Oleh : Ali Aminulloh
Pagi itu, Ahad, 12 April 2026, suasana di Ma’had Al Zaytun terasa berbeda. Bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan sebuah momentum intelektual yang menggugah kesadaran: bagaimana bangsa ini harus berpikir untuk masa depan.
Dalam rangkaian pelatihan pelaku didik bertema “Transformasi Revolusioner Pendidikan Berasrama Menuju Pendidikan Modern Abad XXI dan 100 Tahun Kemerdekaan Indonesia”, sesi ke-40 menghadirkan seorang pemikir lintas zaman: Prof. Dr. Phil. Al Makin, S.Ag., M.A. dengan gagasan tajam bertajuk “Ijtihad Berpikir Indonesia.”
Di hadapan para eksponen, dosen, guru, mahasiswa, pelajar, para petani, wali santri, dan pendukung pendidikan, Prof. Al Makin tidak sekadar berbicara, beliau mengajak hadirin untuk kembali pada akar paling mendasar dari kemajuan peradaban: cara berpikir.
Pesantren yang Menghidupkan Harapan
Bagi Prof. Al Makin, Al Zaytun bukan sekadar institusi pendidikan. Ia melihatnya sebagai miniatur peradaban.
Ia mengaku terkesan sejak pertama kali menginjakkan kaki: hamparan pohon yang rindang, tata ruang yang terstruktur, hingga integrasi antara teknologi, ekologi, dan spiritualitas. Semua itu bukan konsep, melainkan praktik nyata.
“Bangsa Indonesia harus belajar dari pesantren ini,” ungkapnya dengan nada yang jujur dan reflektif.
Di tempat ini, menurutnya, ilmu tidak berhenti sebagai teori. Ia menjelma menjadi aksi, menjadi kehidupan itu sendiri.
Manusia: Makhluk yang Bertanya
Mengawali paparannya, Prof. Al Makin membawa peserta mundur jauh ke masa lalu, hingga ratusan ribu tahun silam.
Beliau menjelaskan bahwa manusia disebut Homo sapiens bukan tanpa alasan. Kata sapiens berarti berpikir. Sejak awal, manusia adalah makhluk yang bertanya.
Dari situs purba seperti Çatalhöyük hingga Göbekli Tepe, manusia telah menunjukkan tanda-tanda berpikir: bertani, berternak, hingga membangun ritual bersama.
Namun, puncak sistematisasi berpikir itu, menurutnya, terjadi di Yunani.
Di sanalah lahir metode bertanya yang dikenal sebagai dialektika. Konsep ini dipopulerkan oleh Sokrates, lalu dikembangkan oleh Plato dan Aristoteles. Cara berpikir inilah yang kemudian menjadi fondasi ilmu pengetahuan dunia.
Jejak Filsafat yang Hilang dari Dunia Islam
Menariknya, Prof. Al Makin mengingatkan bahwa dunia Islam pernah menjadi pewaris sekaligus pengembang tradisi filsafat tersebut.
Melalui tokoh-tokoh seperti Al-Farabi, Ibn Sina, dan Ibn Rushd, filsafat Yunani diterjemahkan, dikembangkan, dan melahirkan peradaban besar di Baghdad dan Damaskus. Namun, sejarah kemudian berubah arah.
“Umat Islam berhenti bertanya,” ujarnya.
Filsafat perlahan ditinggalkan. Cara berpikir kritis digantikan oleh pendekatan normatif yang kaku, sekadar halal dan haram. Akibatnya, kreativitas intelektual melemah, dan peradaban pun meredup.
Sementara itu, Eropa justru bangkit dengan mempelajari kembali warisan filsafat Islam yang sebelumnya berasal dari Yunani.
Indonesia: Bangsa dengan DNA Filsafat
Di titik inilah Prof. Al Makin membawa diskusi ke Indonesia.
Beliau menegaskan bahwa Indonesia bukan bangsa tanpa akar berpikir. Justru sebaliknya, Indonesia memiliki tradisi filsafat yang khas dan kaya.
Sejak abad ke-4, Nusantara telah dipengaruhi oleh tradisi Siwa, Waisnawa, dan Buddhisme Tantra. Ketiganya membentuk pola pikir yang sinkretik, toleran, dan kompromis. Ciri ini, menurutnya, masih hidup hingga hari ini.
Beliau menunjuk konsep Bhinneka Tunggal Ika sebagai bukti nyata: perbedaan bukan untuk dipertentangkan, tetapi disatukan.
Bahkan ketika Islam datang, tradisi ini tidak dihapus, melainkan dilanjutkan dengan wajah baru.
Para Pendiri Bangsa: Filsuf, Bukan Sekadar Politisi
Salah satu bagian paling kuat dari paparannya adalah ketika ia menyinggung para pendiri bangsa.
Menurut Prof. Al Makin, tokoh-tokoh seperti Soekarno, Hatta, hingga Cokroaminoto bukan sekadar politisi. Mereka adalah filsuf.
Mereka membaca, berpikir, dan merumuskan bangsa ini dengan landasan ide yang dalam.
Nama “Republik”, konsep “Pancasila”, hingga semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”, semuanya lahir dari proses berpikir filosofis yang panjang.
“Indonesia didirikan di atas filsafat,” tegasnya.
Membaca Ulang, Bukan Sekadar Mengulang
Namun, beliau juga mengingatkan bahwa generasi hari ini mulai kehilangan jejak tersebut.
Banyak karya pemikir Indonesia: dari Driyarkara hingga Nurcholish Madjid, yang mulai dilupakan. Padahal, di sanalah terdapat kekayaan intelektual bangsa.
Beliau menegaskan, tugas generasi sekarang bukan sekadar mengulang, tetapi membaca ulang dan melampaui.
Karena tanpa itu, bangsa ini hanya akan mengulang kesalahan yang sama.
Al Zaytun dan Kebangkitan Cara Berpikir
Di akhir sesi, suasana menjadi lebih reflektif.
Prof. Al Makin tidak hanya menyampaikan materi, tetapi meninggalkan sebuah tantangan: beranikah kita kembali bertanya?
Dalam konteks itulah, Ma’had Al Zaytun hadir sebagai ruang yang masih menjaga tradisi itu. Tempat di mana berpikir tidak dibatasi, di mana praktik dan gagasan berjalan beriringan, dan di mana pendidikan tidak hanya mencetak lulusan, tetapi membentuk peradaban.
“Mungkin bangunnya di Al-Zaytun,” ujarnya setengah bergurau, namun penuh makna.
Epilog: Ijtihad yang Belum Selesai
Sesi itu berakhir, tetapi gagasannya tidak.
“Ijtihad berpikir Indonesia” bukanlah konsep yang selesai dalam satu forum. Ia adalah pekerjaan panjang, lintas generasi.
Dan jika benar bangsa ini pernah besar karena cara berpikirnya, maka masa depan Indonesia menuju 100 tahun kemerdekaan juga akan sangat ditentukan oleh satu hal yang sama: “keberanian untuk bertanya” .

More Stories
“TACO” dan Krisis Kesadaran Dunia
Lebaran di Era Tiktok
Masihkah Maaf Kita Bernyawa?