25/08/2026

MDINEWS INDRAMAYU

MEDIA ASPIRASI BUDAYA BANGSA

Kiprah Alumni Al-Zaytun Membangun Kemandirian Pangan

Dari Handeuleum Farm, Husnul Muttakien Menggerakkan Pertanian, Peternakan, dan Ekonomi Desa

Oleh Ali Aminulloh

Rabu, 12 Agustus 2026. Kemandirian pangan tidak lahir dari pidato dan ruang-ruang seminar semata. Ia tumbuh dari tanah yang diolah, benih yang ditanam, ternak yang dipelihara, serta keberanian anak bangsa untuk kembali membangun kampung halamannya. Semangat itulah yang tampak di Handeuleum Farm, sebuah kawasan pertanian dan peternakan terpadu di Blok Sindangsari, Desa Situ Udik, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor.

Di lahan seluas sekitar 8,5 hektare tersebut, Husnul Muttakien, alumni Al-Zaytun angkatan kedua, sedang menapaki jalan panjang menuju kemandirian pangan. Ia tidak hanya membangun sebuah usaha, tetapi juga menciptakan lapangan kerja, mengembangkan pembibitan ternak, membuka jaringan pemasaran, serta mendampingi masyarakat desa agar mampu tumbuh bersama.

Saya berkesempatan menginap di Handeuleum Farm pada Rabu, 12 Agustus 2026. Malam itu, di antara udara sejuk kaki gunung, hamparan rerumputan, kebun buah, dan suara ternak dari kandang, saya menyaksikan bagaimana pendidikan, ketekunan, dan keberanian dapat menjelma menjadi gerakan ekonomi pangan yang nyata.

Filosofi Handeuleum

Nama Handeuleum Farm diambil dari nama kampung dan Gunung Handeuleum. Dalam bahasa Sunda, handeuleum menggambarkan warna hitam atau gelap. Namun, tanaman handeuleum dikenal memiliki khasiat sebagai obat.

Filosofi itu seakan mewakili perjalanan Husnul. Kesulitan dan masa-masa gelap tidak selalu menjadi akhir. Ketika dihadapi dengan ilmu, kerja keras, dan keteguhan, keadaan sulit justru dapat menjadi obat yang menguatkan kehidupan.

Handeuleum Farm mulai dikembangkan secara serius pada 14 Maret 2021 melalui PT Agroe Jaya Satria. Namun, perjalanan Husnul membangun usaha pangan telah dimulai jauh sebelumnya.

Dari Pendidik Menjadi Penggerak Pangan

Husnul bukanlah pengusaha yang sejak awal tumbuh di lingkungan bisnis peternakan. Setelah lulus dari Al-Zaytun pada 2006, ia menempuh jalan pengabdian dalam dunia pendidikan. Ia pernah mengajar selama lima tahun, menjadi kepala Pendidikan Anak Usia Dini selama dua tahun, dan memimpin SMA Nurul Falah selama lima tahun.

Pengalaman sebagai pendidik membentuk watak kepemimpinannya. Ia memahami bahwa membangun manusia maupun mengembangkan usaha sama-sama membutuhkan proses, kedisiplinan, kesabaran, dan keberanian untuk terus belajar.

Pada 2013, Husnul mulai menggarap lahan sekitar dua hektare. Sekitar 6.000 meter persegi merupakan lahan milik sendiri, sedangkan sebagian lainnya diperoleh melalui sistem gadai. Di lahan itu ia menanam nanas, jeruk, pepaya, cabai, dan beberapa komoditas pertanian lainnya.

Perjalanannya tidak selalu mudah. Sebagian lahan keluarga pernah tergadai untuk memenuhi kebutuhan persalinan. Namun, keadaan tersebut tidak membuatnya menyerah. Setelah melalui kerja keras selama bertahun-tahun, lahan itu akhirnya berhasil dibebaskan pada 2021.

Tahun tersebut menjadi titik balik. Bersama orang tuanya, Husnul memulai kembali usahanya dari hal yang sangat sederhana: menjual pisang.

Dari setandan pisang itulah langkah panjang menuju usaha pertanian dan peternakan terpadu dimulai.

Merawat Kekayaan Pangan Lokal

Kini, Handeuleum Farm berkembang menjadi kawasan agribisnis yang memadukan perkebunan, pertanian hortikultura, peternakan, penyediaan pakan, dan pemasaran hasil produksi.

Di kawasan perkebunan terdapat sekitar 100 pohon durian dan 15 pohon manggis. Selain itu, tumbuh pula beragam tanaman buah dan pangan lokal seperti kupa, alkesa, kemang, jamblang, namnam, sukun, jengkol, leci, pepaya, cempedak, pisang tanduk, dan pisang raja bulu.

Keanekaragaman tanaman tersebut menunjukkan bahwa kemandirian pangan bukan hanya tentang menghasilkan komoditas sebanyak-banyaknya. Kemandirian pangan juga berarti menjaga keragaman hayati, merawat tanaman lokal, dan memastikan masyarakat memiliki sumber pangan yang beragam.

Pada sektor hortikultura, Handeuleum Farm mengembangkan jagung, kacang-kacangan, mentimun, padi, serta berbagai tanaman pertanian lainnya. Sebagian lahan digunakan untuk menanam rumput sebagai sumber pakan ternak.

Pola usaha terpadu tersebut memungkinkan hasil dari satu sektor mendukung sektor lainnya. Lahan menghasilkan pakan, ternak menghasilkan pupuk, sedangkan kebun dan pertanian menyediakan sumber pangan sekaligus penghasilan.

Dari Lima Kambing Menuju Peternakan Terpadu

Usaha peternakan Husnul bermula dari lima ekor kambing jawa. Jumlah yang sangat sederhana itu perlahan berkembang menjadi unit peternakan berskala besar.

Saat ini Handeuleum Farm memiliki tiga kandang sapi dengan kapasitas sekitar 50 ekor, 22 kandang domba, kandang kambing, serta unit peternakan ayam petelur. Pada 2024, Husnul telah memiliki sekitar 86 induk domba Garut. Sejak 2025, pengembangan usaha semakin diarahkan pada pembibitan atau breeding domba Garut.

Pilihan menekuni pembibitan memiliki arti penting bagi kemandirian pangan. Peternakan tidak cukup hanya bergantung pada perdagangan ternak dari daerah lain. Kemampuan menghasilkan bibit sendiri menjadi fondasi untuk menjaga keberlanjutan populasi dan memenuhi kebutuhan pasar dalam jangka panjang.

Kesehatan ternak juga menjadi perhatian utama. Hewan-hewan ternak memperoleh vaksinasi dan vitamin secara berkala. Pemeriksaan kesehatan menyeluruh dilakukan setiap tiga bulan dengan melibatkan tim kesehatan ternak.

Handeuleum Farm kini mempekerjakan sekitar 25 orang. Pengelolaannya didukung lima manajer area yang tersebar di Tasikmalaya, Cibungbulang, Pamijahan I, Pamijahan II, dan Gunung Bunder.

Dari usaha yang semula dijalankan bersama orang tua, Handeuleum Farm tumbuh menjadi jaringan agribisnis yang mulai dikelola secara profesional.

Membangun Pasar bagi Peternak

Salah satu persoalan utama yang sering dihadapi petani dan peternak adalah ketidakpastian pasar. Mereka mampu menanam dan memelihara, tetapi kerap kesulitan memperoleh harga yang layak ketika masa panen atau penjualan tiba.

Husnul memahami persoalan tersebut. Karena itu, ia tidak hanya membangun kandang dan menambah populasi ternak, tetapi juga mengembangkan beberapa jalur pemasaran.

Pasar pertama adalah petani dan peternak yang membeli ternak untuk dipelihara atau dikembangbiakkan. Pasar kedua berasal dari kebutuhan akikah, dengan permintaan berkisar lima hingga sepuluh ekor setiap hari.

Pasar ketiga adalah kebutuhan ternak potong di Jatiasih, Bekasi. Rata-rata sekitar 100 ekor ternak dipasarkan setiap pekan melalui jalur ini.

Pasar keempat adalah kebutuhan Iduladha. Pada 2026, jaringan Handeuleum Farm memasarkan sekitar 4.200 ekor kambing dan domba serta 318 ekor sapi ke berbagai wilayah di Indonesia.

Kepercayaan pasar juga terlihat dari kemitraan Handeuleum Farm sebagai penyedia hewan kurban bagi sejumlah lembaga nasional, antara lain Bank Mandiri Pusat, Dompet Dhuafa, dan Badan Amil Zakat Nasional.

Jaringan tersebut tidak dibangun dalam waktu singkat. Sejak 2014, Husnul telah bekerja sama memenuhi kebutuhan hewan kurban bagi lembaga-lembaga sosial, termasuk Dompet Dhuafa, Baznas, dan Daarut Tauhiid. Pada masa itu, kebutuhan ternak masih dipenuhi melalui pola perdagangan dengan mengambil hewan dari para peternak.

Pengalaman tersebut menjadi modal penting untuk memahami pasar sekaligus membangun kepercayaan.

Kemandirian Pangan Berbasis Desa

Pasar kelima yang dikembangkan Handeuleum Farm memiliki dimensi pemberdayaan yang lebih luas, yaitu program ketahanan pangan desa. Program ini dilaksanakan di lima kecamatan di Kabupaten Bogor dan mencakup 12 desa.

Handeuleum Farm tidak sekadar menjual kambing atau domba kepada masyarakat. Husnul dan timnya juga memberikan pendampingan pemeliharaan, membantu pembibitan, serta membuka akses pemasaran hasil ternak.

Saat ini, populasi ternak yang dikembangkan bersama masyarakat di 12 desa tersebut telah mencapai sekitar 850 ekor.

Pola tersebut memperlihatkan bahwa kemandirian pangan harus dibangun melalui kolaborasi. Perusahaan bertindak sebagai penyedia bibit, pendamping, dan penghubung pasar. Masyarakat desa menjadi pelaku utama yang memelihara dan mengembangkan ternak.

Dengan demikian, manfaat ekonomi tidak berhenti di Handeuleum Farm, tetapi menyebar ke rumah-rumah warga dan kelompok peternak di berbagai desa.

Menembus Omzet Miliaran Rupiah

Kemampuan membaca pasar sebenarnya telah dipelajari Husnul sejak lama. Melalui PT Agroe Jaya Satria, ia pernah mengembangkan perdagangan dan ekspor jahe pada 2014. Pengalaman tersebut membentuk pemahamannya mengenai kualitas produk, keberlanjutan pasokan, jaringan distribusi, dan kepercayaan mitra.

Kini, keseluruhan kegiatan usaha yang dikembangkannya mencatat omzet sekitar Rp12,7 miliar.

Namun, pencapaian itu bukan hanya tentang besarnya angka penjualan. Di balik omzet tersebut terdapat 25 orang yang memperoleh pekerjaan, para peternak yang mendapatkan pasar, masyarakat desa yang menerima pendampingan, serta konsumen yang memperoleh pasokan ternak berkualitas.

Handeuleum Farm memperlihatkan bahwa usaha pangan dapat memberikan keuntungan ekonomi sekaligus menciptakan manfaat sosial.

Alumni yang Kembali Membangun Negeri

Kisah Husnul Muttakien merupakan salah satu gambaran tentang kiprah alumni Al-Zaytun di tengah masyarakat. Pendidikan yang pernah diterimanya tidak berhenti sebagai pengetahuan di ruang kelas. Nilai-nilai kedisiplinan, kemandirian, kerja keras, kepemimpinan, dan kecintaan terhadap tanah air diterjemahkan menjadi tindakan nyata.

Ia memilih kembali ke kampung, mengolah tanah, membangun kandang, membuka pasar, dan menggerakkan masyarakat. Langkah tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi sesungguhnya menyentuh persoalan yang sangat mendasar bagi bangsa: kemampuan memenuhi kebutuhan pangan dengan kekuatan sendiri.

Di tengah tantangan alih fungsi lahan, menurunnya minat generasi muda pada sektor pertanian, mahalnya pakan, serta ketergantungan terhadap pasokan dari luar, kehadiran anak-anak muda terdidik di bidang pertanian dan peternakan menjadi kebutuhan yang mendesak.

Indonesia tidak hanya membutuhkan lebih banyak sarjana. Indonesia juga membutuhkan generasi terdidik yang bersedia turun ke sawah, memasuki kebun, mengelola kandang, memanfaatkan teknologi, dan membangun jaringan pasar bagi masyarakat desa.

Handeuleum Farm memberikan pelajaran bahwa kemandirian pangan tidak harus selalu dimulai dari modal yang besar. Husnul memulainya dari lahan terbatas, lima ekor kambing, dan penjualan pisang. Langkah kecil itu kemudian tumbuh menjadi kawasan agribisnis, jaringan pemasaran nasional, serta gerakan pemberdayaan peternak di belasan desa.

Ketika malam menyelimuti Handeuleum Farm, suara ternak masih terdengar dari kandang-kandangnya. Esok pagi, para pekerja akan kembali membersihkan kandang, memberi pakan, merawat kebun, memeriksa kesehatan ternak, dan menyiapkan pesanan pasar.

Rutinitas itu mungkin tidak selalu terlihat oleh banyak orang. Namun, dari kerja-kerja sunyi semacam itulah ketahanan dan kemandirian pangan sebuah bangsa dibangun.

Dari kaki Gunung Handeuleum, seorang alumni Al-Zaytun telah menunjukkan bahwa pengabdian kepada negeri dapat dimulai dengan merawat tanah kelahiran. Sebab, ketika kaum terdidik bersedia kembali mengolah bumi, mendampingi petani dan peternak, serta membuka jalan menuju pasar, pangan bukan lagi sekadar komoditas. Pangan menjelma menjadi jalan kemandirian, kesejahteraan, dan kedaulatan bangsa.