25/08/2026

MDINEWS INDRAMAYU

MEDIA ASPIRASI BUDAYA BANGSA

Membangun Ekosistem Peradaban: Refleksi Prof Connie Rahakundini Bakri Pada Hari Lahir ke-80 Syaykh Al-Zaytun

Oleh: Ali Aminulloh (Disarikan dari Pesan Prof Connie di Hari Lahir Syaykh Al-Zaytun)

Pada Kamis, 30 Juli 2026, segenap civitas Ma’had Al-Zaytun memperingati hari lahir ke-80 Syaykh Al-Zaytun, Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang. Peringatan tersebut mengusung tema “Menyukuri Pencapaian dan Terus Melangkah Menuju Kemajuan”, sebuah tema yang tidak hanya merefleksikan perjalanan panjang seorang pemimpin, tetapi juga mengandung pesan mengenai keberlanjutan gagasan, karya, dan pengabdian dalam membangun masa depan.

Salah satu rangkaian penting dalam peringatan tersebut adalah penyampaian pesan-pesan ulang tahun dari sejumlah tokoh nasional dan internasional. Di antara tokoh yang menyampaikan refleksinya adalah Prof. Dr. Connie Rahakundini Bakrie, M.Si., Guru Besar atau Profesor pada Fakultas Hubungan Internasional, St Petersburg State University, Rusia. Prof. Connie dikenal sebagai akademisi dan pakar strategi, pertahanan, hubungan internasional, serta geopolitik, terutama dalam bidang pertahanan maritim dan dirgantara.

Alih-alih menyampaikan pidato seremonial, Prof. Connie memilih membacakan sebuah surat terbuka yang ditujukan kepada Syaykh Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang. Surat tersebut memuat refleksi akademik mengenai usia, kepemimpinan, ketahanan bangsa, kemandirian strategis, dan pembangunan ekosistem peradaban. Dalam pandangannya, peringatan usia ke-80 bukan sekadar momentum untuk menghitung perjalanan biologis seseorang, melainkan kesempatan untuk menilai keluasan pengaruh, kekuatan gagasan, dan keberlanjutan warisan yang telah ditanamkan kepada generasi berikutnya.

Delapan Puluh Tahun sebagai Ukuran Pengaruh dan Warisan

Dalam perspektif biologis, delapan puluh tahun menunjukkan panjang usia seorang manusia. Namun, dalam perspektif sejarah dan peradaban, usia memiliki ukuran yang lebih luas. Usia seorang tokoh tidak hanya dinilai berdasarkan jumlah tahun yang telah dilalui, tetapi juga berdasarkan seberapa banyak gagasan yang berhasil ditanamkan, manusia yang berhasil dibentuk, kelembagaan yang berhasil dibangun, dan harapan yang diwariskan kepada masyarakat.

Pandangan tersebut menempatkan manusia sebagai subjek sejarah. Nilai kehidupan seseorang tidak berhenti pada keberadaan fisiknya, tetapi berlanjut melalui manfaat sosial, karya kelembagaan, dan gagasan yang memengaruhi kehidupan generasi berikutnya. Dengan demikian, panjang umur memperoleh makna ketika perjalanan tersebut diisi dengan penciptaan nilai, keberanian mengambil tanggung jawab, serta kesediaan memberikan kontribusi bagi kemajuan masyarakat.

Prof. Connie menilai bahwa perjalanan hidup Syaykh Al-Zaytun dapat dibaca melalui ukuran tersebut. Delapan puluh tahun kehidupan bukan sekadar catatan waktu, melainkan perjalanan panjang dalam menanamkan gagasan, membangun manusia, dan menciptakan institusi pendidikan yang memiliki orientasi jauh ke depan. Pada titik ini, kepemimpinan tidak semata-mata dipahami sebagai kemampuan mengarahkan organisasi, tetapi sebagai kemampuan membentuk visi yang dapat hidup melampaui usia pemimpinnya.

Refleksi tersebut menjadi semakin relevan ketika dikaitkan dengan perubahan karakter kekuatan negara. Pada abad ke-20, negara-negara dunia banyak dibangun dan dipertahankan melalui kekuasaan politik, kekuatan militer, serta penguasaan wilayah. Sementara itu, pada abad ke-21, ketahanan suatu negara semakin ditentukan oleh kemampuannya membangun sistem dan ekosistem yang dapat menghadapi perubahan.

Kekuatan bangsa tidak lagi cukup diukur dari jumlah tentara, persenjataan, gedung pencakar langit, ataupun besarnya kekayaan material. Kekuatan yang sesungguhnya terletak pada kemampuan bangsa membangun ekosistem yang tahan terhadap krisis, mampu beradaptasi, serta sanggup memenuhi kebutuhan masyarakat melalui kemampuannya sendiri.

Ekosistem tersebut meliputi ekosistem pangan, ilmu pengetahuan, teknologi, karakter, dan peradaban. Kelima unsur ini memiliki hubungan yang saling menguatkan. Ketahanan pangan menjamin keberlangsungan kehidupan. Ilmu pengetahuan membentuk kemampuan memahami dan menyelesaikan persoalan. Teknologi meningkatkan kapasitas produksi dan inovasi. Karakter memberikan landasan etik bagi penggunaan ilmu dan teknologi. Adapun ekosistem peradaban menyatukan seluruh unsur tersebut dalam suatu tata kehidupan yang terarah, berkelanjutan, dan berorientasi pada kemanusiaan.

Dalam konteks inilah Prof. Connie mengajak Gita Wirjawan untuk membicarakan gagasan yang dikembangkan dalam buku What It Takes: Asia Tenggara, dari Tepi Menuju Inti Kesadaran Global. Buku tersebut menguraikan tantangan pendidikan, ekonomi, keberlanjutan, dan posisi strategis Asia Tenggara dalam tatanan dunia multipolar. Pertanyaan mendasar yang diajukan bukan hanya mengenai apa yang harus dilakukan untuk mencapai kemajuan, melainkan juga mengenai ekosistem seperti apa yang harus dibangun agar kemajuan tersebut dapat berlangsung secara mandiri dan berkelanjutan.

Al-Zaytun sebagai Ekosistem Peradaban

Kunjungan Prof. Connie ke Al-Zaytun menghadirkan kesan yang lebih luas daripada sekadar melihat sebuah kompleks pendidikan. Di dalamnya, ia menyaksikan suatu upaya sistematis untuk membangun ekosistem peradaban. Pendidikan di Al-Zaytun tidak berdiri sendiri, tetapi dihubungkan dengan pertanian, peternakan, teknologi, pengelolaan pangan, pembangunan infrastruktur, dan pengembangan kesadaran maritim.

Pandangan tersebut dapat dijelaskan melalui teori challenge and response yang dikembangkan Arnold J. Toynbee. Dalam pemikiran Toynbee, peradaban tumbuh ketika suatu masyarakat mampu memberikan jawaban kreatif terhadap tantangan yang dihadapinya. Sebaliknya, peradaban akan mengalami kemunduran ketika masyarakat kehilangan kemampuan untuk merespons tantangan secara tepat, kreatif, dan berkelanjutan.

Setiap generasi menghadapi pertanyaan sejarahnya sendiri. Namun, tidak semua orang bersedia mengambil posisi sebagai penjawab. Sebagian memilih menjadi penonton yang menyaksikan perubahan berlangsung, sedangkan sebagian lainnya memilih terlibat dalam proses penciptaan sejarah. Dalam pandangan Prof. Connie, makna kehidupan yang mendalam terletak pada keberanian seseorang untuk tidak sekadar menjadi penonton, tetapi turut menulis sejarah melalui gagasan dan karya nyata.

Sawah, peternakan, kegiatan pendidikan, pemanfaatan teknologi, dan galangan kapal yang dikembangkan Al-Zaytun menunjukkan adanya cara pandang yang menyatukan pendidikan dengan kehidupan. Peserta didik tidak hanya diperkenalkan kepada teori, tetapi juga kepada proses produksi, pengelolaan sumber daya, kerja kolektif, dan tanggung jawab terhadap masa depan.

Keberadaan galangan kapal menjadi salah satu bagian yang mendapatkan perhatian khusus. Pada pandangan pertama, pembangunan kapal mungkin dianggap tidak memiliki hubungan langsung dengan lembaga pendidikan. Namun, apabila ditinjau secara lebih mendalam, galangan kapal tidak sekadar berkaitan dengan produksi alat transportasi laut. Di dalamnya terdapat proses membangun cara berpikir, keterampilan teknologi, keberanian berinovasi, dan kesadaran terhadap identitas Indonesia sebagai bangsa maritim.

Indonesia tidak dibentuk sebagai negara daratan, melainkan sebagai negara kepulauan yang wilayahnya dipersatukan oleh laut. Karena itu, bangsa yang melupakan laut pada hakikatnya sedang menjauh dari salah satu sumber utama masa depannya. Laut bukan pemisah antarpulau, tetapi ruang penghubung, sumber kehidupan, jalur perdagangan, wilayah pertahanan, serta arena strategis yang menentukan posisi Indonesia dalam hubungan internasional.

Pembangunan kapal, dalam kerangka tersebut, bukan hanya kegiatan menyusun besi, mesin, dan teknologi. Pembangunan kapal merupakan upaya membangun kembali kesadaran maritim bangsa. Galangan kapal dapat menjadi ruang pendidikan yang memproduksi keberanian, kreativitas, dan keyakinan bahwa bangsa Indonesia masih mampu mencipta serta menguasai teknologi berdasarkan kekuatannya sendiri.

Keberanian tersebut penting karena kemajuan tidak lahir hanya dari kemampuan mengonsumsi hasil produksi bangsa lain. Kemajuan lahir ketika suatu masyarakat memiliki kemampuan menciptakan, memproduksi, mengembangkan, dan mengendalikan teknologi yang dibutuhkannya. Oleh karena itu, galangan kapal Al-Zaytun dapat dipandang sebagai simbol pendidikan produktif yang menghubungkan pengetahuan, teknologi, karakter, dan cita-cita kemandirian bangsa.

Kemandirian Strategis dan Keberdikarian Bangsa

Dalam kajian geopolitik modern dikenal konsep strategic autonomy atau kemandirian strategis. Konsep ini menggambarkan kemampuan sebuah negara atau komunitas untuk menentukan arah masa depannya berdasarkan kepentingan, kapasitas, serta nilai-nilai yang diyakininya sendiri.

Prof. Connie memaknai kemandirian strategis sebagai kemerdekaan berpikir, kemerdekaan memproduksi, dan kemerdekaan menentukan masa depan. Kemandirian tidak berarti menutup diri dari hubungan internasional. Suatu bangsa tetap perlu membangun kerja sama, pertukaran ilmu pengetahuan, perdagangan, dan diplomasi dengan negara lain. Namun, keterbukaan tersebut tidak boleh menyebabkan bangsa kehilangan kemampuan menentukan arah kehidupannya sendiri.

Kemandirian strategis menuntut keseimbangan antara keterbukaan dan kedaulatan. Bangsa yang mandiri mampu bekerja sama tanpa kehilangan identitas, menerima teknologi tanpa menjadi sepenuhnya bergantung, dan memasuki pergaulan dunia tanpa menyerahkan masa depannya kepada kepentingan pihak lain.

Dalam konteks Al-Zaytun, gagasan tersebut diwujudkan melalui prinsip keberdikarian. Pendidikan diarahkan agar manusia memiliki kemampuan berpikir, bekerja, mencipta, memproduksi, dan memenuhi kebutuhan kehidupannya secara bertanggung jawab. Keberdikarian bukan sikap mengasingkan diri, melainkan kemampuan berdiri tegak ketika berhadapan dengan perubahan dan tekanan lingkungan strategis.

Ketahanan pangan, penguasaan ilmu pengetahuan, pengembangan teknologi, pembentukan karakter, dan pembangunan kesadaran maritim merupakan unsur-unsur yang memperkuat keberdikarian. Bangsa yang tidak mampu menyediakan pangan akan mudah bergantung. Bangsa yang tidak mengembangkan ilmu pengetahuan akan menjadi pengguna gagasan bangsa lain. Bangsa yang tidak menguasai teknologi akan menjadi pasar. Sementara itu, bangsa yang kehilangan karakter akan kehilangan arah dalam menggunakan kekuatan yang dimilikinya.

Karena itu, pembangunan ekosistem peradaban harus dimulai dari pembangunan manusia. Infrastruktur dapat menua, bangunan dapat rusak, pohon dapat tumbang, dan setiap manusia pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta. Namun, gagasan yang ditanamkan melalui pendidikan dapat terus hidup dan berkembang melampaui usia pencetusnya.

Warisan terbesar seorang pemimpin bukan semata-mata gedung, tanah, ataupun kekayaan material. Warisan terbesarnya adalah manusia-manusia yang dapat berpikir lebih luas, bekerja lebih baik, dan melanjutkan cita-cita yang telah dirintis. Pemimpin dan guru sejati tidak hanya melahirkan pengikut, tetapi melahirkan penerus yang mampu mengembangkan gagasan sesuai dengan tantangan zamannya.

Pada usia ke-80 Syaykh Al-Zaytun, doa yang paling bermakna tidak hanya berkaitan dengan panjangnya usia biologis. Doa tersebut juga diarahkan agar gagasan-gagasan yang telah ditanamkan dapat hidup selama ratusan bahkan ribuan tahun melalui generasi yang bersedia menjaga, mengembangkan, mengkritisi, dan melaksanakannya.

Usia manusia berada dalam ketetapan Tuhan, sedangkan usia sebuah gagasan sangat dipengaruhi oleh kesediaan generasi berikutnya untuk merawat dan mengembangkannya. Apabila suatu gagasan hanya dipuja tanpa dikembangkan, ia akan berhenti menjadi kekuatan sejarah. Sebaliknya, apabila gagasan dipahami, diuji, diterapkan, dan disempurnakan, ia dapat tumbuh menjadi fondasi peradaban.

Menjaga Kemanusiaan sebagai Inti Peradaban

Pada bagian akhir refleksinya, Prof. Connie menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan peradaban. Peradaban tidak selalu runtuh karena kekurangan sumber daya alam atau kehilangan kekayaan material. Suatu peradaban dapat mengalami keruntuhan ketika manusia kehilangan nilai kemanusiaannya, berhenti menggunakan akal budi, mengabaikan tanggung jawab sosial, dan tidak lagi mampu memberikan manfaat bagi sesamanya.

Pandangan ini memberikan penegasan bahwa kemajuan teknologi dan pembangunan fisik harus berjalan bersama dengan pembentukan manusia. Teknologi tanpa karakter dapat berubah menjadi alat penghancur. Kekayaan tanpa tanggung jawab dapat melahirkan ketimpangan. Kekuasaan tanpa kemanusiaan dapat berubah menjadi penindasan. Oleh sebab itu, keberhasilan peradaban harus diukur dari kemampuannya menjaga martabat manusia.

Terlepas dari beragam pandangan masyarakat terhadap Al-Zaytun, Prof. Connie mengajak semua pihak untuk melihat pentingnya keberanian membangun, berpikir jauh ke depan, mencipta, dan meninggalkan warisan yang bermanfaat bagi bangsa. Indonesia membutuhkan semakin banyak manusia yang tidak berhenti pada kritik, tetapi berani menghadirkan karya sebagai jawaban atas tantangan.

Peringatan hari lahir ke-80 Syaykh Al-Zaytun dengan tema “Menyukuri Pencapaian dan Terus Melangkah Menuju Kemajuan” pada akhirnya menjadi momentum reflektif. Mensyukuri pencapaian berarti mengakui dan menghargai perjalanan, pengorbanan, serta karya yang telah dihasilkan. Namun, rasa syukur tidak boleh membuat manusia berhenti melangkah. Rasa syukur justru harus menjadi energi moral untuk memperbaiki kekurangan, memperluas manfaat, dan melanjutkan pembangunan.

Manusia tidak benar-benar hilang ketika kehidupan biologisnya berakhir. Seseorang baru benar-benar meninggalkan sejarah ketika dunia tidak lagi merasakan manfaat dari gagasan, nilai, dan karya yang pernah ditanamkannya. Selama gagasan tersebut masih dipelajari, dikembangkan, serta diwujudkan dalam kehidupan, selama itu pula pengaruh seorang pemimpin akan tetap hidup.

Dengan demikian, usia ke-80 Syaykh Al-Zaytun bukan hanya perayaan atas panjangnya perjalanan kehidupan. Momentum tersebut merupakan penegasan tentang tanggung jawab generasi penerus untuk menjaga dan mengembangkan ekosistem peradaban yang telah dirintis: peradaban yang berdiri di atas ilmu pengetahuan, kemandirian, keberanian mencipta, kesadaran maritim, ketahanan pangan, kekuatan karakter, dan penghormatan terhadap martabat manusia.