24/05/2026

MDINEWS INDRAMAYU

MEDIA ASPIRASI BUDAYA BANGSA

Ketika Pendidikan Belum Sepenuh Hati

(Refleksi Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei)

Oleh Ali Aminulloh

Ada sesuatu yang ganjil sedang berlangsung di republik ini. Negara tampak sangat serius memastikan anak sekolah tidak lapar ketika belajar, tetapi belum terlihat sama seriusnya memastikan mereka tidak lapar pengetahuan, tidak lapar keteladanan, dan tidak lapar perhatian dari sistem pendidikan yang semestinya memeluk mereka.

Program Makan Bergizi Gratis disiapkan dengan hitung-hitungan yang rinci. Dapur dibangun, distribusi dipikirkan, pengelola makanan direkrut, tenaga kerjanya diperhatikan, alur pasoknya dijaga. Semua bergerak cepat karena negara memahami satu hal: perut anak-anak tidak boleh kosong. Kesigapan itu tentu patut diapresiasi. Namun di saat yang sama, ada ruang sunyi yang luput terdengar, yakni ruang kelas tempat guru masih berjuang dengan kesejahteraan yang tak kunjung utuh, sekolah-sekolah dengan fasilitas yang belum layak, dan ketimpangan mutu yang masih memanjang dari kota hingga pelosok.

Ironinya terasa tajam. Pengelola makanan dan para karyawan dapur memperoleh perhatian yang begitu sistematis, sementara guru yang setiap hari memasak isi kepala dan nurani generasi bangsa masih sering dibiarkan bekerja dalam keterbatasan. Seakan-akan kita sedang membangun dapur pendidikan dengan sangat serius, tetapi lupa menyalakan api di ruang belajar.

Di titik itulah Hari Pendidikan Nasional tahun ini seharusnya dibaca dengan kejujuran.

Tanggal 2 Mei bukan sekadar kalender merah nasional dalam dunia pendidikan. Ia adalah tanggal lahir Ki Hajar Dewantara, tokoh yang oleh Presiden Soekarno kemudian diabadikan melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 sebagai Hari Pendidikan Nasional, sebuah penanda bahwa bangsa ini pernah menaruh pendidikan sebagai jalan utama memerdekakan manusia.

Hardiknas 2026 hadir dengan tema resmi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, yaitu “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.” Tema ini mengajak seluruh unsur bangsa ikut bertanggung jawab terhadap masa depan pendidikan nasional. Namun tema itu akan terdengar sangat indah hanya di spanduk apabila bangsa ini belum berani mengakui bahwa pendidikan kita masih sering dikerjakan setengah hati.

Sebab pendidikan tidak cukup hanya dibantu oleh kebijakan, tetapi harus dihidupi oleh kesadaran.

Di sinilah gagasan besar Syaykh A.S. Panji Gumilang tentang Trilogi Kesadaran menemukan relevansinya. Pendidikan tidak akan pernah melahirkan manusia utuh bila hanya sibuk mengurus bangunan, kurikulum, aplikasi digital, atau program-program teknis. Pendidikan sejati adalah pekerjaan panjang menanam kesadaran. Menanam kesadaran berarti menumbuhkan kemanusiaan. Dan kemanusiaan tidak pernah tumbuh secara instan. Ia tumbuh perlahan, seperti akar yang bekerja diam-diam di bawah tanah, tidak terlihat, tetapi menentukan kokohnya pohon.

Kesadaran pertama adalah kesadaran filosofis. Ini adalah kesadaran tentang makna. Mengapa manusia harus belajar, untuk apa ilmu digunakan, dan ke mana pendidikan akan membawa hidup seseorang. Tanpa kesadaran filosofis, sekolah hanya akan melahirkan murid yang pandai mengerjakan soal tetapi bingung memahami kehidupan. Anak-anak akan dibiasakan mengejar nilai, ranking, dan ijazah, tetapi tidak diajak bertanya tentang tujuan ilmu itu sendiri. Pendidikan lalu berubah menjadi perlombaan administratif, bukan perjalanan pencarian makna.

Padahal Ki Hajar Dewantara sejak awal telah menempatkan pendidikan sebagai proses memerdekakan batin, bukan sekadar memindahkan isi buku ke kepala murid. Ketika kesadaran filosofis hilang, guru dipaksa menjadi penyelesai kurikulum, bukan penuntun jiwa.

Kesadaran kedua adalah kesadaran ekologis. Pendidikan harus membuat manusia sadar bahwa ia hidup tidak sendirian. Ia hidup bersama alam, bersama ruang, bersama lingkungan, bersama sumber daya yang menopang kehidupannya. Anak didik bukan hanya harus tahu cara membaca buku, tetapi juga harus tahu cara membaca bumi. Mereka perlu memahami bahwa kebersihan, keteraturan, kesehatan, dan keberlanjutan adalah bagian dari budaya belajar.

Bahkan program Makan Bergizi Gratis sesungguhnya bisa menjadi media pendidikan ekologis apabila dipahami sebagai pelajaran tentang pangan sehat, ketertiban distribusi, kebersihan, penghargaan terhadap hasil tani, dan tanggung jawab menjaga lingkungan. Namun jika ia hanya berhenti pada nasi yang datang lalu habis dimakan, maka ia sekadar program konsumsi, belum menjadi pendidikan kesadaran.

Karena sejatinya pendidikan bukan sekadar memberi makan tubuh, melainkan mengajari manusia memahami dari mana makanan itu datang, bagaimana ia dijaga, dan untuk apa tenaga itu dipakai.

Kesadaran ketiga adalah kesadaran sosial. Ini adalah kesadaran bahwa manusia tidak hidup untuk dirinya sendiri. Ia hidup bersama sesama. Pendidikan harus menumbuhkan empati, gotong royong, rasa hormat, dan kepedulian terhadap ketimpangan. Murid yang hebat bukan hanya murid yang cerdas secara akademik, tetapi murid yang mampu merasakan luka orang lain dan terdorong ikut memperbaiki keadaan.

Sayangnya, wajah pendidikan kita masih menyisakan jurang sosial yang tidak kecil. Guru belum merata, sekolah belum setara, akses pendidikan masih timpang, dan kekerasan di lingkungan pendidikan masih menjadi catatan tahunan. Semua ini menunjukkan bahwa sekolah belum sepenuhnya menjadi rumah kemanusiaan. Ia masih sering menjadi tempat belajar pengetahuan, tetapi belum selalu menjadi tempat belajar menjadi manusia.

Karena itu, ketika negara hari ini tampak sangat serius membangun sistem makanan untuk anak sekolah, bangsa ini juga harus bertanya dengan nada yang sama seriusnya: apakah kita sudah membangun sistem penghormatan yang layak bagi guru, sistem pembelajaran yang memerdekakan, dan sistem pendidikan yang benar-benar menumbuhkan kesadaran?

Jangan sampai kita berhasil membuat anak-anak kenyang pada siang hari, tetapi membiarkan masa depan mereka kosong pada jangka panjang.

Pendidikan yang dikerjakan sepenuh hati bukan pendidikan yang hanya memastikan siswa hadir di kelas, melainkan pendidikan yang memastikan guru hadir dengan martabat, ilmu hadir dengan makna, lingkungan hadir dengan keteladanan, dan sekolah hadir sebagai ruang tumbuhnya kemanusiaan.

Inilah pekerjaan rumah besar Hardiknas sesungguhnya.

Bahwa bangsa ini tidak cukup hanya menyiapkan menu makan bagi generasinya, tetapi juga harus menyiapkan menu kesadaran bagi batin mereka. Tidak cukup hanya menata dapur, tetapi juga menata arah berpikir. Tidak cukup hanya mengurus logistik, tetapi juga mengurus ruh pendidikan itu sendiri.

Sebab sebuah bangsa belum dapat disebut sungguh-sungguh mendidik apabila pendidikan masih dikerjakan sekadar sebagai program.

Pendidikan baru akan berarti ketika ia dikerjakan sepenuh hati sebagai ikhtiar memanusiakan manusia.