
Oleh : Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I. ME (Dosen IAI Al-Azis)
Bangsa ini sesungguhnya tidak sedang kekurangan kekayaan. Yang kurang adalah kesadaran.
Kesadaran bahwa negeri yang lautnya membentang, tanahnya subur, penduduknya melimpah, dan Tuhannya dipuja dalam setiap pidato, justru masih tertatih memanggul kemiskinan, ketimpangan, kebodohan, dan salah urus yang nyaris dianggap biasa.
Kita terlalu sering membanggakan Indonesia sebagai negeri besar, tetapi terlalu jarang jujur bertanya: mengapa kebesaran itu belum juga menjelma menjadi kemakmuran?
Di tengah kegaduhan bangsa yang makin sibuk dengan pencitraan, politik permukaan, dan hiruk-pikuk konten tanpa kedalaman, ada sebuah ikhtiar sunyi yang terus dijaga oleh Mahad Al Zaytun.
Ikhtiar itu bernama Pelatihan Pelaku Didik (PPD).
Dimulai pada 1 Juni 2025, lalu digelar rutin setiap Ahad tanpa putus, forum ini menjadi ruang panjang penyemaian nalar, karakter, dan kesadaran kebangsaan.
Bukan forum seremonial yang datang lalu hilang bersama tepuk tangan, melainkan forum yang dirancang untuk membentuk manusia agar berpikir lebih jauh daripada dirinya sendiri. Dan pada Ahad, 3 Mei 2026, PPD memasuki sesi ke-43.
Empat puluh tiga pekan berturut-turut sebuah lembaga pendidikan memilih untuk tidak lelah menyalakan api intelektual.
Empat puluh tiga Ahad yang dipakai untuk mengingatkan bahwa pendidikan sejati bukan hanya mengisi kepala, tetapi membangunkan jiwa.
Pada sesi itulah hadir seorang tokoh yang kenyang pengalaman membaca negeri ini dari ruang akademik, birokrasi, hingga parlemen: Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S.. Seorang profesor. Seorang mantan menteri. Seorang legislator. Seorang aktivis.
Tetapi pagi itu, lebih dari semua gelar itu, beliau tampil sebagai seorang warga bangsa yang sedang gelisah.
Kuliah yang Menjelma Cermin
Prof. Rokhmin Dahuri tidak datang membawa pidato basa-basi. Beliau datang membawa cermin.
Dan di depan cermin itu, bangsa ini dipaksa melihat wajahnya sendiri.
Dengan paparan yang disiapkan setebal satu semester kuliah, ia membedah Indonesia dengan satu pertanyaan mendasar: mengapa negeri yang sedemikian kaya belum juga mampu memuliakan rakyatnya?
Menurutnya, syarat bangsa maju sebenarnya sederhana: punya perencanaan besar, sumber daya manusia unggul, stabilitas politik, dan pemimpin yang kompeten.
Empat syarat. Hanya empat. Tetapi justru empat itulah yang paling sering bocor dalam rumah besar bernama Indonesia.
Indonesia, kata Prof. Rokhmin, adalah bangsa yang “sangat dicintai Allah”.
– Penduduknya terbesar keempat di dunia.
– Sumber daya alamnya melimpah.
– Bonus demografinya besar.
– Letak geoekonominya sangat strategis.
– Hampir 40 persen perdagangan global melintasi lautnya.
Namun ironi selalu datang dengan wajah yang sama: potensi besar tidak otomatis melahirkan kesejahteraan ketika dikelola oleh sistem yang salah, mentalitas yang lemah, dan kepemimpinan yang tidak visioner.
Negeri ini kaya, tetapi rakyatnya banyak yang hidup sekadar cukup untuk bertahan.
Negeri ini religius, tetapi kebijakan publiknya kerap jauh dari nurani.
Negeri ini bicara pembangunan, tetapi ketimpangan tumbuh lebih cepat daripada pemerataan.
Dan di sanalah ruang PPD mendadak berubah bukan menjadi ruang kuliah, melainkan ruang muhasabah kebangsaan.
Ketika Kemiskinan Menjadi Hal yang Dianggap Biasa
Barangkali bagian paling menyesakkan dari kuliah umum itu adalah ketika Prof. Rokhmin berbicara tentang kemiskinan.
Beliau menolak kemiskinan dibaca sebatas angka statistik. Sebab di balik angka itu ada manusia.
Ada ayah yang bekerja tetapi tetap tidak mampu menafkahi.
Ada rumah yang dihuni dua sampai tiga kepala keluarga karena anak yang sudah menikah tak sanggup hidup mandiri.
Ada rakyat yang dipaksa menormalisasi kekurangan, seolah hidup pas-pasan adalah takdir, bukan kegagalan tata kelola.
Prof. Rokhmin menyebut, ukuran layak hidup menurut hitungan realistis harus berada di kisaran Rp14 juta per bulan untuk keluarga.
Sementara banyak masyarakat masih bertahan jauh di bawah itu.
Artinya, yang kita hadapi bukan sekadar ekonomi lambat.
Yang kita hadapi adalah sebuah bangsa yang terlalu lama membiarkan ketidaklayakan menjadi kebiasaan.
Dan ketika ketidaklayakan dibiarkan terlalu lama, yang mati bukan hanya daya beli. Yang mati adalah harapan.
Di Saat Banyak Lembaga Sibuk Mengajar, Al Zaytun Memilih Menyiapkan
Di sinilah mengapa forum PPD Al Zaytun terasa penting.
Karena ketika banyak lembaga pendidikan sibuk mengejar nilai, ijazah, dan formalitas kurikulum, Al Zaytun justru memilih pekerjaan yang lebih berat: menyiapkan manusia.
Manusia yang tidak hanya tahu teori. Tetapi tahu persoalan.
Manusia yang tidak hanya pandai bicara. Tetapi berani memikul tanggung jawab sejarah.
Prof Rokhmin Dahuri, dengan seluruh perangkat analisis pendidikan Islam dan pendidikan Barat yang ia bentangkan, sampai pada satu kesimpulan yang membuat jamaah Masjid Rahmatan Lil Alamin Al- Zaytun pagi itu seperti mendapat suntikan keyakinan: ” Al Zaytun berada di jalur yang benar” .
Mahad ini dinilainya berhasil menggabungkan kekuatan iman dan ilmu.
Mengintegrasikan spiritualitas dengan sains.
Menghubungkan pendidikan karakter dengan kecakapan hidup.
Membiasakan santri berpikir entrepreneur, berpikir agro-maritim, berpikir digital, berpikir produktif.
Pendek kata, bukan sekadar mencetak lulusan yang siap mencari kerja, tetapi menyiapkan generasi yang siap menciptakan kerja.
Pujian itu bukan pujian kosong. Ia lahir dari pembacaan seorang profesor yang sepanjang hidupnya bergulat dengan peta pembangunan nasional.
Karena itu, ketika Prof. Rokhmin menyebut Al Zaytun berpotensi menjadi center of excellence pendidikan Islam modern, itu sesungguhnya adalah pengakuan bahwa pendidikan berasrama yang dikerjakan dengan serius masih menjadi salah satu harapan terbaik bangsa ini.
Tambak Pantura dan Pertanyaan tentang Siapa yang Menikmati Pembangunan
Kesadaran yang dibangun pagi itu semakin konkret ketika sesi dialog masuk pada isu revitalisasi tambak Pantura.
Pertanyaan sederhana tetapi tajam muncul: pembangunan ini nanti untuk siapa?
Untuk rakyat? Atau untuk pemodal?
Prof. Rokhmin menjawab lugas. Program revitalisasi 78 ribu hektare tambak mangkrak memang niatnya baik, tetapi bisa berubah menjadi masalah baru bila pemerintah hanya berpikir proyek dan produksi, bukan kesejahteraan masyarakat.
Beliau mengkritik keras rencana budidaya monospesies, minimnya kajian pasar, serta ancaman dominasi korporasi besar yang berpotensi menjadikan masyarakat pesisir hanya buruh di kampungnya sendiri.
Bagi Prof. Rokhmin, pembangunan yang sehat harus memastikan tiga hal: keberagaman produksi, kepastian pasar, dan keterlibatan rakyat sebagai pelaku utama.
Kalimat itu sederhana. Tetapi mengandung pertanyaan paling tua dalam sejarah republik ini: ” mengapa begitu banyak proyek lahir atas nama rakyat, tetapi rakyat justru terlalu sering berdiri di luar pagar manfaat?
PPD dan Ikhtiar Menjaga Kesadaran
Sesungguhnya yang sedang dilakukan Al Zaytun melalui 43 sesi PPD bukan sekadar mengundang narasumber. Yang sedang dibangun adalah kesadaran kolektif.
Kesadaran bahwa bangsa ini tidak boleh dipimpin oleh generasi yang miskin visi.
Kesadaran bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada hafalan.
Kesadaran bahwa ilmu harus berujung pada keberpihakan.
Kesadaran bahwa iman tanpa kemampuan akan lemah, dan kemampuan tanpa iman akan liar.
Maka tiap Ahad, forum ini seperti mengetuk kepala sekaligus hati: bahwa Indonesia tidak kekurangan orang pintar, tetapi sangat kekurangan orang sadar.
Sadar bahwa jabatan adalah amanah.
Sadar bahwa kemiskinan rakyat adalah luka.
Sadar bahwa kekayaan alam adalah titipan.
Sadar bahwa pendidikan adalah jalan panjang memuliakan peradaban.
Dan dari kesadaran-kesadaran kecil yang dipelihara dengan istiqomah itulah sejarah sering kali berubah.
Sebab bangsa tidak runtuh karena miskin sumber daya. Bangsa runtuh ketika orang-orang terdidiknya berhenti merasa bertanggung jawab.

More Stories
Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara
Kritik Pendidikan Prof. Zulkifli: Jangan Sampai Lahirkan 1 Kuli dengan 40 Mandor
Bimbingan Terpadu MI Al Zaytun: Menumbuhkan Karakter, Menguatkan Akhlak, Menyiapkan Masa Depan