25/08/2026

MDINEWS INDRAMAYU

MEDIA ASPIRASI BUDAYA BANGSA

Dari Kemerdekaan Menuju Kebangkitan Pendidikan

 

Peringatan HUT Ke-81 Republik Indonesia di Ma’had Al-Zaytun Meneguhkan Pendidikan sebagai Jalan Membangun Masa Depan Bangsa

Oleh: Ali Aminulloh

Kemerdekaan akan kehilangan maknanya apabila ruang-ruang pendidikan dibiarkan redup. Sebaliknya, ketika sekolah menyalakan ilmu, membentuk karakter, dan melatih keterampilan, kemerdekaan menemukan jalan menuju masa depan. Semangat itulah yang mengemuka dalam peringatan Hari Ulang Tahun Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Arena Olahraga Palagan Agung Ma’had Al-Zaytun, Senin, 17 Agustus 2026.

Tepat pukul 07.00, upacara dimulai. Ribuan peserta berdiri dalam barisan yang rapi. Sang Merah Putih perlahan dikibarkan, diiringi penghormatan dari seluruh sivitas Ma’had Al-Zaytun. Pagi itu, kemerdekaan tidak hanya dikenang sebagai kemenangan masa lalu, tetapi diteguhkan sebagai momentum kebangkitan pendidikan Indonesia.

Di tengah arena, seorang pelajar berdiri sebagai komandan upacara. Suaranya lantang, aba-abanya tegas, dan geraknya penuh keyakinan. Ia adalah Khalifa’ Al-Qodri Ramadhon bin Elpiadi, pelajar kelas XI-M-1 asal Serang, Banten. Remaja kelahiran 11 September 2009 yang tercatat dalam Koordinator Jakarta Timur itu merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara.

Kepercayaan kepada seorang pelajar untuk memimpin upacara besar tersebut menjadi gambaran nyata bahwa pendidikan bukan hanya kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru kepada murid. Pendidikan merupakan proses melahirkan keberanian, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepemimpinan.

Di Palagan Agung, generasi muda tidak hanya diminta mendengarkan pidato tentang masa depan. Mereka diberi ruang untuk berdiri di depan, memimpin, mengambil tanggung jawab, dan menunjukkan kemampuannya.

Upacara dihadiri oleh seluruh sivitas Ma’had Al-Zaytun. Hadir Syaykh Al-Zaytun, Umi Syaykh, para eksponen Yayasan Pesantren Indonesia, dosen, guru, karyawan, pelajar, mahasiswa, ibu-ibu Koperasi Desa Kota Indonesia (KODEKO), wali santri, serta para tamu undangan.

Bertindak sebagai inspektur upacara ialah Dato’ Sir Imam Prawoto, KRSS, MBA, CRBC. Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan oleh Ikhwan Triatmo, BIT. Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dibacakan oleh Anis Khoirunnisa, S.Th.I., MAP, sedangkan Nilai-Nilai Dasar Negara Indonesia atau Pancasila dibacakan oleh M. Nurdin A. Tsabit, S.Sos., M.A.P.

Rangkaian itu menghadirkan kembali fondasi berdirinya Indonesia: proklamasi sebagai pernyataan kemerdekaan, Pembukaan UUD 1945 sebagai arah kehidupan bernegara, dan Pancasila sebagai nilai dasar yang mempersatukan bangsa.

Suasana Palagan Agung kemudian berubah menjadi hening. Inspektur upacara mengajak seluruh peserta mengenang para pahlawan nasional dan pejuang pendidikan Al-Zaytun yang telah mendahului. Kepala tertunduk, doa dipanjatkan, dan jasa para pendahulu dikenang.

Keheningan tersebut seolah menghubungkan perjuangan masa lalu dengan tanggung jawab generasi hari ini. Jika dahulu para pahlawan berjuang membebaskan bangsa dari penjajahan, kini perjuangan harus diarahkan untuk membebaskan manusia Indonesia dari kebodohan, ketertinggalan, kemiskinan, kelemahan karakter, dan ketidakmampuan menghadapi perubahan zaman.

“Kemerdekaan tidak hanya kita kenang sebagai peristiwa sejarah. Kemerdekaan adalah amanah bagi setiap generasi untuk menjaga keberlanjutan bangsa melalui pembangunan manusia yang berilmu, terampil, berkarakter, dan mampu beradaptasi terhadap perubahan zaman,” tegas Dato’ Sir Imam Prawoto dalam amanatnya.

Pernyataan tersebut menempatkan pendidikan sebagai jantung kemerdekaan. Sebab, kemerdekaan politik tidak akan cukup tanpa kemerdekaan berpikir. Kekayaan alam tidak akan mendatangkan kesejahteraan tanpa manusia yang berilmu. Perkembangan teknologi tidak akan membawa kemajuan apabila tidak disertai karakter dan tanggung jawab.

Karena itu, kebangkitan Indonesia harus dimulai dari kebangkitan pendidikannya.

Pendidikan harus bergerak melampaui kebiasaan menghafal dan mengumpulkan nilai. Pendidikan harus menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja, berkomunikasi, memecahkan persoalan, mengambil tanggung jawab, serta hidup secara dinamis di tengah masyarakat nasional dan antarbangsa.

Dalam amanatnya, inspektur upacara menegaskan bahwa ilmu mengajarkan manusia untuk berpikir, keterampilan melatih manusia untuk bertindak, sedangkan karakter memberikan arah agar ilmu dan keterampilan digunakan secara benar dan bertanggung jawab.

Ketiganya tidak dapat dipisahkan. Ilmu tanpa keterampilan mudah berhenti menjadi teori. Keterampilan tanpa karakter dapat kehilangan arah. Adapun karakter tanpa ilmu dan kecakapan akan kesulitan menjawab kompleksitas kehidupan.

Kebangkitan pendidikan karena itu harus membentuk manusia secara utuh: kuat akidahnya, mulia akhlaknya, luas ilmunya, tinggi keterampilannya, sehat fisiknya, serta matang tanggung jawab sosialnya.

Kepada para pelajar dan mahasiswa, disampaikan pesan agar mereka terus mengembangkan diri menjadi insan yang berakidah kokoh kepada Allah dan ajaran-Nya, menyatu dalam tauhid, berakhlak mulia, berilmu luas, berketerampilan tinggi, serta piawai dalam ilmu dan fisik.

Mereka juga didorong menguasai bahasa-bahasa antarbangsa. Kemampuan tersebut diperlukan agar generasi Indonesia mampu hidup secara dinamis di tengah masyarakat bangsanya sekaligus berdiri percaya diri dalam pergaulan dunia.

Arah itu sejalan dengan risalah Al-Zaytun sebagai pusat pendidikan dan pengembangan budaya toleransi dan perdamaian menuju masyarakat sehat, cerdas, dan manusiawi. Pendidikan diarahkan untuk mewujudkan manusia yang merdeka ruh, merdeka pikir, dan merdeka ilmu.

Merdeka ruh berarti memiliki keteguhan batin dan tidak mudah diperbudak oleh ketakutan. Merdeka pikir berarti berani menggunakan akal secara jernih, kritis, dan bertanggung jawab. Sementara itu, merdeka ilmu berarti memiliki kesempatan dan kesungguhan untuk terus belajar, meneliti, mencipta, dan menghadirkan manfaat bagi kehidupan.

Toleransi dan perdamaian pun tidak boleh berhenti sebagai pengetahuan di dalam buku. Keduanya harus tumbuh menjadi perilaku nyata: menghargai perbedaan, menjaga persatuan, membangun kerja sama, menyelesaikan persoalan secara bijaksana, dan memberikan manfaat kepada masyarakat.

Dalam kerangka itulah Al-Zaytun memandang sekolah, asrama, tempat ibadah, arena olahraga, kegiatan seni, serta seluruh lingkungannya sebagai satu kesatuan ekosistem pendidikan. Peserta didik belajar bukan hanya ketika duduk di ruang kelas. Mereka belajar ketika hidup bersama, menjaga kebersihan, menaati aturan, berlatih olahraga, tampil dalam kesenian, menjalankan tugas, dan memimpin sebuah kegiatan.

Pemandangan pagi itu memberikan contoh yang nyata. Khalifa’ Al-Qodri Ramadhon belajar kepemimpinan dengan menjadi komandan upacara. Para petugas belajar tentang ketelitian dan tanggung jawab. Para pengibar bendera belajar membangun kekompakan. Seluruh peserta belajar tentang kedisiplinan, penghormatan, persatuan, dan kecintaan kepada tanah air.

Setelah rangkaian pokok upacara berakhir pada pukul 07.23, semangat kebangkitan pendidikan dilanjutkan melalui pertunjukan seni.

Sebanyak 210 penari yang tergabung dalam Tim Seni Tari Al-Zaytun STAR-Z menampilkan tari kreasi Nusantara. Mereka berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD, MI, MTs, MA, perguruan tinggi, hingga para guru.

Pertunjukan tersebut bukan semata-mata hiburan. Di dalamnya terdapat proses pendidikan lintas generasi. Anak-anak belajar percaya diri, pelajar melatih kreativitas, mahasiswa belajar bekerja sama, dan guru memberikan teladan melalui keterlibatan langsung.

Melalui gerak, irama, dan perpaduan warna, para penari menggambarkan Indonesia yang lahir dari keberagaman suku, budaya, tradisi, dan seni. Perbedaan tidak ditampilkan sebagai alasan untuk saling menjauh, melainkan sebagai kekayaan yang dapat disatukan dalam harmoni.

Penampilan berikutnya datang dari ibu-ibu KODEKO melalui “Senam Kreasi”. Dengan semangat dan kekompakan, mereka menunjukkan bahwa pendidikan, kesehatan, kebudayaan, dan kebersamaan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat merdeka.

Dari seluruh rangkaian itu tampak bahwa kebangkitan pendidikan tidak cukup dilakukan oleh sekolah dan guru. Ia membutuhkan keterlibatan keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan, pemerintah, dan seluruh unsur bangsa. Pendidikan merupakan kerja peradaban yang harus ditopang bersama-sama.

Delapan puluh satu tahun setelah kemerdekaan diproklamasikan, Indonesia memiliki tugas besar untuk memastikan setiap anak memperoleh pendidikan yang membebaskan pikirannya, menguatkan karakternya, mengembangkan keterampilannya, dan menumbuhkan kecintaannya kepada bangsa.

Sekolah harus menjadi tempat lahirnya gagasan. Kampus harus menjadi pusat ilmu pengetahuan dan inovasi. Guru harus menjadi penyalur harapan. Pelajar dan mahasiswa harus tumbuh menjadi generasi yang berani berpikir, bekerja, berkarya, dan mengambil tanggung jawab.

Pagi itu, Sang Merah Putih berkibar di langit Palagan Agung. Namun, yang harus dikibarkan sesudahnya bukan hanya bendera. Harapan, ilmu, karakter, keterampilan, toleransi, dan semangat perdamaian juga harus dikibarkan di setiap ruang pendidikan Indonesia.

Sebab, kemerdekaan telah membuka pintu bagi bangsa ini. Pendidikanlah yang akan menentukan sejauh mana bangsa Indonesia mampu melangkah melewati pintu itu.

Dari Palagan Agung, pesan kebangkitan itu disuarakan: isi kemerdekaan dengan mencerdaskan manusia, bangkitkan Indonesia melalui pendidikan, dan persiapkan generasi yang sanggup membawa Merah Putih berdiri terhormat di tengah peradaban dunia.

Dirgahayu Ke-81 Republik Indonesia. Merdeka bangsanya, bangkit pendidikannya, maju peradabannya!