24/05/2026

MDINEWS INDRAMAYU

MEDIA ASPIRASI BUDAYA BANGSA

Revolusi dari Pesantren, Ketika Ilmu Langit Menyapa Bumi dan Menghidupkan Pertanian Indonesia

Oleh : Ali Aminulloh

Mdinews – Mahad Al Zaytun terus menunjukkan konsistensinya dalam membangun peradaban melalui pelatihan pelaku didik yang berkelanjutan. Mengusung tema besar “Transformasi Revolusioner Pendidikan Berasrama menuju Indonesia Modern Abad XXI dan 100 Tahun Kemerdekaan Indonesia”, forum ini menjadi ruang pertemuan antara ilmu, nilai, dan masa depan. Pada sesi ke-41, hadir seorang tokoh penting di bidang pertanian, Prof. Dr. Ir. Gembong Priyatmo Arbyantono, M.Sc., seorang guru besar, peneliti, sekaligus praktisi yang telah mendedikasikan hidupnya untuk mengembangkan pertanian berbasis ilmu dan keberlanjutan.

Di hadapan para santri dan civitas Al Zaytun, ia tidak sekadar menyampaikan teori. Beliau menghadirkan cara pandang baru: bahwa pertanian bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan bagian dari misi kemanusiaan dan spiritual.

Dari Tanah Mati ke Tanah Subur: Sains, Iman, dan Mikroorganisme

Prof. Gembong membuka pemaparannya dengan refleksi mendalam tentang penciptaan bumi. Beliau menggambarkan bagaimana tanah yang kini menjadi sumber kehidupan awalnya adalah batuan mati, yang kemudian “dihidupkan” oleh air dan mikroorganisme. Proses panjang itu, menurutnya, bukan hanya fakta ilmiah, tetapi juga bukti kebesaran Tuhan.

Dalam risetnya, Prof. Gembong menemukan puluhan jenis mikroorganisme yang berperan sebagai “profesor alami” dalam mengubah tanah menjadi subur. Dari sinilah ia mengembangkan pendekatan pertanian berbasis mikroorganisme: menghidupkan kembali tanah tanpa ketergantungan berlebihan pada bahan kimia.

Baginya, krisis lingkungan yang terjadi hari ini bukan sekadar persoalan teknis, tetapi akibat dari manusia yang “mengkhianati bumi”. Penggunaan pupuk kimia, pestisida, hingga eksploitasi berlebihan telah mematikan ekosistem mikro yang seharusnya menjadi fondasi kehidupan.

Di sinilah ia memperkenalkan konsep yang ia sebut sebagai ilmu pertobatan ekologi, yaitu upaya kembali kepada sistem alam yang selaras, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

Membangun Petani Mandiri: Dari Tradisi Menuju Korporasi Rakyat

Lebih jauh, Prof. Gembong menyoroti persoalan klasik pertanian Indonesia: petani yang terus berada dalam lingkaran kemiskinan. Beliau menilai, masalahnya bukan semata pada lahan atau modal, tetapi pada pola pikir dan sistem yang belum berkembang.

Sebagai solusi, ia menggagas konsep corporate farming, yaitu pengelolaan lahan secara kolektif berbasis kepemilikan bersama. Dalam sistem ini, petani tidak lagi bekerja sendiri-sendiri, melainkan menjadi bagian dari kekuatan ekonomi yang terorganisir.

Beliau juga menekankan pentingnya pembangunan berlapis:

– Character building (membangun mental petani profesional),

– Education building (peningkatan ilmu),

– Economy building (penguatan ekonomi desa),

– Technology building (pemanfaatan teknologi tepat guna).

Desa, menurutnya, harus kembali menjadi pusat ekonomi nasional. Sebab dari sanalah produksi pangan berasal, dan dari sanalah kedaulatan bangsa dibangun.

Menebus Dosa Ekologi: Pertanian sebagai Jalan Peradaban dan Keimanan

Di balik semua gagasan ilmiahnya, Prof. Gembong menempatkan pertanian sebagai jalan spiritual. Ia mengingatkan bahwa petani adalah profesi mulia, bahkan dalam banyak ajaran agama disebut sebagai golongan yang pertama masuk surga karena kontribusinya memberi kehidupan bagi orang lain.

Beliau mengajak para pelajar untuk tidak memandang pertanian sebagai pekerjaan kelas bawah. Justru di sanalah masa depan peradaban berada. Dengan pendekatan yang tepat, pertanian bisa menjadi sumber kekayaan, kesehatan, sekaligus keberkahan.

Di akhir sesi, Prof. Gembong menegaskan pentingnya mengasah akal sebagai karunia terbesar manusia. Tanpa itu, manusia akan tertinggal, bahkan kalah dari makhluk lain. Ia juga mengingatkan bahaya “kenyamanan” yang justru menjadi musuh terbesar kesuksesan.

Pesan itu seolah menyatu dengan semangat pendidikan di Al Zaytun, yaitu membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual dan emosional.

Pelatihan ini bukan sekadar transfer ilmu, melainkan penanaman visi. Bahwa masa depan Indonesia menuju satu abad kemerdekaan tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan industri, tetapi juga oleh bagaimana bangsa ini memperlakukan tanahnya, petaninya, dan alam semestanya.

Dan dari ruang-ruang belajar seperti di Al Zaytun, harapan itu sedang ditanam, walau pelan, namun pasti.