibat terlalu banyak mengonsumsi informasi dangkal yang tidak memiliki nilai edukatif. Fenomena ini menjadi tantangan nyata yang harus direspons oleh dunia pendidikan.
Pilar ketiga adalah kompetensi. Dunia kerja masa depan membutuhkan keahlian yang semakin spesifik dan mendalam. Oleh karena itu, pendidikan Islam harus mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya berkarakter dan literat, tetapi juga memiliki kompetensi profesional yang unggul dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Al-Zaytun dan Model Pendidikan Peradaban
Dalam paparannya, Prof. Aan juga memberikan apresiasi terhadap model pendidikan yang dikembangkan Al-Zaytun. Ia melihat keterbukaan (openness) sebagai salah satu fondasi penting yang telah dibangun lembaga tersebut. Menurutnya, keterbukaan merupakan karakter utama lembaga pendidikan modern yang maju dan adaptif terhadap perubahan.
Selain itu, keberadaan berbagai unit pertanian, peternakan, dan sistem ekonomi produktif di lingkungan Al-Zaytun menunjukkan pentingnya membangun kemandirian sebagai bagian dari pendidikan. Kemandirian tersebut menjadi modal penting dalam menghadapi berbagai tantangan sosial, ekonomi, maupun global di masa depan.
Pendidikan sebagai Penjaga Peradaban
Menjelang akhir paparannya, Prof. Aan menyampaikan sebuah kutipan yang sangat kuat. Untuk menghancurkan sebuah bangsa, katanya mengutip pesan yang terpampang di sebuah kampus kedokteran di Afrika, tidak selalu diperlukan bom atom atau rudal jarak jauh. Cara yang jauh lebih efektif adalah merusak kualitas pendidikan dan membiarkan peserta didik terbiasa dengan kecurangan.
Dari sanalah lahir dokter yang membahayakan pasien, insinyur yang menghasilkan bangunan rapuh, hakim yang kehilangan keadilan, guru yang menyebarkan kebodohan, dan tokoh agama yang kehilangan makna moralitas.
Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa pendidikan sejatinya adalah fondasi utama peradaban. Ketika pendidikan dijaga kualitasnya, sebuah bangsa memiliki peluang besar untuk membangun masa depan yang kuat, berkelanjutan, dan bermartabat.
Di tengah era algoritma yang sering kali memuja popularitas di atas kualitas, Seminar Internasional Al-Zaytun menghadirkan pengingat penting bahwa masa depan peradaban tidak ditentukan oleh seberapa cepat informasi beredar, melainkan oleh sejauh mana manusia mampu mengolah informasi tersebut menjadi kebijaksanaan.
Dan di titik itulah pendidikan Islam menemukan kembali misi besarnya: melahirkan generasi yang berkarakter kuat, berliterasi kritis, berkompetensi unggul, serta tetap berakar pada nilai-nilai moral dan spiritual sebagai fondasi peradaban manusia.

More Stories
Menjaga Kesadaran dalam Bermedia Sosial (Refleksi Hari Media Sosial)
Menembus Ruang dan Waktu: Mengenang 125 Tahun Bung Karno dan Relevansi Trilogi Kesadaran untuk Masa Depan Indonesia Raya
Menyelami Ritual Qurban: Dekonstruksi Teologis, Maslahat Sosial, dan Tantangan Ekologis di Era Kontemporer