(Refleksi Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei)
Oleh : Ali Aminulloh
Sembilan pemuda berkeringat duduk melingkar di ruang sempit STOVIA, Jakarta, 20 Mei 1908. Tanpa pendingin ruangan, tanpa gawai canggih, mereka nekat merajut mimpi besar yang saat itu terdengar mustahil: menyatukan nusantara yang terpecah melalui wadah Budi Utomo.
Lompat ke tanggal yang sama di tahun 2026. Tantangannya bukan lagi merapatkan barisan melawan kompeni, melainkan bagaimana kita menjaga tunas bangsa yang hari ini sedang tumbuh di tengah gempuran algoritma global, krisis iklim, dan disrupsi digital.
Di ruang-ruang kelas dan kamar kos hari ini, masa depan kedaulatan negara sedang dipertaruhkan. Jaraknya membentang 118 tahun dari era Dr. Sutomo, namun detak jantungnya sama: sebuah perjuangan untuk menjaga agar tunas-tunas muda ini tidak layu sebelum berkembang.
Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang diteken Presiden Soekarno lewat Keppres No. 316 Tahun 1959 bukan sekadar tanggal merah yang rutinitasnya dihabiskan dengan upacara berbaju adat atau parade tagar di media sosial.
Harkitnas adalah sebuah monumen bergerak. Jika dahulu musuh bersama adalah kolonialisme ragawi, hari ini kedaulatan sebuah negara diuji dari sejauh mana kita mampu melindungi dan mendidik generasi mudanya.
Di sinilah relevansi kebangkitan itu harus didefinisikan ulang. Kebangkitan modern bukan lagi soal mengangkat senjata, melainkan tentang bagaimana dunia pendidikan melahirkan manusia yang utuh yang siap membentengi kedaulatan bangsa.
Menghadapi era kontemporer ini, gagasan Syaykh Al-Zaytun menemukan momentumnya yang paling presisi, bahwa esensi pendidikan sejati adalah menanamkan kesadaran dan menumbuhkan kemanusiaan.
Pendidikan kontemporer tidak boleh hanya menjadi pabrik pencetak pekerja, melainkan inkubator pencetak manusia yang sadar akan eksistensinya. Tunas bangsa tidak boleh sekadar tumbuh tinggi, tapi akarnya harus kuat mencengkeram bumi.
Kesadaran inilah yang kemudian dimanifestasikan ke dalam tiga pilar fundamental yang saling mengikat, yakni Trilogi Kesadaran: kesadaran filosofis, kesadaran ekologis, dan kesadaran sosial.
Pilar pertama adalah kesadaran filosofis, yang menjadi kompas untuk menemukan alasan mengapa kita harus bangkit dan berdaulat.
Sebelum Budi Utomo lahir, perlawanan Diponegoro, Pattimura, hingga Imam Bonjol patah karena bergerak sendiri-sendiri. Mereka punya keberanian, tapi belum memiliki kesadaran filosofis yang sama bahwa kita adalah satu bangsa yang senasib sepenanggungan.
Dalam konteks hari ini, kesadaran filosofis memaksa tunas bangsa untuk merefleksikan jati dirinya, memahami akar sejarah, dan menentukan arah masa depannya agar tidak mudah terombang-ambing oleh derasnya arus modernisasi yang mengikis identitas nasional.
Selanjutnya, kedaulatan suatu bangsa akan menjadi semu jika tanah air tempatnya berpijak hancur berantakan. Di sinilah pilar kedua, kesadaran ekologis, menjadi harga mati ketika krisis lingkungan hidup bukan lagi sekadar prediksi melainkan realitas.
Sejalan dengan pandangan Syaykh Al-Zaytun tentang pentingnya manusia selaras dengan alam, memperingati Kebangkitan Nasional hari ini berarti juga mendidik tunas bangsa untuk bangkit melawan perusakan lingkungan.
Generasi yang dididik dengan kesadaran ekologis tidak akan mengeksploitasi alam demi ketamakan, melainkan merawat ruang hidup, laut, dan hutan demi menjaga kedaulatan pangan dan teritorial masa depan.
Pilar terakhir dalam trilogi ini adalah kesadaran sosial, yang menjadi episentrum dari semangat gotong royong untuk menjaga sesama.
Kesadaran sosial melahirkan empati untuk melihat bahwa kemajuan dan kedaulatan tidak boleh dinikmati oleh segelintir orang di kota besar saja.
Ketika seorang anak muda memilih turun ke desa untuk mengajar, membuat teknologi tepat guna untuk petani, atau sekadar menolak menyebarkan hoaks demi menjaga kedamaian linimasa, di sanalah kesadaran sosial sedang bekerja.
Pendidikan yang menumbuhkan kemanusiaan adalah pendidikan yang meruntuhkan menara gading egoisme dan membangun jembatan solidaritas antaranak bangsa.
“Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncang dunia,” ucap Soekarno berpuluh-puluh tahun lalu. Namun sejarah Budi Utomo dan refleksi kontemporer hari ini mengajarkan kita hal lain, bahwa menjaga kedaulatan tidak bisa bertumpu pada segelintir orang saja.
Kebangkitan nasional bukanlah sebuah bab sejarah yang sudah selesai ditulis dan dijilid rapi di perpustakaan. Ia adalah sebuah tugas yang estafetnya kini berada di tangan generasi hari ini.
Kita tidak boleh membiarkan tunas-tunas ini tumbuh liar tanpa arah, atau mati kekeringan di lumbung sendiri akibat ketidakpedulian kita.
Tahun 1908, sebatang lilin dinyalakan di ruang gelap STOVIA oleh tangan-tangan pemuda yang gelisah melihat bangsanya terjajah. Tahun 2026, di tengah kepungan tantangan zaman yang semakin kompleks, tugas kita jauh lebih mendasar namun krusial.
Kita harus turun ke lapangan, merawat, dan memupuk setiap potensi yang ada di dalam diri generasi muda kita. Mari kita emban mandat sejarah ini dengan penuh tanggung jawab: jaga tunas bangsa demi kedaulatan negara, karena di tangan merekalah detak jantung dan tegaknya martabat republik ini dipertaruhkan.

More Stories
Kritik Pendidikan Prof. Zulkifli: Jangan Sampai Lahirkan 1 Kuli dengan 40 Mandor
Bimbingan Terpadu MI Al Zaytun: Menumbuhkan Karakter, Menguatkan Akhlak, Menyiapkan Masa Depan
Menyalakan Rasa Memiliki, Menumbuhkan Generasi Pembelajar