
(Refleksi hari Istiqlal, 22 Februari)
Oleh: Ali Aminulloh
Di jantung ibu kota, dua menara yang berbeda keyakinan saling menatap dalam diam namun penuh arti. Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral bukan sekadar bangunan beton; mereka adalah monumen hidup tentang sebuah bangsa yang sepakat untuk bersaudara sebelum mereka bernegara.
Hari ini, 22 Februari, saat kita mengenang kembali diresmikannya Istiqlal pada 1978, kita tidak hanya merayakan sebuah arsitektur, melainkan sebuah ruh bernama
Toleransi.
Melampaui Sekat, Membangun Harkat
Sejarah mencatat dengan tinta emas bagaimana seorang anak bangsa berdarah Batak dan beriman Protestan, Frederich Silaban, menjadi arsitek di balik megahnya simbol kemerdekaan umat Muslim ini.
Di bawah arahan KH. Wahid Hasyim dan Bung Karno, Silaban membuktikan bahwa estetika ketuhanan tidak mengenal batas iman.
Istiqlal yang berarti “Merdeka” adalah bukti nyata bahwa Indonesia dibangun atas dasar gotong royong. Dana pembangunannya mengalir dari recehan rakyat hingga APBN, menciptakan sebuah rumah ibadah yang pintunya terbuka bagi siapa saja; mulai dari Bill Clinton, Barack Obama, hingga kunjungan bersejarah Paus Fransiskus.
Estafet Nilai: Al-Zaytun dan Visi Masyarakat Manusiawi
Semangat inklusivitas Istiqlal ini menemukan resonansi yang kuat dalam visi Masjid Rahmatan Lil Alamin Al-Zaytun. Jika Istiqlal adalah simbol nasional, maka Al-Zaytun memanifestasikannya menjadi sebuah pusat pendidikan dan pengembangan budaya perdamaian.
Al-Zaytun hadir dengan misi besar: mewujudkan masyarakat yang sehat, cerdas, dan manusiawi. Di sini, toleransi bukan sekadar slogan, melainkan kurikulum kehidupan.
Kaitan antara keduanya sangat erat bahwa masjid seharusnya menjadi episentrum peradaban yang memancarkan kasih sayang bagi semesta alam (Rahmatan Lil Alamin).
Trilogi Kesadaran: Fondasi Peradaban Masa Depan
Menariknya, Syaykh Al-Zaytun menggagas Trilogi Kesadaran sebagai peta jalan menuju manusia yang paripurna. Gagasan ini menjadi penyempurna dari nilai-nilai yang selama ini dijaga oleh Masjid Istiqlal dan Masjid Rahmatan Lil Alamin:
– Kesadaran Filosofis: Memahami hakikat keberadaan manusia sebagai makhluk yang mulia dan setara di hadapan Sang Pencipta.
– Kesadaran Ekologis: Menjaga harmoni dengan alam semesta, sebagaimana arsitektur Istiqlal yang menyatu dengan lingkungan, Al-Zaytun menekankan pentingnya kelestarian bumi.
– Kesadaran Sosial: Kepekaan terhadap sesama tanpa memandang latar belakang. Inilah yang dipraktikkan saat non-muslim disambut hangat di selasar masjid untuk belajar tentang indahnya Islam yang terbuka.
“Masjid bukan hanya tempat bersujud, tapi tempat di mana kemanusiaan dirayakan dan perdamaian disemai.”
Epilog: Bersatu dalam Perdamaian
Peringatan Hari Istiqlal tahun ini adalah momentum untuk merefleksikan kembali: sejauh mana kita telah menjadi pribadi yang “merdeka” dari kebencian?
Melalui inspirasi dari Istiqlal dan visi transformatif Al-Zaytun, kita diingatkan bahwa menjadi religius berarti menjadi semakin manusiawi.
Di bawah kubah-kubah ini, kita belajar bahwa berbeda itu niscaya, namun bersatu dalam kedamaian adalah sebuah pilihan mulia.***

More Stories
Hari Pendidikan Internasional, Belajar dari Al-Zaytun tentang Kesadaran dan Kemanusiaan
Gagasan Syaykh Al Zaytun untuk Masa Depan Pendidikan Indonesia
Hello Para Suscriber