25/08/2026

MDINEWS INDRAMAYU

MEDIA ASPIRASI BUDAYA BANGSA

Dari Bumi Borneo Menuju 500 Pusat Pendidikan Nusantara

Oleh: Ali Aminulloh
Disarikan dari ungkapan King of Nusantara Sultan Paser XVIII)

Sebuah hadiah ulang tahun tidak selalu hadir dalam bentuk benda yang selesai dinikmati pada hari perayaan. Ada hadiah yang berbentuk cita-cita, komitmen, dan keberanian mengambil tanggung jawab besar. Hadiah semacam itu tidak berhenti ketika acara berakhir, tetapi justru menjadi awal perjalanan panjang yang membutuhkan kerja, kesungguhan, dan kesetiaan pada tujuan.

Hadiah itulah yang dibawa King of Nusantara Sultan Paser XVIII pada peringatan hari lahir ke-80 Syaykh Al-Zaytun, Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang. Dari Bumi Borneo, ia datang bukan hanya membawa ucapan selamat dan pantun, melainkan juga komitmen untuk melanjutkan gagasan pendidikan modern berbasis sekolah berasrama di berbagai wilayah Indonesia.

Komitmen tersebut disampaikan dalam rangkaian Peringatan Hari Lahir Ke-80 Syaykh Al-Zaytun, yang dilaksanakan pada Kamis, 30 Juli 2026, bertepatan dengan 15 Safar 1448 Hijriah. Acara itu mengusung tema “Mensyukuri Pencapaian dan Terus Melangkah Menuju Kemajuan” serta dihadiri keluarga besar Ma’had Al-Zaytun, para sahabat Syaykh, tokoh pendidikan, akademisi, pemimpin organisasi, tokoh kerajaan Nusantara, dan tamu undangan dari berbagai latar belakang.

Peringatan tersebut tidak hanya diisi dengan ucapan selamat. Satu demi satu tokoh menyampaikan kesaksian, gagasan, doa, dan komitmen bagi keberlanjutan pendidikan. Di tengah rangkaian itu, King of Nusantara Sultan Paser XVIII memperoleh kesempatan menyampaikan pandangan sekaligus menyerahkan hadiah yang memiliki makna kelembagaan dan kebangsaan.

Ia mengawali sambutan dengan salam lintas agama, Salam Pancasila, Rahayu, dan pekik “Merdeka!”. Rangkaian salam tersebut menghadirkan pesan mengenai kemajemukan Indonesia. Perbedaan agama, budaya, dan asal daerah tidak menghalangi manusia untuk berhimpun dalam satu cita-cita: membangun pendidikan dan memajukan bangsa.

Penghormatan kepada Syaykh dan Para Sahabat

King of Nusantara Sultan Paser XVIII membuka sambutan dengan memberikan penghormatan kepada Syaykh Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang. Dalam penyampaiannya, ia menyebut Syaykh dengan panggilan penuh kedekatan dan penghormatan, yaitu Ayahanda.

Panggilan tersebut menunjukkan bahwa hubungan yang terbangun tidak hanya bersifat formal. Di dalamnya terdapat pengakuan terhadap kedudukan Syaykh sebagai tokoh yang memberikan inspirasi, arahan, dan amanah dalam pengembangan pendidikan.

Penghormatan juga disampaikan kepada Datuk Dr. Sir Imam Prawoto, Prof. Dr. Connie Rahakundini Bakrie, Dr. Gita Wirjawan, Mayjen TNI (Purn.) Kivlan Zein, serta seluruh tamu undangan yang hadir.

Ia kemudian memberikan apresiasi khusus kepada panitia penyelenggara. Para hadirin diajak memberikan tepuk tangan atas keberhasilan panitia menyelenggarakan peringatan Milad ke-80.

Apresiasi tersebut penting karena sebuah kegiatan besar tidak berlangsung dengan sendirinya. Di balik acara yang tertata terdapat kerja panjang dalam menyiapkan tempat, susunan kegiatan, penerimaan tamu, konsumsi, dokumentasi, keamanan, dan berbagai kebutuhan teknis lainnya.

Panitia sering kali bekerja sebelum para tamu datang dan masih harus menyelesaikan tanggung jawab setelah acara berakhir. Karena itu, penghargaan terhadap panitia merupakan pengakuan terhadap kerja kolektif yang menopang keberhasilan kegiatan.

Pantun dari Bumi Borneo

Sebelum menyampaikan gagasan utama, Sultan Paser XVIII mempersembahkan sebuah pantun. Ia menyebut dirinya datang dari negeri seberang, dari Green Smart City Nusantara, dan membawa salam dari Bumi Borneo.

«Burung merpati terbang ke taman,
Membawa ranting untuk bersarang.
Milad ke-80 membawa kebahagiaan,
Semoga Syaykh Ayahanda selalu membawa keberuntungan.»

Pantun tersebut menghadirkan suasana hangat dalam forum. Burung merpati yang membawa ranting untuk membangun sarang dapat dibaca sebagai simbol pembangunan. Sebuah sarang tidak terbentuk hanya melalui niat, tetapi melalui usaha mengumpulkan bahan sedikit demi sedikit.

Demikian pula pendidikan. Lembaga pendidikan tidak berdiri hanya melalui satu keputusan. Ia membutuhkan tanah, perencanaan, bangunan, pendidik, kurikulum, pembiayaan, tata kelola, serta masyarakat yang mempercayainya.

Pantun dari Bumi Borneo itu juga menjadi jembatan menuju gagasan utama yang hendak disampaikan: pembangunan pusat-pusat pendidikan modern di berbagai wilayah Nusantara.

Milad sebagai Momentum Melanjutkan Gagasan

Peringatan usia ke-80 Syaykh Al-Zaytun dimaknai Sultan Paser XVIII sebagai momentum untuk melanjutkan gagasan, bukan sekadar mengenang perjalanan masa lalu.

Rasa syukur terhadap pencapaian harus diwujudkan dalam bentuk tanggung jawab. Apa yang telah dibangun perlu dijaga, sedangkan pengalaman yang telah diperoleh perlu dikembangkan agar memberikan manfaat yang lebih luas.

Al-Zaytun telah menjadi sebuah contoh penyelenggaraan pendidikan modern berbasis sekolah berasrama. Namun, Indonesia memiliki wilayah yang sangat luas. Kebutuhan pendidikan tidak hanya terdapat di satu kabupaten atau satu provinsi.

Ribuan pulau, ratusan kabupaten dan kota, serta keberagaman kondisi masyarakat membutuhkan model pendidikan yang dapat menjangkau berbagai daerah. Karena itu, pengalaman Al-Zaytun dipandang memiliki kemungkinan untuk dikembangkan dan disesuaikan dengan kebutuhan wilayah lain.

Komitmen tersebut bukan berarti seluruh daerah harus memiliki bentuk bangunan atau sistem yang sepenuhnya sama. Setiap wilayah memiliki karakter sosial, budaya, geografis, dan ekonomi yang berbeda.

Namun, nilai dasar berupa kedisiplinan, pendidikan berasrama, kemandirian, pembentukan karakter, penguasaan ilmu, dan pengelolaan lingkungan dapat menjadi fondasi yang diterapkan secara luas.

Mendukung Agenda Pendidikan Nasional

Dalam sambutannya, Sultan Paser XVIII menghubungkan rencana tersebut dengan Program Asta Cita Presiden Republik Indonesia, khususnya Asta Cita keempat yang dalam naskah disebut berfokus pada bidang pendidikan.

Pernyataan tersebut menempatkan pembangunan lembaga pendidikan bukan hanya sebagai program sebuah yayasan. Ia diarahkan agar memiliki hubungan dengan cita-cita pembangunan nasional.

Pendidikan merupakan salah satu instrumen utama untuk meningkatkan kualitas manusia. Sebuah negara tidak dapat maju hanya dengan mengandalkan kekayaan alam. Sumber daya alam membutuhkan manusia yang memiliki ilmu, keterampilan, karakter, dan kemampuan mengelola.

Tanpa pendidikan, kekayaan alam dapat dikuasai dan dimanfaatkan oleh pihak yang memiliki pengetahuan serta teknologi lebih maju. Sebaliknya, manusia yang terdidik dapat mengubah potensi daerah menjadi sumber kesejahteraan.

Pendidikan juga mempunyai peran dalam membentuk kesadaran kebangsaan. Peserta didik tidak hanya belajar untuk memperoleh pekerjaan, tetapi juga dipersiapkan menjadi warga negara yang memahami tanggung jawabnya.

Karena itu, dukungan terhadap agenda pendidikan nasional harus diterjemahkan dalam langkah konkret. Kebijakan membutuhkan lembaga pelaksana, tenaga pendidik, sumber daya, dan komitmen jangka panjang.

Kado Berupa Komitmen Pendidikan

Pada momentum Milad ke-80 tersebut, King of Nusantara Sultan Paser XVIII menyatakan hendak mempersembahkan sebuah hadiah kepada Syaykh Al-Zaytun.

Hadiah itu bukan barang pribadi. Ia berupa komitmen untuk melanjutkan dan mewujudkan pendidikan modern berbasis boarding school di 500 daerah yang tersebar di 30 provinsi di Indonesia.

Rencana tersebut disebut akan diawali dari Green Smart City Nusantara. Kawasan itu diharapkan menjadi titik pertama dalam pelaksanaan gagasan pendidikan yang lebih luas.

Angka 500 menunjukkan cakupan cita-cita yang sangat besar. Apabila diwujudkan, ratusan lembaga pendidikan akan membutuhkan perencanaan yang matang, tenaga pengajar dalam jumlah besar, kurikulum yang kuat, tata kelola profesional, serta pembiayaan berkelanjutan.

Namun, setiap karya besar selalu dimulai dari keberanian merumuskan cita-cita. Sebelum sebuah lembaga berdiri, ia terlebih dahulu hidup sebagai gagasan dalam pikiran manusia.

Al-Zaytun pun berawal dari gagasan, pencarian lahan, pembentukan tim, dan pembangunan yang dilakukan secara bertahap. Pengalaman panjang itulah yang kemudian hendak dijadikan salah satu sumber inspirasi untuk memperluas pendidikan.

Mengapa Pendidikan Berasrama?

Pendidikan berbasis boarding school mempunyai karakter yang berbeda dari sekolah yang hanya menyelenggarakan pembelajaran pada jam tertentu.

Dalam sistem berasrama, peserta didik hidup dalam satu lingkungan pendidikan selama dua puluh empat jam. Proses pembentukan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui kehidupan sehari-hari.

Kedisiplinan, kebersihan, kerja sama, pengelolaan waktu, kemandirian, dan tanggung jawab dapat dibiasakan melalui sistem kehidupan bersama.

Guru dan pembina tidak hanya menyampaikan materi akademik. Mereka juga mendampingi perkembangan karakter peserta didik.

Namun, pendidikan berasrama juga membutuhkan tanggung jawab yang lebih besar. Lembaga harus menjamin keamanan, kesehatan, pangan, tempat tinggal, pembinaan psikologis, dan lingkungan belajar yang sehat.

Karena itu, replikasi model boarding school tidak cukup hanya dengan membangun asrama. Diperlukan sistem yang utuh serta sumber daya manusia yang memahami filosofi dan tujuan pendidikannya.

Lima Ratus Daerah sebagai Jaringan Pendidikan

Rencana membangun pendidikan modern di 500 daerah dapat dibaca sebagai gagasan membentuk jaringan pendidikan Nusantara.

Jaringan tersebut berpotensi mempertemukan berbagai daerah dalam satu orientasi pendidikan, tetapi tetap memberikan ruang bagi kekhasan lokal.

Peserta didik di Kalimantan memiliki lingkungan dan potensi yang berbeda dari peserta didik di Jawa, Sumatra, Sulawesi, Maluku, atau Papua. Kurikulum perlu memberikan ruang agar mereka mengenal potensi daerahnya.

Pendidikan di daerah pesisir dapat diperkuat dengan pengetahuan kemaritiman. Wilayah pertanian membutuhkan penguasaan teknologi pangan dan pengelolaan lahan. Kawasan hutan memerlukan pendidikan mengenai konservasi dan keberlanjutan lingkungan.

Dengan demikian, jaringan pendidikan tidak boleh menghilangkan keragaman. Justru keragaman Nusantara harus menjadi sumber pengetahuan.

Sistem bersama dapat memberikan standar mutu, sedangkan isi pembelajaran dikembangkan sesuai kebutuhan setiap wilayah.

Tiga Puluh Provinsi dan Tantangan Pemerataan

Penyebaran lembaga di 30 provinsi menunjukkan orientasi pemerataan. Pendidikan bermutu tidak boleh hanya tersedia di kota-kota besar atau wilayah tertentu.

Anak-anak di daerah memiliki hak yang sama untuk memperoleh guru berkualitas, fasilitas pembelajaran, teknologi, dan kesempatan mengembangkan potensi.

Namun, pemerataan bukan hanya persoalan jumlah gedung sekolah. Hal yang lebih penting adalah pemerataan kualitas.

Sebuah lembaga dapat berdiri secara fisik, tetapi belum tentu mampu menjalankan pendidikan bermutu apabila kekurangan tenaga pendidik, buku, laboratorium, dan sistem pengelolaan.

Karena itu, rencana besar tersebut perlu diiringi pengembangan sumber daya manusia. Guru harus dipersiapkan, dilatih, dan diberikan kesejahteraan yang layak.

Pengelola juga membutuhkan kemampuan dalam bidang administrasi, keuangan, kurikulum, dan pembinaan peserta didik.

Pemerataan pendidikan pada akhirnya adalah pemerataan kesempatan untuk tumbuh. Setiap anak, di mana pun dilahirkan, harus memiliki peluang mengembangkan ilmu dan kemampuannya.

Green Smart City Nusantara sebagai Titik Awal

Sultan Paser XVIII menyebut bahwa pelaksanaan gagasan tersebut akan diawali dari Green Smart City Nusantara.

Nama itu mengandung tiga unsur penting: lingkungan hijau, kecerdasan pengelolaan, dan orientasi kebangsaan.

Konsep green menempatkan lingkungan sebagai bagian penting pembangunan. Pendidikan perlu mengajarkan bahwa kemajuan tidak boleh mengorbankan kelestarian alam.

Konsep smart city menunjukkan penggunaan pengetahuan, teknologi, data, dan tata kelola untuk meningkatkan kualitas kehidupan.

Sementara kata Nusantara menegaskan identitas kebangsaan serta kesadaran bahwa Indonesia dibangun dari berbagai pulau, daerah, budaya, dan komunitas.

Apabila pendidikan menjadi fondasi kawasan tersebut, sekolah tidak hanya menjadi salah satu bangunan di dalam kota. Pendidikan harus menjadi pusat pembentukan manusia yang akan mengelola seluruh sistem kehidupan.

Kota yang cerdas membutuhkan warga yang terdidik. Kota yang hijau memerlukan manusia yang memiliki kesadaran ekologis. Adapun Nusantara membutuhkan generasi yang mampu menjaga persatuan di tengah keberagaman.

Yayasan sebagai Kendaraan Kelembagaan

Sebagai simbol dukungan terhadap agenda pendidikan sekaligus pelaksanaan amanah dari Syaykh Al-Zaytun, Sultan Paser XVIII menyampaikan bahwa melalui Akta Nomor 5 telah berdiri sebuah yayasan.

Dalam naskah sambutan, yayasan tersebut disebut sebagai Yayasan Nusantara dan akan dinakhodai oleh King of Nusantara Sultan Paser XVIII.

Pendirian yayasan memiliki makna penting karena sebuah gagasan besar membutuhkan wadah kelembagaan. Cita-cita yang hanya bergantung pada individu akan menghadapi kesulitan dalam menjaga keberlanjutan.

Lembaga memberikan dasar organisasi, pembagian tanggung jawab, pengelolaan aset, serta mekanisme pelaksanaan program.

Namun, keberadaan akta hanyalah langkah awal. Dokumen hukum memberikan legitimasi kelembagaan, tetapi keberhasilan tetap bergantung pada kemampuan menjalankan visi.

Yayasan perlu memiliki struktur yang jelas, sumber pembiayaan berkelanjutan, sistem pengawasan, serta mekanisme pertanggungjawaban.

Dalam bidang pendidikan, kepercayaan publik merupakan modal penting. Masyarakat akan memberikan kepercayaan apabila lembaga mampu menunjukkan integritas, kualitas, keterbukaan, dan keberlanjutan program.

Akta sebagai Hadiah dan Simbol Komitmen

Pada akhir penyampaiannya, Sultan Paser XVIII menyatakan akan menyerahkan Akta Yayasan Nusantara kepada Syaykh Al-Zaytun setelah turun dari podium.

Akta itu dipersembahkan sebagai hadiah ulang tahun sekaligus simbol komitmen.

Hadiah tersebut memiliki karakter yang berbeda dari benda kenang-kenangan. Akta menandai lahirnya sebuah entitas yang diharapkan menjalankan program pendidikan dalam jangka panjang.

Dengan menyerahkan akta kepada Syaykh, Sultan Paser XVIII menegaskan bahwa gagasan tersebut berhubungan dengan amanah dan inspirasi yang diterimanya.

Penyerahan itu juga mengandung tanggung jawab moral. Setelah komitmen disampaikan di hadapan publik, ia perlu diterjemahkan menjadi langkah yang dapat diukur.

Masyarakat akan menanti bagaimana yayasan membangun sistem, memilih daerah, mengembangkan model pendidikan, dan mempersiapkan manusia yang akan menjalankannya.

Mengintegrasikan Nusantara melalui Pendidikan

Salah satu gagasan penting dalam sambutan tersebut adalah keinginan mengintegrasikan wilayah kepulauan Indonesia melalui jalur pendidikan.

Indonesia memiliki lebih dari sekadar jarak geografis. Setiap wilayah mempunyai pengalaman sejarah, bahasa, budaya, kondisi ekonomi, dan tantangan pembangunan yang berbeda.

Pendidikan dapat menjadi jembatan yang mempertemukan keragaman tersebut. Peserta didik dari berbagai wilayah dapat belajar bahwa identitas lokal dan identitas nasional tidak harus dipertentangkan.

Seseorang dapat mencintai budaya daerahnya sekaligus memiliki komitmen terhadap Indonesia.

Jaringan lembaga pendidikan juga dapat membuka pertukaran pengetahuan antardaerah. Pengalaman pengelolaan pertanian dari satu wilayah dapat dipelajari daerah lain. Pengetahuan maritim, kebudayaan, teknologi, dan kewirausahaan dapat saling dibagikan.

Integrasi melalui pendidikan berbeda dari penyeragaman. Integrasi membangun hubungan, sedangkan penyeragaman berisiko menghilangkan kekhasan.

Karena itu, pendidikan Nusantara harus memiliki satu orientasi kebangsaan, tetapi tetap menghormati dan mengembangkan kekayaan lokal.

Pendidikan sebagai Jalan Persatuan

Keinginan mengintegrasikan Nusantara melalui pendidikan memiliki hubungan erat dengan persatuan bangsa.

Persatuan tidak cukup dibangun melalui slogan. Ia memerlukan pengalaman hidup, pengetahuan, serta pemahaman terhadap keberagaman.

Konflik sering tumbuh ketika manusia tidak mengenal pihak lain. Prasangka berkembang karena hubungan dibangun berdasarkan informasi yang terbatas.

Pendidikan dapat memperluas cakrawala. Peserta didik diperkenalkan kepada sejarah, budaya, agama, dan kehidupan masyarakat lain.

Mereka belajar bahwa Indonesia tidak hanya terdiri atas lingkungan tempat mereka dilahirkan. Ada jutaan manusia dengan cara hidup yang berbeda, tetapi memiliki kedudukan yang sama sebagai warga negara.

Pendidikan juga dapat membentuk kemampuan berdialog. Perbedaan tidak selalu harus diselesaikan melalui pertentangan. Ia dapat dikelola melalui musyawarah, argumentasi, dan penghormatan.

Dari Al-Zaytun Menuju Nusantara

Komitmen Sultan Paser XVIII memperlihatkan adanya keinginan membawa pengalaman pendidikan Al-Zaytun ke cakupan yang lebih luas.

Replikasi tidak berarti menyalin seluruh bentuk secara mutlak. Setiap daerah memerlukan adaptasi. Namun, pengalaman panjang Al-Zaytun dapat menjadi sumber pembelajaran.

Lembaga tersebut telah menjalankan pendidikan berasrama, mengelola kehidupan komunitas, membangun basis pangan, serta mengembangkan berbagai fasilitas pendidikan.

Pengalaman mengenai hal yang berhasil maupun tantangan yang pernah dihadapi dapat menjadi modal bagi pembangunan lembaga baru.

Belajar dari pengalaman akan membantu mengurangi kesalahan. Daerah baru tidak harus mengulangi seluruh proses dari awal.

Namun, proses adaptasi tetap diperlukan. Sebuah model yang berhasil di Indramayu belum tentu dapat diterapkan dengan cara yang sama di Kalimantan atau wilayah kepulauan lain.

Prinsip dasarnya dapat dipertahankan, tetapi pelaksanaannya perlu disesuaikan dengan keadaan lokal.

Dari Hadiah Menjadi Amanah

Hadiah berupa akta yayasan pada akhirnya bukan hanya bentuk penghormatan. Ia juga merupakan amanah.

Amanah tersebut mencakup tanggung jawab untuk menjalankan organisasi dengan jujur, profesional, dan berorientasi pada kepentingan pendidikan.

Rencana membangun lembaga di 500 daerah akan membutuhkan waktu panjang. Ia tidak dapat diwujudkan melalui satu acara atau satu keputusan.

Diperlukan tahapan yang realistis, dimulai dari proyek percontohan, evaluasi, penguatan sistem, dan perluasan secara bertahap.

Setiap tahapan harus menjadi sumber pembelajaran. Model yang belum efektif perlu diperbaiki sebelum diterapkan di tempat lain.

Amanah juga berarti menjaga agar pendidikan tidak berubah hanya menjadi proyek pembangunan fisik. Fokus utamanya harus tetap pada manusia.

Gedung penting, tetapi guru jauh lebih menentukan. Teknologi diperlukan, tetapi karakter dan budaya belajar tidak boleh diabaikan.

Mensyukuri Pencapaian dengan Melanjutkan Karya

Tema “Mensyukuri Pencapaian dan Terus Melangkah Menuju Kemajuan” menemukan bentuk konkret dalam sambutan Sultan Paser XVIII.

Rasa syukur terhadap pencapaian Syaykh Al-Zaytun tidak berhenti pada ucapan selamat. Ia diwujudkan melalui keberanian menerima amanah dan melanjutkan gagasan pendidikan.

Inilah salah satu bentuk penghormatan kepada seorang tokoh: bukan hanya mengenang apa yang telah dikerjakannya, tetapi memperluas manfaat dari pemikirannya.

Pencapaian Al-Zaytun menjadi pijakan. Pengalaman yang telah diperoleh digunakan untuk menyusun langkah baru.

Namun, langkah baru harus tetap terbuka terhadap evaluasi. Generasi penerus tidak cukup hanya menyalin. Mereka harus memahami filosofi, memperbaiki kelemahan, dan mengembangkan inovasi.

Dengan cara itu, warisan tidak berubah menjadi benda mati. Ia menjadi gagasan yang terus tumbuh.

Pantun Penutup dan Awal Sebuah Perjalanan

Setelah menyampaikan komitmen besar tersebut, Sultan Paser XVIII menutup sambutannya dengan pantun ringan:

«Siang hari makan kuaci,
Makannya bersama kekasih.
Cukup sekian sambutan ini,
Terima kasih.»

Pantun itu mengundang kehangatan dan menjadi penutup penyampaian di podium. Namun, komitmen yang disampaikan belum selesai bersama berakhirnya sambutan.

Penyerahan akta justru menjadi tanda dimulainya perjalanan baru. Dari dokumen hukum menuju pembangunan kelembagaan. Dari pernyataan menuju pelaksanaan. Dari satu kawasan pendidikan menuju cita-cita menjangkau ratusan daerah.

Peringatan hari lahir ke-80 Syaykh Al-Zaytun pada akhirnya menjadi titik pertemuan antara pencapaian masa lalu dan harapan masa depan.

Syaykh telah melalui perjalanan panjang membangun pendidikan. Sultan Paser XVIII datang membawa komitmen agar pengalaman tersebut dapat diteruskan ke berbagai wilayah Nusantara.

Pendidikan sebagai Kado bagi Indonesia

Hadiah terbaik bagi seorang pendidik bukan hanya benda yang disimpan, tetapi lahirnya generasi dan lembaga baru yang melanjutkan pengabdian.

Akta yayasan yang diserahkan menjadi simbol bahwa pendidikan hendak dikembangkan sebagai kado bagi Indonesia.

Apabila komitmen tersebut diwujudkan secara bertahap dan bertanggung jawab, ratusan daerah dapat memperoleh peluang mengembangkan pendidikan modern berbasis asrama.

Namun, keberhasilan akan ditentukan oleh konsistensi. Sebuah gagasan besar membutuhkan manusia yang bersedia bekerja ketika sorotan acara telah berakhir.

Ia membutuhkan perencanaan, pembiayaan, guru, pengelola, sistem, dan evaluasi yang dilakukan secara terus-menerus.

Pendidikan adalah pekerjaan peradaban. Hasilnya tidak selalu terlihat dalam waktu singkat, tetapi dampaknya dapat melampaui usia para pendirinya.

Dari Bumi Borneo, Sultan Paser XVIII membawa sebuah komitmen menuju Al-Zaytun. Dari Al-Zaytun, gagasan tersebut hendak bergerak menuju 500 daerah di Nusantara.

Perjalanan itu masih panjang. Namun, setiap perjalanan besar memang bermula dari satu langkah, satu komitmen, dan keberanian untuk menjadikan pendidikan sebagai jalan mempersatukan serta memajukan bangsa.Naskah ini mempertahankan seluruh pokok sambutan: Milad ke-80, pantun dari Bumi Borneo, dukungan terhadap Asta Cita bidang pendidikan, rencana pendidikan berasrama di 500 daerah dan 30 provinsi, Green Smart City Nusantara, pendirian yayasan, penyerahan akta, serta integrasi Nusantara melalui jalur pendidikan.