03/04/2026

MDINEWS INDRAMAYU

MEDIA ASPIRASI BUDAYA BANGSA

Memaknai Peringatan Isra Mi’raj Nabi SAW dengan Aksi Nyata Pelestarian Lingkungan

Oleh : M.Adhie Pamungkas
Praktisi Sosial dan Pendidikan Karakter

Peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW sering dipahami semata sebagai perjalanan spiritual yang menegaskan kewajiban shalat. Namun, jika direnungkan lebih dalam, Isra Mi’raj juga menyimpan pesan etis dan peradaban yang sangat relevan dengan tantangan zaman, termasuk krisis lingkungan hidup yang kini dihadapi umat manusia.

Isra Mi’raj adalah peristiwa pengangkatan martabat manusia. Nabi Muhammad SAW diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu dinaikkan ke Sidratul Muntaha. Perjalanan ini bukan sekadar vertikal—hubungan manusia dengan Allah—tetapi juga horizontal: tanggung jawab manusia terhadap bumi tempat ia berpijak.

Shalat dan Etika Menjaga Bumi

Perintah utama yang dibawa Nabi dari Isra Mi’raj adalah shalat. Al-Qur’an menegaskan fungsi shalat bukan hanya ritual, tetapi pembentuk akhlak:
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar” (QS. Al-‘Ankabut: 45).

Kerusakan lingkungan—deforestasi, pencemaran, eksploitasi alam—adalah bentuk kemungkaran kolektif. Jika shalat tidak melahirkan kesadaran untuk menjaga alam, maka pesan Isra Mi’raj belum sepenuhnya membumi. Shalat sejatinya mendidik manusia agar disiplin, bertanggung jawab, dan beretika—termasuk dalam memperlakukan lingkungan.

Isra Mi’raj dan Amanah Kekhalifahan

Dalam Isra Mi’raj, Nabi SAW diperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah di langit dan bumi. Ini menegaskan kembali posisi manusia sebagai khalifah fil ardh. Allah berfirman:
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi” (QS. Al-Baqarah: 30).

Menjadi khalifah berarti menjaga keseimbangan ciptaan, bukan merusaknya. Menanam pohon adalah simbol konkret dari amanah kekhalifahan: menghidupkan bumi, menjaga air, menahan bencana, dan memberi manfaat lintas generasi.

Menanam Pohon sebagai Amal Berkelanjutan

Nabi Muhammad SAW memberi perhatian besar pada aktivitas menanam dan merawat tanaman. Beliau bersabda:
“Tidaklah seorang Muslim menanam pohon atau menabur benih, lalu dimakan manusia, burung, atau hewan, kecuali menjadi sedekah baginya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bahkan dalam situasi paling genting, Nabi menegaskan:
“Jika kiamat terjadi sementara di tangan salah seorang dari kalian ada bibit tanaman, maka tanamlah” (HR. Ahmad).

Hadis ini menunjukkan bahwa menanam pohon adalah amal ibadah yang tidak terikat situasi. Ia adalah sedekah ekologis yang pahalanya terus mengalir, bahkan ketika dunia berada di ambang kehancuran.

Isra Mi’raj: Naik ke Langit, Membumi di Bumi

Makna penting Isra Mi’raj adalah keseimbangan antara spiritualitas dan aksi sosial. Nabi SAW tidak tinggal di langit, tetapi kembali ke bumi untuk membimbing umat. Spiritualitas sejati selalu bermuara pada tindakan nyata.

Nurcholish Madjid (Cak Nur) menegaskan bahwa kesalehan ritual harus melahirkan kesalehan sosial. Ibadah yang tinggi tetapi abai terhadap kerusakan lingkungan adalah spiritualitas yang timpang. Menanam pohon menjadi bentuk nyata dari spiritualitas yang membumi.

*Ulama Nusantara dan Etika Lingkungan*

Tradisi Islam Nusantara memiliki kepekaan kuat terhadap harmoni alam. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyebut bahwa krisis lingkungan adalah tanda hilangnya keadaban manusia. Menurutnya, pembangunan tanpa etika hanya akan mempercepat kehancuran.

Sementara itu, KH Ahmad Dahlan menekankan bahwa iman harus diwujudkan dalam amal yang membawa kemaslahatan. Gerakan menanam pohon adalah amal saleh kolektif yang manfaatnya langsung dirasakan masyarakat luas.

*Menanam Pohon sebagai Gerakan Keumatan*

Dalam konteks Indonesia—negara dengan tingkat deforestasi dan bencana ekologis yang tinggi—memaknai Isra Mi’raj dengan program menanam pohon menjadi sangat relevan. Masjid, pesantren, sekolah, dan komunitas Islam dapat menjadikan peringatan Isra Mi’raj bukan sekadar seremoni, tetapi momentum aksi nyata.

Menanam pohon setelah pengajian Isra Mi’raj adalah simbol bahwa umat Islam tidak hanya naik secara spiritual, tetapi juga turun tangan merawat bumi.

Penutup

Isra Mi’raj mengajarkan bahwa kedekatan dengan Allah harus melahirkan tanggung jawab terhadap bumi. Shalat membentuk kesadaran moral, dan kesadaran moral mendorong aksi menjaga lingkungan.

Menanam pohon adalah ibadah, sedekah jariyah, dan wujud nyata amanah kekhalifahan. Dengan menjadikan Isra Mi’raj sebagai momentum pelestarian lingkungan, umat Islam menunjukkan bahwa ajaran Nabi Muhammad SAW selalu relevan—menyentuh langit dan membumi di bumi.

Referensi:

1. Al-Qur’an al-Karim.
2. Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari.
3. Muslim, Shahih Muslim.
4. Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad.
5. Madjid, Nurcholish, Islam, Doktrin dan Peradaban, Paramadina.
6. Wahid, Abdurrahman, Islamku, Islam Anda, Islam Kita.