(Refleksi Hari Lahan Basah-02 Februari)
Oleh: Ali Aminulloh
Di tengah dunia yang mabuk teknologi, manusia justru lupa pada guru paling tua: lahan basah. Paradoksnya, ketika sains makin canggih, pengetahuan tradisional yang berabad-abad menjaga kehidupan malah tersisih. Padahal, dari rawa, sawah, dan tanah berlumpur itulah peradaban belajar bertahan, tanpa merusak.
Inilah ruh peringatan Hari Lahan Basah Sedunia setiap 2 Februari. Tahun ini, dunia mengangkat tema “Wetlands and Traditional Knowledge: Celebrating Cultural Heritage”: sebuah ajakan untuk kembali menghargai kearifan lokal yang selama ini menjaga lahan basah tetap hidup, produktif, dan berkelanjutan.
Lahan Basah dan Ingatan Kolektif Manusia
Hari Lahan Basah Sedunia berakar pada Konvensi Ramsar, ditandatangani 2 Februari 1971. Konvensi ini lahir dari kegelisahan global: lahan basah rusak, biodiversitas hilang, dan manusia lupa bahwa alam punya cara sendiri untuk merawat keseimbangan.
Tema tahun ini menegaskan satu hal penting: pengetahuan tradisional bukan masa lalu yang usang, melainkan warisan budaya yang relevan untuk masa depan. Sistem tanam berbasis musim, pengelolaan air alami, hingga etika mengambil hasil alam secukupnya, semua adalah teknologi sosial yang teruji oleh waktu.
Al Zaytun: Pengetahuan Tradisional yang Dihidupkan
Dalam konteks inilah Al Zaytun menemukan relevansinya. Sejak awal berdiri, Al Zaytun tidak memposisikan lingkungan sebagai latar belakang, melainkan sebagai ruang belajar utama. Pertanian, pengelolaan lahan basah, dan praktik menanam menjadi bagian dari kebudayaan pesantren.
Di Al Zaytun, kearifan tradisional tidak dipajang sebagai romantisme masa lalu. Ia dipraktikkan. Santri turun langsung ke sawah, menanam komoditas pangan, memahami irama tanah dan air. Pengetahuan diturunkan melalui pengalaman merupakan sebuah bentuk living heritage yang sejalan dengan tema Hari Lahan Basah Sedunia.
Sebuah kalimat yang terus hidup di lingkungan Al Zaytun, berbunyi:
“Pendahulu menanam untuk kita, kita menanam untuk generasi mendatang.”
Inilah esensi pengetahuan tradisional: berpikir lintas generasi, bukan sekadar panen hari ini.

Trilogi Kesadaran: Menjembatani Tradisi dan Masa Kini
Apa yang dijalankan Al Zaytun berpijak pada trilogi kesadaran yang digagas Syaykh Al Zaytun. Kesadaran filosofis menempatkan manusia sebagai bagian dari alam. Kesadaran ekologis mengajarkan batas dalam mengelola lahan basah sehingga berkelanjutan. Dan kesadaran sosial memastikan bahwa pengetahuan dan hasil alam memberi manfaat bersama.
Trilogi ini selaras dengan pesan global Hari Lahan Basah Sedunia: menjaga ekosistem berarti menjaga kebudayaan, dan merawat kebudayaan berarti melindungi kehidupan.
Sejalan dengan Ekoteologi Kemenag
Semangat ini beririsan kuat dengan program ekoteologi yang dikembangkan Kementerian Agama Republik Indonesia. Ekoteologi menegaskan bahwa iman tidak berhenti pada ritual, tetapi menjelma dalam tanggung jawab ekologis. Menjaga lahan basah, dalam perspektif ini, adalah bagian dari pengamalan nilai keagamaan.
Dari lahan basah, manusia belajar rendah hati. Dari tradisi menanam, manusia belajar menunda kepentingan diri. Dan dari santri-santri yang menyentuh tanah hari ini, kita diingatkan: keberlanjutan bukan wacana global semata, melainkan praktik harian yang diwariskan dari generasi ke generasi.***

More Stories
Belajar dari Al Zaytun: Beranikah Kita Bertanya?
“TACO” dan Krisis Kesadaran Dunia
Lebaran di Era Tiktok