25/08/2026

MDINEWS INDRAMAYU

MEDIA ASPIRASI BUDAYA BANGSA

Supranalar dari Al-Zaytun: Kesaksian Jurnalis tentang Keteguhan, Kemerdekaan, dan Peradaban

Penulis: Ali Aminulloh
Disarikan dari ungkapan Drs. Robin Simanullang, sahabat Syaykh Al-Zaytun

Ada orang yang hadir dalam sebuah perjalanan hanya sebagai penonton. Ada pula yang datang sebagai pengamat, mencatat dari kejauhan, lalu pergi ketika peristiwa berakhir. Namun, sebagian kecil memilih bertahan sebagai saksi: mendekat, mencermati, mencatat, dan mempertanggungjawabkan kesaksiannya kepada sejarah.

Di antara orang-orang yang memilih jalan terakhir itu adalah Robin Simanullang, wartawan senior Majalah Tokoh Indonesia. Lebih dari dua dasawarsa ia mengikuti perjalanan Al-Zaytun. Ia tidak sekadar melihat bangunan tumbuh atau menyaksikan berbagai peristiwa yang datang silih berganti. Ia berusaha masuk ke dalam alam pikiran Syaykh Al-Zaytun, membaca gagasannya, mendokumentasikan karya-karyanya, serta menyaksikan bagaimana seorang pemimpin merespons berbagai tantangan yang menghadang.

Kesaksian tersebut disampaikannya dalam rangkaian Peringatan Hari Lahir Ke-80 Syaykh Al-Zaytun, Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang, pada Kamis, 30 Juli 2026. Peringatan yang mengusung tema “Menyukuri Pencapaian dan Terus Melangkah Menuju Kemajuan” itu tidak hanya menjadi ruang untuk menyampaikan ucapan selamat. Forum tersebut berkembang menjadi ruang refleksi tentang perjalanan pendidikan, kepemimpinan, ketahanan batin, dan pembangunan peradaban.

Setelah beberapa sahabat menyampaikan pandangan dan kesaksiannya, panitia memberikan kesempatan kepada Robin Simanullang untuk menyampaikan refleksi jurnalistiknya. Di hadapan Syaykh Al-Zaytun, Ummi, para eksponen Al-Zaytun, wali santri, santri, profesor, ulama, pendeta, dan seluruh hadirin, ia menyampaikan sebuah kesaksian yang diberinya judul “Supranalar dari Al-Zaytun: Sebuah Refleksi Jurnalistik.”

Sebelum memasuki pokok refleksinya, Robin secara khusus menyampaikan penghormatan kepada Prof. Dr. Connie Rahakundini Bakrie, M.Si. Dalam pandangannya, Prof. Connie merupakan representasi perempuan Indonesia modern yang memiliki keberanian dan integritas untuk menyampaikan kebenaran yang diyakininya.

Salam hormat juga disampaikannya kepada Mayjen TNI (Purn.) Kivlan Zein. Sebagai seorang jurnalis, Robin mengaku mencermati berbagai dinamika yang dialami tokoh militer tersebut. Penghormatan kepada para tokoh itu menjadi bagian dari pembukaan refleksinya sebelum membawa hadirin memasuki kesaksian mengenai perjalanan Syaykh Al-Zaytun.

Delapan Puluh Tahun sebagai Usia Fungsional

Robin memaknai usia ke-80 Syaykh Al-Zaytun bukan hanya sebagai usia kronologis, melainkan sebagai usia fungsional. Istilah itu menggambarkan usia lanjut yang tetap produktif, menghasilkan pemikiran, melahirkan karya, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dalam pemaknaan tersebut, bertambahnya usia tidak selalu identik dengan berkurangnya peran. Seseorang dapat memasuki usia lanjut, tetapi tetap memiliki daya pikir, semangat kerja, dan kemampuan memberikan arah bagi generasi berikutnya.

Usia fungsional tidak hanya diukur dari kemampuan fisik, tetapi juga dari keberlanjutan pengaruh. Selama pikiran seseorang masih menggerakkan manusia lain, gagasannya masih memberikan jalan keluar, dan karyanya masih menghasilkan manfaat, selama itu pula usia kehidupannya memiliki fungsi sosial.

Atas dasar itulah Robin mendoakan agar usia fungsional Syaykh Al-Zaytun terus berlanjut, bahkan melampaui seratus tahun. Harapan itu tidak berhenti pada panjangnya umur, tetapi diarahkan agar gagasan dan karya Syaykh semakin membumi di Nusantara serta dapat menjadi salah satu panduan dalam pembangunan peradaban dunia.

Doa tersebut menyiratkan pandangan bahwa kehidupan seorang pemimpin harus dibaca melalui manfaat yang dihasilkannya. Panjang usia menjadi bermakna apabila di dalamnya terdapat pengabdian, keberanian mencipta, dan kesediaan untuk terus menjawab tantangan zaman.

Dalam konteks peringatan Milad ke-80, usia fungsional juga menjadi pengingat bahwa perjalanan belum berakhir. Pencapaian yang telah diraih tidak boleh membuat seseorang berhenti. Sebaliknya, pencapaian harus menjadi dasar untuk melanjutkan langkah menuju kemajuan yang lebih luas.

Lebih dari Dua Puluh Tahun Menjadi Saksi Mata

Dengan suara yang menegaskan posisi kesaksiannya, Robin menyatakan bahwa dirinya adalah saksi mata perjalanan Al-Zaytun. Pernyataan tersebut bahkan diulanginya untuk menunjukkan bahwa pandangan yang disampaikan bukan dibangun dari kabar sepintas atau penilaian dari kejauhan.

Sebagai seorang jurnalis, ia telah berada dalam lingkungan perjalanan Al-Zaytun selama lebih dari dua puluh tahun. Rentang waktu tersebut bahkan lebih panjang daripada usia sebagian santri yang hadir dalam acara Milad itu.

Selama periode tersebut, Robin tidak hanya memperhatikan perkembangan fisik Al-Zaytun. Ia berusaha mendalami alam pikiran Syaykh Al-Zaytun. Baginya, karya yang tampak di permukaan tidak dapat dipisahkan dari gagasan, cara berpikir, dan orientasi nilai yang melahirkannya.

Sebuah bangunan dapat dilihat oleh siapa pun. Namun, untuk memahami mengapa bangunan itu didirikan, tujuan apa yang hendak dicapai, dan gagasan apa yang berada di belakangnya, diperlukan kedekatan, ketekunan, dan proses pencatatan yang panjang.

Robin menegaskan bahwa dirinya bukan sekadar pengamat sejarah Al-Zaytun. Ia menempatkan diri sebagai pencatat sejarahnya. Berbagai peristiwa, pemikiran, perkembangan, dan tantangan yang disaksikannya telah didokumentasikan dalam karya jurnalistik.

Dokumentasi tersebut, menurutnya, dapat diakses oleh publik dan dipertanggungjawabkan secara hukum maupun moral. Pernyataan ini penting karena jurnalisme bukan sekadar kegiatan menyampaikan kesan pribadi. Jurnalisme memiliki tuntutan verifikasi, ketepatan fakta, tanggung jawab publik, dan etika dalam menggunakan informasi.

Sebagai pencatat sejarah, seorang jurnalis harus mampu membedakan antara fakta, penilaian, dan opini. Ia juga harus bersedia mempertanggungjawabkan apa yang ditulisnya kepada masyarakat serta kepada orang-orang yang menjadi bagian dari peristiwa.

Kesaksian Robin dengan demikian merupakan hasil dari hubungan panjang antara pengamatan jurnalistik dan keterlibatan intelektual. Ia tidak mengklaim sebagai pelaku utama pembangunan Al-Zaytun, tetapi menegaskan perannya sebagai saksi yang mencatat perjalanan tersebut.

Tidak Menjadi Penonton Sejarah

Salah satu kalimat penting dalam refleksi Robin adalah pernyataannya bahwa ia tidak ingin menjadi penonton sejarah. Ia memilih menjadi saksi mata sejarah Al-Zaytun.

Menjadi penonton berarti hanya menyaksikan peristiwa berlalu. Seorang penonton mungkin merasa kagum, terkejut, marah, atau sedih, tetapi tidak selalu memiliki tanggung jawab untuk mencatat dan menjelaskan apa yang terjadi.

Sebaliknya, menjadi saksi menuntut keberanian. Saksi harus berada cukup dekat dengan peristiwa, mencermati detailnya, dan bersedia menyampaikan apa yang diketahuinya. Kesaksian juga mengandung tanggung jawab moral karena dapat memengaruhi cara masyarakat memahami sejarah.

Dalam dunia yang dipenuhi arus informasi, posisi saksi menjadi semakin penting. Suatu peristiwa dapat diberitakan dari berbagai sudut, ditafsirkan melalui kepentingan berbeda, bahkan dibentuk oleh narasi yang tidak selalu sejalan dengan kenyataan.

Karena itu, dokumentasi jurnalistik memiliki peran untuk menjaga ingatan publik. Ia menyediakan catatan yang dapat dibaca, diuji, dan dibandingkan oleh generasi berikutnya.

Robin memandang perjalanan Al-Zaytun sebagai bagian dari sejarah yang perlu dicatat secara serius. Menurutnya, sebuah karya pendidikan besar tidak cukup hanya disaksikan pada masa pembangunannya. Proses, gagasan, tantangan, serta respons yang menyertainya perlu diwariskan dalam bentuk dokumentasi.

Dari kesadaran tersebut lahirlah refleksi yang kemudian dirumuskannya melalui konsep supranalar.

Supranalar: Melampaui Batas Langit Logika

Robin mengungkapkan bahwa atas kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa, ia memperoleh kesempatan untuk merumuskan sebuah diksi yang menurut pengetahuannya belum pernah digunakan sebelumnya, yaitu supranalar.

Ia mendefinisikan supranalar sebagai sesuatu yang melampaui batas langit logika. Gagasan tersebut kemudian dituangkan dalam sebuah buku berjudul Supranalar: Melampaui Batas Langit Logika.

Istilah itu digunakan sebagai kerangka untuk membaca berbagai peristiwa yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan melalui hubungan logis yang sederhana. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia terbiasa memahami tindakan melalui pola sebab dan akibat.

Seseorang yang disakiti diperkirakan akan membalas. Orang yang difitnah mungkin akan menyimpan kebencian. Mereka yang mengalami ketidakadilan diperkirakan akan tenggelam dalam kemarahan atau keputusasaan.

Namun, terdapat tindakan manusia yang melampaui perkiraan tersebut. Ada manusia yang mampu merespons keburukan dengan kebaikan, mengubah penderitaan menjadi energi kreatif, dan melahirkan gagasan baru dari pengalaman yang seharusnya dapat menghancurkannya.

Pada titik itulah Robin menggunakan konsep supranalar. Supranalar bukan penolakan terhadap akal atau logika. Ia justru berangkat dari kemampuan nalar manusia yang dipertemukan dengan kedalaman batin dan kecerdasan spiritual.

Akal tetap memiliki peran penting untuk membaca fakta, menyusun argumentasi, dan memahami hubungan sebab-akibat. Namun, menurut Robin, terdapat kedalaman pengalaman manusia yang tidak dapat diselesaikan hanya melalui kalkulasi rasional.

Supranalar menjadi ruang tempat nalar, batin, dan spiritualitas saling berhubungan. Dari hubungan tersebut lahir kemampuan untuk merespons kehidupan dengan cara yang melampaui reaksi biasa.

Iman Bukan Sekadar Supranatural

Dalam refleksinya, Robin menyinggung pandangan sebagian intelektual modern yang menempatkan iman sebagai sesuatu yang supranatural. Ia mengajukan pandangan berbeda.

Menurutnya, iman berada jauh melampaui akal. Iman berada di atas hubungan sebab-akibat yang biasa dibangun oleh logika. Namun, posisi tersebut tidak berarti iman meniadakan nalar.

Supranalar justru dipahaminya sebagai hubungan timbal balik secara vertikal antara kemampuan nalar manusia dan kedalaman batin. Hubungan tersebut berkembang hingga mencapai kecerdasan spiritual yang melampaui batas-batas logika biasa.

Pada titik itu, kemampuan berpikir dan kejernihan batin menjadi semacam antena untuk menangkap cahaya serta ruh Ilahi. Metafora antena memperlihatkan bahwa manusia perlu memiliki kesiapan intelektual dan spiritual agar mampu menerima petunjuk.

Akal yang tidak diasah akan mengalami kesulitan memahami kenyataan. Namun, akal tanpa kejernihan batin juga dapat kehilangan orientasi moral. Pengetahuan dapat berkembang, tetapi tidak selalu menghasilkan kebijaksanaan.

Sebaliknya, kedalaman batin tanpa kemampuan berpikir dapat membuat seseorang sulit menjelaskan keyakinan dan menerapkannya dalam kehidupan nyata. Karena itu, supranalar mempertemukan kecerdasan intelektual dengan kecerdasan spiritual.

Pertemuan tersebut memungkinkan manusia berpikir secara luas sekaligus tetap memiliki arah moral. Ia mampu membaca persoalan, tetapi tidak kehilangan kemanusiaannya. Ia dapat menghadapi tekanan, tetapi tidak harus membalasnya dengan kebencian.

Ketika Habitus Pancasila Diadili di Tanah Air Sendiri

Konsep supranalar kemudian digunakan Robin sebagai kerangka untuk membaca perjalanan Al-Zaytun. Salah satu bagian dalam bukunya diberi subjudul “Ketika Habitus Pancasila Diadili di Tanah Air Sendiri.”

Tulisan tersebut disebutnya sebagai sebuah elegi atau ratapan terhadap kenyataan ketika seorang pemimpin yang telah melahirkan karya besar justru diperlakukan secara tidak semestinya.

Gagasan mengenai habitus Pancasila mengandung makna bahwa Pancasila tidak cukup hanya diucapkan sebagai semboyan atau dipajang sebagai simbol. Pancasila harus menjadi kebiasaan hidup yang nyata dalam tindakan manusia dan kehidupan kelembagaan.

Habitus merupakan pola sikap, kebiasaan, dan cara bertindak yang telah tertanam dalam kehidupan. Karena itu, habitus Pancasila menunjukkan usaha menjadikan nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial sebagai praktik kehidupan.

Menurut refleksi Robin, terdapat ironi ketika karya yang dipandangnya mencerminkan nilai-nilai Pancasila justru mengalami penghakiman di tanah airnya sendiri. Sementara itu, di banyak tempat Pancasila masih berhenti sebagai slogan.

Ia bahkan menilai bahwa negara masih menunjukkan sikap ambivalen terhadap nilai Pancasila. Pada satu sisi, Pancasila ditempatkan sebagai dasar dan ideologi negara. Namun, pada sisi lain, pelaksanaannya belum selalu konsisten dalam kehidupan nyata.

Landasan analisis tersebut berasal dari dua surat terbuka yang pernah ditulis Robin kepada Presiden Republik Indonesia ketika Syaykh Al-Zaytun dan lembaganya dipandangnya mendapatkan perlakuan tidak adil.

Surat terbuka merupakan salah satu bentuk partisipasi seorang jurnalis dan warga negara dalam kehidupan publik. Melalui surat itu, kegelisahan tidak hanya disimpan sebagai perasaan pribadi, tetapi disusun menjadi argumentasi yang diarahkan kepada pemegang kekuasaan.

Dari pengalaman itulah lahir refleksi mengenai bagaimana sebuah habitus yang dipandang berorientasi pada Pancasila justru diuji dan diadili dalam negeri yang menjadikan Pancasila sebagai dasarnya.

Kesaksian dalam Situasi Penuh Tekanan

Robin mengaku menemukan banyak contoh supranalar dalam perjalanan Al-Zaytun. Salah satu contoh paling kuat terlihat ketika Syaykh Panji Gumilang mengalami perlakuan tidak pantas dan pembunuhan karakter.

Pembunuhan karakter merupakan proses merusak kehormatan, kredibilitas, dan kepercayaan publik terhadap seseorang. Dalam situasi seperti itu, seseorang tidak hanya menghadapi persoalan hukum atau kelembagaan, tetapi juga tekanan psikologis dan sosial.

Nama baik yang dibangun selama bertahun-tahun dapat dipertanyakan dalam waktu singkat. Karya yang telah lama dirintis dapat dilihat hanya melalui tuduhan atau penilaian negatif yang berkembang di ruang publik.

Sebagai jurnalis yang telah mengikuti perjalanan Al-Zaytun lebih dari dua puluh tahun, Robin berulang kali mengunjungi Syaykh dalam masa-masa penuh tekanan tersebut. Dari pertemuan itu, ia menyaksikan secara langsung apa yang disebutnya sebagai kekuatan batin luar biasa.

Kesaksian langsung tersebut menjadi dasar bagi penilaiannya. Ia tidak hanya membaca respons Syaykh melalui pemberitaan, tetapi melihat sendiri sikap dan kondisi batinnya.

Dalam situasi yang secara logis dapat melahirkan kemarahan, kebencian, dan dendam, Robin justru melihat respons berbeda. Syaykh tidak tenggelam dalam dorongan untuk membalas orang-orang yang mencaci atau memfitnahnya.

Sikap itulah yang menurut Robin telah melampaui logika sebab-akibat biasa. Ketika dicaci, respons yang muncul bukan caci maki. Ketika mengalami fitnah, jawaban yang diberikan bukan kebencian. Keburukan justru dibalas dengan kebaikan.

Kemampuan semacam itu bukan tanda kelemahan. Untuk tidak membalas ketika memiliki alasan untuk marah dibutuhkan kekuatan pengendalian diri. Untuk tetap menghasilkan karya ketika menghadapi tekanan dibutuhkan keteguhan batin.

Di sinilah supranalar memperoleh bentuk konkretnya. Ia bukan sekadar konsep abstrak, tetapi kemampuan mengubah tekanan menjadi kekuatan dari dalam.

Remontada from Within: Kebangkitan dari Dalam Diri

Robin mengutip istilah yang digunakan Syaykh Al-Zaytun untuk menggambarkan proses kebangkitan tersebut, yakni lompatan atau remontada from within.

Istilah remontada menggambarkan kebangkitan setelah seseorang berada dalam posisi sulit. Namun, tambahan from within menegaskan bahwa kebangkitan itu tidak pertama-tama datang dari dukungan atau perubahan keadaan di luar diri.

Kebangkitan dimulai dari dalam. Ia lahir dari penataan pikiran, penguatan jiwa, kejernihan tujuan, dan kemampuan menjaga kemerdekaan diri meskipun menghadapi tekanan eksternal.

Banyak orang menunggu situasi berubah sebelum kembali melangkah. Namun, remontada from within menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai meskipun lingkungan belum sepenuhnya mendukung.

Manusia mungkin tidak dapat mengendalikan seluruh penilaian orang lain. Ia juga tidak selalu dapat menentukan bagaimana media, masyarakat, atau kekuasaan memperlakukannya. Akan tetapi, manusia masih memiliki ruang untuk menentukan bagaimana dirinya merespons.

Kemerdekaan dalam merespons inilah yang menjadi inti kebangkitan dari dalam. Tekanan tidak dibiarkan mengambil alih pikiran. Caci maki tidak diberi kekuasaan untuk menentukan watak. Fitnah tidak dibiarkan menghentikan proses penciptaan karya.

Dalam refleksi Robin, kebangkitan tersebut dibangun melalui tiga kemerdekaan: kemerdekaan ruh, kemerdekaan berpikir, dan kemerdekaan ilmu.

Kemerdekaan Ruh

Kemerdekaan ruh merupakan kemampuan menjaga pusat kesadaran manusia agar tidak dikuasai oleh ketakutan, kebencian, dan dendam.

Manusia yang ruhnya tidak merdeka akan mudah dikendalikan oleh tindakan orang lain. Ketika dicaci, kehidupannya dipenuhi keinginan untuk membalas. Ketika difitnah, seluruh energinya habis untuk memikirkan para pemfitnah.

Sebaliknya, manusia yang memiliki kemerdekaan ruh mampu menjaga arah hidupnya. Ia tidak menyerahkan ketenangan batinnya kepada orang yang membencinya.

Kemerdekaan ruh tidak berarti mengabaikan ketidakadilan. Ketidakadilan tetap perlu disikapi melalui jalan hukum, argumentasi, dan tindakan yang tepat. Namun, perjuangan tersebut tidak dijalankan melalui kebencian yang merusak diri.

Ruh yang merdeka memungkinkan seseorang memperjuangkan kebenaran tanpa kehilangan kemanusiaan. Ia dapat bersikap tegas tanpa harus menjadi pendendam.

Menurut kesaksian Robin, sikap inilah yang terlihat ketika Syaykh Al-Zaytun menghadapi berbagai tekanan. Ia tetap menjaga kemampuan berpikir, melanjutkan gagasan, dan memperlakukan orang lain tanpa dikuasai kebencian.

Kemerdekaan Berpikir

Kemerdekaan berpikir merupakan kemampuan menggunakan akal tanpa tunduk sepenuhnya kepada tekanan opini, ketakutan, atau kepentingan tertentu.

Manusia yang merdeka dalam berpikir tidak berarti menolak pandangan orang lain. Ia tetap mendengar, membaca, dan mempertimbangkan kritik. Namun, keputusan tidak dibuat hanya karena tekanan mayoritas atau derasnya opini publik.

Kemerdekaan berpikir juga menuntut tanggung jawab. Pikiran yang merdeka bukan pikiran yang berbicara tanpa dasar. Kemerdekaan harus disertai kemampuan menguji fakta, membangun argumentasi, dan menerima kemungkinan koreksi.

Dalam perjalanan Al-Zaytun, kemerdekaan berpikir terlihat dari keberanian merumuskan gagasan pendidikan, ekonomi, pertanian, kemaritiman, dan kebangsaan yang tidak selalu mengikuti pola umum.

Gagasan baru sering kali tampak tidak biasa ketika pertama kali disampaikan. Ia dapat menghadapi keraguan, penolakan, bahkan tuduhan. Namun, tanpa kemerdekaan berpikir, tidak akan lahir pembaruan.

Kemajuan ilmu dan peradaban selalu melibatkan manusia yang berani melihat kemungkinan di luar kebiasaan. Mereka tidak menolak tradisi secara sembarangan, tetapi juga tidak membiarkan tradisi berubah menjadi batas yang mematikan kreativitas.

Kemerdekaan Ilmu

Kemerdekaan ilmu berkaitan dengan kemampuan mengembangkan, menggunakan, dan mengarahkan pengetahuan bagi kemaslahatan kehidupan.

Ilmu tidak boleh hanya menjadi kumpulan teori yang jauh dari persoalan masyarakat. Ilmu harus mampu menjawab kebutuhan pendidikan, pangan, teknologi, ekonomi, dan kehidupan sosial.

Kemerdekaan ilmu juga berarti kemampuan membangun tradisi pengetahuan secara mandiri. Sebuah bangsa tidak cukup hanya menjadi konsumen hasil pemikiran dan teknologi bangsa lain.

Keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan dunia tetap penting. Namun, keterbukaan harus diikuti kemampuan mengolah, mengembangkan, dan menggunakannya sesuai dengan kebutuhan bangsa sendiri.

Dalam kerangka tersebut, kemerdekaan ilmu memiliki hubungan dengan kemerdekaan berpikir. Orang yang pikirannya tidak merdeka akan sulit melahirkan ilmu yang mandiri. Sebaliknya, ilmu yang berkembang dapat memperkuat kemampuan manusia untuk berpikir secara kritis.

Ketiga kemerdekaan itu: ruh, pikir, dan ilmu, menjadi dasar bagi proses remontada from within. Kebangkitan tidak hanya terjadi pada tingkat emosi, tetapi juga pada tingkat intelektual dan penciptaan karya.

Membalas Keburukan dengan Kebaikan

Bagi Robin, letak utama supranalar Syaykh Al-Zaytun terlihat dalam kemampuannya untuk tidak menyimpan dendam kepada orang-orang yang mencaci dan memfitnahnya.

Dalam logika sebab-akibat biasa, penghinaan melahirkan kemarahan dan serangan melahirkan pembalasan. Akan tetapi, respons manusia tidak harus selalu mengikuti pola tersebut.

Manusia memiliki kesadaran, nilai, dan kebebasan untuk memilih tindakan. Ia dapat memutus rantai keburukan dengan tidak mengulang tindakan yang sama.

Membalas keburukan dengan kebaikan bukan berarti menyetujui keburukan. Sikap tersebut justru menunjukkan bahwa seseorang tidak bersedia membiarkan perilaku buruk orang lain menentukan perilakunya.

Kebaikan menjadi bentuk kedaulatan diri. Seseorang tetap berbuat baik bukan karena lawannya pantas menerima kebaikan, tetapi karena dirinya memilih untuk tidak meninggalkan nilai yang diyakininya.

Sikap seperti itu membutuhkan kekuatan yang melampaui reaksi spontan. Manusia harus mampu menata emosi, menjaga kesadaran, dan melihat tujuan yang lebih besar daripada kepuasan membalas.

Di titik itulah Robin menemukan apa yang disebutnya Supranalar dari Al-Zaytun. Supranalar hidup dalam kemampuan manusia untuk tetap berkarya ketika dihina, tetap berpikir ketika ditekan, dan tetap berbuat baik ketika diperlakukan buruk.

Dari Supranalar Menuju Novum Gradum

Seluruh proses refleksi tersebut, menurut Robin, pada akhirnya berpuncak pada lahirnya gagasan Novum Gradum. Gagasan itu dipandang sebagai solusi bagi pendidikan Indonesia modern menuju Indonesia yang maju dan berkelanjutan.

Secara konseptual, novum gradum dapat dibaca sebagai langkah atau tingkatan baru. Dalam konteks yang disampaikan Robin, istilah tersebut menunjukkan kebutuhan untuk membawa pendidikan Indonesia memasuki tahap perkembangan berikutnya.

Pendidikan tidak dapat terus berjalan dengan pola lama ketika masyarakat, teknologi, ekonomi, dan lingkungan strategis mengalami perubahan. Diperlukan lompatan baru yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga menyentuh orientasi pendidikan.

Pendidikan perlu membentuk manusia yang merdeka secara ruh, berpikir, dan ilmu. Peserta didik tidak cukup hanya dibekali kemampuan menghafal atau menyelesaikan ujian.

Mereka harus mampu berpikir mandiri, memiliki kekuatan karakter, menguasai ilmu pengetahuan, dan menggunakan pengetahuan tersebut untuk menjawab persoalan bangsa.

Kemajuan juga harus dibangun secara berkelanjutan. Pembangunan tidak boleh hanya mengejar hasil jangka pendek dengan mengabaikan generasi mendatang. Pendidikan perlu menanamkan tanggung jawab terhadap manusia, masyarakat, dan lingkungan.

Dalam perspektif ini, Novum Gradum merupakan kelanjutan dari supranalar. Keteguhan batin tidak berhenti sebagai pencapaian personal. Ia harus melahirkan gagasan dan sistem yang memberikan manfaat lebih luas.

Penderitaan tidak dibiarkan berakhir sebagai luka. Ia diolah menjadi pengetahuan. Tekanan tidak dibiarkan melahirkan dendam. Ia diubah menjadi energi untuk menciptakan model pendidikan baru.

Hadiah Pikiran dari Seorang Saksi Sejarah

Menjelang akhir penyampaiannya, Robin kembali menegaskan bahwa ia tidak ingin berbicara terlalu panjang. Ia berharap refleksinya sebagai saksi mata sejarah Al-Zaytun dapat memberikan manfaat.

Naskah refleksi yang telah disusunnya masih disimpan dengan baik. Karena belum sempat diurus nomor ISBN-nya, buku tersebut baru dicetak dalam jumlah sangat terbatas.

Namun, keterbatasan jumlah cetakan tidak mengurangi nilai kesaksiannya. Sebuah karya tidak hanya dinilai dari jumlah eksemplar yang beredar, tetapi juga dari kedalaman gagasan dan tanggung jawab yang menyertai penulisannya.

Robin kemudian menyampaikan ucapan selamat ulang tahun kepada Syaykh Al-Zaytun. Ia mendoakan agar pada usia fungsional tersebut Syaykh senantiasa berada dalam lindungan Tuhan Yang Maha Pengasih.

Sebagai seorang sahabat dan saksi perjalanan, Robin tidak membawa hadiah berupa benda-benda mewah. Ia mempersembahkan sesuatu yang telah dihimpunnya selama lebih dari dua puluh tahun: pikiran, refleksi, dokumentasi, dan kesaksian.

Hadiah itu merupakan bentuk penghormatan seorang jurnalis kepada tokoh yang perjalanannya telah lama dicatat. Di dalamnya terdapat ingatan tentang karya, ujian, keteguhan, dan kemampuan untuk terus bangkit.

Kesaksian tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa sejarah tidak hanya dibangun oleh para pelaku utama. Sejarah juga memerlukan pencatat yang tekun agar gagasan, peristiwa, dan pelajaran di dalamnya tidak hilang ditelan waktu.

Keteguhan yang Melampaui Logika Pembalasan

Refleksi Robin Simanullang dalam Peringatan Hari Lahir Ke-80 Syaykh Al-Zaytun menghadirkan perspektif berbeda dalam membaca perjalanan seorang pemimpin.

Ia tidak hanya berbicara tentang bangunan, program, atau pencapaian kelembagaan. Ia membawa hadirin memasuki wilayah keteguhan batin, hubungan antara nalar dan spiritualitas, serta kemampuan manusia merespons ketidakadilan.

Konsep supranalar menjadi cara untuk menjelaskan respons yang melampaui pola pembalasan. Ketika tekanan seharusnya menimbulkan keruntuhan, lahir kebangkitan. Ketika fitnah seharusnya melahirkan dendam, muncul kebaikan. Ketika pembunuhan karakter diarahkan untuk menghentikan langkah, lahir gagasan baru tentang pendidikan.

Kebangkitan itu tidak datang karena seluruh persoalan di luar diri telah selesai. Ia bermula dari kemerdekaan ruh, kemerdekaan berpikir, dan kemerdekaan ilmu.

Ketiga kemerdekaan tersebut membuat manusia tidak mudah dikendalikan oleh kebencian, tekanan opini, atau ketergantungan intelektual. Manusia tetap memiliki kuasa untuk memilih respons dan melanjutkan karya.

Dari sanalah remontada from within memperoleh maknanya. Kebangkitan terbesar bukan hanya kemenangan atas pihak lain, melainkan kemenangan atas ketakutan, keputusasaan, dan dendam yang dapat tumbuh di dalam diri.

Refleksi itu berujung pada Novum Gradum, sebuah langkah baru yang diarahkan bagi pendidikan Indonesia modern. Dengan demikian, supranalar tidak berakhir sebagai pengalaman spiritual personal. Ia bergerak menuju gagasan pendidikan dan pembangunan bangsa.

Peringatan Milad ke-80 Syaykh Al-Zaytun akhirnya menjadi ruang tempat kesaksian, pemikiran, dan harapan bertemu. Tema “Menyukuri Pencapaian dan Terus Melangkah Menuju Kemajuan” menemukan bentuknya dalam perjalanan tersebut.

Mensyukuri pencapaian berarti mengingat karya yang telah lahir serta manusia-manusia yang menyaksikan dan mencatatnya. Terus melangkah berarti mengubah setiap ujian menjadi kekuatan untuk menciptakan masa depan.

Dalam kesaksian Robin Simanullang, Syaykh Al-Zaytun tidak hanya digambarkan sebagai orang yang mampu bertahan menghadapi tekanan. Ia dipandang mampu melampaui logika pembalasan dan mengubah pengalaman pahit menjadi energi penciptaan.

Itulah yang disebutnya sebagai Supranalar dari Al-Zaytun: ketika kekuatan nalar bertemu dengan kedalaman batin, ketika iman melahirkan kecerdasan spiritual, dan ketika ketidakadilan tidak dibalas dengan kebencian, tetapi dijawab melalui kebaikan, kebangkitan, serta karya bagi peradaban.

Tulisan ini adalah kolom Opini, seluruh isi merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.