24/05/2026

MDINEWS INDRAMAYU

MEDIA ASPIRASI BUDAYA BANGSA

Dari Timur Menyalakan Cahaya Perubahan

Oleh Ali Aminulloh

Al Zaytun Meneguhkan Transformasi Revolusioner Pendidikan Berasrama Menuju Indonesia Modern

Pagi itu, Ahad 26 April 2026, Masjid Rahmatan Lil Alamin Ma’had Al Zaytun tidak sekadar menjadi ruang pertemuan. Ia menjelma menjadi ruang persemaian gagasan, tempat di mana masa depan pendidikan Indonesia sedang dibicarakan dengan sungguh-sungguh, dengan visi yang jauh melampaui hari ini.

Di hadapan ratusan tenaga pendidik, tenaga kependidikan, mahasiswa, wali pelajar, hingga para eksponen pendidikan berasrama, satu pesan mengemuka dengan terang: bangsa besar tidak dibangun dari gedung-gedung megah semata, tetapi dari kualitas manusia yang dipersiapkan di dalamnya.

Karena itulah, Ma’had Al Zaytun kembali menunjukkan konsistensinya dalam membangun kualitas pelaku didik melalui program pelatihan berkelanjutan bertajuk “Transformasi Revolusioner Pendidikan Berasrama menuju Indonesia Modern Abad XXI dan 100 Tahun Kemerdekaan RI.”
Program ini bukan agenda seremonial tahunan, melainkan ikhtiar ideologis untuk menyiapkan sumber daya manusia unggul yang mampu menjawab tantangan Indonesia Emas 2045.

Pada Pelatihan Pelaku Didik sesi ke-42, Al Zaytun menghadirkan narasumber dari Indonesia Timur, Prof. Dr. H. Abdul Hadi Sirat, S.E., M.Si., seorang akademisi senior dan Guru Besar Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Khairun.
Kehadirannya membawa semangat baru dari ufuk timur Nusantara, sekaligus mempertemukan perspektif nasional dalam satu ruang pendidikan.

Dengan mengusung tema “Penguatan SDM sebagai Human Capital Strategis untuk Mewujudkan Pendidikan Bermutu dan Kemajuan Ekonomi Bangsa,” Prof. Abdul Hadi menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh lagi dipandang sebatas rutinitas transfer ilmu, melainkan sebagai investasi strategis bangsa.

“Jika kita ingin membangun bangsa yang maju, maka kita harus memulai dengan membangun pendidikan melalui pendidik,”
demikian garis tegas yang disampaikannya di hadapan peserta.

Menurutnya, kekuatan suatu negara pada abad modern tidak lagi hanya bertumpu pada kekayaan sumber daya alam, tetapi pada kemampuan sumber daya manusianya dalam melahirkan inovasi, kreativitas, integritas, dan daya saing global. Pendidikan bermutu, kata dia, adalah fondasi utama bagi kemajuan ekonomi nasional.

Ia mengurai bahwa seorang pendidik hari ini harus diposisikan bukan sekadar sebagai tenaga pengajar, tetapi sebagai human capital, modal intelektual yang menanamkan budaya inovasi, etos kerja, dan karakter produktif kepada generasi masa depan.

Terkesima oleh Kenyataan Al Zaytun

Menariknya, sebelum memasuki forum pelatihan, Prof. Abdul Hadi berkesempatan meninjau sejumlah unit kegiatan di kawasan Al Zaytun: pertanian, perikanan, peternakan, industri keterampilan pelajar, hingga sistem asrama pendidikan.

Apa yang ia lihat, menurut pengakuannya, jauh berbeda dari narasi liar yang selama ini beredar di ruang publik.

Ia menyampaikan keterkesimannya secara terbuka.

“Saya sangat bangga. Ini bukti nyata. Apa yang saya lihat hari ini berbeda jauh dari apa yang saya tonton di televisi dan media sosial. Ternyata komitmen pengelola pendidikan di sini luar biasa.”

Kekaguman itu bukan tanpa alasan. Di mata akademisi asal Ternate tersebut, Al Zaytun berhasil menampilkan satu model pendidikan yang tidak berhenti di ruang kelas, tetapi mengintegrasikan ilmu, karakter, kemandirian ekonomi, ketahanan pangan, dan keterampilan hidup dalam satu ekosistem berasrama.

Mulai dari sawah yang menghasilkan pangan, kolam perikanan yang menopang konsumsi, peternakan, hingga bengkel keterampilan pelajar, semuanya menjadi laboratorium hidup bahwa pendidikan dapat berjalan beriringan dengan produktivitas.

Inilah wajah pendidikan yang tidak mendidik anak hanya agar pandai menjawab soal, tetapi juga agar siap menjawab kebutuhan zaman.

Membangun Indonesia dari Asrama dan Ruang Kelas

Dalam pemaparannya, Prof. Abdul Hadi berulang kali menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi bangsa sejatinya dimulai dari ruang pendidikan.

Ia menjelaskan adanya rantai dampak yang sangat jelas:
pendidik yang kuat akan melahirkan pembelajaran berkualitas, pembelajaran berkualitas melahirkan lulusan kompeten, lulusan kompeten menciptakan SDM produktif, dan SDM produktif menjadi motor pertumbuhan ekonomi nasional.

Karena itu, menurutnya, investasi terbesar negara bukan pada beton dan baja, tetapi pada pembangunan kompetensi manusia.

Kompetensi tersebut, katanya, setidaknya harus mencakup empat hal:
pengetahuan, keterampilan, perilaku, dan penguasaan teknologi.

Sementara SDM bermutu harus dibangun di atas empat pilar utama:
komitmen, kompetensi, integritas, dan kemampuan mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi.

Gagasan inilah yang terasa sejalan dengan langkah Al Zaytun selama ini yaitu membangun peserta didik melalui kultur disiplin asrama, kerja produktif, penguasaan bahasa, karakter kepemimpinan, dan kesadaran hidup kolektif.

Dialog yang Menegaskan: Manajemen Hebat Butuh Keteladanan dan Strategi

Forum pelatihan tidak berhenti pada pemaparan materi. Dalam sesi dialog interaktif, muncul pertanyaan penting mengenai faktor apa lagi yang harus diperkuat dalam manajemen pendidikan selain sumber daya manusia.

Menjawab hal itu, Prof. Abdul Hadi Sirat menegaskan bahwa manajemen tidak cukup hanya memahami teori perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan. Yang jauh lebih penting adalah keteladanan pemimpin dan kemampuan strategi dalam mengelola organisasi.

“Seorang pengelola harus mampu memberi contoh teladan kepada anggota organisasinya. Manajemen juga membutuhkan strategi, yakni bagaimana seorang manajer mengelola seluruh sumber daya untuk mencapai efektivitas, efisiensi, dan excellent performance,” ujarnya.

Dalam konteks itu, ia melihat Al Zaytun memiliki kemampuan manajerial yang kuat, terbukti dari implementasi pendidikan berasrama yang berjalan sistematis, luas, dan produktif.

Dari Indramayu untuk Indonesia Modern

Pelatihan sesi ke-42 ini sesungguhnya menunjukkan satu hal:
Al Zaytun tidak sedang berjalan di tempat.

Ia sedang menyiapkan lompatan.

Di tengah banyak lembaga pendidikan yang masih berkutat pada persoalan administratif dan rutinitas akademik, Al Zaytun memilih menempuh jalan yang lebih berat: melakukan transformasi revolusioner pendidikan berasrama sebagai model penyiapan manusia Indonesia abad XXI.

Bukan hanya untuk hari ini.
Tetapi untuk 100 tahun kemerdekaan Republik Indonesia.

Maka, ketika narasumber datang dari Timur Indonesia membawa gagasan penguatan human capital, dan ketika gagasan itu bertemu dengan sistem pendidikan berasrama yang telah dibangun puluhan tahun di Al Zaytun, sesungguhnya yang sedang dirajut adalah satu harapan besar:

bahwa Indonesia modern tidak lahir secara kebetulan,
melainkan dipersiapkan dengan sadar, disiplin, dan visioner dari ruang-ruang pendidikan seperti ini.

Dan pagi itu, dari sebuah ma’had di Indramayu, cahaya perubahan itu kembali dinyalakan.