03/04/2026

MDINEWS INDRAMAYU

MEDIA ASPIRASI BUDAYA BANGSA

Lebaran di Era Tiktok

Oleh : Ali Aminulloh

Takbir telah usai.
Gema malam kemenangan perlahan reda, berganti dengan langkah kaki yang saling mendekat: dari masjid, dari gang-gang kecil, menuju rumah-rumah yang penuh rindu.

Pagi hari setelah shalat Id, satu per satu orang keluar rumah. Bukan untuk plesiran, tapi untuk silaturahmi. Menyapa tetangga terdekat, berjabat tangan, saling memaafkan. Tradisi sederhana, tapi penuh makna.

Lalu siang menjelang, arus manusia mengalir ke satu titik: rumah orang tua, atau rumah yang dituakan. Biasanya rumah yang paling luas, yang mampu menampung banyak hati sekaligus.

Di sanalah Lebaran benar-benar “hidup.”

Momen Lebaran sejak dulu adalah titik pulang. Jutaan perantau kembali, membawa hasil jerih payah usahanya, demi satu tujuan: berkumpul dengan keluarga. Tradisi ini diperkuat sejak era Megawati Soekarnoputri melalui kebijakan libur bersama, agar kebersamaan tidak terpotong oleh rutinitas.

Di ruang itu, ketupat tersaji, tangan saling menggenggam, dan kalimat “mohon maaf lahir batin” mengalir tanpa skenario.

Namun kini, ada satu tambahan baru: kamera.

Di era TikTok, Lebaran tidak hanya dirasakan, tetapi juga direkam. Dari generasi baby boomers (opa-oma), milenial (orang tua muda), Gen-X, Gen Z, hingga generasi alpha, semuanya hadir dalam satu frame. Gerakan serempak, musik ceria, ekspresi polos dan kocak.

“Ko bisa ya… seusia kita begini,” ujar Mas Pepen, kakak tertua generasi X, sambil tertawa melihat dirinya sendiri.

Di sinilah trilogi kesadaran menemukan relevansinya.

Kesadaran filosofis mengajak kita bertanya:
Apakah kita berkumpul untuk merasakan, atau untuk ditampilkan?

Kesadaran ekologis melihat bahwa ruang digital kini menjadi “lingkungan baru” manusia. TikTok bukan sekadar aplikasi, tapi ruang hidup kedua yang membentuk cara kita berinteraksi.

Kesadaran sosial justru menemukan sisi terang: konten ini mencairkan suasana. Yang dulu canggung, kini tertawa. Yang dulu diam, kini bergerak bersama.

Dalam perspektif teori sosial, ini adalah panggung kehidupan seperti yang dijelaskan Erving Goffman.
Kita “tampil” di depan kamera, namun justru di balik itu, kejujuran muncul. Kekakuan runtuh.

Sementara dalam psikologi, ini berkaitan dengan kebutuhan akan “kebersamaan” seperti dijelaskan Abraham Maslow.
Manusia butuh merasa menjadi bagian. Dan di momen Lebaran, kebutuhan itu memuncak.

Dari sisi teori ilahi, Lebaran adalah kembali ke fitrah. Nabi Muhammad mengajarkan pentingnya silaturahmi, memaafkan, dan menyambung hubungan.

Maka ketika TikTok justru membuat keluarga tertawa bersama, itu bisa menjadi jalan, selama tidak menghilangkan ruhnya.

Di keluarga kami, Ali Aminulloh (penulis), momen itu terasa nyata.

“Buang dulu deh jaim-nya,” kata istriku.

Dan benar, setelah silaturahmi selesai, setelah semua berkumpul di rumah orang tua, suasana yang tadinya formal berubah cair. Opa ikut joget, anak-anak tertawa, kamera merekam, tapi hati benar-benar terhubung.

Ada adegan konyol, ada momen spontan, tapi justru di situlah kebahagiaan lahir.

Lebaran jadi tidak kaku. Tidak “garing” .
Ia hidup, dan kini juga terekam.

Namun satu hal yang perlu dijaga:
Jangan sampai kita lebih sibuk mengabadikan daripada merasakan.
Jangan sampai silaturahmi berubah jadi sekadar konten.

Karena sejatinya, Lebaran bukan tentang seberapa bagus video kita,
tetapi seberapa utuh kita kembali menjadi manusia.