25/08/2026

MDINEWS INDRAMAYU

MEDIA ASPIRASI BUDAYA BANGSA

Pembaruan Pendidikan dari Al-Zaytun: Dari Sistem Semester Menuju Novum Gradum dan L-STEAM

Oleh: Ali Aminulloh
(Disarikan dari ungkapan Sjafrudin Ahmad, sahabat Syaykh Al-Zaytun)

Sebuah lembaga pendidikan tidak disebut maju hanya karena memiliki bangunan yang luas dan fasilitas yang lengkap. Kemajuan sejatinya terlihat dari keberanian mengubah cara lama, membaca kebutuhan zaman, dan menghadirkan sistem baru yang dapat mempersiapkan manusia menghadapi masa depan. Pembaruan semacam itulah yang dibaca Sjafrudin Ahmad, SH., MH. dalam perjalanan Syaykh Al-Zaytun, Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang.

Menurutnya, sejak awal berdirinya Ma’had Al-Zaytun, Syaykh telah menunjukkan keberanian untuk tidak sekadar mengikuti pola pendidikan yang umum berlaku. Ketika sistem pendidikan nasional masih banyak menggunakan pendekatan tahunan, Al-Zaytun telah menerapkan sistem semester. Ketika jenjang pendidikan masih disebut kelas satu sekolah menengah pertama, Al-Zaytun memilih penamaan berkelanjutan dari kelas tujuh hingga kelas dua belas.

Gagasan tersebut mungkin terlihat biasa apabila dibaca dari keadaan pendidikan hari ini. Namun, pada masa awal penerapannya, pilihan itu menunjukkan kemampuan melihat arah perubahan jauh sebelum sistem tersebut digunakan secara lebih luas.

Kesaksian itu disampaikan Sjafrudin Ahmad dalam rangkaian Peringatan Hari Lahir Ke-80 Syaykh Al-Zaytun, Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang, pada Kamis, 30 Juli 2026. Acara tersebut mengusung tema “Menyukuri Pencapaian dan Terus Melangkah Menuju Kemajuan” serta dihadiri keluarga besar Al-Zaytun, para eksponen, guru, dosen, alumni, wali santri, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan sejumlah tamu kehormatan.

Di hadapan para hadirin, Sjafrudin menyebut Syaykh Al-Zaytun sebagai pembaharu dan tokoh reformasi yang telah memberikan pengabdian bagi umat, bangsa, dan peradaban. Sambutannya tidak hanya memuat ucapan selamat atas usia ke-80, tetapi juga menjadi pembacaan terhadap berbagai gagasan pendidikan, keagamaan, kebangsaan, dan kemandirian yang dikembangkan Syaykh Al-Zaytun.

Milad Ke-80 sebagai Momentum Membaca Perjalanan

Sjafrudin mengawali sambutannya dengan menyampaikan penghormatan kepada Syaykh Al-Zaytun, yang diperkenalkannya sebagai kandidat doktor ilmu hukum dan magister pertanian. Penghormatan juga disampaikan kepada Sultan Paser XVIII, Dr. Sultan Muhammad Adrian, S.ST., M.B.A.; Ketua Yayasan Pesantren Indonesia, Datuk Sir Imam Prawoto, S.E., M.B.A.; Prof. Connie Rahakundini Bakrie, M.Si.; serta seluruh keluarga besar Al-Zaytun.

Rangkaian penghormatan tersebut memperlihatkan bahwa peringatan Milad ke-80 menjadi ruang perjumpaan berbagai unsur masyarakat. Hadir tokoh pendidikan, kerajaan Nusantara, akademisi, pemikir, pemuka agama, alumni, serta para pendidik.

Di tengah suasana penuh kebahagiaan itu, Sjafrudin mengajak hadirin memanjatkan rasa syukur kepada Allah Swt. Menurutnya, usia ke-80 bukan sekadar pencapaian biologis, tetapi perjalanan panjang yang memuat hikmah, ketekunan, pengabdian, dan karya nyata.

Delapan dekade kehidupan menunjukkan adanya proses panjang yang tidak selalu mudah. Di dalamnya terdapat masa belajar, perjuangan membangun gagasan, menghadapi tantangan, mengembangkan lembaga, dan mempersiapkan generasi penerus.

Karena itu, Milad bukan hanya waktu untuk menyampaikan selamat. Momentum tersebut menjadi kesempatan untuk membaca kembali nilai-nilai yang telah ditanamkan dan menentukan bagian mana yang harus diteruskan oleh generasi berikutnya.

Membawa Pembaruan melalui Pendidikan

Dalam pandangan Sjafrudin, Syaykh Al-Zaytun merupakan tokoh pembaruan yang menggunakan pendidikan sebagai jalan utama perubahan.

Pendidikan memiliki kekuatan membentuk cara berpikir, karakter, keterampilan, dan orientasi kehidupan manusia. Perubahan melalui pendidikan mungkin tidak selalu menghasilkan dampak dalam waktu singkat. Namun, pengaruhnya dapat bertahan lama karena bekerja langsung pada pembentukan manusia.

Seorang pembaharu pendidikan tidak cukup hanya mendirikan sekolah. Ia harus mampu melihat kelemahan sistem yang sedang berlaku, membaca kebutuhan masyarakat, dan menawarkan cara yang lebih relevan.

Keberanian memperbarui pendidikan juga menuntut kesiapan menghadapi kritik. Gagasan yang belum umum sering kali dianggap asing. Sistem baru dapat menimbulkan keraguan karena masyarakat terbiasa dengan pola yang telah berjalan lama.

Namun, tanpa keberanian mencoba, pendidikan hanya akan mengulang masa lalu. Ia mungkin menghasilkan lulusan, tetapi belum tentu mempersiapkan manusia menghadapi perubahan masa depan.

Dalam konteks itulah Sjafrudin menempatkan pembaruan yang dilakukan Syaykh Al-Zaytun.

Penerapan Sistem Semester Sejak Awal

Salah satu contoh pembaruan yang disampaikan adalah penerapan sistem semester sejak awal berdirinya Ma’had Al-Zaytun pada 1999.

Menurut Sjafrudin, pada masa tersebut sistem pendidikan di Indonesia masih banyak menggunakan sistem tahunan. Penentuan kenaikan kelas atau tinggal kelas dilakukan pada akhir tahun pembelajaran.

Al-Zaytun memilih menggunakan sistem semester. Pembagian tahun pembelajaran ke dalam dua periode memberikan ruang bagi evaluasi yang lebih teratur dan pengelolaan pembelajaran yang lebih sistematis.

Sistem semester memungkinkan lembaga memantau perkembangan peserta didik dalam rentang waktu yang lebih pendek. Guru dapat mengevaluasi capaian, menemukan kelemahan, dan menyesuaikan strategi pembelajaran tanpa harus menunggu satu tahun penuh.

Bagi peserta didik, sistem tersebut memberikan pengalaman belajar yang lebih terukur. Target pembelajaran dapat dibagi ke dalam tahapan yang jelas sehingga perkembangan akademik lebih mudah dipantau.

Pilihan tersebut menunjukkan bahwa sejak awal Al-Zaytun telah memiliki perhatian terhadap tata kelola pendidikan. Pembaruan tidak hanya dilakukan melalui materi ajar, tetapi juga melalui sistem, waktu pembelajaran, dan metode evaluasi.

Pesantren Spirit and Modern System

Sjafrudin juga menyinggung tema besar yang diperkenalkan Syaykh Al-Zaytun, yaitu “Pesantren Spirit and Modern System.”

Gagasan tersebut mempertemukan dua unsur yang terkadang dianggap berlawanan: jiwa pesantren dan sistem modern.

Jiwa pesantren mencakup ketekunan belajar, kedisiplinan, kesederhanaan, kebersamaan, penghormatan kepada guru, pembinaan akhlak, dan kedalaman spiritual. Adapun sistem modern berkaitan dengan tata kelola, penggunaan teknologi, organisasi yang terukur, pembelajaran yang sistematis, dan keterbukaan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

Mempertahankan jiwa pesantren tidak berarti menolak modernitas. Sebaliknya, menggunakan sistem modern tidak harus menghilangkan nilai-nilai pesantren.

Keduanya dapat dipertemukan untuk membentuk pendidikan yang memiliki akar sekaligus mampu bergerak mengikuti perkembangan zaman. Tradisi memberikan orientasi nilai, sedangkan modernitas menyediakan perangkat untuk meningkatkan kualitas dan efektivitas pendidikan.

Tanpa jiwa pesantren, modernisasi dapat kehilangan dasar moral. Pendidikan mungkin menjadi efisien, tetapi tidak selalu membentuk karakter.

Sebaliknya, tanpa sistem modern, nilai-nilai pesantren dapat kesulitan berkembang dalam menghadapi kompleksitas masyarakat kontemporer.

Melalui gagasan tersebut, Al-Zaytun berusaha menunjukkan bahwa pendidikan Islam dapat menjaga identitasnya sekaligus menggunakan pendekatan modern.

Penjenjangan Kelas Tujuh hingga Dua Belas

Pembaruan lain yang disebut Sjafrudin adalah penggunaan penjenjangan pendidikan dari kelas tujuh hingga kelas dua belas.

Ketika lulusan sekolah dasar pada umumnya disebut memasuki kelas satu sekolah menengah pertama, Al-Zaytun memilih melanjutkan urutan kelas menjadi kelas tujuh. Setelah itu, peserta didik bergerak menuju kelas delapan, sembilan, sepuluh, sebelas, dan dua belas sebelum memasuki perguruan tinggi.

Penamaan tersebut menggambarkan kesinambungan proses pendidikan. Perpindahan dari tingkat dasar menuju menengah tidak dipandang sebagai permulaan yang sepenuhnya baru, tetapi sebagai kelanjutan dari proses belajar yang telah ditempuh.

Cara pandang berkelanjutan memiliki arti penting. Pendidikan manusia tidak terputus hanya karena berpindah jenjang atau lembaga. Pengetahuan, karakter, dan keterampilan yang dibentuk pada tahap sebelumnya menjadi fondasi bagi perkembangan berikutnya.

Menurut Sjafrudin, sistem tersebut kemudian menjadi inspirasi bagi perkembangan pendidikan di Indonesia.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa pembaruan dapat bermula dari sebuah lembaga, kemudian memperoleh penerimaan yang lebih luas. Gagasan yang pada awalnya dianggap tidak biasa dapat berubah menjadi pola umum apabila terbukti relevan dan bermanfaat.

Reformasi yang Tidak Pernah Berhenti

Sjafrudin menggambarkan Syaykh Al-Zaytun sebagai reformis yang tidak pernah kehabisan ide dan pemikiran.

Pembaruan baginya bukan kegiatan sesaat. Setelah suatu sistem berhasil diterapkan, selalu muncul pertanyaan mengenai langkah berikutnya.

Pendidikan terus menghadapi perubahan. Perkembangan teknologi mengubah cara manusia memperoleh informasi. Dunia kerja mengalami transformasi. Persoalan lingkungan semakin kompleks. Hubungan sosial juga berubah seiring berkembangnya ruang digital.

Karena itu, sistem pendidikan yang dianggap maju pada satu masa dapat menjadi tertinggal apabila tidak terus dikaji.

Menurut Sjafrudin, hingga usia ke-80 Syaykh masih menggagas reformasi pendidikan Indonesia. Gagasan tersebut didiskusikan bersama para profesor dari berbagai disiplin ilmu.

Keterlibatan berbagai bidang keilmuan menunjukkan bahwa persoalan pendidikan tidak dapat diselesaikan hanya dari satu perspektif. Pendidikan berkaitan dengan psikologi, teknologi, ekonomi, hukum, kebudayaan, agama, lingkungan, dan kebutuhan pembangunan bangsa.

Dialog lintas disiplin diperlukan agar reformasi tidak hanya menarik secara konseptual, tetapi juga dapat dilaksanakan secara nyata.

Novum Gradum sebagai Langkah Baru

Salah satu istilah yang digunakan dalam reformasi pendidikan Al-Zaytun adalah Novum Gradum.

Secara konseptual, istilah tersebut dapat dipahami sebagai sebuah langkah atau tingkatan baru. Dalam konteks sambutan Sjafrudin, Novum Gradum menjadi semangat untuk membawa pendidikan menuju tahap perkembangan yang lebih tinggi.

Langkah baru tidak selalu berarti menghapus seluruh sistem lama. Pembaruan dapat dilakukan dengan mempertahankan unsur yang masih relevan, memperbaiki kelemahan, serta menambahkan pendekatan baru yang dibutuhkan.

Novum Gradum juga mencerminkan kesadaran bahwa pendidikan tidak boleh berjalan di tempat. Ia harus berani melakukan lompatan ketika masyarakat dan dunia mengalami perubahan cepat.

Lompatan tersebut harus tetap memiliki dasar. Gagasan baru memerlukan kajian, diskusi, eksperimen, dan evaluasi. Tanpa proses itu, pembaruan berisiko hanya menjadi slogan.

Karena itu, Sjafrudin menegaskan adanya komitmen untuk mendukung dan membersamai keberhasilan reformasi tersebut. Sebuah gagasan besar memang tidak dapat diwujudkan sendirian.

Ia membutuhkan guru, dosen, pengelola, peneliti, santri, orang tua, serta berbagai unsur masyarakat yang bersedia bekerja sama.

L-STEAM dalam Kurikulum

Selain Novum Gradum, Sjafrudin menyebut penerapan prinsip L-STEAM dalam kurikulum.

Dalam naskah sambutan, istilah tersebut tidak dijelaskan secara terperinci. Namun, penyebutannya menunjukkan adanya upaya mengembangkan pembelajaran lintas bidang yang tidak hanya bergantung pada satu cabang pengetahuan.

Pendekatan lintas disiplin diperlukan karena persoalan kehidupan tidak hadir secara terpisah. Ketahanan pangan, misalnya, membutuhkan pengetahuan tentang sains, teknologi, lingkungan, ekonomi, dan manajemen.

Pembangunan kemaritiman memerlukan ilmu kelautan, teknik, matematika, teknologi, tata kelola, serta wawasan kebangsaan. Demikian pula pendidikan modern membutuhkan kemampuan bahasa, ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan pembentukan karakter.

Kurikulum yang menghubungkan berbagai disiplin dapat membantu peserta didik memahami hubungan antara teori dan kehidupan.

Mereka tidak hanya belajar rumus, tetapi juga memahami penggunaannya. Mereka tidak hanya membaca konsep, tetapi berlatih memecahkan masalah.

Namun, karena sumber sambutan tidak menguraikan kepanjangan maupun struktur L-STEAM secara teknis, gagasan tersebut belum dapat dijelaskan lebih jauh tanpa menggunakan informasi tambahan di luar naskah.

Usia Delapan Puluh dan Keberkahan Pengabdian

Bagi Sjafrudin, usia delapan puluh bukan sekadar angka. Ia merupakan simbol perjalanan yang penuh hikmah, ketekunan, dan pengabdian.

Syaykh Al-Zaytun telah melewati delapan dekade dengan terus berkarya melalui pendidikan dan pembinaan masyarakat. Panjang usia tersebut dipandang sebagai karunia Allah berupa kesehatan, kekuatan, dan kesempatan untuk memberikan manfaat.

Keberkahan usia tidak hanya diukur dari jumlah tahun, tetapi juga dari cahaya ilmu, iman, karya, dan kasih sayang yang ditinggalkan.

Manusia yang berumur panjang tetapi tidak memberikan manfaat mungkin hanya meninggalkan catatan waktu. Sebaliknya, manusia yang menggunakan usianya untuk mendidik, membangun, dan mengabdi meninggalkan pengaruh yang dapat melampaui kehidupan biologisnya.

Dalam pandangan Sjafrudin, Syaykh terus menebarkan cahaya ilmu melalui pendidikan. Ia juga menanamkan nilai iman sebagai dasar moral dan mendorong lahirnya karya nyata sebagai bentuk pengabdian.

Pemimpin, Pendidik, dan Guru Bangsa

Sjafrudin tidak hanya menyebut Syaykh Al-Zaytun sebagai pemimpin. Ia juga menggambarkannya sebagai pendidik dan guru besar bangsa.

Seorang pemimpin mengarahkan lembaga. Seorang pendidik membentuk manusia. Sementara itu, guru bangsa menanamkan nilai dan gagasan yang manfaatnya melampaui lingkungan terdekatnya.

Dalam peran tersebut, Syaykh menempatkan iman sebagai fondasi moral. Iman tidak hanya dipahami sebagai keyakinan batin, tetapi harus tercermin dalam sikap dan tindakan.

Ilmu ditempatkan sebagai cahaya kehidupan. Dengan ilmu, manusia dapat membedakan, memahami, merencanakan, dan menghasilkan karya.

Namun, iman dan ilmu belum lengkap tanpa amal. Amal merupakan bentuk nyata dari keyakinan dan pengetahuan.

Seseorang mungkin memahami kebaikan, tetapi nilai itu belum memberikan manfaat apabila tidak diwujudkan. Karena itu, iman, ilmu, dan amal membentuk satu kesatuan.

Iman memberikan arah, ilmu menyediakan kemampuan, dan amal menghadirkan manfaat.

Agama sebagai Energi Peradaban

Dalam kesaksian Sjafrudin, Syaykh Al-Zaytun menunjukkan bahwa agama bukan sekadar ritual.

Ritual memiliki posisi penting sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan. Namun, agama juga harus menjadi energi yang menggerakkan manusia membangun peradaban.

Energi agama terlihat ketika keyakinan mendorong perubahan sosial, memperkuat persaudaraan, meneguhkan persatuan, dan mengarahkan manusia kepada pengabdian.

Agama yang hanya berhenti pada simbol berisiko kehilangan daya transformasinya. Sebaliknya, agama yang diterjemahkan menjadi pendidikan, pelayanan, perdamaian, dan kesejahteraan dapat memberikan manfaat luas.

Menurut Sjafrudin, Syaykh berusaha melanjutkan warisan para nabi dan rasul. Para nabi tidak hanya mengajarkan ritual, tetapi juga membawa pesan moral, keadilan, kemanusiaan, dan pembebasan.

Warisan tersebut perlu dihadirkan dalam kehidupan modern melalui pendidikan dan karya nyata.

Melahirkan Generasi Berilmu dan Berakhlak

Sjafrudin menyatakan bahwa seluruh hadirin menjadi saksi bagaimana Syaykh Al-Zaytun bersama sivitas membangun lembaga pendidikan dan melahirkan generasi berilmu serta berakhlak.

Pernyataan itu menempatkan pembangunan sebagai kerja kolektif. Gagasan dapat berasal dari seorang pemimpin, tetapi pelaksanaannya membutuhkan keterlibatan banyak orang.

Guru mengajar dan membimbing. Dosen mengembangkan pengetahuan. Pengelola menjaga sistem. Santri menjalani proses pembelajaran. Orang tua memberikan kepercayaan dan dukungan.

Tujuan akhirnya bukan hanya menghasilkan lulusan yang memiliki pengetahuan. Pendidikan harus melahirkan manusia yang memiliki akhlak.

Ilmu tanpa akhlak dapat digunakan untuk menipu, mengeksploitasi, dan merusak. Sebaliknya, akhlak tanpa ilmu dapat membuat niat baik tidak mampu menyelesaikan persoalan yang kompleks.

Karena itu, keduanya harus dikembangkan secara beriringan.

Toleransi, Perdamaian, dan Kesetaraan

Syaykh juga dipandang memberikan teladan dalam mengajarkan toleransi, perdamaian, dan persaudaraan dalam kesetaraan.

Toleransi merupakan kemampuan menghormati keberadaan orang lain yang memiliki keyakinan, pandangan, atau latar belakang berbeda.

Perdamaian bukan sekadar ketiadaan konflik. Perdamaian membutuhkan keadilan, dialog, penghormatan, dan kesediaan bekerja sama.

Adapun persaudaraan dalam kesetaraan menunjukkan bahwa hubungan antarmanusia tidak boleh dibangun melalui sikap merasa lebih tinggi dan merendahkan pihak lain.

Setiap manusia memiliki martabat yang harus dihormati. Perbedaan jabatan, pendidikan, agama, suku, dan ekonomi tidak menghilangkan nilai kemanusiaan.

Pendidikan memiliki peran besar dalam menanamkan nilai tersebut. Generasi muda perlu belajar bahwa kekuatan tidak digunakan untuk menindas dan pengetahuan tidak digunakan untuk mempermalukan.

Toleransi harus tumbuh menjadi kebiasaan hidup, bukan hanya materi ceramah.

Menghubungkan Ajaran Ilahi dan Keindonesiaan

Sjafrudin melihat kemampuan Syaykh Al-Zaytun menghubungkan nilai ajaran ilahi dengan semangat kebangsaan dan keindonesiaan.

Hubungan tersebut penting karena agama dan kebangsaan terkadang dipertentangkan secara keliru. Padahal, keyakinan dapat menjadi sumber moral untuk mencintai dan membangun bangsa.

Semangat kebangsaan memberikan ruang bagi manusia untuk mewujudkan nilai agamanya dalam kehidupan bersama. Pengabdian kepada negara dapat diwujudkan melalui pendidikan, pelayanan, perlindungan lingkungan, penguatan pangan, dan pembangunan kesejahteraan.

Dalam sambutan tersebut, Sjafrudin menyampaikan pandangan Syaykh bahwa Pancasila merupakan ajaran ilahi yang harus diimani.

Pernyataan tersebut ditempatkan dalam konteks upaya menghubungkan nilai Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial dengan nilai-nilai yang berasal dari ajaran Tuhan.

Pancasila tidak hanya dipahami sebagai dokumen politik atau slogan kenegaraan, tetapi sebagai pedoman nilai yang perlu diwujudkan dalam kehidupan.

Keimanan terhadap nilai itu harus terlihat dalam penghormatan kepada manusia, persatuan bangsa, pengambilan keputusan melalui musyawarah, dan upaya mewujudkan keadilan sosial.

Kemandirian dan Kedaulatan Pangan

Selain pendidikan, Sjafrudin menyoroti kontribusi Syaykh Al-Zaytun dalam membangun kemandirian dan kedaulatan pangan.

Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia. Lembaga pendidikan dengan jumlah penghuni yang besar membutuhkan sistem penyediaan pangan yang terencana dan berkelanjutan.

Kemandirian pangan berarti kemampuan memenuhi kebutuhan melalui potensi dan produksi sendiri. Adapun kedaulatan pangan memiliki dimensi lebih luas, yaitu kemampuan menentukan arah pengelolaan pangan berdasarkan kebutuhan serta kepentingan masyarakat.

Pendidikan dan pangan tidak berdiri terpisah. Manusia sulit belajar secara optimal apabila kebutuhan dasarnya tidak terpenuhi.

Di sisi lain, pengelolaan pangan dapat menjadi ruang pendidikan. Santri dapat belajar mengenai pertanian, teknologi, lingkungan, ekonomi, manajemen, dan tanggung jawab terhadap kehidupan.

Karena itu, kontribusi Syaykh tidak hanya dirasakan dalam lingkup pendidikan formal. Gagasan kemandirian pangan memberikan inspirasi mengenai hubungan antara lembaga pendidikan dan kemampuan produksi.

Tiga Nilai yang Harus Diwarisi

Pada momentum Milad ke-80, Sjafrudin mengajak generasi penerus merenungkan teladan Syaykh Al-Zaytun. Ia merumuskan tiga nilai penting yang patut diwarisi.

Disiplin dalam Menuntut Ilmu

Nilai pertama adalah disiplin dalam menuntut ilmu.

Ilmu disebut sebagai cahaya yang menuntun langkah dan karya. Namun, cahaya itu tidak diperoleh tanpa usaha.

Belajar membutuhkan disiplin membaca, mengamati, bertanya, berlatih, dan mengulang. Kecerdasan tanpa disiplin sering kali tidak menghasilkan pencapaian yang optimal.

Disiplin juga mengajarkan manusia menghargai proses. Tidak semua pengetahuan dapat diperoleh secara cepat.

Sebagian kemampuan membutuhkan latihan bertahun-tahun. Karena itu, generasi penerus harus membangun kebiasaan belajar yang konsisten.

Keberanian Menghadapi Tantangan

Nilai kedua adalah keberanian menghadapi tantangan.

Setiap perjuangan menghadirkan hambatan. Gagasan baru dapat ditolak. Pembangunan dapat menghadapi keterbatasan. Seorang pemimpin juga dapat mengalami tekanan dan kesalahpahaman.

Menurut Sjafrudin, Syaykh telah memberikan teladan dalam menghadapi berbagai tantangan dengan keberanian.

Keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Keberanian merupakan kemampuan tetap bertindak meskipun menyadari adanya risiko.

Namun, keberanian harus disertai pertimbangan, ilmu, dan tanggung jawab. Tindakan berani tanpa arah dapat berubah menjadi kecerobohan.

Cinta kepada Umat dan Bangsa

Nilai ketiga adalah cinta kepada umat dan bangsa.

Pengabdian sejati terlihat ketika kepentingan bersama ditempatkan di atas kepentingan pribadi.

Cinta kepada bangsa tidak cukup disampaikan melalui kata-kata. Ia harus diwujudkan dalam tindakan yang memperkuat pendidikan, kesejahteraan, persatuan, kemandirian, dan keadilan.

Seorang pendidik menunjukkan cinta kepada bangsa dengan membentuk generasi yang berkualitas. Petani mewujudkannya melalui penyediaan pangan. Ilmuwan melakukannya melalui penelitian. Pemimpin menunjukkannya melalui kebijakan yang berpihak pada masyarakat.

Cinta kepada umat dan bangsa juga membutuhkan kesediaan berkorban. Tidak semua pengabdian menghasilkan keuntungan pribadi.

Sebagian perjuangan bahkan menuntut manusia memberikan waktu, tenaga, pikiran, dan kenyamanan.

Mensyukuri Pencapaian dan Terus Melangkah

Pada akhir sambutannya, Sjafrudin kembali mengajak hadirin menghidupkan tema Milad: mensyukuri pencapaian dan terus melangkah menuju kemajuan.

Rasa syukur berarti mengakui bahwa setiap keberhasilan merupakan karunia Allah dan hasil kerja banyak pihak.

Namun, syukur tidak boleh berubah menjadi rasa puas yang menghentikan usaha. Pencapaian harus menjadi pijakan bagi langkah berikutnya.

Sistem pendidikan yang telah dibangun perlu terus disempurnakan. Novum Gradum harus dikembangkan melalui kajian dan pelaksanaan. L-STEAM perlu diterjemahkan dalam kurikulum yang mampu membentuk kompetensi peserta didik.

Kemandirian pangan harus diperkuat. Nilai toleransi, perdamaian, dan persaudaraan perlu terus diwariskan.

Generasi penerus harus memikul tanggung jawab tersebut. Mereka tidak cukup hanya mengenang atau mengagumi tokoh pendahulunya.

Warisan terbaik bukan sekadar cerita mengenai kebesaran masa lalu. Warisan yang hidup adalah nilai dan gagasan yang terus dikembangkan.

Obor bagi Generasi Mendatang

Sjafrudin menutup sambutannya dengan doa agar Allah Swt. memberikan kepada Syaykh Al-Zaytun umur yang penuh keberkahan, kesehatan sempurna, dan kekuatan untuk terus berkarya.

Ia juga berharap Syaykh selalu berada dalam perlindungan Allah. Keteladanannya dalam mengikuti jejak para nabi dan rasul diharapkan menjadi obor yang terus menyala bagi generasi sekarang dan masa depan.

Obor memberikan cahaya agar manusia dapat melihat jalan. Namun, cahaya itu harus dijaga dan diteruskan.

Setiap generasi menerima obor dari generasi sebelumnya. Tugas mereka bukan hanya membawanya, tetapi juga memastikan api tersebut tidak padam.

Dalam konteks pendidikan, obor itu adalah iman, ilmu, amal, disiplin, keberanian, dan cinta kepada bangsa.

Dari penerapan sistem semester, gagasan Pesantren Spirit and Modern System, penjenjangan kelas tujuh hingga dua belas, Novum Gradum, L-STEAM, hingga pembangunan kemandirian pangan, Sjafrudin membaca satu benang merah: keberanian memperbarui pendidikan untuk membangun manusia dan peradaban.

Peringatan usia ke-80 kemudian bukan hanya penghormatan terhadap perjalanan seorang tokoh. Ia menjadi momentum bagi seluruh keluarga besar Al-Zaytun untuk menilai sejauh mana nilai-nilai tersebut telah diteruskan.

Dengan tiga kali pekik “Merdeka!”, Sjafrudin mengakhiri sambutannya. Pekik itu bukan sekadar penutup, tetapi penegasan mengenai cita-cita pendidikan: membentuk manusia yang merdeka dalam iman, ilmu, pikiran, karya, dan pengabdiannya kepada Indonesia.

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.