Oleh: Ali Aminulloh (Disarikan dari Orasi Gita Wiryawan)
Usia manusia mungkin dibatasi oleh waktu, tetapi gagasan dapat hidup melampaui umur biologis pemiliknya. Kamis, 30 Juli 2026, ketika Syaykh Al-Zaytun, AS. Panji Gumilang memasuki usia ke-80, perayaan itu tidak hanya menjadi momentum mengenang perjalanan hidup seorang pemimpin pendidikan. Di hadapan keluarga besar Al-Zaytun, hari kelahiran tersebut berubah menjadi ruang perenungan tentang bagaimana sebuah lembaga pendidikan membangun peradaban, memperpanjang usia pengabdian, serta menyiapkan generasi Indonesia untuk menghadapi perubahan dunia.
Di antara para tokoh yang hadir pada momentum tersebut adalah Dr. (H.C.) Gita Irawan Wirjawan, B.B.A., M.B.A., M.P.A., CFA, ekonom, pengusaha, pendidik, mantan Menteri Perdagangan Republik Indonesia, dan mantan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal. Kehadirannya memberikan warna intelektual tersendiri dalam peringatan ulang tahun ke-80 Syaykh Al-Zaytun.
Pada forum itu, Gita Wirjawan menyampaikan orasi ilmiah selama kurang lebih satu jam. Paparannya menjelajahi perjalanan panjang sejarah peradaban, keterbukaan ilmu pengetahuan, pendidikan, peran guru, pengelolaan talenta, penguasaan sains dan teknologi, kebutuhan energi, kecerdasan artifisial, hingga pentingnya melahirkan pemimpin yang memiliki etikabilitas, moralitas, intelektualitas, dan akuntabilitas kepada rakyat.
Ketika dipersilakan menuju panggung, hadirin mungkin menduga Gita akan memulai pembicaraannya dengan angka pertumbuhan ekonomi, investasi, atau perdagangan internasional. Namun, ia justru mengajak seluruh hadirin membayangkan detak jantung seekor tikus, manusia, paus, dan hiu Greenland.
Menurut Gita, terdapat pandangan bahwa jumlah keseluruhan detak jantung beberapa makhluk hidup, sejak lahir sampai mati, berada pada kisaran yang relatif sama, yakni sekitar 1,5 miliar kali. Namun, ukuran tubuh dan rentang kehidupan masing-masing makhluk itu sangat berbeda.
Pertanyaan strukturalnya bukan semata-mata berapa kali jantung berdetak, melainkan apa yang menyebabkan perbedaan ukuran dan panjang usia tersebut.
Salah satu jawabannya adalah metabolisme.
Metabolisme menentukan seberapa cepat dan seberapa baik suatu makhluk hidup mengolah makanan, minuman, energi, dan lingkungan tempatnya berada. Kualitas metabolisme memengaruhi pertumbuhan, ukuran, kemampuan beradaptasi, kesehatan, dan rentang kehidupan.
Dari tubuh biologis, Gita membawa hadirin memasuki tubuh sosial yang bernama lembaga, masyarakat, bangsa, dan peradaban. Sebagaimana makhluk hidup, lembaga pendidikan juga memiliki metabolisme. Sebuah lembaga harus mampu mengolah ilmu pengetahuan, tradisi, sumber daya, lingkungan, dan perubahan zaman agar terus tumbuh dan bertahan.
“Saya berdiri di panggung ini ingin menyampaikan doa agar Al-Zaytun dapat meningkatkan metabolismenya, supaya ukurannya semakin besar dan durasi kehidupannya semakin panjang,” tutur Gita.
Doa itu secara khusus disampaikan pada ulang tahun ke-80 Syaykh Al-Zaytun. Ia berharap Syaykh Al-Zaytun senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, dan umur panjang untuk meneruskan pengabdian melalui pendidikan.
Namun, doa tentang panjang umur tidak hanya berkaitan dengan usia seseorang. Doa tersebut juga menyentuh umur gagasan, umur lembaga, umur pendidikan, serta keberlanjutan pengabdian.
Al-Zaytun membangun peradaban bukan semata-mata melalui bangunan fisik, ruang kelas, asrama, masjid, pertanian, atau berbagai fasilitas yang dimilikinya. Peradaban dibangun melalui manusia yang belajar, guru yang menginspirasi, ilmu yang dikembangkan, keterbukaan yang dirawat, dan generasi yang disiapkan untuk hidup pada masa depan.
Keterbukaan, Inovasi, dan Metabolisme Peradaban
Metabolisme peradaban, menurut Gita, dapat terlihat dari kemampuan seseorang, keluarga, organisasi, lembaga, bangsa, dan negara dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan.
Sejarah memperlihatkan bahwa peradaban yang berkembang bukanlah peradaban yang hanya mempertahankan seluruh warisan masa lalu secara kaku. Namun, peradaban yang maju juga bukan peradaban yang membuang seluruh tradisi dan pengalaman generasi sebelumnya.
Peradaban yang mampu bertahan selalu mempertemukan dua kekuatan sekaligus, yaitu inovasi dan preservasi.
Inovasi diperlukan untuk menjawab tantangan baru. Preservasi dibutuhkan untuk menjaga pengetahuan, nilai, kebudayaan, identitas, dan kebijaksanaan yang diwariskan dari masa lalu.
Tanpa inovasi, sebuah masyarakat akan tertinggal. Tanpa preservasi, masyarakat dapat kehilangan arah dan jati dirinya. Kemajuan berlangsung ketika pembaruan dan pemeliharaan warisan berjalan beriringan.
“Tanpa kapasitas dan keterbukaan untuk menggabungkan kekuatan inovasi dengan kekuatan preservasi, sulit bagi peradaban mana pun untuk maju,” kata Gita.
Dalam konteks Al-Zaytun, pesan itu memiliki makna yang mendalam. Sebagai lembaga pendidikan, Al-Zaytun mempunyai tanggung jawab menjaga nilai, tradisi, kedisiplinan, kemandirian, dan pengalaman kelembagaan. Namun, pada saat yang sama, Al-Zaytun harus terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, metode pendidikan, teknologi, dialog, penelitian, dan kebutuhan masa depan.
Preservasi tanpa inovasi dapat berubah menjadi kekakuan. Sebaliknya, inovasi tanpa preservasi dapat menyebabkan manusia kehilangan identitas. Keduanya harus dipadukan sebagai bagian dari metabolisme peradaban.
Gita kemudian membawa hadirin menengok sejarah ilmu pengetahuan dunia. Salah satu simbol penting peradaban pengetahuan pada masa lampau adalah Perpustakaan Alexandria di Mesir.
Perpustakaan itu dikenal sebagai tempat berhimpunnya manuskrip, pemikiran, karya sastra, filsafat, kedokteran, matematika, astronomi, dan berbagai cabang ilmu dari banyak kebudayaan. Konon, ratusan ribu naskah pernah tersimpan di sana.
Ketika pusat pengetahuan tersebut mengalami kehancuran secara bertahap akibat peperangan, konflik politik, kekuasaan, dan berbagai peristiwa sejarah, sebagian warisan intelektual dunia kuno berpindah menuju pusat-pusat pengetahuan lainnya.
Dalam paparannya, Gita menyebut peranan tradisi intelektual yang berkembang di Gondishapur atau Jundishapur di Persia. Kawasan tersebut menjadi salah satu mata rantai penting dalam perkembangan kedokteran, filsafat, penerjemahan, dan pertukaran pengetahuan.
Tradisi penghimpunan dan penerjemahan pengetahuan kemudian memberikan fondasi bagi perkembangan intelektual pada masa kekuasaan Islam, terutama pada era Dinasti Umayyah dan Abbasiyah.
Sejumlah pemimpin seperti Al-Mansur, Harun al-Rasyid, dan Al-Ma’mun memberikan perhatian besar terhadap pengembangan ilmu pengetahuan. Mereka bukan hanya membangun kekuasaan politik, tetapi juga membentuk ekosistem yang memungkinkan para ilmuwan bekerja, berdiskusi, menerjemahkan, dan menghasilkan pengetahuan baru.
Dari semangat tersebut lahirlah Bayt al-Hikmah atau Rumah Kebijaksanaan di Baghdad.
Bayt al-Hikmah bukan hanya perpustakaan yang menyimpan buku. Institusi itu berkembang menjadi pusat penerjemahan, penelitian, pendidikan, perdebatan, serta pengembangan ilmu pengetahuan.
Karya-karya dari tradisi Yunani, Persia, India, dan kebudayaan lainnya diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Namun, para ilmuwan tidak berhenti pada penerjemahan.
Pengetahuan yang diterima kemudian dibaca, diperiksa, dibandingkan, dikritik, disempurnakan, dan dikembangkan. Para ilmuwan tidak sekadar menganggap pemikiran lama sebagai kebenaran mutlak.
Mereka berani menguji kembali asumsi, premis, bahkan aksioma yang selama itu telah dianggap benar.
Gita menggambarkan semangat tersebut sebagai keterbukaan yang bersifat Aristotelian. Dalam tradisi ilmiah, sebuah gagasan harus selalu terbuka untuk diperiksa kembali. Ketika ditemukan argumentasi, pengamatan, dan bukti baru, suatu teori dapat disempurnakan atau dikoreksi.
Keterbukaan Bayt al-Hikmah juga dapat dilihat dari latar belakang orang-orang yang terlibat di dalamnya. Kaum Muslim, Kristen, Yahudi, penganut agama lain, bahkan pemikir yang tidak terikat kepada identitas keagamaan tertentu, dapat bekerja sama dalam mengembangkan ilmu.
Perbedaan identitas tidak menghalangi pertukaran gagasan. Kompetensi, ketekunan, integritas, dan kontribusi keilmuan menjadi titik pertemuan.
Keterbukaan tersebut kemudian melahirkan aktualisasi kebudayaan, ekonomi, kedokteran, teknologi, matematika, astronomi, filsafat, dan berbagai cabang ilmu lainnya. Perkembangan itu berlangsung selama berabad-abad dan melahirkan banyak ilmuwan besar.
Salah satunya adalah Abu Rayhan al-Biruni. Ia menekuni astronomi, matematika, geografi, sejarah, fisika, dan berbagai bidang pengetahuan lainnya.
Berabad-abad sebelum lahirnya Nicolaus Copernicus dan Galileo Galilei, Al-Biruni telah melakukan pengukuran terhadap bumi dengan hasil yang mendekati ukuran modern. Melalui pengamatan, perhitungan, dan penalaran, ia memperkirakan keliling bumi berada pada kisaran 40 ribu kilometer.
Al-Biruni menunjukkan bahwa manusia dapat memahami alam apabila berani mengamati, menghitung, menguji, dan berpikir secara terbuka.
Tokoh lainnya adalah Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi. Namanya menjadi akar dari istilah algoritme, sementara karya-karyanya memberikan fondasi penting bagi perkembangan aljabar dan matematika modern.
Apa yang hari ini digunakan dalam komputer, kecerdasan artifisial, pemrograman, pengolahan data, dan berbagai sistem digital tidak dapat dilepaskan dari konsep algoritme.
Gita mengingatkan bahwa fondasi tersebut telah diletakkan lebih dari seribu tahun yang lalu oleh ilmuwan dari peradaban Islam.
Ada pula Ibn al-Haytham yang memberikan sumbangan besar dalam kajian cahaya, optik, penglihatan, dan metode eksperimen. Ia tidak hanya menyusun teori, tetapi juga melakukan pengamatan dan percobaan.
Pendekatan Ibn al-Haytham memperlihatkan bahwa ilmu pengetahuan harus bertumpu pada keberanian menguji kenyataan, bukan sekadar mengulang pandangan yang telah diterima.
Sementara itu, Ibn Sina atau Avicenna memberikan kontribusi besar dalam bidang kedokteran dan filsafat. Karyanya, Al-Qanun fi al-Tibb atau The Canon of Medicine, menjadi salah satu rujukan penting pendidikan kedokteran selama berabad-abad, termasuk di berbagai perguruan tinggi Eropa.
Capaian para ilmuwan tersebut membuktikan bahwa kemajuan tidak lahir dari ruang tertutup. Peradaban berkembang ketika memiliki kepercayaan diri untuk belajar dari siapa pun.
Masyarakat yang maju bersedia menerjemahkan pengetahuan, menguji kebenaran, menerima kritik, serta menghasilkan pengetahuan baru.
Inilah pelajaran pertama yang dititipkan Gita kepada keluarga besar Al-Zaytun: jangan takut terhadap keterbukaan.
Keterbukaan bukan berarti kehilangan identitas. Sebaliknya, keterbukaan merupakan tanda bahwa suatu masyarakat memiliki identitas dan rasa percaya diri yang kuat.
Bangsa yang percaya diri tidak takut belajar dari bangsa lain. Lembaga pendidikan yang memiliki nilai kuat tidak takut berdialog dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
Al-Zaytun dapat menjadi ruang yang mempertemukan tradisi dan modernitas, keyakinan dan penelitian, nilai dan ilmu pengetahuan, preservasi dan inovasi.
Dengan cara itulah Al-Zaytun membangun peradaban.
Pendidikan, Guru, dan Perebutan Talenta Dunia
Dari sejarah peradaban, Gita mengarahkan pembicaraan kepada keadaan pendidikan Indonesia dan Asia Tenggara.
Indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 285 juta orang merupakan bagian terbesar dari kawasan Asia Tenggara yang dihuni kurang lebih 700 juta manusia.
Jumlah tersebut setara dengan sekitar sembilan persen penduduk dunia yang telah mencapai lebih dari delapan miliar manusia. Namun, besarnya populasi kawasan Asia Tenggara belum diikuti oleh kemampuan yang memadai untuk menarasikan dirinya sendiri.
Dalam angka yang dipaparkannya, selama sekitar dua ribu tahun hanya terdapat kurang lebih 375 ribu buku yang secara khusus menarasikan tokoh, masyarakat, kebudayaan, sejarah, pemikiran, dan kehidupan Asia Tenggara.
Jumlah tersebut hanya menjadi bagian yang sangat kecil dari keseluruhan publikasi dunia.
“Ini kurang adil,” ujarnya.
Namun, ketidakadilan tersebut tidak hanya disebabkan pihak luar kurang tertarik menulis tentang Asia Tenggara. Masalahnya juga terletak pada keterbatasan masyarakat Asia Tenggara dalam mendokumentasikan dan menarasikan dirinya sendiri.
Kawasan yang dihuni ratusan juta manusia masih belum cukup kuat menulis sejarahnya, pemikirannya, pengalaman sosialnya, kebudayaannya, dan berbagai pencapaiannya.
Masyarakat Asia Tenggara lebih sering menjadi objek yang diceritakan orang lain daripada menjadi subjek yang menjelaskan dirinya sendiri.
Kemampuan menarasikan diri berkaitan erat dengan kualitas pendidikan. Bangsa yang mempunyai budaya membaca, menulis, meneliti, mendokumentasikan, dan menerbitkan pengetahuan akan memiliki posisi lebih kuat dalam percaturan dunia.
Sebaliknya, bangsa yang lemah dalam produksi pengetahuan akan mudah kehilangan jejak sejarah. Pengalaman generasi sebelumnya tidak terdokumentasikan, pemikiran besar tidak diwariskan, dan berbagai keberhasilan lokal tidak dikenal dunia.
Di sinilah lembaga seperti Al-Zaytun memiliki posisi strategis. Pendidikan tidak boleh berhenti pada proses belajar di ruang kelas. Pendidikan harus melahirkan generasi yang mampu menulis, meneliti, mendokumentasikan, dan menceritakan bangsanya sendiri.
Indonesia harus mampu menarasikan Indonesia. Asia Tenggara harus mampu menulis Asia Tenggara. Al-Zaytun juga harus mampu mendokumentasikan gagasan, perjalanan, dan kontribusinya terhadap pendidikan dan pembangunan bangsa.
Gita kemudian menunjukkan keadaan pendidikan dasar dan menengah melalui hasil Programme for International Student Assessment atau PISA.
Dari 11 negara Asia Tenggara, menurut paparannya, hanya Singapura dan Vietnam yang mampu menempatkan kemampuan peserta didiknya di atas rata-rata dunia.
Vietnam menjadi contoh yang menarik. Negara tersebut baru mengakhiri peperangan besar pada 1975, tetapi berhasil membangun sistem pendidikan yang membuat kemampuan peserta didiknya dalam literasi, numerasi, dan sains dapat bersaing secara internasional.
Bahkan sejumlah negara yang memiliki tingkat pendapatan lebih tinggi belum selalu mampu memperoleh hasil serupa.
Indonesia, dalam pemeringkatan yang disebutkan Gita, berada pada posisi ke-69 dari 81 negara yang diukur.
Penilaian tersebut dilakukan terhadap anak-anak berusia sekitar 15 tahun, terutama dalam kemampuan memahami bacaan, memecahkan masalah matematika, dan menguasai dasar-dasar sains.
Hasil itu bukan sekadar angka. Ia merupakan potret mengenai kemampuan generasi muda dalam membaca persoalan, memahami informasi, membuat perhitungan, dan mencari solusi.
Persoalan pendidikan kemudian berlanjut pada jenjang perguruan tinggi.
Asia Tenggara memiliki sekitar 10.000 perguruan tinggi dengan kurang lebih 25 juta mahasiswa. Indonesia sendiri mempunyai sekitar 5.000 perguruan tinggi atau hampir separuh jumlah kampus di kawasan tersebut.
Sebagai pembanding, Tiongkok memiliki sekitar 3.000 perguruan tinggi, tetapi menampung kurang lebih 45 juta mahasiswa.
Jumlah kampusnya lebih sedikit, tetapi skala, kapasitas, dan daya tampung setiap institusinya lebih besar.
Tiongkok juga berhasil menempatkan sejumlah perguruan tinggi dalam jajaran terbaik dunia. Dalam pemeringkatan yang berorientasi pada penelitian serta pengembangan sains, beberapa perguruan tinggi Tiongkok bahkan mampu memasuki peringkat tertinggi global.
Dalam paparan Gita, Tiongkok berhasil menempatkan dua perguruan tinggi pada jajaran 20 terbaik secara umum. Dalam pemeringkatan yang menekankan penelitian ilmiah dan pengembangan teknologi, beberapa kampus Tiongkok bahkan menempati posisi yang sangat tinggi.
Sementara itu, dari sekitar 10.000 perguruan tinggi di Asia Tenggara, perguruan tinggi yang berada dalam posisi tertinggi dunia masih didominasi oleh Singapura.
Dua perguruan tinggi Asia Tenggara yang masuk dalam jajaran sangat tinggi dunia sama-sama berada di Singapura.
Universiti Malaya menjadi salah satu kampus terbaik di luar Singapura dan disebut berada pada kisaran peringkat ke-56. Namun, posisi tersebut masih memperlihatkan adanya kesenjangan antara pendidikan tinggi Asia Tenggara dan pusat-pusat ilmu pengetahuan dunia.
Gita tidak membicarakan secara terperinci posisi perguruan tinggi Indonesia.
Dengan nada menggelitik, ia hanya mengatakan, “Silakan dicari sendiri.”
Hadirin tersenyum, tetapi pesan yang dibawanya sangat serius.
Banyaknya perguruan tinggi tidak otomatis mencerminkan tingginya kualitas pendidikan. Jumlah gedung, program studi, mahasiswa, dan lulusan harus diikuti oleh kualitas penelitian, publikasi, inovasi, paten, teknologi, kebijakan publik, serta kontribusi nyata kepada masyarakat.
Perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi mesin penerbit ijazah. Kampus harus menjadi tempat lahirnya pengetahuan, pemecahan masalah, inovasi, dan pemimpin masa depan.
Tantangan berikutnya adalah penguasaan sains, teknologi, teknik, dan matematika atau STEM.
Menurut Gita, anak-anak muda masa depan tidak cukup hanya mampu berbicara dan bercerita. Mereka juga harus dapat berhitung, mengukur, menguji, merancang, membangun, dan memecahkan masalah.
Di Asia Tenggara, Malaysia disebut memiliki tingkat konversi mahasiswa ke bidang STEM yang relatif tinggi. Dari setiap 100 mahasiswa yang diterima di perguruan tinggi, sekitar 43,5 persen memilih bidang STEM.
Singapura berada pada kisaran 36 persen, sedangkan Indonesia hanya sekitar 22 persen.
Artinya, dari setiap 100 mahasiswa Indonesia, hanya sekitar 22 orang yang mempelajari sains, teknologi, teknik, dan matematika. Sebanyak 78 orang lainnya menekuni bidang non-STEM.
Gita menegaskan bahwa ia tidak bermaksud meniadakan ilmu sosial, humaniora, hukum, agama, seni, ekonomi, dan bidang non-STEM lainnya.
Seluruh bidang tersebut tetap dibutuhkan untuk membangun manusia dan peradaban. Teknologi tanpa etika dapat berbahaya. Sains tanpa nilai dapat kehilangan arah. Pembangunan tanpa ilmu sosial dapat mengabaikan manusia.
Namun, tanpa peningkatan penguasaan STEM, Indonesia akan sulit menaiki rantai nilai ekonomi.
Indonesia mungkin mampu menjahit pakaian, menghasilkan alas kaki, dan mengolah komoditas sederhana. Namun, negara ini akan kesulitan menciptakan mikrocip, kendaraan listrik, teknologi kedokteran, robot, sistem kecerdasan artifisial, dan roket.
Tanpa penguasaan STEM, Indonesia akan berada pada bagian bawah rantai produksi, sementara nilai tambah terbesar dinikmati oleh bangsa-bangsa yang menguasai teknologi.
Rendahnya penguasaan sains dan teknologi juga dapat dilihat melalui jumlah kekayaan intelektual dan paten.
Dalam angka yang dipaparkan Gita, Tiongkok pada 2024 mendaftarkan sekitar 1,8 juta paten.
Sementara itu, seluruh Asia Tenggara dalam kurun sekitar 20 tahun hanya menghasilkan kurang dari 300 ribu pendaftaran paten.
Perbandingan itu memperlihatkan betapa lebarnya jarak inovasi. Satu negara dapat menghasilkan sekitar 1,8 juta pendaftaran paten dalam satu tahun, sedangkan satu kawasan membutuhkan waktu dua dekade untuk menghasilkan kurang dari 300 ribu.
“Ini bukan hanya harus disikapi, tetapi harus diobati,” tegas Gita.
Obatnya adalah pendidikan dan pengelolaan otak atau talenta secara serius.
Ia menawarkan empat model pengelolaan talenta yang dapat dipelajari Indonesia.
Model pertama adalah brain train, yaitu kemampuan suatu negara melatih dan mengembangkan talentanya melalui sistem pendidikan nasional.
Jepang menjadi salah satu contoh.
Jepang mampu melakukan industrialisasi sebelum dan sesudah Perang Dunia Kedua dengan bertumpu pada kekuatan pendidikan domestiknya.
Dalam paparan Gita, sebagian besar penerima Nobel asal Jepang tidak menjalani pendidikan utama di luar negaranya. Mereka tumbuh melalui perguruan tinggi, laboratorium, tradisi akademik, dan ekosistem penelitian di Jepang.
Artinya, Jepang berhasil membangun sistem pendidikan di dalam negeri yang mampu melahirkan ilmuwan kelas dunia.
Model kedua adalah brain gain, yaitu keterbukaan suatu negara untuk menarik talenta terbaik dari seluruh dunia.
Amerika Serikat, Singapura, dan Australia berkembang karena membuka pintu bagi ilmuwan, insinyur, pengusaha, dosen, peneliti, dan tenaga profesional dari berbagai bangsa.
Talenta dari Bhutan, India, Tiongkok, Indonesia, Somalia, dan berbagai negara lainnya diberi kesempatan bersaing dan bekerja sama dengan talenta lokal.
Pertemuan talenta tersebut mempercepat inovasi, penelitian, industrialisasi, serta pertumbuhan ekonomi.
Gita memberikan ilustrasi sederhana.
Apabila masyarakat di Sumedang membutuhkan seorang pengajar mekanika kuantum, tetapi belum mempunyai ahli terbaik dalam bidang tersebut, sementara terdapat seorang ilmuwan dari Somalia yang kompeten, pemimpin yang terbuka seharusnya berani mengundangnya.
Kehadiran ilmuwan Somalia itu tidak akan mengurangi identitas masyarakat Sumedang. Sebaliknya, ia dapat mengajarkan ilmu baru, membimbing murid lokal, dan menjadikan Sumedang sebagai katalis kemajuan bangsa.
Keterbukaan seperti itulah yang menurut Gita harus ditularkan.
Seseorang tidak boleh dinilai hanya berdasarkan negara asal, etnis, agama, atau latar belakangnya. Kompetensi, integritas, dan kontribusi harus menjadi pertimbangan utama.
Model ketiga adalah brain circulation.
Dalam model ini, negara mengirim sebanyak mungkin warganya untuk belajar di berbagai pusat ilmu pengetahuan dunia, kemudian mendorong mereka kembali dan membangun negeri.
Tiongkok menjalankan strategi tersebut sejak masa kepemimpinan Deng Xiaoping pada akhir dekade 1970-an.
Jutaan warga Tiongkok dikirim belajar ke Singapura, Australia, Jerman, Inggris, Amerika Serikat, Jepang, dan berbagai negara lainnya.
Mayoritas mempelajari bidang STEM. Banyak di antara mereka kemudian kembali ke Tiongkok dengan membawa pengetahuan, jaringan, teknologi, pengalaman, dan budaya penelitian.
Hasilnya terlihat dari kemunculan berbagai perusahaan seperti BYD, Xiaomi, OPPO, dan banyak perusahaan teknologi lainnya yang produknya digunakan oleh masyarakat dunia.
Pendidikan luar negeri tidak berhenti menjadi pencapaian pribadi. Pengetahuan yang diperoleh diubah menjadi kekuatan industrialisasi nasional.
Model keempat adalah brain linkage.
India menjadi salah satu contoh utama.
Dalam sekitar 50 tahun terakhir, India mengirim lebih dari tujuh juta warga untuk belajar dan bekerja di berbagai negara. Mayoritas mempelajari STEM, tetapi banyak di antara mereka tidak kembali secara permanen ke India.
Namun, kepindahan tersebut tidak memutus hubungan dengan negara asal.
Tokoh seperti Satya Nadella yang memimpin Microsoft dan Sundar Pichai yang memimpin Google menjadi contoh diaspora India yang menduduki posisi penting dalam industri teknologi global.
Warga India lainnya juga memimpin berbagai perusahaan besar dunia, termasuk perusahaan yang bergerak dalam bidang teknologi informasi, keuangan, konsultasi, dan industri.
Walaupun tidak seluruhnya kembali, mereka tetap berkomunikasi dengan keluarga, teman, perguruan tinggi, perusahaan, dan komunitas di India.
Gita menggambarkannya secara ringan. Mereka mengirim pesan melalui WhatsApp kepada keponakan di Gujarat, sepupu di Kolkata, teman sekolah di Delhi, serta keluarga dan jaringan lainnya.
Dari hubungan sehari-hari tersebut terbentuk linkage of wisdom atau hubungan kebijaksanaan.
Terjadi pertukaran pengalaman, ilmu pengetahuan, peluang, teknologi, investasi, informasi, dan jaringan.
India mungkin kehilangan sebagian talentanya secara fisik, tetapi tetap memperoleh manfaat melalui hubungan pengetahuan global.
Diaspora berubah menjadi jembatan yang menghubungkan negara asal dengan pusat-pusat teknologi dan ekonomi dunia.
Dalam perbandingan yang disampaikan Gita, Tiongkok telah mengirim lebih dari sembilan juta warganya untuk belajar ke luar negeri, sedangkan India lebih dari tujuh juta.
Indonesia dalam periode sekitar 50 tahun baru mengirim kurang lebih 250 ribu orang.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa Indonesia belum memiliki skala yang cukup dalam sirkulasi talenta global.
Indonesia memang mempunyai banyak individu cerdas. Namun, jumlah, jaringan, arah, dan pengelolaannya belum cukup besar untuk mendorong industrialisasi secara masif.
Karena itu, Indonesia tidak dapat hanya memilih satu model.
Negara ini harus memperkuat pendidikan dalam negeri melalui brain train, membuka pintu bagi talenta global melalui brain gain, memperluas pengiriman pelajar melalui brain circulation, serta membangun hubungan dengan diaspora melalui brain linkage.
Al-Zaytun juga dapat mengambil bagian dalam strategi tersebut.
Sebagai lembaga pendidikan, Al-Zaytun dapat mengembangkan talenta dari dalam, membuka kerja sama dengan ilmuwan dari luar, mengirim peserta didik dan pendidiknya belajar ke berbagai pusat ilmu, serta membangun jaringan dengan alumni dan diaspora.
Namun, seluruh strategi pengelolaan talenta tidak akan berjalan tanpa guru yang berkualitas.
Dalam pengamatan Gita, sekitar 90 persen kepala keluarga di Indonesia belum memiliki pendidikan sarjana.
Banyak anak tidak memperoleh inspirasi akademik dan profesional secara memadai dari lingkungan keluarga. Hal itu bukan karena orang tua tidak peduli, tetapi karena kesempatan pendidikan mereka pada masa lalu sangat terbatas.
Ketika seorang anak berjalan kaki, naik becak, kapal, truk, bus, atau ojek menuju sekolah, harapannya tertuju kepada guru.
Selama tujuh atau delapan jam berada di sekolah, guru menjadi figur yang dapat membuka jendela masa depan.
Guru mempunyai kesempatan menanamkan tiga atribut penting kepada peserta didik, yaitu ambisi, imajinasi, dan keberuntungan cerdas.
Ambisi membuat anak berani memiliki cita-cita.
Tanpa ambisi, seseorang tidak akan berusaha menjadi direktur utama, ilmuwan, wali kota, bupati, gubernur, menteri, atau presiden.
Ambisi bukan kesombongan. Ambisi merupakan keberanian untuk meyakini bahwa seseorang dapat melakukan sesuatu yang besar dan bermanfaat.
Atribut kedua adalah imajinasi.
Tanpa imajinasi, manusia tidak akan mampu menciptakan pesawat terbang, mengembangkan komputer, menemukan obat, membangun kendaraan listrik, atau mendaratkan manusia di bulan.
Seluruh penemuan bermula dari sesuatu yang sebelumnya hanya ada dalam pikiran.
Imajinasi membuat manusia melihat kemungkinan yang belum terlihat oleh orang lain.
Atribut ketiga adalah keberuntungan.
Gita membedakannya menjadi keberuntungan buta dan keberuntungan cerdas.
Keberuntungan buta adalah ketika seseorang berharap memperoleh nilai terbaik tanpa belajar.
Seseorang berdoa agar memperoleh nilai A dalam ujian fisika, tetapi sepanjang hari bermalas-malasan dan tidak mempersiapkan diri.
Keberuntungan cerdas berbeda.
Seseorang berdoa, tetapi juga belajar dengan sungguh-sungguh selama delapan jam. Ia mempersiapkan diri agar ketika kesempatan datang, dirinya telah siap.
Keberuntungan cerdas merupakan pertemuan antara doa, ikhtiar, disiplin, kerja keras, dan kesempatan.
Pertanyaannya, siapa yang dapat menanamkan ambisi, imajinasi, dan keberuntungan cerdas kepada anak-anak yang tidak memperoleh kesempatan tersebut di rumah?
“Jawabannya adalah guru,” tegas Gita.
Namun, talenta-talenta terbaik Indonesia akan sulit tertarik menjadi guru apabila profesi itu hanya dihargai dengan honor sekitar Rp500 ribu atau penghasilan Rp2,8 juta yang tidak sebanding dengan tanggung jawabnya.
Karena itu, Gita menyampaikan komitmennya untuk terus menyuarakan reformasi penghasilan guru.
“Saya tidak akan berhenti berbicara mengenai reformasi gaji guru sampai benar-benar terjadi reformasi gaji guru,” ujarnya.
Menurutnya, Indonesia tidak akan mampu mengaktualisasikan nilai pendidikan tanpa memberikan kesejahteraan dan penghargaan yang layak kepada pendidik.
Guru berhadapan bukan hanya dengan dua atau tiga anak sebagaimana orang tua di rumah.
Seorang guru dapat berhadapan dengan 20, 40, bahkan ratusan peserta didik.
Kecerdasan seorang guru dapat dilipatgandakan kepada banyak orang. Namun, kelemahan dan ketidakmampuan seorang guru juga dapat menimbulkan pengaruh yang berlipat ganda.
Dalam ungkapan Gita, guru mempunyai kemampuan memultiplikasi brilliance ataupun stupidity.
Karena itulah guru harus memiliki kecerdasan, kompetensi, imajinasi, integritas, tanggung jawab, dan kesejahteraan yang memadai.
Reformasi guru bukan sekadar agenda profesi. Reformasi guru merupakan agenda pembangunan peradaban.
Al-Zaytun membangun peradaban ketika mampu menjadikan guru sebagai pusat pengembangan manusia. Guru tidak hanya menyampaikan mata pelajaran, tetapi menyalakan ambisi, memperluas imajinasi, dan membentuk kebiasaan bekerja keras.
Energi, Kecerdasan Artifisial, dan Kepemimpinan Masa Depan
Pada bagian ketiga orasinya, Gita Wirjawan mengajak hadirin memasuki gelanggang persaingan teknologi global.
Dunia sedang bergerak menuju era kecerdasan artifisial atau artificial intelligence.
Namun, di tengah antusiasme membicarakan AI, banyak orang melupakan fondasi yang membuat teknologi tersebut dapat bekerja.
Kecerdasan artifisial bukan sekadar aplikasi yang muncul pada layar telepon genggam atau komputer.
Di belakang ChatGPT, DeepSeek, Gemini, Claude, dan berbagai platform lainnya terdapat pusat data, cip komputer, sistem pendingin, jaringan transmisi, perangkat lunak, serta kebutuhan energi yang sangat besar.
Menurut Gita, penggunaan energi untuk menjalankan kecerdasan artifisial dapat mencapai sekitar 10 hingga 50 kali lebih besar daripada pencarian informasi biasa melalui Google.
Untuk produksi gambar bergerak, film, dan video menggunakan platform seperti Sora, kebutuhan komputasi dan energinya bahkan dapat meningkat hingga ratusan atau ribuan kali dibandingkan pencarian biasa.
Gita yang juga berkecimpung dalam bidang perfilman merasakan bagaimana kecerdasan artifisial dapat digunakan untuk membantu atau mengaugmentasi proses produksi film.
Teknologi tersebut membuka kesempatan besar. Namun, teknologi itu sekaligus memperlihatkan bahwa negara yang tidak mempunyai energi cukup hanya akan menjadi pengguna dan penonton.
Generasi muda Indonesia harus menentukan pilihan: menjadi penonton narasi kecerdasan artifisial atau menjadi pemangku dan pencipta narasi tersebut.
Untuk menjadi pemain utama, Indonesia tidak hanya memerlukan pengguna aplikasi dan programmer.
Indonesia memerlukan energi, pusat data, cip, insinyur, teknisi, peneliti, ahli matematika, ahli sains, perangkat hukum, investasi, serta ekosistem industri yang kuat.
Gita kemudian mengajak hadirin melihat tingkat konsumsi listrik per kapita.
Indonesia, menurut angka yang dipaparkannya, baru berada pada kisaran 1.300 kilowatt-jam per kapita.
Untuk menjadi negara industri maju dan pemangku utama kecerdasan artifisial, konsumsi serta ketersediaan listrik perlu bergerak menuju sekitar 10.000 kilowatt-jam per kapita.
Tiongkok dan Amerika Serikat telah berada pada tingkat yang jauh lebih tinggi.
Di Asia Tenggara, Singapura dan Brunei merupakan dua negara dengan tingkat konsumsi listrik yang mendekati atau melampaui kebutuhan negara maju.
Malaysia berada pada kisaran 5.000 kilowatt-jam per kapita, Indonesia sekitar 1.300, Filipina sekitar 1.000, sedangkan Laos, Kamboja, dan Myanmar menghadapi tantangan yang lebih besar.
Apabila Indonesia ingin bergerak dari sekitar 1.300 menuju 10.000 kilowatt-jam per kapita, pembangunan daya listrik harus dipercepat secara luar biasa.
Daya terpasang Indonesia disebut berada pada kisaran 100.000 megawatt atau 100 gigawatt.
Untuk menopang modernisasi, industrialisasi, pusat data, serta perkembangan kecerdasan artifisial, Indonesia diperkirakan memerlukan kapasitas yang bergerak menuju sekitar 700.000 megawatt.
Dengan demikian, Indonesia masih memerlukan tambahan kurang lebih 600.000 megawatt.
Masalahnya, selama dua dekade terakhir, kemampuan pembangunan pembangkit listrik Indonesia berada pada kisaran 5.000 megawatt per tahun.
Apabila kecepatannya tidak berubah, tambahan 600.000 megawatt baru dapat dicapai dalam waktu sekitar 120 tahun.
Gita berhenti sejenak dan mengarahkan ucapannya kepada generasi muda yang hadir.
“Adik-adik, ketahuilah, dengan kecepatan itu kita membutuhkan 120 tahun untuk mencapai modernitas.”
Ia menolak gagasan bahwa masa depan harus terus digadaikan untuk memenuhi kenyamanan dan kepentingan masa kini.
“Saya tidak menerima konsep bahwa kita harus memborohkan masa depan untuk kekinian. Narasinya harus dibalik. Kita harus berani memborohkan kekinian untuk masa depan.”
Pesan tersebut berarti masyarakat harus berani berinvestasi, bekerja keras, mengurangi kesenangan sesaat, dan membangun infrastruktur yang manfaatnya mungkin baru dirasakan sepenuhnya oleh generasi berikutnya.
Solusi yang ditawarkan adalah meningkatkan pembangunan daya listrik menjadi sekurang-kurangnya 30.000 megawatt setiap tahun.
Apabila target tersebut tercapai, tambahan sekitar 600.000 megawatt dapat diselesaikan dalam waktu kurang lebih 20 tahun.
Percepatan pembangunan energi tidak hanya akan menyediakan tenaga listrik bagi industri dan kecerdasan artifisial.
Pembangunan tersebut juga berpotensi menciptakan jutaan lapangan kerja.
Menurut perhitungan kasar yang disampaikan Gita, pembangunan 5.000 megawatt dapat berkaitan dengan terciptanya sekitar dua juta pekerjaan.
Apabila Indonesia mampu membangun 30.000 megawatt setiap tahun, potensi lapangan pekerjaan yang terbentuk dapat mencapai sekitar 12 juta.
Indonesia mempunyai sekitar 150 juta tenaga kerja. Kurang lebih separuhnya atau sekitar 75 juta orang masih bekerja di sektor informal.
Termasuk di dalamnya pengemudi ojek daring, pekerja lepas, pelaku usaha kecil, konten kreator, serta berbagai kelompok yang belum memperoleh pekerjaan formal di industri.
Gita bahkan menyebut dirinya sebagai bagian dari sektor informal ketika menjalankan peran sebagai konten kreator.
Bayangkan apabila pembangunan energi, pusat data, manufaktur, teknologi, dan berbagai industri pendukung mampu menghasilkan sekitar 12 juta pekerjaan formal setiap tahun.
Dalam lima atau enam tahun, sebagian besar pekerja informal berpeluang memperoleh pekerjaan yang lebih produktif, terlindungi, dan memiliki kepastian.
Pembangunan energi dengan demikian bukan hanya persoalan menyalakan lampu.
Energi merupakan fondasi industrialisasi, penciptaan lapangan kerja, peningkatan produktivitas, penelitian, modernisasi, dan kedaulatan teknologi.
Indonesia memiliki berbagai sumber energi, mulai dari tenaga surya, air, panas bumi, angin, biomassa, gas, dan sumber energi lainnya.
Potensi tersebut harus dikelola melalui keberanian kebijakan, investasi jangka panjang, kepastian hukum, pengembangan sumber daya manusia, penguasaan teknologi, dan perhatian terhadap kelestarian lingkungan.
Apabila kapasitas energi dapat ditingkatkan, Indonesia mempunyai peluang bergeser dari negara pengguna menjadi negara yang ikut membangun dan menentukan arah teknologi kecerdasan artifisial.
Al-Zaytun yang selama ini mengembangkan pendidikan, pertanian, kemandirian, dan pengelolaan lingkungan dapat menjadi salah satu laboratorium kesadaran mengenai hubungan antara ilmu pengetahuan, teknologi, energi, dan keberlanjutan.
Namun, seluruh agenda besar tersebut tidak akan terselesaikan apabila masyarakat terus tenggelam dalam festivalisasi dan sensasionalisasi media sosial.
Gita mengingatkan generasi muda agar tidak hanya menghabiskan waktunya mengejar popularitas sesaat melalui TikTok dan berbagai platform digital lainnya.
Media sosial memang dapat menjadi sarana kreativitas, pendidikan, komunikasi, dan demokratisasi informasi. Namun, media sosial juga dapat membuat masyarakat mengukur segala sesuatu berdasarkan sensasi, popularitas, jumlah pengikut, penayangan, dan komentar.
Dalam budaya sensasional, orang yang paling terkenal dianggap paling layak memimpin.
Mereka yang paling sering muncul di layar dianggap paling kompeten, meskipun belum tentu memiliki pengetahuan, moralitas, integritas, dan kemampuan bekerja.
Karena itu, Gita menekankan pentingnya memasukkan unsur seleksi ke dalam proses eleksi.
Demokrasi memberikan hak kepada rakyat untuk memilih. Namun, pilihan tersebut harus didasarkan pada kriteria yang dapat dipertanggungjawabkan.
Masyarakat tidak boleh mabuk oleh elektabilitas.
Sebelum menilai seberapa populer seseorang, publik harus memeriksa etikabilitas, moralitas, intelektualitas, kompetensi, rekam jejak, serta kemampuan mempertanggungjawabkan kebijakan.
Urutannya bukan popularitas terlebih dahulu.
Etikabilitas, moralitas, dan intelektualitas harus menjadi fondasi yang kemudian melahirkan kepercayaan serta elektabilitas.
Budaya seleksi itu harus dibangun di semua tempat, mulai dari rumah ibadah, sekolah, kampus, kantor, rumah tangga, kafe, organisasi sosial, hingga ruang publik.
Siapa pun yang terpilih menjadi pemimpin harus menunjukkan akuntabilitas kepada rakyat, bukan hanya kepada kelompok elite.
Pemimpin tidak boleh merasa hanya berutang budi kepada pemilik modal, partai politik, kelompok kekuasaan, atau lingkaran tertentu.
Kepemimpinan adalah amanah untuk memperluas pendidikan, kesejahteraan, keadilan, kesempatan, kemajuan ilmu pengetahuan, dan kualitas kehidupan seluruh masyarakat.
Tanpa perbaikan kualitas pendidikan, pengelolaan talenta, energi, teknologi, dan kepemimpinan, Indonesia mungkin hanya akan bertahan pada pertumbuhan ekonomi sekitar lima persen.
Namun, apabila kebiasaan lama yang menghambat kemajuan dapat dihentikan, Gita meyakini Indonesia mempunyai potensi tumbuh sekurang-kurangnya delapan persen.
Pertumbuhan itu tidak boleh hanya tinggi secara angka.
Pertumbuhan harus inklusif dan mengandung ekuitas. Manfaat kemajuan harus dirasakan oleh masyarakat luas, termasuk anak-anak yang duduk di bagian belakang ruangan, masyarakat desa, keluarga pekerja informal, serta generasi muda dari Sabang sampai Merauke.
Menjelang akhir orasi, seluruh paparan Gita kembali kepada metafora awal mengenai metabolisme.
Peradaban yang sehat adalah peradaban yang mampu mengolah sejarah menjadi kebijaksanaan, pendidikan menjadi kecerdasan, talenta menjadi inovasi, energi menjadi produktivitas, teknologi menjadi kesejahteraan, dan demokrasi menjadi kepemimpinan yang bertanggung jawab.
Al-Zaytun sebagai lembaga pendidikan mempunyai kesempatan untuk menjadi bagian penting dari proses tersebut.
Al-Zaytun dapat menjadi ruang yang mempertemukan inovasi dan preservasi, tradisi dan ilmu pengetahuan, keyakinan dan keterbukaan, pendidikan dan pembangunan bangsa.
Pada ulang tahun ke-80 Syaykh Al-Zaytun, orasi Gita Wirjawan tidak hanya menjadi ucapan selamat ulang tahun.
Orasi tersebut menjelma menjadi ajakan untuk memikirkan umur panjang sebuah gagasan, lembaga, dan peradaban.
Umur manusia mempunyai batas. Namun, gagasan, ilmu pengetahuan, lembaga pendidikan, dan pengabdian dapat hidup melampaui usia biologis ketika diwariskan kepada generasi berikutnya.
Hari itu, di hadapan keluarga besar Al-Zaytun, Gita Wirjawan menitipkan doa sekaligus tantangan: tingkatkan metabolisme lembaga, buka pintu ilmu pengetahuan, muliakan guru, kembangkan talenta, kuasai energi dan teknologi, serta lahirkan pemimpin yang bertanggung jawab kepada rakyat.
Melalui pendidikan yang terbuka, guru yang dimuliakan, generasi yang berambisi dan berimajinasi, serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, Al-Zaytun sedang membangun peradaban.

More Stories
Perlawanan Filosofis Penurunan Bendera: Ketika Al-Zaytun Membuat Tradisi Baru Mensyukuri Kemerdekaan RI
Dari Kemerdekaan Menuju Kebangkitan Pendidikan
Kiprah Alumni Al-Zaytun Membangun Kemandirian Pangan