24/05/2026

MDINEWS INDRAMAYU

MEDIA ASPIRASI BUDAYA BANGSA

Bimbingan Terpadu MI Al Zaytun: Menumbuhkan Karakter, Menguatkan Akhlak, Menyiapkan Masa Depan

Oleh Aminulloh

Di saat banyak anak seusia mereka sibuk dengan gadget, tenggelam dalam permainan digital, dan larut dalam dunia media sosial, ratusan santri Madrasah Ibtidaiyah (MI) Ma’had Al Zaytun justru diajak menerawang masa depan. Mereka diajak memahami diri, mengenali potensi, membangun akhlak, hingga mempersiapkan peran sebagai generasi Indonesia Emas 2045.

Sabtu pagi, 16 Mei 2026, suasana Basemen Ali Bin Abi Thalib terasa penuh semangat sekaligus khidmat. Sebanyak 194 santri kelas VI MI Angkatan ke-28 hadir mengikuti kegiatan Bimbingan Terpadu. Mereka terdiri dari 105 rijal dan 89 nisa. Di antara jumlah itu, terdapat 18 santri dari MI Sekolah Kita Cibanoang, terdiri dari 8 rijal dan 10 nisa.

Kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu Bangun Pemuda Pemudi, Mars Al Zaytun, Mars dan Hymne Politeknik yang dipimpin dirigen Eka Putri Nurhandayani. Lagu-lagu itu menggema kuat di dalam ruangan, membangkitkan semangat kebangsaan sekaligus rasa percaya diri para santri sebagai generasi penerus bangsa.

Suasana kemudian berubah syahdu saat Asmaul Husna dan Asmaun Nabi dilantunkan bersama. Pembacaan dipimpin oleh Excell Maura Ardanish bin Supriyatna dari Sekolah Kita Cibanoang. Dari suara-suara muda itu, terselip harapan agar ilmu dan kehidupan para santri selalu dipenuhi keberkahan.

Ketua Majelis Guru, Drs. Purnomo, M.Pd., membuka sambutan dengan doa untuk kesehatan Syaykh, Umi, dan seluruh keluarga besar Al Zaytun. Ia juga mengajak seluruh peserta mendoakan civitas yang sedang sakit.

“Materi inti hari ini adalah akidah akhlak,” ungkapnya.

Kalimat sederhana itu kemudian menjadi benang merah seluruh rangkaian pembinaan.

Hafidz Al Barzah, S.Pd., M.Pd., dalam pemaparannya mengajak para santri membaca masa depan Indonesia Emas 2045. Ia menjelaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar menjadi bangsa maju, namun masa depan itu hanya dapat diraih jika generasi mudanya memiliki karakter kuat, kecerdasan, dan ketahanan moral.

Menurutnya, tantangan masa depan tidak hanya datang dari perkembangan teknologi, tetapi juga dari krisis nilai dan hilangnya arah hidup manusia modern.

Materi berikutnya disampaikan oleh Iqbal Maulana, S.Pd., tentang aplikasi qiraat dalam pendidikan kontemporer kehidupan berasrama sesuai visi dan misi Ma’had Al Zaytun.

Ia menjelaskan akidah melalui filosofi pohon kehidupan.

Benih dimaknai sebagai fase ketika seorang anak belum memahami dirinya, belum mengenali potensinya, dan belum mengetahui tujuan hidupnya. Saat benih tumbuh menjadi kecambah, seorang santri mulai memahami diri, mengenali perasaannya, dan menyadari keunikan yang dimilikinya.

Ketika akar mulai menguat, santri belajar menerima dirinya apa adanya, mensyukuri kelebihan yang dimiliki, serta memahami bahwa setiap manusia memiliki potensi yang berbeda-beda.

Batang pohon yang tumbuh menggambarkan keberanian untuk mencoba, percaya pada kemampuan diri, serta kemauan untuk belajar dan berkembang.

Saat pohon semakin kokoh, santri mulai mampu mengatur dirinya sendiri, bertanggung jawab, menyelesaikan masalah secara mandiri, dan berdisiplin dengan konsisten.

Sementara pohon yang berbuah dimaknai sebagai manusia yang memahami dirinya, mengenal tujuan hidupnya, memiliki prinsip hidup, dan mampu memberi manfaat bagi orang lain.

Filosofi itu terasa sederhana, namun sangat relevan di tengah kehidupan modern yang sering membuat anak kehilangan arah karena terlalu sibuk mengejar pengakuan dunia maya.

Pada sesi berikutnya dijelaskan karakteristik pendidikan kontemporer dalam perspektif akhlak Rasulullah SAW untuk membangun masyarakat sehat, cerdas, dan manusiawi. Materi itu kemudian diperkuat oleh Khairul Amri, S.Pd., yang menjelaskan implementasi pendidikan kontemporer berlandaskan nilai-nilai dasar Pancasila.

Menurutnya, pendidikan sejati bukan hanya menghasilkan manusia pintar, tetapi juga manusia yang mampu menghormati sesama, menjaga nilai kemanusiaan, dan memberi solusi bagi kehidupan sosial.

Menjelang akhir kegiatan, suasana berubah haru. Penghargaan diberikan kepada peserta bimbingan terpadu dan para siswa yang berhasil khatam Juz 30. Tepuk tangan mengiringi setiap nama yang dipanggil, menjadi bentuk penghargaan atas perjuangan mereka dalam belajar.

Keharuan semakin terasa saat video dokumentasi perjalanan santri kelas VI ditayangkan. Kenangan belajar, kebersamaan, hingga proses tumbuh mereka selama di MI diputar di layar besar. Banyak wajah terlihat menahan haru.

Lagu Jasa Guru yang dinyanyikan bersama menjadi penutup emosional sebelum prosesi penggulungan oleh Ketua Majelis Guru, Drs. Purnomo, M.Pd.

Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, kegiatan Bimbingan Terpadu MI Al Zaytun seolah menjadi pengingat bahwa masa depan bangsa tidak cukup dibangun dengan kecanggihan teknologi semata. Masa depan juga membutuhkan manusia yang mengenal dirinya, kuat akhlaknya, sehat cara berpikirnya, dan mampu menjadi cahaya bagi lingkungannya.

Dan dari ruang basemen sederhana itu, benih-benih masa depan Indonesia tampak sedang ditanam dengan penuh kesungguhan.