MDI INDRAMAYU – Komunitas olahraga santri Student United (SU) di Ma’had Al-Zaytun telah mencetak ratusan atlet dari berbagai cabang olahraga sejak berdiri pada awal 2002.
Di bawah naungan Komite Olahraga dan Seni Ma’had Al-Zaytun (KOSMAZ), sepak bola tercatat sebagai cabang olahraga paling menonjol di komunitas tersebut.
Cikal bakal organisasi ini bermula dari Pekan Olahraga dan Seni Pesantren Nasional (POSPENAS) I pada 2001, ketika Ma’had Al-Zaytun ditunjuk sebagai tuan rumah. Delegasi Jawa Barat saat itu mengirimkan dua tim, yakni Jawa Barat I dan Jawa Barat II, dengan tim kedua diisi khusus oleh pelajar Ma’had Al-Zaytun.
Usai ajang tersebut, KOSMAZ resmi terbentuk pada awal 2002 di bawah Yayasan Pesantren Indonesia (YPI), dengan Fathan Bina sebagai ketua pertama.

Kelas khusus olahraga kemudian dibuka untuk tiga cabang unggulan, yaitu sepak bola, basket, dan hoki, dengan porsi latihan yang lebih intens karena prestasinya menonjol saat itu.
Sularno direkrut dari Jakarta pada 2002 khusus untuk melatih sepak bola, setelah usianya tak lagi ideal untuk bertanding aktif sebagai pemain.
Sebelumnya, ia berkarier sebagai wasit PSSI dan pernah menjabat Kepala Sekretariat Persatuan Sepak Bola Jakarta Selatan (Persija Selatan) dari 1992 hingga 2001.
“Setelah adanya kelas khusus olahraga itu, baru ada Student United,” ujar Sularno.
Ia menjelaskan, nama Student United merujuk pada seluruh kegiatan olahraga di Ma’had yang melibatkan lebih dari satu orang, mulai dari sepak bola, voli, hingga basket.
Cabang sepak bola kini dikelola oleh Al-Zaytun Student League Football Association (ASLFA), dengan Imam Muhajir Rahman sebagai ketua, Khoyrul Amri sebagai sekretaris, dan Najmi sebagai pengurus.
Karena kesibukan Imam Muhajir Rahman, Ifan Najmi ditunjuk sebagai ketua harian.

Di dalam SU, tim sepak bola dibagi berdasarkan tingkatan kemampuan pemain yang ditandai dengan warna. Pada masa angkatan awal, saat jumlah santri masih berkisar 1.000 hingga 2.000 orang, pembagian ini terdiri atas enam golongan, yaitu Red, Orange, Green, Blue, Yellow, dan Brown.

Seiring berkurangnya jumlah santri, pembagian tersebut kini disederhanakan menjadi empat golongan, yakni Red, Orange, Green, dan Blue.
Sistem ini juga berfungsi sebagai jenjang kompetisi sehat, karena pemain berpeluang naik ke golongan lebih tinggi atau turun ke golongan lebih rendah sesuai performa mereka.
Golongan Red menempati level tertinggi dalam skema ini. Menurut Sularno, kenaikan ke jenjang skill yang lebih tinggi tidak terikat pada tingkat kelas santri pemain kelas 8 sekalipun berpeluang dipromosikan masuk ke tim inti apabila performanya dinilai layak.
Di luar kelompok berbasis skill tersebut, terdapat pula pembagian berdasarkan gelombang usia, mulai dari U-18, U-16, U-15, U-14, U-13, U-12, hingga U-10. Golongan U-16, misalnya, diisi santri yang baru naik ke kelas 10 serta pelajar MTs ke bawah hingga MI.
Selain itu, terdapat tim khusus anak karyawan Ma’had bernama Bunga Al-Zaytun, yang melahirkan sejumlah pemain yang kelak berlaga di final Educational Premier League (EPI) pertama pada 2011 di Stadion Mas’ud, Kuningan termasuk seorang penjaga gawang asal Padang.
Sepanjang perjalanannya, SU juga sempat diwarnai rekrutmen pemain melalui Dawn Production, yang saat itu mengorganisir klub-klub asal Jakarta untuk bertanding ke Al-Zaytun, meski Sularno menyebut dirinya belum bergabung di Ma’had pada periode tersebut.
Berbagai capaian ini turut tersimpan dalam koleksi trofi dan penghargaan yang menghiasi Galeri KOSMAZ, sebagai jejak prestasi Student United dari masa ke masa.
Sepanjang perjalanannya, Student United telah mencatatkan sejumlah prestasi di berbagai ajang, mulai dari Liga Pendidikan Indonesia (LPI) yang membawa tim hingga menembus babak wilayah 3 Cirebon pada 2011, juara Kabupaten Indramayu tingkat SMA dan MTs yang diraih berulang kali, hingga tampil di final Educational Premier League (EPI) pertama pada 2011 di Stadion Mas’ud, Kuningan.
Berbagai capaian tersebut turut terekam dalam koleksi trofi dan penghargaan yang menghiasi Galeri KOSMAZ, menjadi jejak sejarah panjang prestasi Student United dari masa ke masa.
Salah satu alumni, Sukma Bangkit, membagikan pengalamannya sebagai pemain termuda yang bergabung dengan SU Red saat masih duduk di kelas 9. “Diantara kawan-kawan saya yang lain di SU Red, saya yang paling muda,” kenang Sukma.
Sukma mengaku harus membagi waktu antara sekolah, mengaji, kegiatan asrama, dan latihan sepak bola. Jadwal latihan disusun pada hari-hari yang tidak berbenturan dengan jam sekolah maupun mengaji, sehingga aktivitas belajar dan berlatihnya tidak saling mengganggu. Momen paling berkesan baginya adalah saat pembukaan Al-Zaytun Championship (ACS), program dari Kementerian Pemuda dan Olahraga, saat ia tampil penuh sebagai striker dan mencetak empat gol meski sempat mengalami sesak napas menjelang pertandingan.
“Kedisiplinan adalah hal yang terpenting, karena karakter kami sebagai santri itu dibentuk pada saat itu,” ujar Sukma. Ia menambahkan, kedisiplinan tersebut terus ia bawa hingga bekerja setelah lulus, sejalan dengan prinsip pertama janji atlet.
(Sal/Isk/Dew)

More Stories
Solid Sampai Akhir, Alumni MAZ Bungkam SU Red 2-0
Tujuh Gol Tanpa Balas, Alumni MAZ Tundukkan Mahasiswa IAI Al-Azis
Alumni Al Zaytun Menuju Pentas Internasional, Aulia Akbar Al Ardh, Kapten Timnas Hoki Indonesia