Oleh : Ali Aminulloh
Tidak semua pertemuan lahir hanya untuk mengakhiri sebuah tugas. Ada pertemuan yang justru menjadi titik awal lahirnya semangat baru, tempat hati-hati yang lelah kembali dikuatkan, dan ruang di mana kebersamaan tumbuh menjadi energi besar untuk membangun peradaban melalui pendidikan.
Malam itu, Ahad 10 Mei 2026, Cafe Elvanos Gantar menjadi saksi bahwa PKBM Al Zaytun bukan sekadar lembaga pendidikan nonformal. Ia telah menjelma menjadi rumah perjuangan, tempat orang-orang berkumpul bukan hanya karena tugas, tetapi karena cinta terhadap ilmu, pengabdian, dan masa depan generasi.
Bertempat di Cafe Elvanos Gantar, PKBM Al Zaytun mengadakan rapat evaluasi sekaligus pembubaran panitia Selametan Kelulusan. Acara dimulai pukul 19.00 WIB dan dihadiri oleh seluruh pengurus, tutor PKBM, serta beberapa warga belajar. Suasana malam itu terasa hangat, akrab, namun sarat makna.

Acara dipandu oleh Nurdiana, salah satu tutor PKBM Al Zaytun. Dengan diawali basmalah dan dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya tiga stanza, seluruh peserta seakan diingatkan bahwa perjuangan pendidikan adalah bagian dari ikhtiar menjaga masa depan bangsa.
Sambutan pengantar panitia disampaikan oleh Hartono, S.Pd., M.Pd. Dengan penuh rasa syukur, ia menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah bertungkus lumus menyukseskan acara Selametan Kelulusan. Ia juga mengajak seluruh tutor untuk terus menjaga semangat dalam menjalankan program-program pendidikan di PKBM Al Zaytun.
Sebab mendidik bukan sekadar pekerjaan administratif. Ia adalah pengabdian yang membutuhkan kesabaran, kekompakan, dan ketulusan hati.

Acara evaluasi kemudian menjadi ruang berbagi cerita dan pengalaman. Dari bidang sarana prasarana, Ahid Hidayat, SH, menyampaikan berbagai dinamika yang dihadapi selama kepanitiaan berlangsung. Sementara Sri Wahyuni, S.Pd., dari bidang acara, mengisahkan suka duka dalam memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar.
Di balik suksesnya sebuah acara, ternyata tersimpan kerja keras yang tidak selalu terlihat. Namun justru dari proses itulah tumbuh rasa saling memahami dan menghargai satu sama lain.
Pesan mendalam kemudian disampaikan Kepala PKBM Al Zaytun, Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I., M.E. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia dan tutor atas dedikasi yang telah diberikan. Ia juga menyampaikan kabar penting sebagai tindak lanjut dari Selametan Kelulusan, yakni menghantarkan sebanyak 273 alumni untuk melanjutkan pendidikan ke IAI Al Azis.
Hal tersebut, menurut beliau, menjadi perhatian langsung dari Syaykh Al Zaytun dan Ketua Yayasan Pesantren Indonesia. Bahkan kehadiran penuh Syaykh dalam acara Selametan sebelumnya menjadi tanda besarnya harapan terhadap perkembangan PKBM Al Zaytun.
Karena itu, para tutor diajak untuk terus mendorong warga belajar agar melanjutkan pendidikan dan tidak berhenti hanya sampai di tahap kelulusan.
Dalam kesempatan itu juga disampaikan bahwa seluruh aktivitas PKBM Al Zaytun selalu terpantau dan tersampaikan hingga ke grup WA PKBM se-Indonesia, kepala dinas, hingga direktur Pendidikan Non Formal. Ini menjadi bukti bahwa langkah-langkah yang dilakukan PKBM Al Zaytun telah menjadi perhatian luas.
Kepala PKBM juga mengajak seluruh tutor untuk menyisir keluarga besar Al Zaytun yang belum sekolah agar kembali mendapatkan akses pendidikan. Tidak hanya itu, masyarakat Gantar pun menjadi bagian penting dari gerakan pendidikan ini. Sebagaimana yang disampaikan Sekcam Sudan, pemerintah kecamatan berharap dapat bekerja sama dengan PKBM Al Zaytun untuk menuntaskan program wajib belajar 16 tahun.
Maka malam itu terasa lebih dari sekadar evaluasi kepanitiaan.
Ia menjadi ruang penyatuan tekad bahwa pendidikan bukan hanya tugas lembaga, melainkan gerakan bersama untuk membangun manusia dan peradaban.
Setelah pembubaran panitia, acara dilanjutkan dengan ramah tamah dan makan malam bersama. Suasana semakin hidup ketika sesi hiburan dimulai. Ust. Suwandi, S.Pd., tampil membawakan lagu Gulali Cinta yang disambut tepuk tangan meriah. Kemudian Kepala PKBM, Dr. Ali Aminulloh, turut menyanyikan lagu Kharisma Cinta. Penampilan dilanjutkan oleh para tutor ibu-ibu, tutor lainnya, hingga perwakilan warga belajar.
Tawa, nyanyian, dan kebersamaan malam itu menjadi penawar lelah setelah perjalanan panjang kepanitiaan.
Acara kemudian ditutup dengan sesi foto bersama. Namun sesungguhnya yang paling indah bukanlah gambar yang tertangkap kamera, melainkan semangat persaudaraan yang tumbuh di antara mereka.
Karena pada akhirnya, PKBM Al Zaytun sedang membuktikan bahwa pendidikan nonformal bukan sekadar tempat belajar mencari ijazah. Lebih dari itu, ia adalah gerakan peradaban: gerakan yang menyatukan hati, menumbuhkan harapan, dan menghidupkan kembali keyakinan bahwa masa depan bangsa dapat dibangun dari kebersamaan, ketulusan, dan kegembiraan dalam mengabdi.***

More Stories
Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara
Kritik Pendidikan Prof. Zulkifli: Jangan Sampai Lahirkan 1 Kuli dengan 40 Mandor
Bimbingan Terpadu MI Al Zaytun: Menumbuhkan Karakter, Menguatkan Akhlak, Menyiapkan Masa Depan