Bukan Kue Kekinian, Tapi Omzetnya Bikin Penasaran! Usaha Kue Basah Ibu Wahyu Bertahan 17 Tahun
MDI.NEWS, Tangerang Selatan — Di tengah gempuran jajanan kekinian, kue basah tradisional ternyata masih punya tempat di hati pelanggan. Buktinya, Ibu Wahyu, pelaku usaha kue basah di Cirendeu, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, mampu mempertahankan usahanya sejak 2009 dengan omzet sekitar Rp5 juta per bulan.
Bukan sekadar menjual jajanan pasar, Ibu Wahyu menawarkan beragam kue seperti risol ragout, pastel, lemper, kue nona manis, dan cantik manis. Ia memilih usaha kue basah karena proses pengolahannya dinilai lebih mudah dibandingkan kue kering. Bahan baku premium yang dibeli di supermarket menjadi pilihannya untuk menjaga kualitas produk.
Menariknya, usaha ini melayani berbagai kebutuhan, mulai dari pesanan perorangan untuk arisan dan pertemuan keluarga hingga kebutuhan sekolah, masjid, dan perusahaan. Dengan sistem pemesanan, jumlah produksi disesuaikan dengan permintaan pelanggan, termasuk pesanan snack box yang bisa mencapai 100–150 kotak dalam satu pesanan.
Namun, mempertahankan usaha selama bertahun-tahun bukan tanpa tantangan. Persaingan kuliner dan perubahan harga bahan baku menuntut Ibu Wahyu untuk cermat mengatur usahanya. Ia berupaya menjaga kualitas bahan dan cita rasa, sembari menyesuaikan ukuran serta harga produk dengan kondisi pasar.
Dari perjalanan usahanya, omzet sekitar Rp5 juta per bulan menjadi salah satu hasil yang berhasil diraih. Meski demikian, omzet tersebut merupakan pendapatan penjualan, bukan keuntungan bersih. Konsistensi menjaga produk dan melayani pesanan menjadi bagian penting dalam mempertahankan usaha yang telah berjalan selama bertahun-tahun ini.
Perjalanan Ibu Wahyu belum berhenti. Ia berharap suatu saat dapat membuka toko kue yang lebih besar agar usahanya semakin berkembang. Harapan tersebut menjadi langkah berikutnya bagi bisnis rumahan yang telah dirintis dengan tekun sejak 2009.
Kisah Ibu Wahyu membuktikan bahwa peluang bisnis tidak selalu harus mengikuti tren terbaru. Di tengah ramainya kuliner modern, kue basah tradisional tetap berpeluang menjadi sumber penghasilan selama kualitas dijaga dan kebutuhan pelanggan dipahami. Terkadang, justru cita rasa yang akrab di lidah menjadi alasan pelanggan kembali memesan.***
Reporter: Eva Arifia, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik (FHISIP), Universitas Terbuka.

More Stories
Kasus Dana Rp120 Juta, Ferry Minta Bagwassidik Polda Metro Jaya Buka Proses Penanganan Laporan
Zainul: PK MA soal Tanah Bangka Barat Tak Otomatis Gugurkan Hak Masyarakat
Penutupan Kegiatan PPL Mahasiswa IAI Al Azis Hari Ini