25/08/2026

MDINEWS INDRAMAYU

MEDIA ASPIRASI BUDAYA BANGSA

Pemuda Tidak Boleh Menjadi Penonton Sejarah

(Refleksi Hari Pemuda Internasional, 12 Agustus)

Oleh: Ali Aminulloh

Pagi baru saja menyingsing. Di sebuah desa, seorang pemuda berjalan menyusuri pematang sambil membawa telepon pintar. Ia bukan sedang mencari hiburan. Dengan perangkat sederhana itu, ia memantau cuaca, mempelajari teknik pertanian, memasarkan hasil panen, dan memperkenalkan potensi desanya kepada dunia. Pada saat yang sama, di sudut kota, pemuda lainnya menulis program komputer, mengembangkan usaha rintisan, mengorganisasi gerakan sosial, atau menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan.

Mereka hidup dalam ruang yang berbeda, tetapi menyimpan harapan yang sama: memperoleh pendidikan yang bermutu, pekerjaan yang layak, kesempatan berkarya, ruang untuk didengar, serta masa depan yang damai dan berkelanjutan.

Gambaran itu sejalan dengan tema Hari Pemuda Internasional atau International Youth Day 2026, “Different Contexts, Common Aspirations”—konteks yang berbeda, aspirasi yang sama. Tema tersebut mengingatkan bahwa pemuda di desa, kota, negara maju, negara berkembang, wilayah kepulauan, maupun kawasan tertinggal menghadapi keadaan yang tidak seragam. Namun, mereka disatukan oleh kerinduan yang sama terhadap martabat, kesempatan, kesehatan, partisipasi, dan kehidupan yang lebih baik. Perserikatan Bangsa-Bangsa

Hari Pemuda Internasional bukanlah peringatan yang muncul secara tiba-tiba. Gagasannya mulai disuarakan oleh para peserta Forum Pemuda Dunia di Wina, Austria, pada 1991. Usulan tersebut kemudian memperoleh dukungan dalam Konferensi Menteri Sedunia yang Bertanggung Jawab atas Urusan Pemuda di Lisbon, Portugal, pada 1998.

Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa akhirnya menetapkan 12 Agustus sebagai Hari Pemuda Internasional melalui Resolusi Nomor 54/120 tanggal 17 Desember 1999. Peringatan pertamanya diselenggarakan pada 12 Agustus 2000. Hari itu tidak ditetapkan sebagai hari libur internasional, melainkan sebagai momentum membangun kesadaran, dialog, dan tindakan nyata mengenai persoalan serta potensi generasi muda. Latar belakang Hari Pemuda Internasional

Pemuda Indonesia dan Mata Rantai Sejarah

Bagi Indonesia, pembicaraan mengenai pemuda tidak pernah dapat dipisahkan dari sejarah kebangsaan. Pemuda bukan sekadar kelompok usia, melainkan kekuatan moral dan sosial yang berkali-kali mengubah arah perjalanan bangsa.

Pada awal abad ke-20, kaum muda terpelajar mulai menyadari bahwa penjajahan tidak cukup dilawan dengan perlawanan yang terpisah-pisah. Kesadaran baru itu melahirkan berbagai organisasi pergerakan. Budi Utomo pada 1908 menjadi salah satu penanda Kebangkitan Nasional. Setelah itu tumbuh organisasi pemuda dari berbagai daerah yang membawa identitas, pengalaman, dan latar belakang berbeda.

Perbedaan tersebut tidak membuat mereka selamanya berjalan sendiri-sendiri. Dalam Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928, para pemuda melampaui sekat kesukuan, kedaerahan, dan bahasa. Mereka mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia.

Sumpah Pemuda adalah bukti bahwa Indonesia terlebih dahulu hidup dalam kesadaran generasi muda sebelum berdiri sebagai negara merdeka. Para pemuda tidak menunggu kemerdekaan untuk merasa sebagai bangsa Indonesia. Mereka membentuk kesadaran kebangsaan, kemudian memperjuangkan kenyataan politiknya.

Menjelang Proklamasi 17 Agustus 1945, golongan muda kembali mengambil peran strategis. Mereka mendesak agar kemerdekaan segera diproklamasikan tanpa bergantung kepada kekuasaan penjajah. Peristiwa Rengasdengklok, dengan segala dinamika dan ketegangannya, memperlihatkan keberanian pemuda dalam membaca momentum sejarah.

Peran itu terus berlanjut setelah kemerdekaan. Generasi muda hadir dalam pergolakan 1966, gerakan reformasi 1998, perjuangan demokratisasi, gerakan kemanusiaan, serta berbagai usaha membela kepentingan masyarakat. Tentu, gerakan pemuda tidak selalu sempurna. Namun, sejarah menunjukkan bahwa ketika kehidupan bangsa mengalami kebuntuan, pemuda sering menjadi kekuatan yang mengetuk pintu perubahan.

Karena itu, pemuda Indonesia hari ini tidak boleh hanya menjadi pengagum sejarah. Mereka harus menjadi penerus sekaligus pencipta sejarah.

Penjajahan dalam Wajah Baru

Tantangan pemuda hari ini berbeda dengan tantangan generasi 1928 dan 1945. Tidak ada lagi pemerintahan kolonial yang secara terbuka menguasai wilayah Indonesia. Akan tetapi, bentuk ketergantungan dan penjajahan baru dapat hadir melalui penguasaan teknologi, ekonomi, informasi, pangan, energi, dan kebudayaan.

Pemuda hidup di tengah percepatan kecerdasan buatan, otomatisasi pekerjaan, ekonomi digital, dan banjir informasi. Teknologi membuka kesempatan yang luar biasa, tetapi juga membawa risiko. Pemuda dapat menjadi pencipta teknologi, tetapi dapat pula hanya menjadi konsumen. Mereka dapat menggunakan media sosial untuk membangun pengetahuan, tetapi dapat juga terperangkap dalam disinformasi, ujaran kebencian, budaya pamer, dan perdebatan tanpa manfaat.

Di bidang ekonomi, sebagian pemuda menghadapi pengangguran, pekerjaan tidak tetap, biaya pendidikan, dan sulitnya memperoleh akses permodalan. Di bidang sosial, muncul persoalan intoleransi, polarisasi, kekerasan, kesehatan mental, individualisme, serta melemahnya semangat gotong royong.

Sementara itu, krisis ekologis semakin nyata. Perubahan iklim, pencemaran air, kerusakan hutan, alih fungsi lahan, persoalan sampah, dan ancaman terhadap ketahanan pangan tidak lagi menjadi persoalan masa depan. Semuanya telah hadir di hadapan kita.

Dalam keadaan seperti itu, modal pemuda tidak cukup hanya berupa keberanian. Keberanian harus disertai pengetahuan, kecakapan, integritas, kedisiplinan, dan kemampuan bekerja sama. Semangat perubahan tanpa kedalaman berpikir mudah berubah menjadi kegaduhan. Sebaliknya, pengetahuan tanpa keberanian moral hanya akan melahirkan generasi yang pandai menjelaskan masalah, tetapi takut menyelesaikannya.

Trilogi Kesadaran sebagai Kompas Pemuda

Untuk menghadapi kompleksitas tersebut, pemuda membutuhkan kompas nilai. Salah satu landasan yang relevan ialah Trilogi Kesadaran Syaykh Al-Zaytun, yaitu kesadaran filosofis, ekologis, dan sosial.

Pertama, kesadaran filosofis. Kesadaran ini mendorong pemuda untuk memahami siapa dirinya, untuk apa ia hidup, dan kepada nilai apa ilmu serta kemampuannya diabdikan. Pemuda tidak boleh menjalani kehidupan tanpa tujuan, sekadar mengikuti arus tren, algoritma, dan opini massa.

Kesadaran filosofis mengajarkan keberanian berpikir kritis, mencari kebenaran, dan menimbang akibat dari setiap tindakan. Pendidikan bukan hanya jalan memperoleh ijazah dan pekerjaan, melainkan proses membentuk manusia merdeka yang mampu membedakan kebenaran dari kebohongan, kemajuan dari kerusakan, serta kebutuhan dari keserakahan.

Kedua, kesadaran ekologis. Pemuda harus memahami bahwa manusia bukan penguasa alam yang bebas mengeksploitasinya tanpa batas. Manusia merupakan bagian dari ekosistem kehidupan. Kerusakan tanah, air, hutan, udara, dan laut pada akhirnya akan kembali menjadi penderitaan manusia.

Kesadaran ekologis harus diterjemahkan ke dalam tindakan: mengelola sampah, menghemat energi, menjaga sumber air, menanam pohon, mengembangkan pertanian berkelanjutan, melindungi lahan produktif, dan menciptakan inovasi ramah lingkungan. Pemuda Indonesia harus bergerak dari sekadar menjadi korban krisis iklim menuju pelopor pemulihan bumi.

Ketiga, kesadaran sosial. Pemuda tidak hidup sendirian. Ilmu, jabatan, kekayaan, dan teknologi hanya bermakna apabila memberi manfaat bagi kehidupan bersama. Kesadaran sosial melahirkan empati, toleransi, gotong royong, kepedulian terhadap kelompok rentan, serta keberanian membela keadilan.

Di tengah menguatnya individualisme, pemuda harus kembali meneguhkan bahwa keberhasilan bukan hanya tentang seberapa tinggi seseorang dapat berdiri, melainkan seberapa banyak orang yang dapat diajak bangkit bersama. Pemuda yang hebat bukan hanya mereka yang mampu berbicara di panggung dunia, tetapi juga mereka yang bersedia menyelesaikan persoalan nyata di kampungnya.

Trilogi tersebut tidak berdiri sendiri. Kesadaran filosofis memberikan arah, kesadaran ekologis menjaga keberlanjutan kehidupan, sedangkan kesadaran sosial memastikan bahwa kemajuan dapat dirasakan bersama. Ketiganya membentuk generasi yang berpikir mendalam, mencintai bumi, dan mengabdi kepada kemanusiaan.

Dari Peringatan Menuju Pengabdian

Tema “Konteks Berbeda, Aspirasi yang Sama” sangat relevan bagi Indonesia. Pemuda Haurgeulis dan Indramayu tentu hidup dalam konteks yang berbeda dengan pemuda Jakarta, Tokyo, atau New York. Namun, perbedaan tempat tidak menentukan tinggi-rendahnya nilai sebuah pengabdian.

Pemuda desa yang menciptakan sistem pemasaran digital bagi petani sama berharganya dengan pendiri perusahaan teknologi. Pemuda yang mengajar anak-anak putus sekolah sama pentingnya dengan pembicara dalam forum internasional. Pemuda yang menjaga sumber air, mengembangkan energi terbarukan, merawat toleransi, atau membantu usaha kecil sedang mengerjakan bagian penting dari masa depan Indonesia.

Hari Pemuda Internasional tidak semestinya berhenti pada seminar, spanduk, unggahan media sosial, atau seruan-seruan seremonial. Peringatan ini harus menjadi momentum bertanya kepada diri sendiri: ilmu apa yang perlu dikuasai, masalah apa yang harus diselesaikan, dan pengabdian apa yang dapat diberikan?

Pemuda Indonesia mewarisi sejarah yang besar, tetapi sejarah tidak memberikan jaminan otomatis bagi masa depan. Masa depan hanya dapat dimenangkan oleh generasi yang mau belajar, bekerja, berinovasi, menjaga persatuan, dan mengabdikan kehidupannya bagi kepentingan yang lebih besar daripada dirinya sendiri.

Pemuda 1928 menyatukan bangsa melalui ikrar. Pemuda 1945 mempercepat kemerdekaan melalui keberanian. Pemuda 1998 membuka pintu reformasi melalui pengorbanan. Kini, pemuda 2026 menghadapi panggilan sejarahnya sendiri: membangun kemandirian ekonomi, menguasai teknologi, menjaga bumi, merawat perdamaian, dan memastikan tidak seorang pun tertinggal dari kemajuan.

Konteks boleh berbeda. Jalan pengabdian boleh beragam. Namun, aspirasi kita tetap sama: Indonesia yang merdeka dalam berpikir, mandiri dalam berkarya, lestari alamnya, adil kehidupan sosialnya, dan bermartabat di tengah pergaulan dunia.

Pada akhirnya, pertanyaan paling penting bagi setiap pemuda bukanlah, “Apa yang akan diberikan negara kepadaku?” Melainkan, “Masalah apa di sekitarku yang akan kuselesaikan, dan untuk tujuan apa hidupku kuabdikan?”