25/08/2026

MDINEWS INDRAMAYU

MEDIA ASPIRASI BUDAYA BANGSA

Delapan Dekade Menjaga Nyala Pengabdian: Refleksi Milad ke 80 Syaykh Al Zaytun.

Oleh: Ali Aminulloh
(Disarikan dari ungkapan Mayjen TNI (Purn.) Kivlan Zein, sahabat Syaykh Al-Zaytun)

Nyala pengabdian tidak selalu tumbuh dalam perjalanan yang tenang. Ia justru teruji ketika kehidupan bergerak naik dan turun, ketika keberhasilan datang silih berganti dengan tantangan, serta ketika keyakinan harus tetap dijaga di tengah perubahan keadaan. Selama delapan dekade perjalanan hidupnya, Syaykh Al-Zaytun, Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang, dipandang Mayjen TNI (Purn.) Kivlan Zein tetap menjaga nyala pengabdian itu melalui pendidikan, pembinaan masyarakat, dan karya bagi bangsa.

Bagi Kivlan, usia delapan puluh tahun bukan sekadar pencapaian biologis. Di dalamnya tersimpan perjalanan panjang yang dipenuhi pengalaman, dedikasi, ketekunan, dan kesediaan untuk terus memberikan manfaat. Usia tersebut menjadi bukti bahwa pengabdian dapat terus menyala meskipun kehidupan tidak selalu berjalan dalam garis yang lurus.

Refleksi itu disampaikan dalam rangkaian Peringatan Hari Lahir Ke-80 Syaykh Al-Zaytun, pada Kamis, 30 Juli 2026. Acara yang mengusung tema “Menyukuri Pencapaian dan Terus Melangkah Menuju Kemajuan” tersebut dihadiri keluarga besar Ma’had Al-Zaytun, para pendidik, santri, wali santri, alumni, sahabat, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta sejumlah tokoh nasional.

Dalam rangkaian penyampaian ungkapan para sahabat, panitia memberikan kesempatan kepada Mayjen TNI (Purn.) Kivlan Zein. Dalam naskah acara, ia diperkenalkan sebagai mantan Kepala Staf Kostrad periode 1996–1997, pengamat militer, dan dosen Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia.

Kehadirannya bukan hanya sebagai tamu dalam peringatan hari lahir. Ia telah menjadi bagian dari lingkungan pendidikan Al-Zaytun melalui perannya sebagai pengajar. Karena itu, pesan yang disampaikannya memuat kenangan personal, refleksi spiritual, dan penghargaan terhadap perjalanan pengabdian Syaykh Al-Zaytun.

Salam Kedamaian dari Tuhan Yang Maha Penyayang

Kivlan Zein membuka sambutannya dengan salam Islam. Setelah itu, ia melafalkan kalimat:

“Salāmun qaulan min rabbir rahīm.”

Kalimat tersebut bermakna salam sebagai firman dari Tuhan Yang Maha Penyayang. Kivlan kemudian menyampaikan bahwa kalimat itulah yang menjadi salam pada kesempatan tersebut.

Ucapan itu menghadirkan suasana spiritual di tengah kegembiraan Milad. Salam tidak hanya menjadi pembuka pidato, tetapi juga doa agar kedamaian, rahmat, dan kasih sayang Tuhan menyertai Syaykh Al-Zaytun serta seluruh hadirin.

Dalam perjalanan pengabdian yang panjang, manusia tidak hanya membutuhkan kekuatan fisik dan kecerdasan. Ia juga membutuhkan ketenangan batin serta keyakinan bahwa setiap langkah yang dilakukan dengan tujuan baik senantiasa berada dalam pengawasan Tuhan.

Kivlan kemudian menyampaikan penghormatan kepada Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang, Imam Prawoto selaku Ketua Yayasan Pesantren Indonesia, Prof. Dr. Ermaya Suradinata, Prof. Connie Rahakundini Bakrie, Sultan Paser dari Kalimantan, serta seluruh hadirin.

Rangkaian penghormatan itu memperlihatkan luasnya latar belakang para tokoh yang hadir. Mereka datang dari dunia pendidikan, pemerintahan, pertahanan, kerajaan Nusantara, keagamaan, dan kehidupan masyarakat.

Perbedaan latar belakang tersebut tidak menghalangi mereka untuk hadir dalam satu forum, menyampaikan penghormatan, dan mendoakan perjalanan seorang tokoh pendidikan.

Pertemuan Pertama dengan Al-Zaytun

Kivlan kemudian membawa hadirin kembali kepada pengalaman pertamanya mengunjungi Al-Zaytun.

Kunjungan itu berlangsung pada 2014 ketika dirinya menjadi calon anggota legislatif dari Partai Persatuan Pembangunan. Pada waktu tersebut, ia memperoleh undangan dari Syaykh Al-Zaytun bersama Imam Prawoto.

Kivlan mengaku sangat terkejut ketika pertama kali datang. Walaupun tidak menjelaskan secara terperinci hal-hal yang membuatnya terkejut, pernyataan tersebut menunjukkan bahwa apa yang disaksikannya berbeda dari bayangan sebelum berkunjung.

Kehadiran langsung memang memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan hanya memperoleh informasi dari kejauhan. Seseorang dapat menyaksikan kawasan, kegiatan pendidikan, kehidupan santri, dan sistem yang dijalankan secara lebih utuh.

Kunjungan juga memungkinkan terjadinya dialog. Melalui perjumpaan langsung, prasangka dapat diuji, pertanyaan memperoleh jawaban, dan hubungan personal mulai dibangun.

Pertemuan pertama pada 2014 itu kemudian menjadi awal kedekatan Kivlan dengan Al-Zaytun. Dari seorang tamu undangan, hubungan tersebut berkembang hingga dirinya terlibat dalam kegiatan pendidikan sebagai dosen.

Tiga Setengah Jam Menyampaikan Gagasan

Dalam kunjungan pertamanya, Kivlan diminta berbicara dengan tema bebas. Ia kemudian menyampaikan berbagai pandangan di masjid Al-Zaytun selama kurang lebih tiga setengah jam.

Durasi tersebut menunjukkan bahwa pertemuan tidak berlangsung sebagai sambutan seremonial yang singkat. Terdapat ruang luas untuk menyampaikan pengalaman, pemikiran, dan pandangan mengenai kehidupan bangsa.

Kebebasan memilih tema juga menunjukkan adanya keterbukaan terhadap gagasan. Seorang tokoh dengan latar belakang militer dan kebangsaan diberikan kesempatan untuk menyampaikan pemikirannya kepada lingkungan pesantren dan pendidikan.

Ruang seperti itu penting dalam sebuah lembaga pendidikan. Ilmu tidak berkembang apabila manusia hanya mendengar satu pandangan. Pendidikan memerlukan dialog, perjumpaan pengalaman, serta keberanian mendengarkan pemikiran dari berbagai bidang.

Santri dan mahasiswa tidak hanya belajar dari buku. Mereka juga dapat belajar dari manusia yang mengalami langsung berbagai dinamika kehidupan bangsa.

Perjumpaan antara lingkungan pesantren dan tokoh dengan pengalaman militer memperkaya wawasan. Pendidikan agama dapat berdialog dengan pengalaman pertahanan, kepemimpinan, pemerintahan, serta persoalan kebangsaan.

Dari dialog panjang itulah kedekatan Kivlan dengan Al-Zaytun semakin tumbuh.

Manusia Hidup untuk Mengabdi

Setelah mengenang awal kedatangannya, Kivlan menyampaikan ucapan selamat ulang tahun kepada Syaykh Al-Zaytun. Ia kemudian mengajak hadirin merenungkan tujuan kehidupan manusia.

Menurutnya, seluruh manusia berasal dari Allah Swt. Kehadiran manusia di dunia bukan semata-mata untuk menjalani kehidupan, melainkan untuk mengabdi kepada-Nya.

Pandangan tersebut menempatkan kehidupan sebagai amanah. Manusia memperoleh waktu, kemampuan, pengetahuan, dan kesempatan bukan hanya untuk memenuhi kepentingan pribadinya.

Semua yang dimiliki perlu diarahkan menjadi jalan pengabdian. Pengabdian kepada Tuhan diwujudkan melalui ketaatan, tetapi juga dapat tercermin dalam pelayanan kepada manusia.

Mendidik generasi muda merupakan bentuk pengabdian. Membantu masyarakat, menjaga bangsa, membangun lembaga, dan menebarkan ilmu juga merupakan bagian dari tanggung jawab kehidupan.

Dengan demikian, nilai seseorang tidak hanya dilihat dari apa yang berhasil dikumpulkannya. Ukuran yang lebih penting adalah seberapa besar manfaat yang telah diberikannya.

Syaykh Al-Zaytun memilih pendidikan sebagai salah satu jalan utama pengabdian. Melalui pendidikan, manusia dibentuk agar memiliki ilmu, karakter, keterampilan, dan kesadaran untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Delapan Dekade Perjalanan Pengabdian

Kivlan menyatakan bahwa pengabdian Syaykh Al-Zaytun telah berlangsung sangat panjang. Pada 30 Juli 2026, Syaykh mencapai usia delapan puluh tahun.

Delapan dekade merupakan rentang kehidupan yang menyimpan banyak pengalaman. Di dalamnya terdapat masa belajar, pencarian gagasan, pembangunan jaringan, pelaksanaan cita-cita, serta upaya membentuk lembaga pendidikan.

Selama perjalanan tersebut, keadaan masyarakat dan bangsa terus berubah. Syaykh hidup melewati berbagai periode dalam sejarah Indonesia, perubahan politik, perkembangan teknologi, serta transformasi dunia pendidikan.

Perubahan tersebut menuntut kemampuan beradaptasi. Pemimpin tidak dapat hanya mengandalkan pengalaman masa lalu. Ia harus terus membaca keadaan dan memperbarui langkah.

Namun, pembaruan tidak berarti kehilangan tujuan. Bentuk dan strategi dapat berubah, tetapi orientasi pengabdian harus tetap dijaga.

Menurut Kivlan, perjalanan usia ke-80 menunjukkan adanya dedikasi yang luar biasa. Syaykh tidak hanya menjalani kehidupan untuk kepentingannya sendiri, tetapi juga membangun lingkungan pendidikan dan pembinaan masyarakat.

Usia menjadi semakin berarti ketika setiap tahapnya meninggalkan ilmu, pengalaman, dan karya yang dapat diteruskan.

Pasang Surut sebagai Bagian Perjuangan

Salah satu pesan penting Kivlan adalah bahwa dalam perjalanan perjuangan selalu terdapat masa naik dan masa turun.

Tidak ada perjuangan yang seluruhnya berjalan dalam keberhasilan. Ada masa ketika dukungan mengalir, program berkembang, dan pencapaian memperoleh penghargaan.

Namun, ada pula masa ketika kritik datang, tantangan meningkat, dan langkah terasa semakin berat.

Menurut Kivlan, seluruhnya merupakan bagian dari kehidupan. Masa naik dan turun tidak dapat sepenuhnya dihindari.

Ketika berada pada masa keberhasilan, manusia diuji melalui kemampuannya bersyukur. Ia perlu menyadari bahwa hasil yang dicapai tidak hanya berasal dari kekuatan dirinya.

Di dalam keberhasilan terdapat kerja banyak orang, dukungan keluarga, pengorbanan sahabat, dan pertolongan Tuhan.

Sementara itu, masa sulit menguji kesabaran dan keteguhan. Pada keadaan tersebut terlihat apakah seseorang benar-benar memegang cita-citanya atau hanya bergerak ketika memperoleh pujian.

Pengabdian yang tulus tidak berhenti hanya karena keadaan berubah. Ia mungkin menyesuaikan cara, tetapi tetap menjaga arah.

Menjaga Nyala di Tengah Perubahan

Nyala pengabdian tidak selalu berbentuk kegiatan besar. Pada masa tertentu, ia terlihat dalam kemampuan terus bekerja. Pada masa lain, ia hadir melalui keteguhan mempertahankan gagasan dan membimbing generasi penerus.

Seorang pemimpin yang telah memasuki usia lanjut mungkin tidak lagi melakukan seluruh pekerjaan secara langsung. Namun, pengalaman dan pandangannya dapat menjadi sumber arah.

Peran tersebut sangat penting dalam regenerasi. Generasi baru memerlukan pedoman, tetapi juga perlu diberikan kepercayaan untuk mengambil tanggung jawab.

Apabila seluruh gagasan bergantung pada satu orang, keberlanjutannya akan menjadi lemah. Karena itu, nilai dan pengalaman harus ditanamkan ke dalam sistem serta diwariskan kepada manusia yang mampu melanjutkannya.

Menjaga nyala pengabdian berarti memastikan bahwa semangat tersebut tidak padam ketika generasi berganti.

Syaykh telah menanamkan berbagai gagasan melalui lembaga pendidikan. Tanggung jawab berikutnya berada pada guru, dosen, santri, mahasiswa, alumni, dan seluruh keluarga besar Al-Zaytun untuk meneruskan serta mengembangkannya.

Menjadi Bagian dari Keluarga Besar Ma’had

Kivlan Zein menyampaikan bahwa dirinya merasa telah menjadi bagian dari keluarga besar Ma’had Al-Zaytun. Perasaan itu tumbuh karena ia ikut mengajar di lembaga tersebut bersama Prof. Dr. Ermaya Suradinata.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa hubungannya dengan Al-Zaytun tidak lagi terbatas pada kunjungan pertama pada 2014.

Keterlibatan dalam pendidikan membuatnya berhubungan langsung dengan proses pembentukan mahasiswa. Mengajar bukan hanya menyampaikan materi, tetapi juga membagikan pengalaman dan cara membaca kehidupan.

Sebagai purnawirawan militer, Kivlan membawa pengalaman yang berbeda ke dalam ruang akademik. Pengalaman tersebut dapat memperkaya pemahaman mahasiswa mengenai kepemimpinan, pertahanan, kedisiplinan, dan kehidupan kebangsaan.

Pendidikan tinggi membutuhkan pertemuan antara teori dan praktik. Buku memberikan konsep, sedangkan pengalaman membantu manusia melihat penerapan konsep dalam kenyataan.

Mahasiswa yang berinteraksi dengan tokoh berpengalaman memperoleh kesempatan untuk memahami bahwa keputusan dalam kehidupan nyata sering kali melibatkan keadaan yang kompleks.

Menjadi bagian dari keluarga besar lembaga juga mengandung tanggung jawab moral. Seseorang tidak hanya datang dan pergi, tetapi turut memikirkan perkembangan serta masa depannya.

Penghargaan kepada Ummi

Dalam sambutannya, Kivlan menyampaikan penghargaan kepada Ummi yang selama ini setia mendampingi Syaykh Al-Zaytun.

Ia mendoakan agar Ummi selalu diberikan kebahagiaan.

Penghargaan tersebut menunjukkan kesadaran bahwa perjalanan seorang tokoh tidak berlangsung seorang diri. Di balik aktivitas dan pengabdian publik terdapat keluarga yang memberikan dukungan.

Pendamping hidup hadir dalam berbagai keadaan. Ia menyertai ketika keberhasilan dirayakan, tetapi juga bertahan ketika tantangan datang.

Dukungan tersebut tidak selalu terlihat oleh masyarakat. Namun, kesetiaan keluarga dapat menjadi sumber kekuatan yang sangat penting.

Seorang pemimpin menghadapi berbagai tuntutan, keputusan, dan tekanan. Kehadiran keluarga yang memahami perjuangannya memberikan ruang untuk menjaga keseimbangan batin.

Karena itu, Milad Syaykh juga menjadi momentum untuk menghargai Ummi serta seluruh anggota keluarga yang ikut membersamai perjalanan panjang tersebut.

Angka Delapan dan Perjalanan yang Berlanjut

Kivlan memberikan pemaknaan terhadap angka delapan sebagai simbol perjalanan yang terus berlanjut.

Baginya, usia delapan puluh tidak menandai berakhirnya pengabdian. Usia tersebut justru menjadi bagian dari perjalanan yang masih memiliki ruang untuk diteruskan.

Pencapaian delapan dekade menyediakan pengalaman yang sangat berharga. Pengalaman itu dapat digunakan untuk memberikan arah dan menghindarkan generasi berikutnya dari kesalahan yang sama.

Perjalanan berkelanjutan juga berarti bahwa karya seorang tokoh tidak berhenti pada kehadiran fisiknya. Gagasan dapat terus hidup melalui manusia yang dididik dan sistem yang dibangun.

Sebuah lembaga pendidikan menjadi salah satu bentuk keberlanjutan tersebut. Setiap tahun, lembaga menerima peserta didik baru, menjalankan pembelajaran, dan melahirkan lulusan.

Generasi berganti, tetapi nilai yang ditanamkan dapat terus dipelihara.

Dalam konteks inilah usia delapan puluh menjadi momentum untuk memperkuat proses pewarisan, bukan sekadar mengenang masa lalu.

Pengabdian kepada Bangsa, Agama, dan Masyarakat

Kivlan memandang perjalanan Syaykh Al-Zaytun sebagai pengabdian kepada bangsa, agama, dan masyarakat.

Ketiga bidang tersebut tidak harus dipisahkan. Pengabdian kepada agama dapat diwujudkan melalui karya yang memperkuat kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas masyarakat.

Pendidikan menjadi titik pertemuan yang sangat penting. Melalui pendidikan, nilai agama diterjemahkan menjadi ilmu, etika, kedisiplinan, dan tanggung jawab sosial.

Bangsa membutuhkan manusia yang terdidik agar mampu mengelola negara, teknologi, ekonomi, dan sumber daya.

Masyarakat membutuhkan pendidikan agar dapat meningkatkan kualitas kehidupan serta menghadapi perubahan.

Agama memberikan orientasi moral agar pengetahuan dan kekuasaan digunakan untuk kebaikan, bukan untuk merendahkan atau merusak manusia.

Karena itu, membangun pendidikan merupakan bentuk pengabdian yang memiliki dimensi keagamaan, kebangsaan, dan kemasyarakatan sekaligus.

Kesehatan untuk Melanjutkan Karya

Kivlan kemudian mendoakan agar Syaykh memperoleh kesehatan.

Pada usia delapan puluh tahun, kesehatan merupakan karunia yang sangat penting. Dengan kesehatan, seseorang masih dapat membaca, berpikir, berdiskusi, dan memberikan arahan.

Kesehatan memungkinkan pengalaman panjang tetap dibagikan kepada generasi penerus.

Doa tersebut tidak hanya berkaitan dengan kepentingan pribadi Syaykh. Kesehatannya juga memiliki hubungan dengan keberlanjutan gagasan dan program yang masih dikembangkan.

Seorang pemimpin yang sehat dapat terus mendampingi proses regenerasi. Ia dapat memberikan koreksi, menjelaskan nilai dasar, dan membantu generasi baru memahami sejarah lembaga.

Namun, kesehatan juga perlu disyukuri dengan menjaga keseimbangan. Pengabdian yang panjang membutuhkan kemampuan merawat tubuh dan pikiran.

Kekuatan dalam Menghadapi Tantangan

Selain kesehatan, Kivlan mendoakan agar Syaykh diberikan kekuatan.

Kekuatan tidak hanya berkaitan dengan fisik. Dalam perjalanan panjang, manusia membutuhkan kekuatan batin, pikiran, dan keyakinan.

Kekuatan batin membuat seseorang tidak mudah runtuh ketika menghadapi tekanan. Kekuatan pikiran membantu manusia melihat persoalan secara jernih.

Adapun kekuatan keyakinan menjaga agar tujuan pengabdian tidak hilang karena perubahan keadaan.

Pada masa sulit, seseorang dapat mengalami kelelahan. Dukungan mungkin berkurang, sedangkan tuntutan terus bertambah.

Dalam keadaan seperti itu, kekuatan menjadi kemampuan untuk tetap berjalan tanpa kehilangan nilai.

Kivlan melihat perjalanan naik dan turun sebagai sesuatu yang wajar. Karena itu, doa bagi kekuatan menjadi doa agar Syaykh tetap mampu menghadapi setiap tahap perjalanan.

Keberkahan dalam Pengabdian

Kivlan juga memohon agar pengabdian Syaykh senantiasa dipenuhi keberkahan.

Keberkahan tidak hanya diukur dari besarnya hasil yang terlihat. Karya menjadi berkah ketika manfaatnya terus dirasakan dan berkembang.

Sebuah ilmu menjadi berkah apabila diteruskan oleh peserta didik. Sebuah lembaga menjadi berkah apabila mampu membentuk manusia yang memberikan manfaat kepada masyarakat.

Usia menjadi berkah ketika digunakan untuk berbuat baik. Kedudukan menjadi berkah ketika dipakai untuk melayani.

Doa bagi keberkahan berarti harapan agar seluruh perjalanan Syaykh tidak berhenti pada pencapaian personal, tetapi menjadi sumber kebaikan bagi banyak manusia.

Rahmat Allah sebagai Penjaga Perjalanan

Kivlan mendoakan agar Syaykh senantiasa memperoleh rahmat Allah Swt.

Rahmat mengandung kasih sayang, pertolongan, dan perlindungan Tuhan. Kesadaran terhadap rahmat menjaga manusia agar tidak merasa berjalan hanya dengan kekuatannya sendiri.

Ketika berhasil, manusia tetap rendah hati karena memahami bahwa terdapat pertolongan Tuhan dan kontribusi banyak pihak.

Ketika menghadapi kesulitan, keyakinan terhadap rahmat membuatnya tidak mudah berputus asa.

Setiap masa naik dan turun dapat dijalani dengan lebih tenang apabila manusia memiliki pegangan spiritual.

Karena itu, salam yang disampaikan Kivlan pada awal sambutan menemukan hubungannya dengan doa pada bagian akhir: perjalanan pengabdian diharapkan senantiasa berada dalam kedamaian dan kasih sayang Tuhan Yang Maha Penyayang.

Milad sebagai Refleksi Kolektif

Ucapan selamat Kivlan tidak hanya ditujukan kepada Syaykh. Ia juga menyampaikannya kepada Ummi dan seluruh keluarga besar Al-Zaytun.

Peringatan hari lahir memang berpusat pada seseorang, tetapi kebahagiaannya dirasakan secara kolektif.

Demikian pula pencapaian sebuah lembaga. Di dalamnya terdapat keterlibatan para pendidik, pekerja, santri, mahasiswa, alumni, wali santri, sahabat, dan keluarga.

Tidak ada lembaga besar yang dibangun hanya oleh satu manusia. Pemimpin memberikan arah, tetapi pelaksanaan membutuhkan kerja bersama.

Karena itu, Milad menjadi ruang untuk mensyukuri kerja kolektif yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Syukur tersebut harus menjadi tenaga untuk memperkuat kebersamaan. Tantangan masa depan tidak akan lebih ringan apabila dihadapi secara terpisah.

Menjaga Nyala bagi Generasi Berikutnya

Pesan Kivlan Zein pada akhirnya mengarah kepada satu kesadaran penting: pengabdian harus terus dijaga dan diwariskan.

Delapan puluh tahun merupakan perjalanan yang panjang, tetapi pekerjaan pendidikan tidak pernah benar-benar selesai.

Setiap tahun lahir generasi baru dengan persoalan baru. Teknologi berubah, masyarakat berkembang, dan tantangan kehidupan semakin kompleks.

Nilai dasar perlu dipertahankan, sedangkan cara pelaksanaannya harus terus diperbarui.

Generasi penerus tidak cukup hanya mengagumi karya pendahulunya. Mereka harus memahami nilai yang melandasinya dan memiliki keberanian mengembangkannya.

Menjaga nyala pengabdian berarti memastikan bahwa semangat membangun pendidikan, mengabdi kepada bangsa, dan memberikan manfaat kepada masyarakat tetap hidup.

Api tersebut tidak boleh hanya menyala dalam diri seorang pemimpin. Ia harus berpindah kepada guru, dosen, mahasiswa, santri, dan alumni.

Delapan Dekade yang Belum Selesai

Peringatan Hari Lahir Ke-80 Syaykh Al-Zaytun menjadi ruang untuk melihat kembali perjalanan yang telah dilalui sekaligus memandang masa depan.

Kivlan Zein mengenang awal kedatangannya pada 2014, ketika ia berbicara selama tiga setengah jam di masjid Al-Zaytun. Dari kunjungan itu, hubungan terus berkembang hingga dirinya menjadi pengajar dan merasa sebagai bagian dari keluarga besar Ma’had.

Ia menyaksikan usia Syaykh mencapai delapan puluh tahun dan memaknainya sebagai perjalanan pengabdian yang luar biasa.

Dalam perjalanan tersebut terdapat masa naik dan turun. Namun, seluruhnya merupakan bagian dari kehidupan yang harus diterima, dipelajari, dan dihadapi.

Pengabdian tidak diukur dari ketiadaan tantangan. Ia justru terlihat dari kemampuan menjaga arah ketika keadaan berubah.

Pada usia delapan puluh, Syaykh Al-Zaytun dipandang masih memiliki perjalanan yang harus dilanjutkan. Gagasan perlu diwariskan, pendidikan harus terus dikembangkan, dan generasi penerus harus dipersiapkan.

Tema “Menyukuri Pencapaian dan Terus Melangkah Menuju Kemajuan” menemukan maknanya dalam refleksi tersebut.

Mensyukuri pencapaian berarti menghargai delapan dekade perjalanan, karya, persahabatan, dan pengabdian. Terus melangkah menuju kemajuan berarti memastikan bahwa nyala itu tidak padam.

Dengan doa agar Syaykh memperoleh rahmat, kesehatan, kekuatan, dan keberkahan, Kivlan Zein menutup sambutannya.

Pesannya mengingatkan bahwa manusia tidak hadir di dunia hanya untuk hidup. Kehidupan menjadi bermakna ketika digunakan untuk mengabdi.

Delapan dekade telah dilalui, tetapi nyala pengabdian masih harus terus dijaga oleh Syaykh, oleh keluarga besar Al-Zaytun, dan oleh generasi yang kelak menerima tanggung jawab untuk meneruskan karya bagi agama, bangsa, serta masyarakat.

 

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.