
(Refleksi Hari Epilepsi Internasional, 8 Februari)
Oleh: Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I., M.E.
Di zaman ketika empati sering dikampanyekan, mengapa stigma masih dibiarkan hidup? Kita rajin berbicara tentang inklusi, namun sering gugup ketika berhadapan langsung dengan seseorang yang tiba-tiba kejang di ruang publik. Paradoks itu kembali menyapa: pengetahuan bertambah, tetapi keberanian untuk memahami belum tentu menyusul.
Tanggal 8 Februari, dunia memperingati Hari Kesadaran Epilepsi Internasional. Bukan sekadar penanda kalender kesehatan, melainkan ajakan global untuk menggeser cara pandang: dari rasa takut menuju pengertian, dari kasihan menuju penghormatan martabat manusia.
Peringatan ini digagas oleh International League Against Epilepsy bersama International Bureau for Epilepsy, dan diperingati di lebih dari 120 negara. Tujuannya jelas: meningkatkan kesadaran, memerangi stigma, membuka akses perawatan, serta mendorong riset berkelanjutan tentang epilepsi.
Namun pada tahun 2026, peringatan ini melangkah lebih jauh. Tema global yang diusung adalah #EpilepsyPledge, sebuah kampanye transformatif yang menantang dunia untuk tidak berhenti pada kesadaran, tetapi berani berjanji dan bertindak.
#EpilepsyPledge menekankan empat poros utama:
meningkatkan kesadaran, memperbaiki langkah-langkah keselamatan, mendorong inklusi, dan membangun pemahaman publik yang benar tentang epilepsi. Individu, sekolah, tempat kerja, hingga institusi didorong membuat komitmen nyata berupa janji yang bisa diukur, dilakukan, dan dipertanggungjawabkan hingga akhir 2026.
Di sinilah Hari Epilepsi tidak lagi berhenti sebagai simbol, melainkan berubah menjadi gerakan moral.
Epilepsi sendiri adalah gangguan neurologis akibat aktivitas listrik otak yang tidak normal, yang dapat memicu kejang berulang. Penyebabnya beragam: genetik, cedera otak, infeksi, gangguan metabolik, kelainan struktur otak, hingga faktor lingkungan. Dalam banyak kasus, penyebab pastinya bahkan tak pernah teridentifikasi. Namun satu hal pasti: epilepsi bukan aib, bukan kutukan, dan bukan alasan untuk mengurangi nilai kemanusiaan seseorang.
Sayangnya, stigma sering kali lebih menyakitkan daripada penyakitnya. Orang dengan epilepsi masih menghadapi diskriminasi, baik dalam pendidikan, pekerjaan, bahkan relasi sosial. Mereka dinilai dari satu episode medis, bukan dari keseluruhan potensi dirinya.
Di titik inilah tema #EpilepsyPledge bertaut erat dengan nilai kemanusiaan yang adil dan beradab. Keadilan berarti memberi kesempatan yang sama. Keberadaban berarti memahami sebelum menghakimi. Dan kemanusiaan menemukan wujudnya ketika masyarakat memilih melindungi, bukan menjauhkan.
Pesan ini sejalan dengan trilogi kesadaran yang digagas Syaykh Al Zaytun: kesadaran filosofis, ekologis, dan sosial.
Kesadaran filosofis menuntun kita memahami bahwa manusia tidak boleh direduksi menjadi diagnosis. Epilepsi adalah kondisi, bukan identitas. Nilai manusia tetap utuh, tak berkurang oleh gangguan neurologis apa pun.
Kesadaran ekologis mengingatkan bahwa kesehatan manusia tidak berdiri sendiri. Lingkungan, sistem kesehatan, edukasi publik, dan pola hidup saling terhubung. Merawat penyintas epilepsi berarti membenahi ekosistem kehidupan yang lebih luas mulai dari rumah, sekolah, hingga ruang publik.
Sementara kesadaran sosial menuntut keberanian kolektif untuk bertindak. Inilah ruh #EpilepsyPledge: tidak cukup tahu, harus mau terlibat. Menghentikan mitos, menciptakan ruang aman, memahami pertolongan pertama saat kejang, dan memastikan tidak ada yang tersingkir hanya karena ketidaktahuan orang lain.
Hari Epilepsi Internasional, dengan seluruh kampanye dan gaung globalnya, sejatinya sedang mengajukan satu pertanyaan sederhana namun menggugah:
Apakah kita hanya ingin terlihat peduli, atau benar-benar bersedia berubah?
Ketika suatu hari kita menyaksikan seseorang jatuh karena serangan epilepsi, semoga yang hadir bukan rasa panik atau prasangka, melainkan kesadaran bahwa di hadapan kita ada manusia yang sedang membutuhkan pertolongan, perlindungan, dan penghormatan.
Di sanalah janji kemanusiaan diuji. Dan di sanalah #EpilepsyPledge menemukan maknanya: bukan sekadar kampanye global, tetapi ikrar sunyi untuk menjadi manusia yang lebih adil, lebih beradab, dan lebih sadar.

More Stories
Belajar dari Al Zaytun: Beranikah Kita Bertanya?
“TACO” dan Krisis Kesadaran Dunia
Lebaran di Era Tiktok