Oleh: Ali Aminulloh
Pagi itu, suasana Mini Zeteso Al Zaytun terasa berbeda. Ratusan pelajar Madrasah Tsanawiyah kelas IX duduk dengan wajah penuh harap, seolah sedang menatap sebuah gerbang besar menuju masa depan. Di tengah lantunan Asmaul Husna dan Asmaun Nabi, lalu gema Indonesia Raya yang dinyanyikan bersama, terselip sebuah pesan penting: pendidikan bukan sekadar perpindahan ilmu, tetapi proses membangun jiwa, karakter, dan rasa memiliki terhadap bangsa serta peradaban.
Selasa hingga Rabu, 12–13 Mei 2026, Ma’had Al Zaytun menggelar Bimbingan Terpadu bagi 394 peserta didik kelas IX, terdiri atas 202 rijal dan 192 nisa. Kegiatan ini menjadi momentum pembinaan intelektual sekaligus penguatan karakter menuju jenjang pendidikan berikutnya.
Acara dibuka oleh Ketua Yayasan Pesantren Indonesia, Datuk Sir Imam Prawoto, KRSS. MBA. CRBC., yang menyampaikan tema besar kegiatan: “Transformasi Pendidikan Al Zaytun Berbasis LSTEAMS demi Terwujudnya Pendidikan Kontemporer dengan Perspektif ke-Indonesiaan Berdasarkan Pancasila.”

Di balik tema itu, tersimpan sebuah gagasan besar tentang masa depan pendidikan Indonesia. Pendidikan tidak cukup hanya melahirkan manusia yang pintar secara akademik, tetapi juga harus mampu membentuk manusia yang utuh: cerdas, berkarakter, kreatif, beradab, sekaligus memiliki kesadaran spiritual dan kebangsaan.
Konsep LSTEAMS yang diusung Al Zaytun menjadi fondasi penting dalam arah pendidikan tersebut. LSTEAMS merupakan singkatan dari Law, Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics, and Spiritual.
Law menanamkan kesadaran hukum, kedisiplinan, dan tanggung jawab sosial.
Science membangun kemampuan berpikir ilmiah dan logis.
Technology mengarahkan peserta didik agar mampu menghadapi perkembangan zaman digital.
Engineering melatih kemampuan mencipta, memecahkan masalah, dan membangun peradaban.
Art menumbuhkan kehalusan rasa, kreativitas, dan nilai estetika.
Mathematics mengasah ketelitian serta pola pikir sistematis.
Sedangkan Spiritual menjadi ruh yang menjaga seluruh ilmu tetap berada dalam nilai-nilai ilahiah, akhlak, dan kemanusiaan.
Melalui perpaduan itu, pendidikan diproyeksikan tidak hanya menghasilkan lulusan yang siap bekerja, tetapi juga manusia yang siap memimpin kehidupan dengan keseimbangan intelektual, moral, sosial, dan spiritual.
Dalam paparannya, beliau menekankan pentingnya membangun sense of belonging: rasa memiliki yang menghadirkan pandangan, sikap, dan tindakan nyata. Bukan sekadar merasa menjadi bagian dari lembaga pendidikan, tetapi juga merasa bertanggung jawab menjaga nilai, nama baik, dan cita-cita bersama.
Menurut beliau, rasa memiliki terhadap Ma’had, terhadap angkatan, dan terhadap bangsa merupakan fondasi penting dalam membentuk karakter pelajar yang tangguh.
Beliau kemudian mengutip Surat An-Nisa ayat 9 sebagai peringatan bagi para pendidik, orang tua, dan pemangku lembaga pendidikan agar jangan sampai meninggalkan generasi yang lemah: lemah ilmu pengetahuan, lemah teknologi, lemah akhlak, serta lemah ideologi kebangsaan.
Karena itu, ketakwaan tidak hanya dipahami sebagai ritual spiritual, melainkan kemampuan untuk tetap berada di jalur ajaran Ilahi dalam seluruh aspek kehidupan. Dari sanalah lahir “qaulan syadida”: ucapan yang benar, sikap yang lurus, dan tindakan yang bertanggung jawab.
Paparan itu diperkuat dengan penjelasan mengenai pentingnya tafaqquh fid din sebagaimana termaktub dalam Surat At-Taubah ayat 122. Bahwa mencari ilmu bukan hanya kewajiban individual, melainkan kebutuhan peradaban. Pendidikan harus melahirkan manusia yang mampu memahami kehidupan secara utuh: spiritual, sosial, ilmiah, dan kebangsaan.
Ayat-ayat dari Surat Al-A’raf, Al-Hijr, hingga Asy-Syu’ara juga menjadi penegasan bahwa manusia diperintahkan untuk belajar dari sejarah, alam, dan tanda-tanda kehidupan agar tidak mudah dipengaruhi oleh ajaran yang merusak moral maupun persatuan bangsa.
Dalam suasana yang khidmat, para peserta tampak menyimak dengan serius. Mereka bukan hanya sedang mendengarkan pengarahan sekolah, melainkan sedang diajak memahami posisi dirinya sebagai calon generasi penerus bangsa.
Pesan-pesan yang disampaikan terasa sederhana, tetapi memiliki daya gugah yang kuat.
Pertama, menanamkan rasa memiliki terhadap Al Zaytun. Bahwa lembaga pendidikan bukan hanya tempat singgah mencari ijazah, melainkan rumah peradaban yang harus dijaga bersama.
Kedua, menumbuhkan kemauan kuat untuk terus belajar. Dalam pandangan beliau, kunci pendidikan sejati terletak pada tiga hal: ikhlas, sabar, dan fokus.
Ketiga, menjadi diri sendiri yang inovatif, motivatif, aktif, dan membumi. Inovatif berarti hidup terarah dan memiliki gagasan baru. Motivatif berarti selalu bergerak menuju tujuan yang lebih baik. Aktif berarti terus melakukan kegiatan positif yang bermanfaat bagi diri dan lingkungan.
Tak kalah penting, beliau menekankan penguasaan bahasa sebagai jembatan peradaban. Bahasa Indonesia harus dikuasai dengan baik sebagai identitas bangsa, sekaligus membuka diri terhadap bahasa-bahasa antarbangsa agar generasi muda mampu berkomunikasi dalam dunia global.
“Syaratnya, perbanyak teman, jangan perbanyak lawan,” pesannya singkat, namun mengandung makna sosial yang mendalam.
Pada akhirnya, seluruh proses pendidikan itu harus bermuara pada nilai-nilai Pancasila. Ilmu pengetahuan, teknologi, kecakapan sosial, hingga kemampuan global harus tetap dijaga oleh akhlak dan adab.
Di tengah perubahan zaman yang bergerak begitu cepat, pesan itu terasa relevan. Bahwa pendidikan modern tidak cukup hanya mencetak manusia pintar. Pendidikan harus melahirkan manusia yang sadar akar budayanya, kuat moralnya, luas ilmunya, dan kokoh cinta tanah airnya.
Bimbingan Terpadu di Ma’had Al Zaytun itu pun menjadi lebih dari sekadar agenda pembinaan siswa kelas IX. Ia menjelma menjadi ruang penyemaian kesadaran: bahwa masa depan bangsa tidak dibangun oleh generasi yang sekadar cerdas, tetapi oleh generasi yang memiliki rasa memiliki terhadap ilmu, terhadap bangsanya, dan terhadap kemanusiaan.

More Stories
Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara
Kritik Pendidikan Prof. Zulkifli: Jangan Sampai Lahirkan 1 Kuli dengan 40 Mandor
Bimbingan Terpadu MI Al Zaytun: Menumbuhkan Karakter, Menguatkan Akhlak, Menyiapkan Masa Depan