24/05/2026

MDINEWS INDRAMAYU

MEDIA ASPIRASI BUDAYA BANGSA

Selamatan Kelulusan  Paket C PKBM AL ZAYTUN, Ketika Pendidikan Jadi Gerakan Peradaban 

Oleh : Ali Aminulloh

Peradaban besar tidak lahir hanya dari gedung-gedung megah, teknologi canggih, atau kemajuan ekonomi yang berkilau. Peradaban sejati lahir ketika manusia-manusia yang pernah tertinggal diberi kesempatan untuk bangkit, dimuliakan melalui ilmu, lalu diajak berjalan bersama menuju masa depan. Pendidikan, pada titik itulah, tidak lagi sekadar aktivitas belajar mengajar, melainkan menjadi gerakan sunyi yang mengubah kualitas manusia.

Sabtu pagi, 2 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional, gerakan peradaban itu tampak nyata di Meetingroom Wisma Tamu Al Ishlah, Ma’had Al Zaytun. Sebanyak 273 warga belajar Paket C dari PKBM Al Zaytun mengikuti Kelulusan Selametan Paket C dalam suasana khidmat, hangat, dan penuh kebanggaan. Ini bukan sekadar pelepasan alumni pendidikan kesetaraan, melainkan penegasan bahwa Al Zaytun terus menempatkan pendidikan sebagai poros pembangunan manusia.

Para warga belajar yang hadir pagi itu bukan anak-anak sekolah yang baru tumbuh dengan cita-cita, melainkan orang-orang dewasa yang telah lama bergulat dengan kehidupan. Ada yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan, ada ibu rumah tangga, ada wali santri, dan ada pula anggota masyarakat yang dulu harus menunda pendidikan karena himpitan keadaan. Namun pagi itu seluruh latar belakang tersebut melebur dalam satu identitas yang sama: pembelajar.

Acara dimulai pukul 08.00 WIB dengan penampilan para lulusan Paket C. Mereka menyuguhkan lagu, tarian, dan puisi dengan penuh penghayatan. Di atas panggung, yang tampak bukan sekadar hiburan pembuka, melainkan ekspresi kegembiraan orang-orang yang berhasil menaklukkan keterlambatan. Setiap tepuk tangan yang terdengar seolah menjadi penghormatan atas perjalanan panjang mereka menjemput ijazah yang mungkin pernah dianggap mustahil.

Sebelum acara inti dimulai, hadirin disuguhi tayangan video perjalanan PKBM Al Zaytun, mulai dari aktivitas belajar warga, dedikasi para tutor, hingga capaian-capaian yang berhasil diraih. Tayangan itu memperlihatkan bahwa pendidikan masyarakat di Al Zaytun bukan program tambahan, melainkan kerja berkelanjutan yang dibangun dengan visi besar.

Kehadiran Syaykh Al Zaytun menjadi titik paling dinanti. Meski di tengah kesibukan agenda beliau yang hendak bertolak ke Kuningan, Syaykh tetap menyempatkan hadir dan memberikan taushiyah panjang hampir dua jam. Setelah pembukaan resmi dan menyanyikan lagu Indonesia Raya tiga stanza, forum berubah menjadi ruang refleksi tentang makna pendidikan sebagai proyek peradaban.

Dalam taushiyahnya, Syaykh menjelaskan bagaimana awal mula sekolah dewasa ini dibangun. PKBM Al Zaytun, yang dahulu diresmikan langsung oleh Direktur Pendidikan Luar Sekolah Prof. Ace Cahyadi, lahir dari kesadaran sederhana namun mendasar: sebuah lembaga yang mendeklarasikan diri sebagai pusat pendidikan tidak boleh membiarkan manusia-manusia di dalamnya tertinggal secara pendidikan.

Karena itu, tradisi yang dibangun adalah tradisi belajar sepanjang hayat. Para karyawan bekerja pada pagi hingga sore hari, lalu malamnya masuk kelas. Pendidikan bukan diposisikan sebagai kegiatan sampingan, tetapi sebagai kewajiban peradaban.

“Al Zaytun telah mendeklarasikan diri sebagai pusat pendidikan, maka manusia yang ada di dalamnya harus terdidik,” demikian pesan utama Syaykh.

Dari prinsip itulah lahir transformasi yang nyata. Hampir karyawan telah menyelesaikan pendidikan menengah atas. Bahkan banyak yang terus didorong menempuh strata perguruan tinggi. Sebagian telah meraih S1, S2, dan kini mulai memasuki S3. Gerakan pendidikan yang semula hanya menyasar internal karyawan, kini berkembang mengajak keluarga karyawan serta wali santri untuk turut meningkatkan strata pendidikannya.

Untuk menguatkan semangat itu, Syaykh menampilkan satu teladan nyata: Kasno. Ia memulai pendidikan dari Paket A, melanjutkan Paket B dan C, kemudian kuliah Hukum Ekonomi Syariah di IAI Al-AZIS, mengambil Sosiologi di Universitas Terbuka, menuntaskan Magister Pertanian, dan hari ini bersiap masuk strata tiga. Kisah tersebut menjadi bukti hidup bahwa ketika kemauan dipertemukan dengan fasilitas pendidikan, maka batas usia dan latar belakang tidak lagi relevan.

Di hadapan 273 lulusan Paket C, Syaykh pun menegaskan bahwa kelulusan ini bukan garis akhir. Seluruh lulusan didorong melanjutkan studi ke perguruan tinggi milik sendiri, IAI Al-AZIS. Bahkan bila ada kendala biaya, beliau mempersilakan warga belajar mengakses pinjaman melalui KSU Desa Kota Indonesia. Bagi yang belum memungkinkan, dapat mengajukan melalui LKM dengan jaminan dari Syaykh. Seruan ini menunjukkan bahwa Al Zaytun tidak sekadar meluluskan, tetapi juga menyiapkan tangga lanjutan agar pendidikan terus bergerak naik.

Usai taushiyah, suasana forum dilanjutkan dengan menyanyikan Mars dan Hymne PKBM yang menambah rasa kebersamaan. Sambutan atas nama warga belajar disampaikan Maman Darmawan, alumni Paket C asal Jakarta Barat. Dengan penuh haru ia menyampaikan terima kasih kepada Syaykh, kepala PKBM, dan para tutor yang telah memberikan ruang bagi mereka untuk memperoleh kesempatan kedua dalam pendidikan.

Kepala PKBM Al Zaytun, Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I., M.E., dalam sambutannya menegaskan bahwa angkatan kelulusan tahun 2026 merupakan angkatan istimewa. Selamatan kelulusan dilaksanakan di Al Ishlah, dihadiri langsung Syaykh Al Zaytun, unsur Pemerintah Kecamatan Gantar, serta para koordinator wali santri dari berbagai wilayah Jawa. Setelah itu dibacakan Surat Keputusan Syaykh tentang kelulusan 273 warga belajar Paket C yang disambut tepuk tangan penuh suka cita.

Apresiasi juga datang dari Pemerintah Kecamatan Gantar melalui Sekretaris Camat, Eka Tirta Utama, M.Si.. Dalam sambutannya ia menyampaikan penghargaan tinggi kepada Ma’had Al Zaytun yang dinilai berkontribusi nyata dalam mencerdaskan bangsa sekaligus meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Indramayu dengan menyisir masyarakat yang belum sempat mengenyam pendidikan.

Ajakan melanjutkan kuliah dipertegas kembali oleh IAI Al-AZIS melalui sambutan Usth. Dewi Utami, S.Pd., M.Pd. Dekan Fakultas Tarbiyah sekaligus Ketua Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru, yang mengajak para lulusan untuk menyambut peluang studi lanjutan, seraya menyampaikan adanya potongan biaya pendaftaran bagi pendaftar gelombang awal.

Momentum berikutnya adalah penyerahan tali kasih tanda tak putus dari warga belajar PKBM Al Zaytun kepada Ma’had Al Zaytun senilai Rp10 juta. Simbol ini menegaskan bahwa hubungan pendidikan yang terbangun di sini bukan semata hubungan administratif, melainkan hubungan moral antara lembaga ilmu dan para pencari ilmu.

Penghargaan juga diberikan kepada lulusan terbaik. Imas Mastini dari kelas C3 dan Siti Isnaini dari kelas C1 tercatat sebagai lulusan dengan capaian akademik tertinggi. Sedangkan Magfiroh dari kelas C3 meraih predikat lulusan favorit karena ketekunannya menempuh pendidikan dari Paket A hingga Paket C tanpa putus.

Acara kemudian ditutup dengan lagu perpisahan yang dinyanyikan dalam suasana haru, dilanjutkan ramah tamah antarseluruh hadirin. Namun yang sesungguhnya tertinggal dari forum pagi itu bukan sekadar dokumentasi kelulusan, melainkan satu pesan besar bahwa pendidikan di Al Zaytun telah bergerak melampaui fungsi pengajaran.

Ia telah menjelma menjadi gerakan peradaban.

Gerakan yang tidak hanya menghasilkan ijazah, tetapi membangkitkan martabat.
Gerakan yang tidak hanya membuka kelas, tetapi membuka masa depan.
Gerakan yang tidak hanya mengajar membaca buku, tetapi mengajari manusia membaca kemungkinan hidupnya sendiri.

Maka Kelulusan Selametan Paket C PKBM Al Zaytun pada Hari Pendidikan Nasional tahun ini sesungguhnya sedang menyampaikan pesan penting kepada bangsa: bahwa peradaban tidak dibangun dengan meninggalkan mereka yang tertinggal, tetapi dengan menggandeng mereka naik bersama melalui jalan pendidikan.